Politeknik: Inovasi Pendidikan Masa Kini

Pemerintah sedang merancang sistem perkuliahan baru bagi mahasiswa politeknik. Mahasiswa bisa melanjutkan kuliah meski dipertengahan mengajukan cuti untuk bekerja. Kebijakan yang bakal dikeluarkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ini dilakukan agar politeknik tidak dipandang sebagai kelas dua dalam dunia pendidikan tinggi.

Menurut Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir, lulusan politeknik saat ini sangat kompeten dan dibutuhkan dunia kerja. Sistem baru yang dipersiapkan pemerintah bersama-sama dengan politeknik berupa perkuliahan Multi Entry Multi Outcome (MEMO). Sistem ini memungkinkan mahasiswa dapat memilih berbagai alternatif perkuliahan, sehingga ini bisa langsung bekerja di industri yang membutuhkan lalu mereka pun bisa melanjutkan kuliah lagi.

Nasir menjelaskan, dengan adanya MEMO maka pada tahun pertama mahasiswa dapat sertifikat Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) level tiga. Lalu jika ingin melanjutkan kerja dulu maka mahasiswa bisa cuti kuliah. Setelah itu dia bisa melanjutkan kuliah pada tahun kedua. Dengan sistem itu maka tidak ada mahasiswa yang drop out atau zero DO di politeknik.

“Sistem MEMO diharapkan dapat mempercepat kebutuhan industri dan memutus mata rantai kemiskinan. Sehingga mahasiswa lulusan politehnik akan selalu siap kerja dan bukan lagi siap training,” katga mantan Rektor Universitas Diponegoro ini saat rapat koordinasi Forum Direktur Politeknik Se-Indonesia (FDPNI) di Jakarta, Minggu (18/3/2018).

Terkait penilaian akreditas, guru besar akuntansi ini menyebutkan banyak politeknik yang sebenarnya berkualitas namun belum mendapat akreditasi yang baik. “Instrumen yang digunakan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) adalah instrumen pada akademik. Sementara politeknik aspek akademiknya hanya 30 persen dan 70 persennya adalah praktek. Ini enggak nyambung. Jadi harus ada instrumen khusus untuk penilaian politeknik,” ujarnya. Untuk itu, dialog dengan BAN PT akan sesegera mungkin dilakukan pihaknya guna mengatasi persoalan tersebut.

Ketua FDPNI Rahmat Imbang menyebutkan bahwa kajian skema MEMO ini masih membutuhkan beberapa penyesuaian dan penyelerasan peraturan. Di antaranya penyesuaian kurikulum, instrumen penilaian BAN PT, hingga pangkalan data pendidikan tinggi (untuk menjamin keabsahan ijazah).

Sementara Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, pemerintah sudah melakukan peningkatan terkait akses lulusan pendidikan vokasi ke dunia kerja melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antar lima kementerian, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset Teknologi dan Penididikan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian BUMN.

Namun hal ini masih perlu dukungan dari sektor industri sebagai user dan penyedia lapangan kerja. “Agar pendidikan vokasi dapat disalurkan pada sektor tertentu, diperlukan akses terhadap industri,” ujarnya.

Menurut Imelda, akses ke industry ini sebenarnya sudah diusahakan oleh pemerintah melalui MoU antara lima kementerian tersebut. Namun demikian, perlu adanya revisi dari para perusahaan, terutama dalam menentukan syarat bagi para pencari kerja. “Selama ini banyak sekali para lulusan pendidikan vokasi yang mengalami kesulitan dalam mencari kerja karena mereka dianggap tidak memiliki kualifikasi pendidikan. Padahal secara praktikalnya mereka memenuhi kompetensi yang ada,” ungkapnya.

Imelda menambahkan, masih ada sebagian dari masyarakat yang memandang pendidikan vokasi sebagai pendidikan kelas dua. Pendidikan akademik yang memberikan gelar strata 1 (S1) atau strata 2 (S2) dan seterusnya masih menjadi pilihan sebagian besar masyarakat. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya lulusan pendidikan vokasi mencari pekerjaan.

