CHESTER BERNARD DAN TEORI SISTEM | Scientific Management

Chester Bernard (1938) analisanya mengenai manajer sungguh-sungguh merupakan suatu pendekatan sistem sosial, karena agar mengerti dan menganalisa fungsi-fungsi para pejabat, Bernard memperhatikan tugas-tugas mereka yang utama dalam sistem di mana mereka beroperasi. Seperti yang ditulisnya dalam buku berjudul The Function of the Executive, (Fungsi-fungsi Pejabat). Sistem seperangkat unsur yang saling terkait yang berfungsi secara keseluruhan. Suatu sistem akan mencakup masukan (input ), Tranformasi (proses), dan keluaran (output).

Dalam teori Sistem dikenal Sistim Terbuka, yakni suatu sistem berinteraksi dengan lingkungan, dan Sistem Tertutup, yakni suatu sistem tidak berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi dengan sistem tertutup akan mengabaikan keberadan lingkungan, dan menjadi tidak akan mengetahui apakah posisi organisasi kuat, lemah, mempunyai kesempatan atau dalam posisi terancam. Teori Sistem menawarkan manajer perspektif yang sangat berguna. Melalui pendekatan sistem maka manajer dapat mengenal lingkungan dan memahami bagaimana organisasi bekerja, sehingga kinerja aktual organisasi dapat diketahui sedini mungkin. Konsep Sub-sistem menunjukkan bahwa antar unit organisasi terdapat ketergantungan yang sangat kuat yang jika diabaikan akan sangat membahayakan hidup organisasi. Sinergi akan memperlihatkan nilai kerja sama dalam organisasi sedangkan Entropi akan menunjukkan berbagai indikasi akan berakhirnya organisasi.

Dalam menentukan tugas para manajer adalah untuk memelihara suatu sistem usaha kerjasama dalam organisasi yang formal, Bernard memusatkan perhatiannya pada alasan adanya sistem-sistem kerjasama itu maupun sifat sistem tersebut. Logika analisanya dapat dilihat dalam langkah-langkah dibawah ini:

  1. Pembatasan-pembatasan fisik dan biologis terhadap individu-individu membawa mereka kepada kerjasama. Bahkan termasuk pembatasan-pembatasan psikologis dan sosial terhadap individu-individu juga memainkan suatu peranan yang menimbulkan kerja sama.
  2. Tindakan kerja sama membawa kepada penetapan sistem kerjasama di mana terdapat faktor-faktor atau unsur-unsur fisik, biologis, pribadi dan sosial. Bernard juga menunjukkan bahwa kelanjutan kerjasama tergantung dari efektivitas dan efesiensi dari anggota pihak yang bekerja sama.
  3. Setiap sistem kerja sama dapat ke dalam dua bagian: “organisasi” yang meliputi banyak interaksi orang-orang di dalam sistem itu, dan “unsur-unsur lainnya.”
  4. Organisasi dapat  juga dibagi  ke dalam dua macam: organisasi “formal”, yaitu kumpulan interaksi sosial yang secara sadar dikoordinasikan, mempunyai tujuan bersama dan ditentukan dengan sengaja. Organisasi “informal’, yaitu interaksi-interaksi sosial tanpa tujuan bersama yang umum atau dikoordinasikan dengan sadar.
  5. Organisasi formal tidak dapat berlangsung kalau tidak ada orang-orang yang (a) yang dapat saling berkomunikasi, (b) yang mau menyumbang kepada kegiatan kelompok, dan (c) dengan sadar mempunyai tujuan umum.
  6. Setiap organisasi formal harus mencakup unsur-unsur berikut ini: (a) suatu sistem fungsionalisasi sehingga orang-orang dapat berspesialisasi; (b) suatu sistem perangsang yang efektif dan efesien yang akan menyebabkan orang menyumbang kepada kegiatan kelompok; (c) suatu sistem kekuasaan (otoritas) yang akan menyebabkan anggota kelompok menerima keputusan-keputusan di dalam organisasi; dan (d) suatu sistem pengambilan keputusan yang logis.
  7. Jadi fungsi-fungsi para pejabat (semua level manajer) dalam organisasi yang formal ini adalah sebagai berikut: (a) pemeliharaan komunikasi organisasi melalui suatu skema organisasi, ditambah dengan adanya orang-orang yang loyal, bertanggung-jawab, dan mampu bekerja, serta suatu “organisasi informal” eksekutif yang rukun; (b) perlindungan terhadap pelayanan pokok dari individu-individu di dalam organisasi; dan (c) perumusan dan definisi mengenai tujuannya (yaitu perencanaan).
  8. Fungsi-fungsi pelaksana memasuki proses melalui pekerjaan pelaksana dengan atau integrasi dari keseluruhannya dan dengan menemukan keseimbangan yang paling baik di antara kekuatan-kekuatan dan kejadian-kejadian yang berlawanan.
  9. Untuk membuat pelaksana efektif, diperlukan suatu kepemimpinan yang mempunyai tanggung jawab yang sangat tinggi; sebagaimana telah ditekankan dengan tepat oleh Bernard, “kerjasamalah dan bukannya kepemimpinan, yang menjadi proses kreatif; tetapi kepemimpinan adalah pengecam yang sangat diperlukan dari kekuatan-kekuatan itu.”

