CHESTER BERNARD DAN TEORI SISTEM | Scientific Management

Chester Bernard (1938) analisanya mengenai manajer sungguh-sungguh merupakan suatu pendekatan sistem sosial, karena agar mengerti dan menganalisa fungsi-fungsi para pejabat, Bernard memperhatikan tugas-tugas mereka yang utama dalam sistem di mana mereka beroperasi. Seperti yang ditulisnya dalam buku berjudul The Function of the Executive, (Fungsi-fungsi Pejabat). Sistem seperangkat unsur yang saling terkait yang berfungsi secara keseluruhan. Suatu sistem akan mencakup masukan (input ), Tranformasi (proses), dan keluaran (output).

Dalam teori Sistem dikenal Sistim Terbuka, yakni suatu sistem berinteraksi dengan lingkungan, dan Sistem Tertutup, yakni suatu sistem tidak berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi dengan sistem tertutup akan mengabaikan keberadan lingkungan, dan menjadi tidak akan mengetahui apakah posisi organisasi kuat, lemah, mempunyai kesempatan atau dalam posisi terancam. Teori Sistem menawarkan manajer perspektif yang sangat berguna. Melalui pendekatan sistem maka manajer dapat mengenal lingkungan dan memahami bagaimana organisasi bekerja, sehingga kinerja aktual organisasi dapat diketahui sedini mungkin. Konsep Sub-sistem menunjukkan bahwa antar unit organisasi terdapat ketergantungan yang sangat kuat yang jika diabaikan akan sangat membahayakan hidup organisasi. Sinergi akan memperlihatkan nilai kerja sama dalam organisasi sedangkan Entropi akan menunjukkan berbagai indikasi akan berakhirnya organisasi.

Dalam menentukan tugas para manajer adalah untuk memelihara suatu sistem usaha kerjasama dalam organisasi yang formal, Bernard memusatkan perhatiannya pada alasan adanya sistem-sistem kerjasama itu maupun sifat sistem tersebut. Logika analisanya dapat dilihat dalam langkah-langkah dibawah ini:

  1. Pembatasan-pembatasan fisik dan biologis terhadap individu-individu membawa mereka kepada kerjasama. Bahkan termasuk pembatasan-pembatasan psikologis dan sosial terhadap individu-individu juga memainkan suatu peranan yang menimbulkan kerja sama.
  2. Tindakan kerja sama membawa kepada penetapan sistem kerjasama di mana terdapat faktor-faktor atau unsur-unsur fisik, biologis, pribadi dan sosial. Bernard juga menunjukkan bahwa kelanjutan kerjasama tergantung dari efektivitas dan efesiensi dari anggota pihak yang bekerja sama.
  3. Setiap sistem kerja sama dapat ke dalam dua bagian: “organisasi” yang meliputi banyak interaksi orang-orang di dalam sistem itu, dan “unsur-unsur lainnya.”
  4. Organisasi dapat  juga dibagi  ke dalam dua macam: organisasi “formal”, yaitu kumpulan interaksi sosial yang secara sadar dikoordinasikan, mempunyai tujuan bersama dan ditentukan dengan sengaja. Organisasi “informal’, yaitu interaksi-interaksi sosial tanpa tujuan bersama yang umum atau dikoordinasikan dengan sadar.
  5. Organisasi formal tidak dapat berlangsung kalau tidak ada orang-orang yang (a) yang dapat saling berkomunikasi, (b) yang mau menyumbang kepada kegiatan kelompok, dan (c) dengan sadar mempunyai tujuan umum.
  6. Setiap organisasi formal harus mencakup unsur-unsur berikut ini: (a) suatu sistem fungsionalisasi sehingga orang-orang dapat berspesialisasi; (b) suatu sistem perangsang yang efektif dan efesien yang akan menyebabkan orang menyumbang kepada kegiatan kelompok; (c) suatu sistem kekuasaan (otoritas) yang akan menyebabkan anggota kelompok menerima keputusan-keputusan di dalam organisasi; dan (d) suatu sistem pengambilan keputusan yang logis.
  7. Jadi fungsi-fungsi para pejabat (semua level manajer) dalam organisasi yang formal ini adalah sebagai berikut: (a) pemeliharaan komunikasi organisasi melalui suatu skema organisasi, ditambah dengan adanya orang-orang yang loyal, bertanggung-jawab, dan mampu bekerja, serta suatu “organisasi informal” eksekutif yang rukun; (b) perlindungan terhadap pelayanan pokok dari individu-individu di dalam organisasi; dan (c) perumusan dan definisi mengenai tujuannya (yaitu perencanaan).
  8. Fungsi-fungsi pelaksana memasuki proses melalui pekerjaan pelaksana dengan atau integrasi dari keseluruhannya dan dengan menemukan keseimbangan yang paling baik di antara kekuatan-kekuatan dan kejadian-kejadian yang berlawanan.
  9. Untuk membuat pelaksana efektif, diperlukan suatu kepemimpinan yang mempunyai tanggung jawab yang sangat tinggi; sebagaimana telah ditekankan dengan tepat oleh Bernard, “kerjasamalah dan bukannya kepemimpinan, yang menjadi proses kreatif; tetapi kepemimpinan adalah pengecam yang sangat diperlukan dari kekuatan-kekuatan itu.”

Thank you for your visited on my blog

Timbulnya Ilmu Perilaku dalam Ilmu Manajemen | Hamdani

Pada  periode yang sama di mana F.W. Taylor, Fayol dan lainnya memusatkan diri pada manajemen ilmiah dan tugas-tugas manajer, banyak para sarjana dan para pelaksana memikirkan, mengadakan percobaan, dan menulis tentang psikologi industri  dan tentang teori sosial, yang kedua-duanya dalam banyak hal, di rangsang oleh gerakan manajemen ilmiah. Indikasi ini bisa kita lihat dengan timbul dan berkembangnya psikologi industri, tumbuhnya manajemen kepegawaian, dan perkembangan pendekatan sosiologis terhadap hubungan dan manajemen manusia.