Persyaratan perekrutan karyawan baru yang ditetapkan oleh perusahaan atau institusi lebih mengutamakan lulusan yang mengantongi ijazah akademik ketimbang ijazah pendidikan vokasi. Oleh karena itu perlu adanya perubahan persepsi dari sisi perusahaan/ pemberi kerja dan juga masyarakat. Karena keberadaan lulusan pendidikan vokasi bisa menjawab salah satu tantangan globalisasi yaitu masuknya pekerja asing ke Indonesia. “Kalau Indonesia memiliki pekerja yang sudah siap dengan keterampilan dan keahlian di bidangnya, maka tidak perlu takut bersaing dengan pekerja asing,” jelasnya.

Baca disini Artikel asli

Pendidikan Vokasi dan Bonus Demografi 2020-2030

Pendidikan | Politeknik Kutaraja

Kampus Politeknik Kutaraja “pendidikan vokasi”.

Menurut laporan badan buruh dunia ILO (international labour organization) tingkat pendidikan pekerja di Indonesia sebanyak 60 persen adalah lulusan sekolah dasar (SD), di mana pendidikannya sangat rendah, tidak terdidik dan tidak memiliki ketrampilan sehingga produktivitasnya ikut rendah. Namun di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan berkemampuan tinggi, yang mampu bekerja sama dalam tim, memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif, mampu memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global, dalam rangka meningkatkan produktivitas. Dan berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2015, hanya 8,32% dari angkatan kerja saat ini berasal dari bangku kuliah. Yang paling besar justru belum tamat SD (13,02%), tidak/belum pernah sekolah (27,42%), SMP (18,03%), dan SMA (17,26%). Oleh sebab itu, proses pendidikan tinggi harus difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sehingga mampu menghasilkan mahasiswa yang mandiri, berkompeten dan produktif.

Mahasiswa sebagai subyek pembelajaran dalam pusaran pendidikan di perguruan tinggi, perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Tidak hanya secara internal dengan para dosen, instruktur dan citivas akademika namun juga secara eksternal yaitu dengan industri atau perusahaan dan pemerintah. Model pendidikan dan proses pembelajaran seperti ini sangat berbeda dengan apa yang diterapkan di perguruan tinggi pendidikan akademik saat ini, di mana mahasiswa seringkali hanya menjadi objek dari sebuah proses. Dosen sering bertindak sebagai pusat (center) dalam kegiatan belajar mengajar, bahkan sistim terpusat semacam ini tidak jarang memperagakan hegemoni dosen dalam perkuliahan begitu menonjol. Mahasiswa suka tidak suka harus menerima begitu saja apa yang diajarkan oleh sang dosen tanpa boleh membantah karena semuanya berdasarkan teori (based on theory). Hal ini membuat pemikiran mahasiswa tidak berkembang dan menjadi sangat terbatas, melahirkan para penganut teori dan takut berinovasi. Namun apa boleh buat, Indonesia sudah cukup lama menerapkan sistim pendidikan seperti itu. Paradigma pendidikan yang dilandasi asumsi John Locke bahwa pikiran peserta didik yang belum terlatih sama dengan kertas kosong yang menunggu dosen untuk menulisinya telah begitu mendarah daging.

Namun pada pendidikan vokasi seperti Politeknik Kutaraja, proses pembelajaran yang dilakukan menerapkan sistim yang sangat berbeda dengan pendidikan akademi, di mana mahasiswa merupakan sebagai pusat pembelajaran atau apa yang disebut dengan student centre learning (SCL). Strategi belajar model SCL dianggap sangat penting dalam mengajar dan mahasiswa dilatih menggunakan strategi belajar tersebut agar dapat mandiri dalam meningkatkan keberhasilan belajarnya. Paradigma pembelajaran telah bergeser dari pembelajaran berpusat pada dosen ke pembelajaran berpusat pada mahasiswa, pergeseran tersebut menyentuh semua aspek pembelajaran. Oleh sebab itu maka Politeknik Kutaraja sangat menekankan agar untuk mencapai tujuan pembelajaran, mahasiswa dibantu dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti laboratorium komputer, praktek mini bank, lab administrasi perkantoran dan magang kerja dengan pihak relasi/industri. Sehingga mahasiswa Politeknik Kutaraja memiliki satu karakteristik yang khas sejak mulai kuliah sampai lulus.