Thank you for your visited on my blog

Timbulnya Ilmu Perilaku dalam Ilmu Manajemen | Hamdani

Pada  periode yang sama di mana F.W. Taylor, Fayol dan lainnya memusatkan diri pada manajemen ilmiah dan tugas-tugas manajer, banyak para sarjana dan para pelaksana memikirkan, mengadakan percobaan, dan menulis tentang psikologi industri  dan tentang teori sosial, yang kedua-duanya dalam banyak hal, di rangsang oleh gerakan manajemen ilmiah. Indikasi ini bisa kita lihat dengan timbul dan berkembangnya psikologi industri, tumbuhnya manajemen kepegawaian, dan perkembangan pendekatan sosiologis terhadap hubungan dan manajemen manusia.

TIMBULNYA PSIKOLOGI INDUSTRI

Hugo Munsterberg diakui sebagai “bapak psikologi industri”. Dia belajar psikologi dan menerima gelar doktornya pada Universitas Leizip pada tahun 1885. Pada tahun 1910 minatnya tertuju pada penerapan psikologi dalam industri, di mana dia melihat pentingnya penerapan ilmu perilaku kepada gerakan manajemen ilmiah yang baru.

Dalam bukunya berjudul Psikologi dan Efesiensi Industrial, yang diterbitkan tahun 1912, Munsterberg menerangkan dengan jelas bahwa tujuannya adalah menemukan (1) bagaimana mendapatkan orang-orang yang memiliki sifat-sifat mental yang paling cocok dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan; (2) dalam kondisi psikologis manakah out put yang paling besar dan paling memuaskan dapat diperoleh dari pekerjaan setiap orang; (3) bagaimana suatu perusahaan dapat mempengaruhi para pekerja dengan demikian rupa sehingga dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Sebagaimana hal Taylor, Musnterberg tertarik akan minat yang timbal balik antara manajer dan para pekerja. Dalam menyelesaikan pekerjaannya, Munsterberg juga dilengkapi dengan pendapat baru Lilian Gilbret, Walter Dill Scott yang berusaha menerapkan konsep-konsep psikologi dalam praktek manajemen ilmiah. Mereka semua adalah ahli dalam ilmu perilaku. Dan bahkan Scott juga banyak menulis buku-buku mengenai penerapan konsep-konsep psikologi pada periklanan dan pemasaran, tentang perkembangan praktek manajemen kepegawaian, seperti seleksi yang efektif.

