Lezatnya Roti Sele Samahani Aceh

Jangan pernah mengatakan sudah menjelajahi Aceh jika Anda belum menginjakkan kaki di sebuah kota kecil yang tidak jauh dari Kota Banda Aceh dan mencicipi jajanan khas penuh sensasi.

Ya! Tepatnya pasar Kecamatan Kuta Malaka  Kabupaten Aceh Besar yang terletak dilintas jalan Banda Aceh-Medan KM 18 Samahani. Jajanan khas berupa roti tawar yang diberikan selai (baca: sele) didalamnya dengan cita rasa manis dan beraroma gandum.

Roti sele secara umum memang tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh. Makanan ini sudah dikenal oleh semua orang. Biasanya roti sele sering dijual si warung-warung kopi sebagai cemilan pendamping minuman kopi, beberapa orang menjadikannya sebagai jajanan hari-hari.

Menikmati roti sele sambil meneguk kopi Aceh memberikan pengalaman rasa tersendiri, apalagi jika dikonsumsi pada sore hari. Maka tidak heran jika hampir semua warung kopi yang ada di Banda Aceh selalu menyediakan roti sele bagi pelanggan mereka.

Roti sele Samahani pada awalnya adalah jajanan warung kopi lokal yang hanya dinikmati oleh masyarakat setempat saja. Penjualannya pun terbatas di Samahani dan saat itu masyarakat didaerah lain belum tahu tentang roti sele Samahani tersebut.

Menurut cerita dari salah seorang penjual roti sele Samahani yang kini eksis di bisnis ini mengatakan bahwa jajanan roti sele yang ia jual merupakan resep turun temurun dan hasil kreasi masyarakat setempat. Ia tidak menyangka jika produk roti sele ini bisa seterkenal sekarang ini.

Memang setiap daerah di Aceh memiliki cerita masing-masing soal roti sele. Tetapi roti sele yang satu ini memang beda, fenomenal dan penuh sensasi rasa. Di Pidie juga banyak penghasil roti namun roti sele Samahani sangat khas.

Kalau dilihat dari bahan roti yang digunakan, tidak ada bedanya dengan roti daerah lain. Teksturnya pun bisa dikatakan sama. Tetapi ada satu yang tidak terdapat pada roti dari daerah lain, yaitu sele dan cita rasanya yang unik.

Tampak seorang pekerja bagian pelayanan penjualan sedang mengolesi sele pada roti yang telah dibelah menggunakan sendok khusus. (foto: koleksi pribadi)
Tampak seorang pekerja bagian pelayanan penjualan sedang mengolesi sele pada roti yang telah dibelah menggunakan sendok khusus. (foto: koleksi pribadi)

Untuk menghasilkan sele yang lezat dan memiliki cita rasa khas, proses pembuatannya dilakukan dengan menggunakan beberapa bahan, seperti telur ayam, gula pasir dll.

Kebanyakan bahan adonan sele roti Samahani menggunakan telur ayam ras, padahal jika memakai telur ayam kampung atau telur bebek, cita rasa sele yang dihasilkan lebih lezat lagi. Namun harga produksi sedikit lebih mahal karena harga jual telur ayam kampung lebih tinggi daripada telur ayam ras.

Menurut penjual roti sele Samahani yamg yang sudah lama menggeluti usaha ini. Sejak ia meneruskan bisnis tersebut dari orang tuanya. Dibandingkan dulu, saat ini roti sele Samahani sudah terkenal luas. Bahkan sampai ke Malaysia.

Penyanyi rock legendaris Indonesia Ahmad Albar pun pernah singgah di warungnya dan menikmati lezatnya roti sele Samahani. Kini jajanan tersebut bukan lagi hanya sekedar pelengkap minum kopi saja tetapi telah menjadi oleh-oleh yang selalu dibawa pulang oleh setiap masyarakat yang bepergian ke Banda Aceh atau berangkat ke Medan.

Saat pertama kali terjun ke usaha jualan roti sele Samahani, setiap harinya hanya dapat terjual tidak lebih dari 100 unit roti dengan harga jual Rp3.000-Rp3.500. Dan para penjual pun tidak banyak, hanya beberapa orang saja.

Meskipun sekarang ini juga para penjual tidak terlalu ramai, di pasar Samahani sendiri hanya berkisar lima penjual. Namun harga jual roti per buah telah meningkat menjadi Rp7.000-Rp7.500 per unit. Menurut pendapat beberapa konsumen harga jual tersebut tidak mahal atau wajar.