Karakteristik pendidikan vokasi pada umumnya adalah bagaimana menciptakan profil lulusan yang berorientasi pada profesi atau dunia kerja, memiliki sikap profesional berstandar, mempunyai pengetahuan praktis, dengan ketrampilan khusus yang ditekankan pada kebutuhan dunia kerja, serta memiliki kepekaan dan tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan kerja dan sosial. Semua ini dapat dicapai karena dosen atau pengajar pada pendidikan vokasi adalah mereka yang mempunyai keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri serta profesi. Apalagi ditunjang dengan media pembelajaran yang cukup, tentu akan sangat membantu memberikan stimulus bagi mahasiswa untuk menguasai keahlian dan kompetensi sesuai bidang minat dan bakatnya.

Fenomena Bonus Demografi

Dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan menghadapi bonus demografi.  Bonus demografi adalah suatu fenomena dimana jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Menurut Prof. Haryono Suyono,  seperti dikutip oleh Win Konadi dan Zainuddin Iba (2009), menyatakan bahwa Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah melimpahnya jumlah penduduk produktif usia angkatan kerja (15-64 tahun), yang mencapai sekitar 60 persen atau 160-180 juta jiwa pada 2020, sedangkan sekitar  30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun). Jika bonus demografi tersebut berhasil memanfaatkannya dengan melakukan berbagai upaya yang diperlukan untuk terjadinya hal tersebut, maka Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 dunia, meningkatnya target pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan investasi yang ujungnya adalah akan terserap tenaga kerja produktif sebagai hasil dari bonus demografi . Dengan demikian kebutuhan terhadap tenaga kerja juga mengalami peningkatan.

Meskipun begitu, banyak perusahaan yang masih mengkhawatirkan kualitas lulusan universitas di Indonesia. Pasalnya, kebutuhan tenaga kerja (talent) pada tahun 2021 akan mengalami perubahan seiring meningkatkan adaptasi teknologi dalam operasional perusahaan. Di sisi lain, kebanyakan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak banyak berubah sesuai perubahan zaman. Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2015, dari sisi kompetetif, tenaga kerja di Indonesia masih jauh berada negara-negara di dunia dengan menduduki peringkat ke-111 di dunia, atau ke-6 di Asia Tenggara. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas penduduk produktif dan berdaya saing masa mendatang, salah satu usaha yang tepat adalah dengan menyediakan kesempatan pendidikan seluas-luasnya. Kemudahan akses pendidikan dan didukung oleh prasarana pendidikan yang lengkap, serta tenaga pendidik yang berkualitas, akan menciptakan masyarakat yang berkualitas pula. Dengan kesempatan mengenyam pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi, tentu menjadi modal penting untuk menciptakan angkatan kerja yang berkualitas dan terampil. Inilah komitmen POLITEKNIK KUTARAJA di Banda Aceh untuk mewujudkan generasi muda yang berkualitas, smart dan berdaya saing. (*ham)

Politeknik Sebagai Pilihan Pendidikan Masa Depan

Pendidikan Vokasi Sebagai Model Pendidikan Masa Depan Indonesia l Politeknik Kutaraja 

Politeknik Penuh Inspirasi

Dewasa ini di Indonesia sesuai data Badan Pusat Statistik jumlah pengangguran terdidik yang merupakan lulusan perguruan tinggi masih menjadi permasalahan utama. Hal ini, salah satunya disebabkan karena masih ada beberapa lulusan perguruan tinggi yang kualitas lulusannya kurang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia usaha dan industri saat ini. Walaupun pendidikan merupakan kebutuhan dasar akan ilmu pengetahuan namun tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan tinggi di Indonesia juga diarahkan untuk mencapai kemajuan negara dan kesejehteraan lulusan itu sendiri.

Berbicara mengenai pendidikan, di Indonesia ada tiga jenis pendidikan tingggi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, program pendidikan di pendidikan tinggi mencakup pendidikan akademik (sarjana, magister, dan doktor), pendidikan profesi/spesialis dan pendidikan vokasi (diploma). Secara definisi pendidikan akademik dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tertentu. Pendidikan kademik mencakup program pendidikan sarjana (S1), magister atau master (S2) dan doktor (S3).