PERTUMBUHAN MANAJEMEN KEPEGAWAIAN

Robert Owen sebagai pelopor dan kontributor terhadap manajemen kepegawaian, lalu pemikiran dan idenya diakui oleh para ahli manajemen lainnya dan para industriawan. Antara lain adalah Walter Dill Scott, B.F.Goodrich,dll. Bahkan Henry Ford sebagai otokrat industri juga memikirkan tentang apa yang akan dilakukan para pekerja mengingat gaji mereka yag jauh lebih besar dan prihatin memikirkan pergantian buruh, mendirikan mendirikan sebuah departemen kepegawaian pada tahun 1914 atau yang diberi nama “departemen sosiologi.”

Industriawan yang memperkembangkan praktek-praktek manajemen kepegawaian secara lebih luas sebelumnya adalah B. Seebohm Rountree (Inggris, 1889) dengan membuat banyak program yag bertujuan mempertinggi status para pekerja. Diantara banyak program tersebut ada departemen kesehatan (1904), sekolah lanjutan waktu siang (1923), dan praktek-praktek inovasi, seperti tunjangan pengangguran, psikolog-psikolog industri perusahaan  yang terlatih untuk membimbing baik para manajer maupun para pekerja, dan perbekalan untuk kantin-kantin dan rekreasi.

Ilmu jiwa manajerial berlandaskan dua prinsip dasar: (1) apa pun yang menjadi alasan yang menyebabkan setiap individu tertentu untuk ikut serta dalam industri, tujuan dasarnya yang benar haruslah pelayanan kepada masyarakat, dan (2) industri adalah benda manusia, di mana pria dan wanita mendapatkan nafkah, dan dari mana pria da wanita harus megharapkan nafkah untuk hidup yang layak dijalani.

Perkembangan Pendekatan Sosiologis Dalam Manajemen

Setelah berkembangnya manajemen ilmiah oleh Taylor dan manajemen administratif oleh Henry Fayol. Kemudian muncul pendekatan baru sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan dari perilaku kelompok atau yang disebut “manusia sosial” dalam manajemen. Inilah awal perkembangan teori organisasi atau pendekatan sistem sosial dalam manajemen. “bapak teori organisasi” tersebut adalah Max Weber, Emile Durkheim (1839) dan Vilfredo Pareto (1896-1917)

Max Weber adalah cendikiawan berbangsa Jerman. Analisa empirisnya tentang Gereja, Pemerintahan, Ketentaraan dan Perusahaan menyebabkan dia percaya bahwa hirarki, otoritas, dan birokrasi (termasuk peraturan-peraturan yang jelas, defiisi tugas-tugas, dan ketertiban) merupakan pondasi segala organisasi sosial.

Emile Durkheim, cendikiawan Perancis dalam tulisannya menekankan bahwa kelompok-kelompok, melalui penetapan nilai-nilai dan norma-norma mereka, mengendalikan kelakuan manusia dalam setiap organisasi sosial. Sedangkan Vilfredo Pareto (Perancis-Italia) memadang bahwa masyarakat sebagai kerumunan berbelit-belit yang terdiri dari kesatua-kesatuan atau unsur-unsur yang saling bergantung-yaitu sebagai suatu sistem sosial dengan banyak sub-sistem. Diantara banyak idenya terdapat kecenderungan sistem-sistem sosial untuk mencari keseimbangan karena diganggu oleh pengaruh dari luar atau dari dalam. Dia juga melihat bahwa menjadi tugas kaum elit (yaitu:tingkat yang berkuasa) dalam setiap masyarakat untuk menyediakan kepemimpinan supaya dapat memelihara sistem sosial itu.

PELAKSANAAN MANAJEMEN MEMERLUKAN PENDEKATAN SISTEM

 Tidak ada manajer pelaksana yang dapat mengabaikan pendekatan sistem. Para manajer selalu harus memperhitungkan sejumlah besar pengaruh timbal-balik dan variabel yang saling mempengaruhi dalam pekerjaan mereka. Lalu apakah sistem itu?

