Politeknik: Inovasi Pendidikan Masa Kini

Pemerintah sedang merancang sistem perkuliahan baru bagi mahasiswa politeknik. Mahasiswa bisa melanjutkan kuliah meski dipertengahan mengajukan cuti untuk bekerja. Kebijakan yang bakal dikeluarkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ini dilakukan agar politeknik tidak dipandang sebagai kelas dua dalam dunia pendidikan tinggi.

Menurut Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir, lulusan politeknik saat ini sangat kompeten dan dibutuhkan dunia kerja. Sistem baru yang dipersiapkan pemerintah bersama-sama dengan politeknik berupa perkuliahan Multi Entry Multi Outcome (MEMO). Sistem ini memungkinkan mahasiswa dapat memilih berbagai alternatif perkuliahan, sehingga ini bisa langsung bekerja di industri yang membutuhkan lalu mereka pun bisa melanjutkan kuliah lagi.

Nasir menjelaskan, dengan adanya MEMO maka pada tahun pertama mahasiswa dapat sertifikat Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) level tiga. Lalu jika ingin melanjutkan kerja dulu maka mahasiswa bisa cuti kuliah. Setelah itu dia bisa melanjutkan kuliah pada tahun kedua. Dengan sistem itu maka tidak ada mahasiswa yang drop out atau zero DO di politeknik.

“Sistem MEMO diharapkan dapat mempercepat kebutuhan industri dan memutus mata rantai kemiskinan. Sehingga mahasiswa lulusan politehnik akan selalu siap kerja dan bukan lagi siap training,” katga mantan Rektor Universitas Diponegoro ini saat rapat koordinasi Forum Direktur Politeknik Se-Indonesia (FDPNI) di Jakarta, Minggu (18/3/2018).

Terkait penilaian akreditas, guru besar akuntansi ini menyebutkan banyak politeknik yang sebenarnya berkualitas namun belum mendapat akreditasi yang baik. “Instrumen yang digunakan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) adalah instrumen pada akademik. Sementara politeknik aspek akademiknya hanya 30 persen dan 70 persennya adalah praktek. Ini enggak nyambung. Jadi harus ada instrumen khusus untuk penilaian politeknik,” ujarnya. Untuk itu, dialog dengan BAN PT akan sesegera mungkin dilakukan pihaknya guna mengatasi persoalan tersebut.

Ketua FDPNI Rahmat Imbang menyebutkan bahwa kajian skema MEMO ini masih membutuhkan beberapa penyesuaian dan penyelerasan peraturan. Di antaranya penyesuaian kurikulum, instrumen penilaian BAN PT, hingga pangkalan data pendidikan tinggi (untuk menjamin keabsahan ijazah).

Sementara Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, pemerintah sudah melakukan peningkatan terkait akses lulusan pendidikan vokasi ke dunia kerja melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antar lima kementerian, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset Teknologi dan Penididikan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian BUMN.

Namun hal ini masih perlu dukungan dari sektor industri sebagai user dan penyedia lapangan kerja. “Agar pendidikan vokasi dapat disalurkan pada sektor tertentu, diperlukan akses terhadap industri,” ujarnya.

Menurut Imelda, akses ke industry ini sebenarnya sudah diusahakan oleh pemerintah melalui MoU antara lima kementerian tersebut. Namun demikian, perlu adanya revisi dari para perusahaan, terutama dalam menentukan syarat bagi para pencari kerja. “Selama ini banyak sekali para lulusan pendidikan vokasi yang mengalami kesulitan dalam mencari kerja karena mereka dianggap tidak memiliki kualifikasi pendidikan. Padahal secara praktikalnya mereka memenuhi kompetensi yang ada,” ungkapnya.

Imelda menambahkan, masih ada sebagian dari masyarakat yang memandang pendidikan vokasi sebagai pendidikan kelas dua. Pendidikan akademik yang memberikan gelar strata 1 (S1) atau strata 2 (S2) dan seterusnya masih menjadi pilihan sebagian besar masyarakat. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya lulusan pendidikan vokasi mencari pekerjaan.

Persyaratan perekrutan karyawan baru yang ditetapkan oleh perusahaan atau institusi lebih mengutamakan lulusan yang mengantongi ijazah akademik ketimbang ijazah pendidikan vokasi. Oleh karena itu perlu adanya perubahan persepsi dari sisi perusahaan/ pemberi kerja dan juga masyarakat. Karena keberadaan lulusan pendidikan vokasi bisa menjawab salah satu tantangan globalisasi yaitu masuknya pekerja asing ke Indonesia. “Kalau Indonesia memiliki pekerja yang sudah siap dengan keterampilan dan keahlian di bidangnya, maka tidak perlu takut bersaing dengan pekerja asing,” jelasnya.

Baca disini Artikel asli

Politeknik? Mengapa Tidak!

Sejak reformasi dicanangkan di tahun 1998, Politeknik di Indonesia hampir tidak terdengar kiprahnya, bahkan gelegarnya seolah mati tertelan bumi.