Sedangkan Pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan vokasi mencakup program pendidikan diploma I (D1), diploma II (D2), diploma III (D3) dan Sarjana Terapan. Lulusan pendidikan vokasi mendapatkan gelar vokasi, misalnya A.Ma (Ahli Madya), A.Md (Ahli Madya). S.Tr.(Sarjana Terapan). Ada kecenderungan (trend) pendidikan di masa depan, dimana mulai terjadi pergeseran dari sistem pendidikan untuk invensi menuju pendidikan yang lebih mengacu pada kebutuhan masyarakat, maka pendidikan tinggi vokasi merupakan pendidikan yang sangat sesuai dalam penyiapan lulusan yang mampu bekerja dan siap berprofesi.

Dalam pendidikan vokasi penguasaan aspek keilmuan dan teor-teori tidak begitu utama, justru yang sangat penting adalah mahasiswa/siswa memiliki ketrampilan khusus dalam bidang program yang mereka ikuti. Pendidikan vokasi menekankan pembelajaran terstruktur dengan keahlian, dalam kurikulumnya mencakup muatan pembelajaran keilmuan, keterampilan dan praktik kerja lapangan. Lembaga pendidikan vokasi juga bermitra dengan perusahaan dan industri sebab pembelajaran tidak hanya dilakukan kampus tapi juga di perusahaan, inilah kelebihan pendidikan vokasional yang paling subtansial, dimana mahasiswanya dituntut mampu bekerja dengan terampil saat dibutuhkan perusahaan dan maupun pemerintah. Sehingga dalam perkembangan dunia saat ini lulusan perguruan tinggi vokasi sangat dibutuhkan peranannya dalam berbagai sektor, terutama sektor ekonomi dan bisnis. Kontribusi para lulusan yang memiliki keahlian dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan industri.

Jika kita berkaca pada negara-negara maju ternyata rasio pendidikannya lebih besar pendidikan vokasi bila dibandingkan pendidikan akademik dan perannya pun nyata dalam mencapai kemajuan. Jerman misalnya. Model pendidikan vokasi di Jerman telah terbukti mendukung kemajuan industri/perusahaan dan ketahanan ekonomi Jerman. Di negara lainnya juga meniru sistem pendidikan vokasi ini seperti Cina. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang lebih memilih lulusan pendidikan kejuruan yang telah menguasai keahlian praktikal, karena dianggap lebih siap kerja, maka tingkat permintaan lulusan oleh industri semakin tinggi. Itulah ciri khas perguruan tinggi vokasi di mana dapat menghasilkan lulusan yang profesional di bidangnya, sebab kurikulum yang diberikan berbasis kompetensi sehingga lulusan pendidikan vokasi dapat bersaing di dalam dunia kerja.

Jadi sebenarnya dapat kita katakan bahwa pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan yang memadukan antara fungsi pendidikan (education) yang menyiapkan sumber daya manusia seutuhnya dengan pelatihan (training) yang berperan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap bekerja atau berkarir pada suatu bidang profesi tertentu.

Meskipun pendidikan vokasi masih tergolong baru dan berusia muda di Indonesia namun minat dan animo masyarakat untuk mengenyam pendidikan jenis ini tergolong tinggi dan tren-nya terus terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat kita lihat dengan pertumbuhan pendirian kampus politeknik yang begitu pesat. Berdasarkan data Kemenristekdikti (2015) dari sejumlah 3.227 perguruan tinggi, total politeknik di Indonesia berjumlah 262, yang terdiri atas 43 (17%) politeknik negeri, 53 politeknik kedinasan (20%) dan 166 politeknik swasta (63%) atau meningkat dari tahun sebelumnya. Walaupun demikian, jumlah politeknik di Indonesia juga masih sangat besar ketimpangannya.