Lanjut ke posting selanjutnya…

Dimensi Manajemen | Management Principles

Pandangan para pakar Manajemen dapat dikelompokkan
sebagai berikut :

  1. Manajemen sebagai suatu proses kerja sama dari dua orang atau lebih.
  2. Manajemen sebagai suatu seni mencapai tujuan dari dua
    orang atau lebih.
  3. Manajemen sebagai ilmu mempelajari kerja sama dua
    orang atau lebih untuk mencapa tujuan bersama.
    Pandangan penulis :

Manajemen sebagai ilmu mempelajari dan seni proses kerja sama manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat-alat) untuk mencapai tujuan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Proses kerja sama.
Jika (para)manusia berkumpul untuk mencapai tujuan
bersama pasti akan terjadi suatu proses kerja sama agar tujuan tercapai. Dengan pandangan ini, akan banyak aktifitas yang dikerjakan melalui beragam tahapan sehingga tujuan yang akan dicapai menjadi fokus kajian dan anlisis dari para pakar manajemen. Manajemen sebagai suatu proses ini memberikan pemahaman akan pentingnya dinamika Organisasi.

Ad. Manajemen sebagai suatu Seni. Penetrapan atau pelaksanaan berbagai tehnik dan fungsi manajemen didalam organisasi yang berbeda-beda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya ini merupakan suatu (ketrampilan)seni. Karena setiap peristiwa / kejadian yang muncul dipengaruhi berbagai faktor yang banyak, luas, dan rumit maka akan membuat satu manajer dalam mengambil keputusan organisasi dapat berbeda dengan manajer lainnya. Perbedaan gaya, pemikiran dan filosofi manajer akan mempengaruhi pola kinerja yang di terapkan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Ilmu. Jika Ilmu didefisikan suatu pengetahuan yang terorganisir dan yang sistematis sebagaimana yang dijelaskan oleh M. Nazir dalam buku berjudul Metode Penelitian maka Manajemen dapat dikatakan sebagai Ilmu. Para pakar Manajemen dan para manajer dapat memberikan definisi, menganalisis, menguji, dan mengukur berbagai fenomena / kejadian dan perilaku manusia kemudian menyimpulkannya sehingga dihasilkan suatu teori, yaitu Teori Manajemen.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu

Pengertian Manajemen dan Organisasi

Kata Manajemen merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Management”, dalam bahasa Indonesia padanan kata yang cocok adalah “Tata Laksana” yang berarti Pengaturan atau Cara kerja. George R.Terry berpendapat bahwa “Manajemen adalah pencapaian tujuan (organisasi) yang sudah ditentukan sebelumnya dengan mempergunakan bantuan orang lain”. Dengan makin berkembang pola pikir manusia dan semakin besar atau mahal biaya-biaya operasional organisasi, membuat manusia (kita) perlu menata ulang kebijakan dalam bekerja untuk lebih efisien dan efektif.

Berdasar pandangan tersebut, manusia akan lebih banyak bekerja dengan sarana pendukung (alat-alat) kerja daripada dengan manusia lainnya agar lebih cepat dan lebih baik hasil produk (Barang atau Jasa)nya. Pengaturan dan kerja sama (satu) manusia dengan sarana pendukung (alat) kerja dapat termasuk dalam pengertian manajemen.

Dalam buku ini, penulis berpendapat Manajemen didefinisikan sebagai “Pengaturan dan kerja sama unsur- unsur manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat- alat)untuk mencapai tujuan (organisasi ) secara efektif dan efisien”. Definisi tersebut memberikan pemahaman perlunya penataan (para) manusia dan sarana pendukung yang bekerja secara efektif dan efisien dalam suatu organisasi guna mencapai tujuan yang ditentukan untuk dicapai /diraih.

