Timbulnya Ilmu Perilaku dalam Ilmu Manajemen | Hamdani

Pada  periode yang sama di mana F.W. Taylor, Fayol dan lainnya memusatkan diri pada manajemen ilmiah dan tugas-tugas manajer, banyak para sarjana dan para pelaksana memikirkan, mengadakan percobaan, dan menulis tentang psikologi industri  dan tentang teori sosial, yang kedua-duanya dalam banyak hal, di rangsang oleh gerakan manajemen ilmiah. Indikasi ini bisa kita lihat dengan timbul dan berkembangnya psikologi industri, tumbuhnya manajemen kepegawaian, dan perkembangan pendekatan sosiologis terhadap hubungan dan manajemen manusia.

TIMBULNYA PSIKOLOGI INDUSTRI

Hugo Munsterberg diakui sebagai “bapak psikologi industri”. Dia belajar psikologi dan menerima gelar doktornya pada Universitas Leizip pada tahun 1885. Pada tahun 1910 minatnya tertuju pada penerapan psikologi dalam industri, di mana dia melihat pentingnya penerapan ilmu perilaku kepada gerakan manajemen ilmiah yang baru.

Dalam bukunya berjudul Psikologi dan Efesiensi Industrial, yang diterbitkan tahun 1912, Munsterberg menerangkan dengan jelas bahwa tujuannya adalah menemukan (1) bagaimana mendapatkan orang-orang yang memiliki sifat-sifat mental yang paling cocok dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan; (2) dalam kondisi psikologis manakah out put yang paling besar dan paling memuaskan dapat diperoleh dari pekerjaan setiap orang; (3) bagaimana suatu perusahaan dapat mempengaruhi para pekerja dengan demikian rupa sehingga dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Sebagaimana hal Taylor, Musnterberg tertarik akan minat yang timbal balik antara manajer dan para pekerja. Dalam menyelesaikan pekerjaannya, Munsterberg juga dilengkapi dengan pendapat baru Lilian Gilbret, Walter Dill Scott yang berusaha menerapkan konsep-konsep psikologi dalam praktek manajemen ilmiah. Mereka semua adalah ahli dalam ilmu perilaku. Dan bahkan Scott juga banyak menulis buku-buku mengenai penerapan konsep-konsep psikologi pada periklanan dan pemasaran, tentang perkembangan praktek manajemen kepegawaian, seperti seleksi yang efektif.

PERTUMBUHAN MANAJEMEN KEPEGAWAIAN

Robert Owen sebagai pelopor dan kontributor terhadap manajemen kepegawaian, lalu pemikiran dan idenya diakui oleh para ahli manajemen lainnya dan para industriawan. Antara lain adalah Walter Dill Scott, B.F.Goodrich,dll. Bahkan Henry Ford sebagai otokrat industri juga memikirkan tentang apa yang akan dilakukan para pekerja mengingat gaji mereka yag jauh lebih besar dan prihatin memikirkan pergantian buruh, mendirikan mendirikan sebuah departemen kepegawaian pada tahun 1914 atau yang diberi nama “departemen sosiologi.”

Industriawan yang memperkembangkan praktek-praktek manajemen kepegawaian secara lebih luas sebelumnya adalah B. Seebohm Rountree (Inggris, 1889) dengan membuat banyak program yag bertujuan mempertinggi status para pekerja. Diantara banyak program tersebut ada departemen kesehatan (1904), sekolah lanjutan waktu siang (1923), dan praktek-praktek inovasi, seperti tunjangan pengangguran, psikolog-psikolog industri perusahaan  yang terlatih untuk membimbing baik para manajer maupun para pekerja, dan perbekalan untuk kantin-kantin dan rekreasi.

Ilmu jiwa manajerial berlandaskan dua prinsip dasar: (1) apa pun yang menjadi alasan yang menyebabkan setiap individu tertentu untuk ikut serta dalam industri, tujuan dasarnya yang benar haruslah pelayanan kepada masyarakat, dan (2) industri adalah benda manusia, di mana pria dan wanita mendapatkan nafkah, dan dari mana pria da wanita harus megharapkan nafkah untuk hidup yang layak dijalani.

Perkembangan Pendekatan Sosiologis Dalam Manajemen

Setelah berkembangnya manajemen ilmiah oleh Taylor dan manajemen administratif oleh Henry Fayol. Kemudian muncul pendekatan baru sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan dari perilaku kelompok atau yang disebut “manusia sosial” dalam manajemen. Inilah awal perkembangan teori organisasi atau pendekatan sistem sosial dalam manajemen. “bapak teori organisasi” tersebut adalah Max Weber, Emile Durkheim (1839) dan Vilfredo Pareto (1896-1917)

Max Weber adalah cendikiawan berbangsa Jerman. Analisa empirisnya tentang Gereja, Pemerintahan, Ketentaraan dan Perusahaan menyebabkan dia percaya bahwa hirarki, otoritas, dan birokrasi (termasuk peraturan-peraturan yang jelas, defiisi tugas-tugas, dan ketertiban) merupakan pondasi segala organisasi sosial.

Emile Durkheim, cendikiawan Perancis dalam tulisannya menekankan bahwa kelompok-kelompok, melalui penetapan nilai-nilai dan norma-norma mereka, mengendalikan kelakuan manusia dalam setiap organisasi sosial. Sedangkan Vilfredo Pareto (Perancis-Italia) memadang bahwa masyarakat sebagai kerumunan berbelit-belit yang terdiri dari kesatua-kesatuan atau unsur-unsur yang saling bergantung-yaitu sebagai suatu sistem sosial dengan banyak sub-sistem. Diantara banyak idenya terdapat kecenderungan sistem-sistem sosial untuk mencari keseimbangan karena diganggu oleh pengaruh dari luar atau dari dalam. Dia juga melihat bahwa menjadi tugas kaum elit (yaitu:tingkat yang berkuasa) dalam setiap masyarakat untuk menyediakan kepemimpinan supaya dapat memelihara sistem sosial itu.

PELAKSANAAN MANAJEMEN MEMERLUKAN PENDEKATAN SISTEM

 Tidak ada manajer pelaksana yang dapat mengabaikan pendekatan sistem. Para manajer selalu harus memperhitungkan sejumlah besar pengaruh timbal-balik dan variabel yang saling mempengaruhi dalam pekerjaan mereka. Lalu apakah sistem itu?

Lanjut ke posting selanjutnya…