TIMBULNYA PSIKOLOGI INDUSTRI

Hugo Munsterberg diakui sebagai “bapak psikologi industri”. Dia belajar psikologi dan menerima gelar doktornya pada Universitas Leizip pada tahun 1885. Pada tahun 1910 minatnya tertuju pada penerapan psikologi dalam industri, di mana dia melihat pentingnya penerapan ilmu perilaku kepada gerakan manajemen ilmiah yang baru.

Dalam bukunya berjudul Psikologi dan Efesiensi Industrial, yang diterbitkan tahun 1912, Munsterberg menerangkan dengan jelas bahwa tujuannya adalah menemukan (1) bagaimana mendapatkan orang-orang yang memiliki sifat-sifat mental yang paling cocok dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan; (2) dalam kondisi psikologis manakah out put yang paling besar dan paling memuaskan dapat diperoleh dari pekerjaan setiap orang; (3) bagaimana suatu perusahaan dapat mempengaruhi para pekerja dengan demikian rupa sehingga dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Sebagaimana hal Taylor, Musnterberg tertarik akan minat yang timbal balik antara manajer dan para pekerja. Dalam menyelesaikan pekerjaannya, Munsterberg juga dilengkapi dengan pendapat baru Lilian Gilbret, Walter Dill Scott yang berusaha menerapkan konsep-konsep psikologi dalam praktek manajemen ilmiah. Mereka semua adalah ahli dalam ilmu perilaku. Dan bahkan Scott juga banyak menulis buku-buku mengenai penerapan konsep-konsep psikologi pada periklanan dan pemasaran, tentang perkembangan praktek manajemen kepegawaian, seperti seleksi yang efektif.

PERTUMBUHAN MANAJEMEN KEPEGAWAIAN

Robert Owen sebagai pelopor dan kontributor terhadap manajemen kepegawaian, lalu pemikiran dan idenya diakui oleh para ahli manajemen lainnya dan para industriawan. Antara lain adalah Walter Dill Scott, B.F.Goodrich,dll. Bahkan Henry Ford sebagai otokrat industri juga memikirkan tentang apa yang akan dilakukan para pekerja mengingat gaji mereka yag jauh lebih besar dan prihatin memikirkan pergantian buruh, mendirikan mendirikan sebuah departemen kepegawaian pada tahun 1914 atau yang diberi nama “departemen sosiologi.”

Industriawan yang memperkembangkan praktek-praktek manajemen kepegawaian secara lebih luas sebelumnya adalah B. Seebohm Rountree (Inggris, 1889) dengan membuat banyak program yag bertujuan mempertinggi status para pekerja. Diantara banyak program tersebut ada departemen kesehatan (1904), sekolah lanjutan waktu siang (1923), dan praktek-praktek inovasi, seperti tunjangan pengangguran, psikolog-psikolog industri perusahaan  yang terlatih untuk membimbing baik para manajer maupun para pekerja, dan perbekalan untuk kantin-kantin dan rekreasi.

Ilmu jiwa manajerial berlandaskan dua prinsip dasar: (1) apa pun yang menjadi alasan yang menyebabkan setiap individu tertentu untuk ikut serta dalam industri, tujuan dasarnya yang benar haruslah pelayanan kepada masyarakat, dan (2) industri adalah benda manusia, di mana pria dan wanita mendapatkan nafkah, dan dari mana pria da wanita harus megharapkan nafkah untuk hidup yang layak dijalani.

Perkembangan Pendekatan Sosiologis Dalam Manajemen

Setelah berkembangnya manajemen ilmiah oleh Taylor dan manajemen administratif oleh Henry Fayol. Kemudian muncul pendekatan baru sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan dari perilaku kelompok atau yang disebut “manusia sosial” dalam manajemen. Inilah awal perkembangan teori organisasi atau pendekatan sistem sosial dalam manajemen. “bapak teori organisasi” tersebut adalah Max Weber, Emile Durkheim (1839) dan Vilfredo Pareto (1896-1917)

Max Weber adalah cendikiawan berbangsa Jerman. Analisa empirisnya tentang Gereja, Pemerintahan, Ketentaraan dan Perusahaan menyebabkan dia percaya bahwa hirarki, otoritas, dan birokrasi (termasuk peraturan-peraturan yang jelas, defiisi tugas-tugas, dan ketertiban) merupakan pondasi segala organisasi sosial.

Emile Durkheim, cendikiawan Perancis dalam tulisannya menekankan bahwa kelompok-kelompok, melalui penetapan nilai-nilai dan norma-norma mereka, mengendalikan kelakuan manusia dalam setiap organisasi sosial. Sedangkan Vilfredo Pareto (Perancis-Italia) memadang bahwa masyarakat sebagai kerumunan berbelit-belit yang terdiri dari kesatua-kesatuan atau unsur-unsur yang saling bergantung-yaitu sebagai suatu sistem sosial dengan banyak sub-sistem. Diantara banyak idenya terdapat kecenderungan sistem-sistem sosial untuk mencari keseimbangan karena diganggu oleh pengaruh dari luar atau dari dalam. Dia juga melihat bahwa menjadi tugas kaum elit (yaitu:tingkat yang berkuasa) dalam setiap masyarakat untuk menyediakan kepemimpinan supaya dapat memelihara sistem sosial itu.

PELAKSANAAN MANAJEMEN MEMERLUKAN PENDEKATAN SISTEM

 Tidak ada manajer pelaksana yang dapat mengabaikan pendekatan sistem. Para manajer selalu harus memperhitungkan sejumlah besar pengaruh timbal-balik dan variabel yang saling mempengaruhi dalam pekerjaan mereka. Lalu apakah sistem itu?