Kenapa demikian?

Alasannya sederhana, Politeknik dianggap sebagai Perguruan Tinggi (PT) kelas bawah yang memiliki lulusan tidak bergelar, sehingga lulusan politeknik tidak memiliki kebanggaan layaknya lulusan PT umum yang memiliki sejumlah gelar kesarjanaan seperti Insinyur (Ir), Dokter (dr), Sarjana Hukum (SH), Sarjana Ekonomi (SE) dan sebagainya. Akibatnya sebagian lulusan politeknik berusaha melanjutkan ke PT untuk memperoleh gelar kesarjanaan tertentu. Demikian pula, hingga saat ini Politeknik kurang peminat sehingga jumlah pertumbuhan kelulusannya mengalami hambatan. Pangkalan Data Perguruan Tinggi (2015) mempublikasi, jumlah Politeknik hanya sebanyak 262 institusi dari sejumlah 4300 PT, atau hanya sekitar 6% dari seluruh jumlah PT di Indonesia. Dan dari jumlah itu, 63% dikelola swasta, 17% negeri dan 20% dikelola kedinasan. Data itu menegaskan bahwa minat lulusan sekolah menengah atas masuk politeknis sangat terbatas dibanding masuk perguruan tinggi umum, disisi lain Politeknik yang dikelola swasta menunjukkan dominan. Data yang sama menunjukkan jumlah mahasiswa Politeknik saat ini sebesar 234.495 mahasiswa, jauh dibawah jumlah mahasiswa diperguruan tinggi yang berjumlah sekitar 10 juta mahasiswa.

Politeknik adalah penyelenggara pendidikan tinggi dengan bidang pengetahuan khusus, bertujuan agar lulusannya dapat bekerja secara profesional dalam keahlian tertentu. Politeknik memberikan pengalaman belajar dan latihan yang cukup untuk membentuk kemampuan profesional dan terampil di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, Politeknik harus dapat memberikan pendidikan dan pengajaran vokasi setingkat Pendidikan Tinggi, program Diploma dan Profesi/Spesialis, serta sebagai Pusat penciptaan, pengembangan dan penyelenggaraan Iptek.

Politeknik kini menjadi penting ketika Presiden RI mengemukakan pendapatnya tentang Politeknik, antara lain Politeknik di indonesia sebaiknya memiliki sistem seperti politeknik yang ada di Jerman, ini berarti menegaskan bahwa lulusan Politeknik harus bisa membuat, merekayasa, mengelola produk iptek, namun juga harus bisa mengembangkan secara kreatif sehingga produk iptek menjadi lebih sempurna. Dengan kata lain bahwa Politeknik tidak boleh hanya melamun,hanya paparan konsep dan produk berupa jurnal tapi juga harus mengasilkan produk inovatif yang efisien, murah, kuat dan aman serta siap masuk ke pasar. Jika itu yang dimaksud, maka sebuah Politeknik tidak cukup hanya berkutat di tingkat kesiapan Teknologi saja, tetapi juga harus bergerak secara cepat mengembangkan pasar, menyiapkan organisasi dan tata-kelola, memperluas jaringan pasar, jaringan inovasi dan klaster industri, mengembangkan kerjasama serta mempu mengelola manajemen resiko. Dan bahkan kemampuan teknopreneurship juga menjadi faktor penting mendongkrak kapasitas Politeknik.

Politeknik di Indonesia saat ini??..

Pada umumnya di negara seperti Canada, Meksiko serta beberapa negara Eropa, termasuk Indonesia, Politeknik sendiri sering disamakan dengan institut teknologi, tetapi bedanya politeknik tidak mengeluarkan lulusan bergelar Sarjana sebagaimana Institut Teknologi yang ada di Indonesia, melainkan Diploma, kebanyakan Politeknik mengeluarkan lulusan yang bergelar Diploma III, yang ditempuh dalam 3 tahun. Disamping jenjang pendidikan, perbedaan antara Politeknik dengan Universitas terjadi pada kurikulumnya, jika Universitas lebih menekankan pada suatu teori, konsep dan perkembangan keilmuan kedepan serta minim praktik langsung lapangan/industri, maka Politeknik hampir 75% Praktik dilapangan dengan menekankan aplikasi keilmuan. Politeknik merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, intitusi, sekolah tinggi maupun universitas di Indonesia. Banyak politeknik yang berprestasi mengalahkan Universitas. Mahasiswa Politeknik yang berprestasi dibidang teknologi, diantaranya adalah Politeknik Negeri Bandung yang pernah meraih gelar juara robotik tingkat internasional, mengalahkan Universitas.

Read more at https://www.ristekdikti.go.id/politeknik-bangkit-mendukung-kinerja-pembangunan/#8PabhD1A8G6ljdKV.99

Nah adik-adik, tunggu apa lagi ayo segera mendaftarkan diri di Politeknik Kutaraja di Banda Aceh Jalan Syiah Kuala No 10 atau kunjungi www.poltekkutaraja.ac.id

Kemana Setelah SMA? | Menerawang Jalan Panjang

Kampus Politeknik Kutaraja. Jln Syiah Kuala No 10 Banda Aceh

Sukses Berbisnis | Pendidikan. Banda Aceh, 22 Desember 2017 | Tulisan singkat dan sederhana ini penulis ingin sedikit mengupas tentang pendidikan, khususnya pendidikan dasar.