Dengan besaran harga sebesar itu, penjualan roti setiap harinya mencapai 600-700 buah per hari. Rata-rata pembelinya adalah warga Aceh yang melintasi jalan Banda Aceh -Medan. Bahkan penjualan roti selama lebaran meningkat hingga 200 persen.

Kelebihan lain dari sele roti Samahani adalah daya tahannya bisa sampai tiga hari. Apalagi kalau disimpan ditempat sejuk bisa lebih awet dan tidak basi ataupun terjadi perubahan rasa. Dengan dibungkus menggunakan kertas khusus membuat kualitas roti sele Samahani ini tetap terjaga.

Roti sele Samahani telah dibungkus dengan kertas pembungkus khusus. (koleksi pribadi)
Roti sele Samahani telah dibungkus dengan kertas pembungkus khusus. (koleksi pribadi)

Hmmm…. Nyummmi, itulah sedikit ulasan tentang jajan khas dari Samahani Aceh Besar semoga semakin menambah wawasan kita terhadap kuliner nusantara. Tentunya jika Anda berkunjung ke Aceh jangan lupa singgah di outlet penjualan roti sele Samahani.

Salam.[]

Penulis telah tayangkan tulisan ini juga di https://www.kompasiana.com/cangkoiburong/5b33a477dd0fa83cdd7c7ee2/satu-lagi-lezatnya-roti-selai-samahani-sangat-digemari-warga-aceh

Tingginya Kredit Macet di Aceh, Pertanda Perekonomian Memburuk?

Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, kredit macet di Aceh pada triwulan pertama 2018 mencapai Rp 688 miliar. Dari jumlah tersebut, sektor perdagangan mendominasi dengan nilai kredit macet Rp 319 miliar. Kemudian diikuti sektor konstruksi Rp 111 miliar dan jasa-jasa Rp 55 miliar. (Serambi Indonesia, 22 April 2018).

Menurut Pemimpin kantor perwakilan Bank Indonesia Banda Aceh Zainal Arifin Lubis, jumlah kredit macet di Aceh termasuk tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir trennya mulai menurun. Sebagai perbandingan, tahun 2014 kredit macet di Aceh mencapai Rp 1,1 triliun. Tapi, pada 2015 turun menjadi Rp 990 miliar, lalu 2016 menjadi Rp 789 miliar, dan 2017 sebesar Rp 634 miliar. Sementara untuk tahun 2017 sampai triwulan pertama, kredit macet mencapai Rp 688 miliar.

Bila kita amati dari data yang dikeluarkan oleh BI di atas, ternyata sektor perdagangan memberikan kontribusi terbesar jumlah kredit macet di Aceh periode triwulan pertama tahun 2018. Hal ini menimbulkan tanda tanya ada masalah apa dengan sektor perdagangan di Aceh. Di sisi lain sebetulnya yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Aceh adalah sektor pertanian, perkebunan dan perikanan, kontribusi sektor Pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto Aceh di atas 27 persen. Nah, apakah perbankan selama ini keliru memilih sektor andalan dalam menyalurkan kredit?

Dari hasil penelusuran berbagai sumber informasi memang ditemukan sejumlah pedagang di Kota Banda Aceh mengeluh karena omsetnya menurun dan sepi pembeli. Bahkan keluhan mereka mewakili aspirasi para pedagang lainnya di Pasar Atjeh. Sejumlah pedagang tas, sepatu, dan pakaian muslim di Pasar Atjeh juga menyampaikan bahwa akhir-akhir ini sangat sepi pembeli. Meskipun begitu, kita juga perlu berhati-hati untuk menyimpulkan bahwa sudah pasti daya beli masyarakat yang menjadi faktor utama lesunya sektor perdagangan di Aceh, apalagi di era digital ini di mana masyarakat cenderung lebih senang membeli secara online.

Penyebab Kredit Macet

Pada umunya kredit usaha di Aceh lebih banyak dinikmati oleh pelaku UMKM berbagai sektor, mulai dari sektor perdagangan sampai sektor pertanian, namun jika kita melihat data yang rilis oleh Bank Indonesia Aceh, sektor perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan mendapatkan kucuran kredit yang lebih besar mencapai 52,9 persen, dan sektor yang paling sedikit adalah sektor pertanian/perikanan hanya 8,4 persen. Alasan pihak bank lebih mengutamakan sektor perdagangan karena dari sisi risikonya yang rendah, mudah dikontrol dan memiliki cash flow yang relatif cepat.