Lanjut ke posting selanjutnya…

Dimensi Manajemen | Management Principles

Pandangan para pakar Manajemen dapat dikelompokkan
sebagai berikut :

  1. Manajemen sebagai suatu proses kerja sama dari dua orang atau lebih.
  2. Manajemen sebagai suatu seni mencapai tujuan dari dua
    orang atau lebih.
  3. Manajemen sebagai ilmu mempelajari kerja sama dua
    orang atau lebih untuk mencapa tujuan bersama.
    Pandangan penulis :

Manajemen sebagai ilmu mempelajari dan seni proses kerja sama manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat-alat) untuk mencapai tujuan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Proses kerja sama.
Jika (para)manusia berkumpul untuk mencapai tujuan
bersama pasti akan terjadi suatu proses kerja sama agar tujuan tercapai. Dengan pandangan ini, akan banyak aktifitas yang dikerjakan melalui beragam tahapan sehingga tujuan yang akan dicapai menjadi fokus kajian dan anlisis dari para pakar manajemen. Manajemen sebagai suatu proses ini memberikan pemahaman akan pentingnya dinamika Organisasi.

Ad. Manajemen sebagai suatu Seni. Penetrapan atau pelaksanaan berbagai tehnik dan fungsi manajemen didalam organisasi yang berbeda-beda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya ini merupakan suatu (ketrampilan)seni. Karena setiap peristiwa / kejadian yang muncul dipengaruhi berbagai faktor yang banyak, luas, dan rumit maka akan membuat satu manajer dalam mengambil keputusan organisasi dapat berbeda dengan manajer lainnya. Perbedaan gaya, pemikiran dan filosofi manajer akan mempengaruhi pola kinerja yang di terapkan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Ilmu. Jika Ilmu didefisikan suatu pengetahuan yang terorganisir dan yang sistematis sebagaimana yang dijelaskan oleh M. Nazir dalam buku berjudul Metode Penelitian maka Manajemen dapat dikatakan sebagai Ilmu. Para pakar Manajemen dan para manajer dapat memberikan definisi, menganalisis, menguji, dan mengukur berbagai fenomena / kejadian dan perilaku manusia kemudian menyimpulkannya sehingga dihasilkan suatu teori, yaitu Teori Manajemen.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu

Pengertian Manajemen dan Organisasi

Kata Manajemen merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Management”, dalam bahasa Indonesia padanan kata yang cocok adalah “Tata Laksana” yang berarti Pengaturan atau Cara kerja. George R.Terry berpendapat bahwa “Manajemen adalah pencapaian tujuan (organisasi) yang sudah ditentukan sebelumnya dengan mempergunakan bantuan orang lain”. Dengan makin berkembang pola pikir manusia dan semakin besar atau mahal biaya-biaya operasional organisasi, membuat manusia (kita) perlu menata ulang kebijakan dalam bekerja untuk lebih efisien dan efektif.

Berdasar pandangan tersebut, manusia akan lebih banyak bekerja dengan sarana pendukung (alat-alat) kerja daripada dengan manusia lainnya agar lebih cepat dan lebih baik hasil produk (Barang atau Jasa)nya. Pengaturan dan kerja sama (satu) manusia dengan sarana pendukung (alat) kerja dapat termasuk dalam pengertian manajemen.

Dalam buku ini, penulis berpendapat Manajemen didefinisikan sebagai “Pengaturan dan kerja sama unsur- unsur manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat- alat)untuk mencapai tujuan (organisasi ) secara efektif dan efisien”. Definisi tersebut memberikan pemahaman perlunya penataan (para) manusia dan sarana pendukung yang bekerja secara efektif dan efisien dalam suatu organisasi guna mencapai tujuan yang ditentukan untuk dicapai /diraih.

Kata Organisasi merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Organization”, yang artinya mengatur atau kumpulan sesuatu yang diatur bekerja sama. Jadi pengertian Organisasi ini adalah “Kumpulan manusia dan sarana pendukung yang diikat pada suatu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama”. Agar organisasi dapat beroperasi dengan lancar, perlu ada manusia yang mengatur organisasi itu sesuai dengan pengertiannya yang diistilahkan Manajer. Manajer merupakan “Manusia yang melakukan atau melaksanakan semua fungsi manajemen yang diarahkan kepada pencapaian
tujuan organisasi”.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu

The Power of Selling | The Power to Get What You Want in Life

“YOU CAN HAVE EVERYTHING IN LIFE YOU WANT, IF YOU WILL JUST HELP ENOUGH OTHER PEOPLE GET WHAT THEY WANT.”
LET ZIGLAR CHANGE YOUR LIFE!

Welcome to Selling World

Do you want to be successful in sales and in life? You’ll have a chance to meet the pros, the people who have achieved success in their careers in sales. For most people, to achieve personal success entails more than just making a lot of money. Many would claim that to be successful in a career means to have fulfilled an ongoing goal—one that has been carefully planned according to their interests and passions. Is it your vision to run your own business? Or would you rather pursue a profession in a service organization? Do you want to excel in the technology field or, perhaps, work in the arts? Can you see yourself as a senior executive? Imagine yourself in the role that defines success for you. Undoubtedly, to assume this role requires more than just an initial desire; those who are most successful take many necessary steps over time to become sufficiently qualified for the job presented to them. Think about your goal: what it will take to get there? With a good plan and the right information, you can achieve whatever you set out to do. It may seem like a distant dream at the moment, but it can be a reality sooner than you think. Think about successful people who do what you want to do. What do they all have in common? Of course, they have all worked hard to get to their current position, and they all have a passion for their job. There is, additionally, a subtler key ingredient for success that they all share; all successful people effectively engage in personal selling, the process of interacting one-on-one with someone to provide information that will influence a purchase or action.