Berbicara tentang pendidikan berarti kita berbicara tentang kebutuhan dasar manusia pada era millenium ini. Pendidikan yang saya maksudkan adalah suatu proses di mana manusia melakukan sebuah upaya untuk memperoleh pengetahuan yang dapat menjadikan dirinya menjadi lebih baik. Dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi mampu. Bagaimana pun pendidikan merupakan pondasi penting bagi sebuah nergara. Sebuah negara akan mampu mencapai kemajuan yang berarti dan berkualitas jika sumber daya manusia yang di milikinya mampu melahirkan berbagai ide besar dan inovasi-inovasi baru. Misalnya kita lihat negara-negara eropa, Amerika, Jepang bahkan negara-negara lain dibelahan dunia tidak segan-segan untuk memajukan pendidikan dinegaranya dengan anggaran yang sangat besar.

Bagaimana di Indonesia? Menurut Professor Andrew Rosser dari Universitas Melbourne hari Senin (20/11/2017) malam dalam acara bernama Lowy Institute di NGV sebagaimana dilansir oleh media berita online mengatakan bahwa Indonesia sudah mampu memberikan pendidikan bagi warga nergaranya secara merata, meskipun dengan anggaran yang terus meningkat namun kualitas pendidikannya belum begitu baik. Berdasarkan informasi tersebut diatas maka inilah tugas kita semua mulai dari pemerintah, masyarakat, guru, dosen, pihak perusahaan swasta dan pengusaha harus berpikir bagaimana caranya meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita sehingga baik secara kuantitas maupun kualitas, pendidikan di Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Bagaimana Pendidikan di Aceh? Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022, Bapak Irwandi dan Nova Iriansyah dalam visi-misinya menekankan betapa sangat penting bagi Pemerintah Aceh untuk terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, terutama pendidikan dasar bagi setiap rakyat Aceh. Sehingga untuk mewujudkan cita-citanya, pasangan ini membuat program kerja dalam bidang pendidikan yaitu ACEH CARONG. Dengan program kerja ini diharapkan akses pendidikan dan kualitasnya dapat lebih meningkat dari sebelumnya. Ini merupakan terobosan yang bagus dan tentu harus didukung oleh anggaran yang cukup, pengajar/guru yang berkompeten dan fasilitas (sarana/prasarana) di setiap sekolah tersedia secara cukup, lengkap dan fungsional. Inilah salah satu program unggulan yang diusung oleh Gubernur Aceh dan wakilnya.

UN (ujian nasional) di Depan Mata. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya siswa SD sampai dengan SMA pada bulan April menghadapi ujian akhir sekolah dan dilanjutkan dengan ujian nasional. Namun yang menjadi pokok perhatian kita adalah what`s next setelah lulus dari SMA? Jika kita melihat data yang ada bahwa pengangguran lulusan SMA juga sangat tinggi, hal ini mengindikasikan bahwa tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berarti memilih jadi pengangguran. Kenapa? Ya karena tidak ada lowongan kerja yang dapat menampung seluruh lulusan SMA di Aceh.

Dalam rangka mendukung program Pemerintah Aceh dalam mewujudkan ACEH CARONG, Yayasan Pendidikan Sarana Ilmu Kutaraja Provinsi Aceh kini telah mendirikan sebuah lembaga pendidikan perguruan tinggi vokasi yaitu POLITEKNIK KUTARAJA dengan izin Kemendiknas Dikti masing-masing Program Studi Akuntansi (D3), Administrasi Perkantoran (D3), Analis Keuangan (Sarjana Terapan) dan Manajemen Keuangan Sektor Publik (MKSP) Sarjana Terapan. Semua program studi tersebut menekankan pada kurikulum berbasis kompetensi dengan menerapkan pola pembelajaran teori dan praktek yang lebih banyak untuk menumbuhkan skill yang siap bekerja di berbagai industri (perusahaan swasta dan sektor pemerintah).

Saat ini kampus POLITEKNIK KUTARAJA beralamat di Jalan Syiah Kuala No 10 Banda Aceh (Depan MIN Jambo Tape). Penerimaan mahasiswa baru untuk semua prodi mulai dibuka untuk Tahun Ajaran 2018/2019. SIlakan datang dan berkunjung ke kampus POLITEKNIK KUTARAJA untuk mendapatkan informasi lebih detil pada setiap jam kerja.

Harapan kami semoga siswa lulusan SMA di Provinsi Aceh memiliki pilihan yang lebih banyak untuk meneruskan pendidikannya dan dapat mewujudkan impian mereka sekaligus menciptakan ACEH CARONG sebagai generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. (*ham)