Menurut laporan BI Aceh (2016) berdasarkan klasifikasi usaha sebagian besar kredit UMKM disalurkan pada usaha menengah mencapai 45,5 persen dan selebihnya kepada usaha kecil yaitu 29,6 persen dan usaha mikro sebesar 25,0 persen, sementara jenis kredit yang diberikan adalah kredit modal kerja (KMK). Sedangkan bank penyalur didominasi oleh bank persero milik pemerintah.

Bila kita mengacu pada berbagai hasil penelitian empiris terkait dengan kredit usaha secara umum yang dilakukan oleh para akademisi dan praktisi ditemukan bahwa kredit macet atau  non performing loan (NPL) disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah pertumbuhan ekonomi, tingkat suku bunga, itikad baik debitur untuk membayar (karakter) dan lain sebagainya. Dengan kata lain bahwa kredit macet tersebut ada hubungannya dengan variabel makro ekonomi dan moneter.

Menurut Hamdani (2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa dalam jangka pendek, variabel produk domestik regional bruto mempengaruhi dan memiliki hubungan satu arah dengan kredit UMKM sedangkan variabel suku bunga memiliki hubungan sebab akibat dengan kredit UMKM, begitu juga halnya variabel NPL memiliki hubungan satu arah dengan kredit UMKM di Aceh.

Sementara Zainal Arifin Lubis (acehbisnis.co, 21 April 2018) mengatakan beberapa faktor penyebab tingginya kredit macet di Aceh; pertama, aspek bisnis yaitu bila bisnis tidak berkembang dan kurangnya pasar terhadap produk yang dihasilkan, serta operasional kegiatan juga kurang menguntungkan, sehingga pengembalian pinjaman menjadi lemah. Kedua, aspek karakter, yaitu pengembalian uang ke bank menunggak. Peminjam mengangap uang itu uang rakyat, sehingga mereka enggan mengembalikan uang tersebut. Namun alasan debitur mengganggap uang tersebut adalah uang rakyat sangat kecil kemungkinan, karena saat debitur mengajukan pinjaman oleh petugas bank pasti sudah menyampaikan seluruh informasi yang perlu diketahui oleh calon peminjam dan lagi pula debitur pun dengan suka rela menyerahkan jaminan tambahan sebagai agunan atas asset yang mereka miliki. Maka, yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana proses pemberian kredit oleh petugas bank tersebut. Patut diduga bahwa proses yang dilakukan tidak sesuai prosedur. Sehingga potensi kredit macet memang sudah diketahui sejak awal namun diabaikan atau tidak mampu di maintenance oleh bank.

Perekonomian Aceh

Kepala BPS Aceh Wahyudin mengatakan Perekonomian Aceh Triwulan IV-2017 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp37,77 triliun atau sebesar US$2,79 milyar. Sementara PDRB tanpa migas adalah sebesar Rp36,72 triliun atau sebesar US$2,71 milyar. Ekonomi Aceh dengan migas secara kumulatif (c to c) hingga triwulan IV-2017 tumbuh sebesar 4,19 persen, pertumbuhan c to c tanpa migas adalah sebesar 4,14 persen. Bila dibandingkan triwulan lV-2016 (y-on-y) tumbuh sebesar 3,58 persen. Rendahnya pertumbuhan ekonomi Aceh bahkan di bawah rata-rata nasional bisa menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kredit macet.

Dalam rapat terbatas bidang perekonomian Presiden RI memberikan perhatian dan arahan khusus kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh untuk mengelola serta memanfaatkan seluruh potensi unggulan untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi di Aceh, sekaligus memberikan kesejahteraan bagi rakyat Aceh, fokus mengembangkan sektor unggulan, misalnya industri pertanian hingga penghiliran industri.