Congratulations, You’re in Sales!
If you think personal selling is only for salespeople, think again. Everyone in every walk of life uses personal selling (some more effectively than others!). Selling is what makes people successful. We all have to sell our ideas, our points of view, and ourselves every day to all sorts of people—and not just those related to our jobs. For example, when you work on a team project, you have to sell your ideas about how your team should approach the project (or, sometimes more delicately, you will have to persuade others as to what you should do about a lazy team member). When you are with your friends, you have to sell your point of view about which movie you want to see or where you want to go to eat. When you pitch in for a friend’s gift, you have to sell your ideas about what gift to give. You are selling every day whether you realize it or not. Think about the products and services that you buy (and concepts and causes that you believe in) and how
selling plays a role in your purchase decision. If you rented an apartment or bought a car, someone sold you on the one you chose. If you read a product review for a new computer online then went into the store to buy it, someone reinforced your decision and sold you the brand and model you bought. If you ran in a 5K race to raise money for a charity, someone sold you on why you should invest your time and your money in that particular cause. A professor, an advisor, or another student may have even sold you on taking this course!

I Sell Stories
Selling is vital in all aspects of business, just as it is in daily life. Consider Ike Richman, the vice president of public relations for Comcast-Spectacor, who is responsible for the public relations for all NBA and NHL games and hundreds of concerts and events held at the company’s Wachovia Center in Philadelphia. When you ask Ike to describe his job, he replies, “I sell stories.” What he means is that he has to “pitch”— or advertise—his stories (about the games or concerts) to convince the press to cover the events that he is promoting. So, even though he is not in the sales department, his job involves selling. Gary Kopervas, similarly, is the chief creative strategist at Backe Digital Brand Communications. He works in the creative department in an advertising agency, yet he describes his job as “selling ideas,” not creating ads. Connie Pearson-Bernard, the president and founder of Seamless Events, Inc., an event planning company, says she sells experiences. For many of her clients, she also sells time because she and her team execute all the required details to create the perfect event. As you notice, all these people are engaged in selling, even though “sales” may not be included in their respective job descriptions. Clearly, whether you pursue a career in sales or in another discipline, selling is an important component of every job…and everyday life.

Pelajaran dalam Menjual dari Salespeople yang Sukses
Siapa yang Ingin Menjadi Millionaire? Bayangkan menjadi anak putus sekolah yang berusia sembilan belas tahun dengan seorang anak di jalan. Itu menggambarkan Tom Hopkins pada tahun 1976. Dia bekerja di konstruksi untuk membayar tagihan. Dia sadar harus ada cara yang lebih baik untuk mencari uang, jadi dia mengambil pekerjaan di penjualan real estat, tapi tidak berhasil. Bahkan, setelah enam bulan pertama, dia hanya menjual satu rumah dan menghasilkan rata-rata hanya $ 42 sebulan untuk mendukung keluarganya.

Suatu hari, dia bertemu dengan seseorang yang menyarankan agar dia mengikuti seminar pelatihan penjualan. Tom terinspirasi oleh konsep dalam seminar dan menempatkan mereka untuk bekerja. Sebelum berusia tiga puluh tahun, Tom adalah seorang jutawan yang menjual dengan nyata perkebunanya. Tom sekarang menjadi legenda di arena penjualan dengan “Training for Champions” dan “Sales Boot Camp” program. Dia adalah seorang penulis, pembicara, kolumnis, dan pelatih sukses di Tom Hopkins International, yang menyediakan pelatihan penjualan untuk perusahaan seperti Best Buy, State Farm Insurance, Aflac, A.S. Army Perekrut, dan banyak lagi

Dunia Penjualan Baru.
Ada beberapa orang yang mungkin berpikir menjual sebagai pertemuan dengan tekanan tinggi antara wiraniaga dan karyawan pelanggan. Bertahun-tahun yang lalu, hal itu mungkin terjadi dalam beberapa situasi. Tapi di dunia sekarang ini, sukses menjual bukan sesuatu yang Anda lakukan “menjadi” pelanggan, itu adalah sesuatu yang Anda lakukan “dengan” pelanggan. Pelanggan memiliki suara dan paling terlibat dalam situasi penjualan. Dengan alat berbasis internet seperti forum, sosial jaringan seperti Facebook, MySpace, dan Twitter, bersama dengan situs Web, live chat, dan interaktif lainnya fitur memungkinkan pelanggan untuk berpartisipasi dalam proses tidak peduli apapun yang mereka beli.

Brand + Selling = Sukses

Source/reference: saylor.org

Manajemen | Perlunya Pengetahuan Manajemen

Masalah seringkali timbul sebagai akibat dari usaha memperbaiki suatu situasi dengan menerapkan sebuah prinsip yang tidak didesain secara baik untuk menangani persoalan tersebut. Analisa terhadap kegagalan perusahaan yang telah dilakukan bertahun-tahun lamanya yang menunjukkan bahwa persentase yang tinggi dari kegagalan-kegagalan itu disebabkan oleh manajemen yang tidak berkemampuan (terampil) dan tidak berpengalaman.

Majalah Forbes, majalah investor terkrmuka, yang telah mengadakan penyelidikan terhadap firma-firma dagang Amerika selama beberapa tahun, telah menemukan bahwa perusahaan yang melaksanakan manajemen yang baik hampir selalu berhasil. Bank of America beberapa tahun lalu mengatakan dalam publikasinya yang bernama Small Business Reporter “Dalam analisa terakhir, lebih dari 90% dari kegagalan perusahaan disebabkan oleh tidak adanya kemampuan dan pengalaman dalam manajemen.”

Untuk mencapai keberhasilan manajemen dalam perusahaan-perusahaan dan semua jenis organisasi, maka pengetahuan manajemen dan sebagai suatu ilmu mutlak untuk dimengerti. Para menajer dituntut untuk menggunakan pengetahuan tersebut agar dapat membantu mengerti dengan baik tentang manajemen dan menolong mengembangkan praktek-praktek manajemen sekarang.