Kata Organisasi merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Organization”, yang artinya mengatur atau kumpulan sesuatu yang diatur bekerja sama. Jadi pengertian Organisasi ini adalah “Kumpulan manusia dan sarana pendukung yang diikat pada suatu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama”. Agar organisasi dapat beroperasi dengan lancar, perlu ada manusia yang mengatur organisasi itu sesuai dengan pengertiannya yang diistilahkan Manajer. Manajer merupakan “Manusia yang melakukan atau melaksanakan semua fungsi manajemen yang diarahkan kepada pencapaian
tujuan organisasi”.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu

Manajemen | Perlunya Pengetahuan Manajemen

Masalah seringkali timbul sebagai akibat dari usaha memperbaiki suatu situasi dengan menerapkan sebuah prinsip yang tidak didesain secara baik untuk menangani persoalan tersebut. Analisa terhadap kegagalan perusahaan yang telah dilakukan bertahun-tahun lamanya yang menunjukkan bahwa persentase yang tinggi dari kegagalan-kegagalan itu disebabkan oleh manajemen yang tidak berkemampuan (terampil) dan tidak berpengalaman.

Majalah Forbes, majalah investor terkrmuka, yang telah mengadakan penyelidikan terhadap firma-firma dagang Amerika selama beberapa tahun, telah menemukan bahwa perusahaan yang melaksanakan manajemen yang baik hampir selalu berhasil. Bank of America beberapa tahun lalu mengatakan dalam publikasinya yang bernama Small Business Reporter “Dalam analisa terakhir, lebih dari 90% dari kegagalan perusahaan disebabkan oleh tidak adanya kemampuan dan pengalaman dalam manajemen.”

Untuk mencapai keberhasilan manajemen dalam perusahaan-perusahaan dan semua jenis organisasi, maka pengetahuan manajemen dan sebagai suatu ilmu mutlak untuk dimengerti. Para menajer dituntut untuk menggunakan pengetahuan tersebut agar dapat membantu mengerti dengan baik tentang manajemen dan menolong mengembangkan praktek-praktek manajemen sekarang.

Sebagai sebuah ilmu, manajemen memiliki prinsip dan teori untuk melengkapi kerangka struktural ilmu tersebut. Prinsip-prinsip  adalah kebenaran-kebenaran fundamental, atau apa yang dipercaya sebagai kebenaran pada suatu waktu tertentu, yang menerangkan hubungan-hubungan antara dua atau lebih variabel. Prinsip-prinsip yang paling mengandung arti ialah prinsip-prinsip yang melibatkan hubungan sebab-musabab dengan variabel yang bergantung dan yang tidak bergantung. Teori adalah pengelompokan yang sistematis dari prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Tugasnya adalah mengikat menjadi satu pengetahuan yang berarti, dan memberinya suatu kerangka. Seperti dikatakan oleh Homans, ”dalam bentuknya yang paling rendah teori adalah suatu klasifikasi, sekumpulan lubang pada kandang merpati, lemari arsip di mana terdapat kumpulan fakta. Tidak ada yang lebih sesat daripada fakta yang terlepas.”

Pentingnya teori bagi pengembangan pengetahuan yang terorganisir telah ditunjukkan oleh Talcott Parsons dalam esainya;”rasanya agak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa indeks yang paling penting dari keadaan kedewasaan suatu ilmu adalah teori sistematis. Ini meliputi sifat skema konseptual umum yang dipakai di lapangan, dalam jenis-jenis dan pada derajat-derajat integrasi logis dari unsur-unsur yang berbeda dalam membentuknya, dan cara-cara di mana dia sebenarnya dipakai dalam penyelidikan empiris.”

Setiap sistem dari prinsip-prinsip atau teori yang memerlukan kejelasan konsep-yaitu gambar mental sesuatu benda yang dibentuk oleh penyamarataan dari fakta-fakta. Jelaslah bahwa suatu definisi yang jelas tentang suatu kata ialah jenis konsep dasar. Dengan demikian pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar dan teknik dalam manajemen dapat mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap bagaimana mempraktekkannya, menjelaskannya dan mengembangkannya. Karena dalam semua bidang kerjasama manusia, efesiensi usaha kelompok sangat ketinggalan dibandingkan dengan efesiensi mesin, maka penerapan pengetahuan manajemen akan lebih mengembangkan kemajuan manusia.