Dari berbagai data dan informasi yang telah diuraikan diatas, menurut saya penyebab utama tingginya kredit macet di Aceh sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Aceh yang mengalami penurunan. sehingga menyebabkan proses bisnis yang dilakukan oleh debitur mengalami hambatan, hal ini terlihat pada penurunan omset penjualan para pedagang di pasar-pasar di Aceh. Rendahnya daya beli masyarakat juga menjadi persoalan tersendiri dalam perekonomian Aceh. (ham)*

Baca juga di kompasiana.com

Cara Mudah Menjadi Wirausaha (Entrepreneur)

Hampir semua orang yang hidup di dunia tidak ingin dalam hidupnya ada masalah, kita semua menginginkan sebuah kehidupan yang lurus-lurus saja, tanpa beban yang amat berat untuk kita tanggung apalagi menanggungnya sampai masa tua.Pengangguran adalah beban dalam kehidupan, bukan hanya beban secara pribadi/individu, keluarga, masyarakat bahkan beban negara. Orang yang sudah memasuki angkatan kerja dan siap untuk bekerja. Akan tetapi tidak adanya kesempatan kerja karena tidak tersedianya lapangan kerja.

Secara ekonomi, individu atau perusahaan-perusahaan merupakan penyumbang pendapatan bagi negara melalui mekanisme Product Domestic Brutto (PDB) atau Gross National Product (GNP) yang dihitung setiap periode berjalan dengan metode tertentu. Pendapatan atau pengeluaran masyarakat dalam suatu negara dihitung dan dicatat sehingga tingkat pendapatan dan pengeluaran rata-rata penduduk pun diketahui, semakin banyak individu dan atau perusahaan menciptakan output maka semakin besar pula potensi tingkat pendapatan rata-rata penduduk dalam negara tersebut. Sebaliknya, individu yang tidak menghasilkan pendapatan bagi dirinya maka secara tidak langsung individu tersebut telah turut mengurangi jumlah pendapatan rata-rata individu lainnya. Dampak negatifnya bukan hanya secara ekonomi akan tetapi secara sosial pun ikut memberikan pengaruh tidak baik, kriminalitas akan terjadi dimana-mana apabila tingkat pengangguran tinggi.

Setiap negara menginginkan angkatan kerjanya tidak menganggur tetapi full employment atau terserap dalam lapangan kerja, namun pada kenyataannya banyak negara tidak mampu menyediakan lapangan kerja bagi semua angkatan kerjanya karena berbagai alasan. Setiap tahun angkatan kerja terus bertambah sementara di sisi lain, lapangan kerja yang tersedia semakin menyempit, tidak ada pembukaan atau penambahan lapangan kerja baru oleh pemerintah. Karena itu mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan sedang disiapkan untuk memasuki pasar tenaga kerja sebaiknya tidak terlalu berharap untuk mendapatkan pekerjaan dari pemerintah apalagi menjadi pegawai negeri sipil (PNS) namun jadilah orang atau pihak yang justru menciptakan lapangan kerja dan memberikan pekerjaan bagi orang lain, dengan cara apa? Salah satunya adalah dengan jalan berwirausaha.

Menjadi seorang wirausahawan memang tidak mudah, tidak semudah yang kita bayangkan tetapi juga bukan berarti tidak bisa dilakukan. Wirausahawan sukses membutuhkan persiapan, memerlukan sikap-sikap positif, mental tarung dan perilaku sukses serta pengetahuan yang luas tentang apa yang akan dijalankan, membutuhkan keahlian (skill) secara umum dan kemampuan teknis untuk mengelola seluruh sumber daya yang digunakan dalam menghasilkan output.  Selain itu calon wirausaha juga harus memiliki ide bisnis yang akan dijalankan

Modal utama dan paling penting dalam memulai berwirausaha adalah adanya niat dan kemauan. Segala perbuatan yang  tidak di mulai dengan niat yang baik dan nawaitu yang lurus seringkali tindakan-tindakan yang lakukan kurang serius dan tidak fokus pada arah tujuan atau bahkan karena tanpa ada niat tujuan pun tidak ada. Niat itu menjadi alasan pertama mengapa seseorang memilih atau tidak memilih untuk melakukan satu pekerjaan atau kegiatan tertentu. Impian yang dimiliki oleh setiap orang merupakan manifestasi dari sebuah keinginan kuat yang datangnya secara tulus dari diri seseorang yang kemudian lahir dari hatinya untuk melakukan sesuatu (take action) agar impiannya tercapai. Mungkin saja bahwa niat itu muncul karena dipicu dengan melihat pengalaman-pengalaman sukses orang lain atau peristiwa-peristiwa yang di alami dalam hidupnya dan itu hanya sebagai pencetus saja. Maka milikilah niat dan keyakinan untuk menjadi wirausaha.

Sumber: https://hamdani75.wordpress.com/