Sebagai sebuah ilmu, manajemen memiliki prinsip dan teori untuk melengkapi kerangka struktural ilmu tersebut. Prinsip-prinsip  adalah kebenaran-kebenaran fundamental, atau apa yang dipercaya sebagai kebenaran pada suatu waktu tertentu, yang menerangkan hubungan-hubungan antara dua atau lebih variabel. Prinsip-prinsip yang paling mengandung arti ialah prinsip-prinsip yang melibatkan hubungan sebab-musabab dengan variabel yang bergantung dan yang tidak bergantung. Teori adalah pengelompokan yang sistematis dari prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Tugasnya adalah mengikat menjadi satu pengetahuan yang berarti, dan memberinya suatu kerangka. Seperti dikatakan oleh Homans, ”dalam bentuknya yang paling rendah teori adalah suatu klasifikasi, sekumpulan lubang pada kandang merpati, lemari arsip di mana terdapat kumpulan fakta. Tidak ada yang lebih sesat daripada fakta yang terlepas.”

Pentingnya teori bagi pengembangan pengetahuan yang terorganisir telah ditunjukkan oleh Talcott Parsons dalam esainya;”rasanya agak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa indeks yang paling penting dari keadaan kedewasaan suatu ilmu adalah teori sistematis. Ini meliputi sifat skema konseptual umum yang dipakai di lapangan, dalam jenis-jenis dan pada derajat-derajat integrasi logis dari unsur-unsur yang berbeda dalam membentuknya, dan cara-cara di mana dia sebenarnya dipakai dalam penyelidikan empiris.”

Setiap sistem dari prinsip-prinsip atau teori yang memerlukan kejelasan konsep-yaitu gambar mental sesuatu benda yang dibentuk oleh penyamarataan dari fakta-fakta. Jelaslah bahwa suatu definisi yang jelas tentang suatu kata ialah jenis konsep dasar. Dengan demikian pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar dan teknik dalam manajemen dapat mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap bagaimana mempraktekkannya, menjelaskannya dan mengembangkannya. Karena dalam semua bidang kerjasama manusia, efesiensi usaha kelompok sangat ketinggalan dibandingkan dengan efesiensi mesin, maka penerapan pengetahuan manajemen akan lebih mengembangkan kemajuan manusia.

Kebutuhan akan konsep manajemen yang jelas dan kebutuhan akan kerangka teori dan prinsip yang berpautan telah disadari bertahun-tahun yang lalu oleh sarjana manajemen praktis yang lebih dulu, seperti misalnya Henry Fayol, Chester Barnard dan Alvin Brown. Sesungguhnya, inilah arti pelaksanaan manajemen dan manajemen—yaitu penerapan pengetahuan pada kenyataan untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan.

Sistem Manajemen

Secara  fundamental, sistem itu bukanlah sesuatu yang baru atau mengejutkan. Sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan benda-benda yang saling berhubungan, atau saling bergantung, sehingga membentuk satu kesatuan yang kompleks; (suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang telah disusun dengan teratur menurut skema atau rencana tertentu. Menurut The Random House Dictionary of The Engglish Language sistem sebagai suatu kumpulan fakta, prinsip, doktrin dan lain-lain semacamnya dalam bidang khusus mengenai pengetahuan atau pemikiran, kumpulan itu tersusun rapi dan bersifat komprehensif. Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh hidup adalah suatu sistem. Jadi konsep pokok dari teori sistem bisa dikatakan sebagai suatu sistem—seperti halnya suatu perusahaan adalah lebih daripada jumlah bagian-bagiannya, dia harus dipandang sebagai keseluruhan. Supaya suatu sistem bisa dipandang sebagai sistem, dia harus mempunyai batas-batas yang memisahkannya dari lingkungannya.

Salah satu sistem yang bisa kita pelajari adalah sistem sosial misalmya. Sistem sosial dari segala jenis disusun oleh orang-orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Hal ini ditunjukkan oleh Katz dan Kahn dengan baik seperti berikut ini:

Struktur sosial pada pokoknya adalah sistem tersusun. Mereka telah dibuat oleh manusia dan merupakan sistem yang tidak sempurna. Mereka bisa merobek pada pinggir-pinggrinya dalam semalam, tetapi bisa juga berlangsung berabad-abad melebihi hidup organisasi biologis yang mula-mula telah menciptakan mereka. Sementara yang mempererat hubungan mereka pada pokoknya bersifat psikologis dan bukannya biologis. Sistem-sistem sosial telah bercokol dalam sikap-sikap, penegrtian, kepercayaan, motivasi, kebiasaan dan pengharapan manusia. Sistem-sistem demikian itu melambangkan pola-pola hubungan di mana kelanjutan kesatuan-kesatuan perorangan yang terlibat dalam hubungan itu dapat endah sekali. Suatu organisasi dapat mempunyai angka pergantian yang sangat tinggi dan masih bertahan juga. Hubungan-hubungan pokok dan bukannya pokok-pokok itu sendiri menyebabkan adanya kelanjutan itu.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bermanajemen merupakan bentuk penataan system sosial dalam sistem manajemen. Di mana pola hubungan dapat berubah-ubah seperti setiap kumpulan manusia  dengan hubungan-hubungan mereka.

Baca: Koontz, O’Donnell, Weihrich. 1986. Manajemen. Edisi Ketujuh. Penerbit Erlangga

Dasar-dasar Teori dan Ilmu Manajemen

Pengantar Ilmu Manajemen

Barangkali tidak ada bidang aktivitas manusia yang lebih penting daripada bermanajemen, sebab tugas dasar dari semua manajer di segala tingkat dan dalam segala macam perusahaan ialah membentuk dan memelihara suatu lingkungan di mana orang-orang yang bekerja sama dalam kelompok-kelompok, dapat menyelesaikan tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, para manajer diserahi tanggung jawab untuk mengambil tindakan yang memungkinkan orang-orang memberi sumbangan terbaiknya kepada tujuan-tujuan kelompok.

Download Bahan Bacaan Manajemen DISINI

Sejak manusia mulai membentuk kelompok untuk mencari cita-cita yang tidak dapat mereka capai secara perorangan, maka sistem manajemen menjadi hal yang sangat esensial untuk menjamin koordinasi usaha-usaha perorangan. Setelah masyarakat semakin mengandalkan usaha kelompok, dan setelah banyak kelompok yang terorganisir menjadi besar, tugas para manajer menjadi semakin penting.