Kebutuhan Lulusan Vokasi.
Mengaitkan potensi yang ada dengan pengembangan pendidikan vokasi menuju Indonesia yang makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Dengan potensi yang begitu besar, untuk mengeksploitasinya secara bijaksana diperlukan tenaga kerja yang bermutu dari segi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural), keahlian/keterampilan (sesuai dengan bidang garapan), dan karakter nasionalis yang kuat dan mulia. Semua ini dapat diperoleh melalui pendidikan dalam arti luas.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas maka Politeknik merupakan lembaga pendidikan yang sangat tepat untuk mewujudkan visi tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2007 menyatakan bahwa pendidikan politeknik sangat sesuai untuk dikembangkan di Indonesia karena didasarkan pada besarnya kebutuhan tenaga kerja dan sumber daya manusia terampil di Indonesia.

Jika memperhatikan program pembangunan Pemerintah yang tertuang dalam Nawacita pun pengembangan pendidikan vokasi pun sangat relevan sebagai penyedia tenaga kerja yang handal berkompeten, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Sehingga sangat tepat jika Presiden Jkw-Jk memasukkan pendidikan vokasi sebagai sasaran utama program kerja bidang pendidikan atau apa yang disebut dengan Program Indonesia Pintar. Dalam dua dekade ke depan, Indonesia membutuhkan satu juta lulusan baik tingkat sekolah kejuruan maupun tingkat diploma tiga dan sarjana terapan seperti lulusan politeknik. Inilah peluang dan target yang akan kita manfaatkan untuk menyiapkan para lulusan yang siap pakai, memiliki kahlian dan berdaya saing sebagaimana visi dan misi POLITEKNIK KUTARAJA (*ham)

Politeknik Berkualitas, Pendidikan Vokasi Akan Jadi Pilihan Favorit

Pendidikan | Banda Aceh

Gambar: Pendidikan Vokasi Politeknik

Sebagaimana dilansir website resmi Kemenristekdikti beberapa waktu lalu bahwa Indonesia saat ini sangat membutuhkan pendidikan yang bersifat menghasilkan output yang memiliki ketrampilan atau skill yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga outcome-nya jelas dan fokus pada mempersiapkan lulusan yang berkompeten dan berdaya saing serta siap memasuki dunia kerja. Pendidikan semacam itulah yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah, di mana kurikulum yang diterapkan dapat menjawab tantangan pasar tenaga kerja dan kebutuhan industri. Pola pembelajaran pun dapat dilakukan dengan pendekatan praktis dan sedikit teoritis. Tidak seperti selama ini, para mahasiswa atau siswa lebih banyak belajar teori dan sangat sedikit praktek, akibatnya para lulusan memiliki pengetahuan yang banyak tetapi miskin ketrampilan. Tidak mampu bekerja sehingga sulit bersaing dengan para pencari kerja dari negara-negara lain.

Untuk mampu bersaing di ranah nasional maupun global, industri suatu negara harus didukung oleh tenaga kerja yang produktif. Produktivitas tenaga kerja ditentukan oleh kompetensi tenaga kerja yang dapat membantu memajukan daya saing perekonomian suatu bangsa.

Hal ini disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir saat meresmikan Politeknik Ketenagakerjaan bersama 2 (dua) Menteri kabinet kerja yaitu Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Hanif Dakhiri dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur, bertempat di BBPLK, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (26/10).

Langkah strategis yang telah ditempuh oleh Kementerian Ketanagakerjaan RI yang baru saja mendirikan Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker), disambut baik Menteri Nasir dalam rangka melahirkan tenaga kerja baru yang berkompeten dari Politeknik.

“Pendidikan vokasi di Indonesia hanya sekitar 16%. Politeknik harus kita dorong agar menjadi Politeknik yang berkualitas dan unggul, dengan begitu saya yakin kedepannya pendidikan vokasi akan menjadi salah satu pilihan favorit bagi anak-anak di Indonesia untuk mengemban pendidikan yang lebih tinggi,” tutur Menteri Nasir dalam sambutannya.

Bila dibandingkan, jumlah penduduk Indonesia hanya sebanyak 1 (satu) banding 6 (enam) dari jumlah penduduk di China, namun di China hampir 56% perguruan tingginya merupakan pendidikan vokasi, sedangkan di Indonesia dengan jumlah perguruan tinggi yang lebih banyak dibanding China tetapi China memiliki lebih banyak tenaga kerja yang produktif bila dibandingkan dengan Indonesia.