Kebutuhan akan konsep manajemen yang jelas dan kebutuhan akan kerangka teori dan prinsip yang berpautan telah disadari bertahun-tahun yang lalu oleh sarjana manajemen praktis yang lebih dulu, seperti misalnya Henry Fayol, Chester Barnard dan Alvin Brown. Sesungguhnya, inilah arti pelaksanaan manajemen dan manajemen—yaitu penerapan pengetahuan pada kenyataan untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan.

Sistem Manajemen

Secara  fundamental, sistem itu bukanlah sesuatu yang baru atau mengejutkan. Sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan benda-benda yang saling berhubungan, atau saling bergantung, sehingga membentuk satu kesatuan yang kompleks; (suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang telah disusun dengan teratur menurut skema atau rencana tertentu. Menurut The Random House Dictionary of The Engglish Language sistem sebagai suatu kumpulan fakta, prinsip, doktrin dan lain-lain semacamnya dalam bidang khusus mengenai pengetahuan atau pemikiran, kumpulan itu tersusun rapi dan bersifat komprehensif. Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh hidup adalah suatu sistem. Jadi konsep pokok dari teori sistem bisa dikatakan sebagai suatu sistem—seperti halnya suatu perusahaan adalah lebih daripada jumlah bagian-bagiannya, dia harus dipandang sebagai keseluruhan. Supaya suatu sistem bisa dipandang sebagai sistem, dia harus mempunyai batas-batas yang memisahkannya dari lingkungannya.

Salah satu sistem yang bisa kita pelajari adalah sistem sosial misalmya. Sistem sosial dari segala jenis disusun oleh orang-orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Hal ini ditunjukkan oleh Katz dan Kahn dengan baik seperti berikut ini:

Struktur sosial pada pokoknya adalah sistem tersusun. Mereka telah dibuat oleh manusia dan merupakan sistem yang tidak sempurna. Mereka bisa merobek pada pinggir-pinggrinya dalam semalam, tetapi bisa juga berlangsung berabad-abad melebihi hidup organisasi biologis yang mula-mula telah menciptakan mereka. Sementara yang mempererat hubungan mereka pada pokoknya bersifat psikologis dan bukannya biologis. Sistem-sistem sosial telah bercokol dalam sikap-sikap, penegrtian, kepercayaan, motivasi, kebiasaan dan pengharapan manusia. Sistem-sistem demikian itu melambangkan pola-pola hubungan di mana kelanjutan kesatuan-kesatuan perorangan yang terlibat dalam hubungan itu dapat endah sekali. Suatu organisasi dapat mempunyai angka pergantian yang sangat tinggi dan masih bertahan juga. Hubungan-hubungan pokok dan bukannya pokok-pokok itu sendiri menyebabkan adanya kelanjutan itu.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bermanajemen merupakan bentuk penataan system sosial dalam sistem manajemen. Di mana pola hubungan dapat berubah-ubah seperti setiap kumpulan manusia  dengan hubungan-hubungan mereka.

Baca: Koontz, O’Donnell, Weihrich. 1986. Manajemen. Edisi Ketujuh. Penerbit Erlangga

Dasar-dasar Teori dan Ilmu Manajemen

Pengantar Ilmu Manajemen

Barangkali tidak ada bidang aktivitas manusia yang lebih penting daripada bermanajemen, sebab tugas dasar dari semua manajer di segala tingkat dan dalam segala macam perusahaan ialah membentuk dan memelihara suatu lingkungan di mana orang-orang yang bekerja sama dalam kelompok-kelompok, dapat menyelesaikan tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, para manajer diserahi tanggung jawab untuk mengambil tindakan yang memungkinkan orang-orang memberi sumbangan terbaiknya kepada tujuan-tujuan kelompok.