Bermanajemen adalah hal yang sangat esensial dalam segala kerja sama yang terorganisir, begitu juga pada segala tingkat organisasi dalam sebuah perusahaan. Bermanajemen bukan hanya fungsi dari direktur perusahaan tetapi juga sampai pengawas dilapangan sekalipun.

Walaupun kelemahan dan kesulitan bermanajemen dapat timbul pada setiap tingkat manajemen, namun manajemen yang efektif dan cerdas menuntut bahwa semua orang yang bertanggung jawab bagi pekerjaan orang lain, pada setiap tingkat dan dalam setiap jenis perusahaan, dapat menganggap dirinya sebagai menajer. Sehingga dengan demikian tidak ditemukan perbedaaan yang fundamental antara manajer dan pejabat pimpinan, pengurus, atau pengawas. Memang harus diakui, suatu situasi tertentu dapat sangat berbeda antara macam-macam tingkat dalam suatu organisasi atau berbagai jenis organisasi atau berbagai jenis perususahaan, ruang lingkup, kekuasaan boleh jadi berbeda-beda, jenis-jenis kesulitan yang ditangani barangkali sangat berlainan, dan seorang dalam peran manajer boleh jadi juga menjadi seorang wiraniaga.

Ilmu dan Manajemen

Meskipun umur organisasi manusia untuk mencapai tujuan-tujuan umum sudah berabad-abad, namun baru sekarang suatu ilmu mengenai manajemen berkembang. Sejak Perang Dunia II ada kesadaran yang makin bertambah, bahwa mutu bermanajemen penting bagi hidup modern, dan hal itu telah menghasilkan analisa dan penyelidikan luas terhadap proses manajemen, lingkungannya dan teknik-tekniknya.

Beberapa ilmu sosial lebih maju dari yang lainnya. Dengan segala kekurangannya, ilmu ekonomi, misalnya, telah berhasil menerangkan arah kegiatan mana akan menghasilkan output yang tertinggi dengan pengeluaran tenaga dan modal sesedikit mungkin. Tetapi prinsip-prinsip ekonomi mengasumsikan bahwa tujuan-tujuan ekonomis dapat dapat dicapai melalui koordinasi kegiatan manusia baik perusahaan, maupun kelompok-kelompok perusahaan, dikelola dengan baik.

Ilmu dan Metode Ilmiah

Ilmu menerangkan gejala-gejala. Ilmu itu berdasarkan suatu kepercayaan kepada rasionalitas alam yaitu pada ide bahwa hubungan-hubungan bisa ditemukan antara dua atau lebih kumpulan kejadian. Ciri-ciri pokok dari suatu ilmu adalah bahwa pengetahuan telah ditemukan dan disistematisir melalui penerapan metode ilmiah. Dalam arti bahwa hubungan-hubungan antara variabel-variabel dan batas-batas telah dipastikan dan prinsip-prinsip pokok telah ditemukan.

Metode ilmiah meliputi penentuan melalui observasi atas kejadian-kejadian atau benda-benda dan memeriksa kecermatan fakta-fakta tersebut melalui penyelidikan lebih lanjut. Setelah mengklasifikasi dan menganalisa fakta-fakta, para ilmuan mencari dan menemukan beberapa hubungan sebab-musabab yang menurut anggapan mereka adalah benar. Generalisasi demikian itu yang disebut hipotesa, kemudian diuji kecermatannya. Kalau hipotesa terbukti benar, dan mencerminkan atau menerangkan realitas, dan sebab itu mempunyai nilai dalam meramalkan apa yang akan terjadi dalam kejadian yang sama, hipotesa itu disebut prinsip.

Menyusun Laporan Hasil Riset | Metode Riset Bisnis

Kriteria Laporan Riset

Langkah terakhir dalam proses riset adalah membuat laporan riset yang akan disampaikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Fromat laporan riset sering kali berbeda-beda sesuai kondisi pihak-pihak yang membutuhkan. Namun, pada dasarnya laporan riset memiliki tiga bagian utama yaitu bagian awal, bagian utama dan bagian akhir. Laporan riset harus memenuhi beberapa kriteria antara lain:

  1. Laporan harus sistematis. Maksudnya laporan harus runtut mulai akar masalah hingga kesimpulan yang akhirnya digunakan sebagai dasar untuk menyusun rekomendasi.
  2. Laporan harus efesien. Artinya, yang dicantumkan dalam laporan riset adalah hal-hal yang memang dipandang perlu oleh pihak-pihak yang membutuhkan sehingga mereka tidak jenih saat membaca isi laporan riset.
  3. Laporan harus menggunakan kaidah bahasa yang baku. Laporan disusun harus menggunakan bahasa yang baku sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. Jika ada bahasa asing yang sulit diartikan, hendaknya ditulis miring sebagai penarik perhatian bagi pembaca untuk menafsirkannya sendiri.
  4. Laporan harus rapi. Penyusunan laporan riset dibuat serapi mungkin, baik menyangkut teknik pengetikan maupun tata letak gambar, tabel dan kelengkapan laporan riset yang lain.
  5. Laporan dapat mendorong minat orang untuk membaca isinya. Pemilihan kata yang tepat, gambar, warna dan desain laporan hendaknya dapat menarik minat pembaca, terutama pada bagian sampul.

Bagian-Bagian Laporan Riset

Berikut beberapa pedoman penulisan sebuah laporan riset. Namun, pedoman ini tidak berlaku mutlak karena laporan riset juga sangat tergantung pada sponsor yang membiayai riset, lembaga yang akan memakai atau selera peneliti itu sendiri.