“Kompetensi tenaga kerja banyak dipengaruhi oleh pengalaman semasa kerja dan pengalaman kerja semasa masih menjadi peserta didik. Saat ini, pendidikan vokasi menjadi kunci jawaban atas kebutuhan tenaga kerja yang produktif dan kompetitif,” ujar Menteri Nasir.

Menteri Nasir menambahkan, para pendidik di Politeknik tidak hanya berasal dari lulusan akademik dengan syarat lulusan pendidikan S1 ataupun S2, tetapi ketika dia sudah menjadi ahli industri di bidangya dan berpengalaman, itu bisa menjadi prioritas untuk menjadi dosen di Politeknik.

Harapan Menteri Nasir, nantinya lulusan Politeknik selain mendapatkan ijazah, mereka juga harus memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya masing-masing minimal pada tingkatan 5 (lima). Ia juga mengimbau agar mahasiswa Politeknik jangan hanya menjadi ahli madya tetapi harus diarahkan untuk memiliki sertifikasi industri.

Dalam kaitan itulah, Politeknik Kutaraja di Banda Aceh hadir untuk menyiapkan generasi muda Aceh untuk memimpin negeri ini kedepan. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan belum terkelola dengan baik, maka para siswa lulusan SMA/SMK sederajat perlu dibekali dengan pendidikan yang berbasis pada penerapan ketrampilan serta keahlian yang unggul, kreatif dan inovatif, sehingga pada tataran pelaksanaan dilapangan SDM Aceh mampu menghasilkan output yang lebih besar dan lebih berkualitas.

Pendidikan vokasi pada Politeknik Kutaraja menekankan pada program studi bidang manajemen dan keuangan. Sekurang-kurangnya dalam periode sekarang ini membuka empat program studi dengan berbagai strata. Ada Prodi Akuntansi (D3), Prodi Administrasi Perkantoran (D3), Sarjana Terapan Analis Keuangan dan Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Keuangan Sektor Publik (MKSP). 

Semua program studi tersebut dibuka mengacu kepada kebutuhan tenaga kerja pada bidang tersebut dilapangan. Aceh saat ini masih kekurangan tenaga madya tatalaksan kantor yang mumpuni dan berkompeten, masih ditemukan di kantor-kantor pemerintahan di mana pegawainya banyak yang belum menguasai aplikasi komputer perkantoran, tidak bisa mengoperasionalkan komputer, apalagi level computer for office tingkat lanjut. Kondisi ini berlaku bukan hanya pada perkantoran di tingkat kabupaten/kota bahkan level provinsi sekalipun. Belum lagi pegawai kantor kelurahan yang ada di gampong-gampong.

Politeknik Kutaraja juga akan berkiprah dalam menyiapkan SDM dan lulusannya dalam bidang tenaga ahli tatakelola keuangan publik, yaitu dengan membuka jurusan Manajemen Keuangan Sektor Publik. Memang beberapa kabupaten/kota di Aceh telah berhasil memperoleh predikat WTP dari BPK dalam pengelolaan anggaran daerah, namun masih banyak juga daerah-daerah yang belum mampu mencapai predikat tersebut karena berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah kurangnya tenaga ahli atau pegawai yang mampu dalam membuat perencanaan, pengelolaan dan pelaporan yang standar dan baik akan anggaran daerah tersebut. Nah disinilah peran Politeknik Kutaraja untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja dengan keterampilan dan pengetahuan keuangan negara/daerah sesuai dengan yang diharapkan.

Bagi siswa SMA/SMK sederajat yang akan lulus tahun 2018, silakan mendaftarkan diri untuk kuliah di Politeknik Kutaraja dengan pilihan program studi yang telah kami paparkan di atas dengan datang langsung ke kampus di Jalan Syiah Kuala No.10 Jambo Tape Banda Aceh (Depan MIN Jambo Tape) atau melalui website (online) www.poltekkutaraja.ac.id pada setiap hari/jam kerja. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut dapat juga menghubungi Telephone: (0651) 8016378/whatsapp +6281360329710 (*ham)