Download Bahan Bacaan Manajemen DISINI

Sejak manusia mulai membentuk kelompok untuk mencari cita-cita yang tidak dapat mereka capai secara perorangan, maka sistem manajemen menjadi hal yang sangat esensial untuk menjamin koordinasi usaha-usaha perorangan. Setelah masyarakat semakin mengandalkan usaha kelompok, dan setelah banyak kelompok yang terorganisir menjadi besar, tugas para manajer menjadi semakin penting.

Bermanajemen adalah hal yang sangat esensial dalam segala kerja sama yang terorganisir, begitu juga pada segala tingkat organisasi dalam sebuah perusahaan. Bermanajemen bukan hanya fungsi dari direktur perusahaan tetapi juga sampai pengawas dilapangan sekalipun.

Walaupun kelemahan dan kesulitan bermanajemen dapat timbul pada setiap tingkat manajemen, namun manajemen yang efektif dan cerdas menuntut bahwa semua orang yang bertanggung jawab bagi pekerjaan orang lain, pada setiap tingkat dan dalam setiap jenis perusahaan, dapat menganggap dirinya sebagai menajer. Sehingga dengan demikian tidak ditemukan perbedaaan yang fundamental antara manajer dan pejabat pimpinan, pengurus, atau pengawas. Memang harus diakui, suatu situasi tertentu dapat sangat berbeda antara macam-macam tingkat dalam suatu organisasi atau berbagai jenis organisasi atau berbagai jenis perususahaan, ruang lingkup, kekuasaan boleh jadi berbeda-beda, jenis-jenis kesulitan yang ditangani barangkali sangat berlainan, dan seorang dalam peran manajer boleh jadi juga menjadi seorang wiraniaga.

Ilmu dan Manajemen

Meskipun umur organisasi manusia untuk mencapai tujuan-tujuan umum sudah berabad-abad, namun baru sekarang suatu ilmu mengenai manajemen berkembang. Sejak Perang Dunia II ada kesadaran yang makin bertambah, bahwa mutu bermanajemen penting bagi hidup modern, dan hal itu telah menghasilkan analisa dan penyelidikan luas terhadap proses manajemen, lingkungannya dan teknik-tekniknya.

Beberapa ilmu sosial lebih maju dari yang lainnya. Dengan segala kekurangannya, ilmu ekonomi, misalnya, telah berhasil menerangkan arah kegiatan mana akan menghasilkan output yang tertinggi dengan pengeluaran tenaga dan modal sesedikit mungkin. Tetapi prinsip-prinsip ekonomi mengasumsikan bahwa tujuan-tujuan ekonomis dapat dapat dicapai melalui koordinasi kegiatan manusia baik perusahaan, maupun kelompok-kelompok perusahaan, dikelola dengan baik.

Ilmu dan Metode Ilmiah

Ilmu menerangkan gejala-gejala. Ilmu itu berdasarkan suatu kepercayaan kepada rasionalitas alam yaitu pada ide bahwa hubungan-hubungan bisa ditemukan antara dua atau lebih kumpulan kejadian. Ciri-ciri pokok dari suatu ilmu adalah bahwa pengetahuan telah ditemukan dan disistematisir melalui penerapan metode ilmiah. Dalam arti bahwa hubungan-hubungan antara variabel-variabel dan batas-batas telah dipastikan dan prinsip-prinsip pokok telah ditemukan.

Metode ilmiah meliputi penentuan melalui observasi atas kejadian-kejadian atau benda-benda dan memeriksa kecermatan fakta-fakta tersebut melalui penyelidikan lebih lanjut. Setelah mengklasifikasi dan menganalisa fakta-fakta, para ilmuan mencari dan menemukan beberapa hubungan sebab-musabab yang menurut anggapan mereka adalah benar. Generalisasi demikian itu yang disebut hipotesa, kemudian diuji kecermatannya. Kalau hipotesa terbukti benar, dan mencerminkan atau menerangkan realitas, dan sebab itu mempunyai nilai dalam meramalkan apa yang akan terjadi dalam kejadian yang sama, hipotesa itu disebut prinsip.