Bagian Awal Laporan

Bagian awal laporan terdiri dari atas:

  • Sampul. Halaman sampul sebaiknya terdiri atas dua bagian, yaitu halaman sampul luar (depan) dari karton (hard cover) dan sampul dalam dari kertas putih biasa. Sampul sebaiknya didesain dengan baik sehingga menarik minat pembaca dan dapat mencerminkan isinya yang terkandung didalamnya.
  • Ringkasan. Ringkasan (summary) berisi masalah riset, tujuan riset, hasil-hasil riset yang menonjol dan masalah esensial lainnya yang terkait dengan riset yang dinyatakan dengan bahasa yang padat dan jelas.
  • Halaman prakata. Prakata memuat uraian singkat proses penulisan laporan, ucapan terima kasih dan tanpa uraian yang bersifat ilmiah.
  • Halaman daftar isi. Halaman ini berisi petunjuk letak bagian-bagian yang ada dalam laporan riset yang ditunjukkan oleh nomor halaman sehingga pembaca akan mudah mencari dengan cepat bagian-bagian yang diperlukan. Daftar isi memuat daftar tabel, daftar gambar, judul bab dan subbab, daftar pustaka dan lampiran. Keterangan yang mendahului daftar isi tidak perlu dimuat dalam daftar isi. Judul bab diketik menggunakan huruf kapital, sedangkan judul subbab diketik dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama tiap kata diketik dengan huruf besar.
  • Halaman daftar tabel. Laporan riset sering kali memuat beberapa tabel yang digunakan untuk menjelaskan sebuah pembahasan. Untuk mempermudah pembaca dalam mencari tabel-tabel yang diperlukan, maka perlu dibuat daftar tabel. Jika hanya terdapat satu tabel, daftar tabel tidak diperlukan. Beberapa pedoman dalam penulisan daftar tabel adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar tabel diketik pada halaman baru
  2. Judul daftar tabel diketik dengan menggunakan huruf kapital tanpa diakhiri titik dan diletakkan di tengah bagian kertas
  3. Daftar tabel memuat semua tabel yang disajikan dalam teks dan lampiran. Nomor tabel ditulis dengan angka yang diurutkan dari bab awal hingga akhir.
  4. Judul tabel dalam halaman daftar tabel harus sama dengan judul tabel dalam teks.
  • Halaman daftar gambar. Gambar sering kali lebih efesien untuk menjelaskan alur logika, keadaan sebuah objek dan langkah-langkah sebuah kegiatan. Dengan demikian, peneliti sering kali menampilkan gambar dalam sebuah laporan riset sehingga perlu dibuat daftar gambar. Beberapa pedoman dalam menyusun daftar gambar adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar gambar diketik pada halaman baru
  2. Halaman daftar gambar memuat daftar gambar, nomor gambar, judul gambar dan nomor halaman.
  3. Cara pengetikan daftar gambar sama seperti daftar tabel.
  • Halaman daftar singkatan (jika ada)
  • Halaman daftar simbol (jika ada)
  • Halaman daftar lampiran. Agar laporan riset sistematis, rapi, pada dan jelas, tidak semua data dimasukkan ke dalam bagian utama laporan riset. Hal-hal yang menunjukkan data pendukung dan proses analisis data cukup ditampilkan di bagian lampiran. Jika lampiran lebih dari satu, maka perlu dibuat daftar lampiran. Beberapa pedoman dalam menyusun daftar lampiran adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar lampiran diketik pada halaman baru
  2. Judul daftar lampiran diketik di tengah atas halaman dengan huruf kapital
  3. Halaman daftar lampiran memuat nomor, teks judul lampiran, dan nomor halaman. Judul daftar lampiran harus sama dengan judul dalam teks.

Isi Bagian Utama Laporan

Bagian utama laporan riset terdiri dari atas beberapa bab. Jumlah bab tidak dibakukan, melainkan disesuaikan dengan ruang lingkup riset peneliti. Bagian utama utama umumnya terdiri atas pendahuluan, tinjuan pustaka, metode riset, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka.

  1. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan bab pertama laporan yang mengantarkan pembaca untuk dapat menjawab pertanyaan mengenai apa yang diteliti, untuk apa dan mengapa riset dilakukan. Bab pendahuluan memuat antara lain; latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup riset, tujuan dan manfaat riset. Akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Latar belakang riset: bagian ini berisi fakta-fakta yang relevan sehingga dapat memberikan alasan mengapa riset ini penting dan menarik untuk dilakukan. Latar belakang ini merupakan titik awal yang mendorong dilakukannya riset sehingga harus dapat meyakinkan bahwa riset ini benar-benar perlu dilakukan.
  2. Perumusan masalah: Perumusan masalah pada dasarnya merupakan penyederhanaan permasalahan yang telah dituangkan dalam latar belakang riset agar lebih mudah dipahami. Perumusan masalah tidak selalu berupa kalimat tanya. Hanya saja, penggunaan kalimat tanya akan lebih menunjukkan permasalahn yang akan dipecahkan.
  3. Tujuan riset: Tujuan riset mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam riset. Isi dan rumusan tujuan riset mengacu pada isi dan rumusan masalah riset. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Tujuan riset dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dengan demikian, antara latar belakang riset, rumusan masalah dan tujuan riset harus sesuai.
  4. Manfaat riset: Bagian ini berisi manfaat yang akan diperoleh apabila riset dilakukan. Bagian ini akan menyebutkan pihak-pihak yang akan memperoleh manfaat beserta bentuknya. Manfaat riset juga memperkuat alasan riset harus dilakukan.
  5. Ruang lingkup dan keterbatasan riset: ruang lingkup dan keterbatasan riset berisi cakupan dan batasan-batasan dalam riset agar menjadi lebih terarah. Yang dikemukakan dalam ruang lingkup adalah variabel-variabel yang diteliti, populasi dan subjek riset, dan waktu pengambilan data. Keterbatasan riset dipaparkan agar pembaca dapat menyikapi temuan riset sesuai kondisi yang ada. Keterbatasan perlu dituangkan dalam laporan riset karena adanya suatu keadaan yang tidak dapat dihindari dalam riset. Beberapa hal yang menyebabkan keterbatasan riset adalah alasan-alasan prosedural, teknik riset, ataupun faktor logistik, kendala yang bersumber dari adat, dan kepercayaan yang tidak memungkinkan peneliti untuk mencari data yang diinginkan.

Selain hal-hal di atas, bab pendahuluan juga dapat memuat kerangka pemikiran atau hipotesis walaupun hal ini tidak selalu wajib. Kerangka pemikiran dan hipotesis merupakan ringkasan bab tinjauan pustaka yang berisi uraian hasil-hasil riset yang mendukung atau menolak teori di sekitar permasalahan riset, Juga, diuraikan kesenjangan antara hasil riset terdahulu sehingga kesenjangan tersebut perlu diteliti kembali. Uraian kerangka pemikiran biasanya mengarah pada uraian hipotesis.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka atau kadang disebut telaah pustaka digunakan untuk mempertajam masalah, mencari pendekatan-pendekatan yang telah dilakukan peneliti sebelumnya untuk menghindari pengulangan-pengulangan yang tidak perlu dan mengatasi kekurangan yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya.

Penulisan tinjauan pustaka dimulai dari hal-hal yang bersifat umum terlebih dahulu kemudian mengarah kepada hal-hal yang spesifik. Metode penulisan semacam ini diharapkan dapat mengarahkan pembaca dari belum paham menjadi sangat paham terhadap objek yang diteliti.

Bab tinjuan pustaka membahas teori yang mendasar, objek yang diteliti, dan beberapa hasil riset terdahulu yang relevan dengan masalah riset. Tinjauan pustaka harus dapat menjelaskan variabel-variabel yang diteliti dan keterkaitan antar variabel tersebut.

Posisi tinjauan pustaka ditempatkan sesudah sajian perumusan masalah, tujuan dan kegunaan riset, agar bahan-bahan kepustakaan yang disajikan dalam tinjauan pustak terpandu secara terarah. Bab tinjauan pustaka selain mengulas tinjauan teoritis, juga mengulas riset empiris, maka kerangka pemikiran dan hipotesis dapat disusun.

Metode Riset

Pokok-pokok bahasan yang terkandung dalam metode riset mencakup lokasi riset, metode riset, jenis dan cara memperoleh data, ukuran sampel dan teknik analisis data. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bagian ini juga mencantumkan definisi konsep dan definisi operasional riset.

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan pembahasan merupakan inti laporan riset. Ada yang menggabungkan hasil dan pembahasan dalam satu bab, namun ada juga yang memisahkannya. Beberapa hal yang perlu dituangkan dalam bab ini adalah sebagai berikut:

  • Kondisi obyek/karakteristik responden: bagian awal hasil riset berisi kondisi obyek riset atau gambaran umum responden beserta karakteristiknya.
  • Hasil riset: berisi temuan-temuan berdasarkan analisis data. Bagian ini juga mengemukakan uraian bahasan dari peneliti bersangkutan, yang dapat diperkuat, berlawanan atau sesuai dengan hasil riset orang lain. Alasan tersebut dapat berupa penjelasan baik kualitatif, kuantitatif ataupun secara statistik.

Kesimpulan dan Rekomendasi

kesimpulan dan rekiomendasi sebaiknya disajikan secara terpisah agar lebih mudah dipahami. Dengan kata lain, rekomendasi adalah implikasi riset. Beberapa hal perlu diperhatian adalah sebagai berikut:

  • Kesimpulan harus dinyatakan dalam kalimat singkat, padat dan jelas berdasarkan hasil pembahasan. Kesimpulan merupakan jawaban atas perumusan masalah dan tujuan riset yang telah dirumuskan di muka. Kesimpulan dapat merupakan pembuktian singkat akan kebenaran atau penolakan hipotesis (jika ada)
  • Saran disusun berdasarkan kesimpulan. Saran dapat berupa tindakan-tindakan praktis yang harus dilaksanakan dalam pemecahan masalah, berupa riset lanjutan yang perlu dilakukan untuk penyempurnaan, pengembangan teori atau antisipasi masalah yang ditemui oleh peneliti.

Bagian Akhir

Bagian akhir riset berisi hal-hal yang perlu dicantumkan  yang mendukung atau terkait erat dengan bagian inti. Bagian akhri ini biasanya terdiri dari daftar pustaka/rujukan, daftar lampiran, dan riwayat hidup peneliti.

Sumber/referensi : Suliyanto. Metode Riset Bisnis.  2005:221. Andi: Yogyakarta

Dasar-Dasar Riset Bisnis | Penelitian Bisnis

Pengertian Riset

Download Materi  DISINI 

Riset atau penelitian tidak hanya dilakukan pada bidang-bidang ilmu past sepeti Biologi, Fisika, Kimia, tetapi juga pada bidang-bidang ilmu sosial seperti hukum, ekonomi dan politik.

Sebahagian orang saat ini masih membayangkan bahwa riset itu hanya dilakukan dalam sebuah laboratorium dengan dilengkapi sejumlah alat dan melalui proses-proses yang sulit dan rumit. Seakan-akan riset itu hanyalah kegiatan para analis semata untuk melakukan serangkaian eksperimen. Meskipun pendapat tersebut di atas tidak salah atau ada benarnya, namun itu hanyalah pandangan riset dalam artian sempit. Secara lebih luas, riset itu memiliki jangkauan dan bidang kelimuan yang tidak hanya terbatas pada kegiatan ujicoba di laboratorium semata namun termasuk seluruh kegiatan manusia dalam kehidupan sosial juga bisa dijadikan sebagai lapangan kegiatan riset.

Menurut Cooper dan Emoy (1995) dalam Suliyanto (2005) riset merupakan suatu kegiatan sistematik yang bertujuan menyediakan informasi untuk memecahkan permasalahan. Sedang menurut Sekaran (1992) riset adalah suatu usaha yang sistematik dan terorganisasi untuk meneliti suatu masalah spesifik yang memerlukan jawaban. Dari definisi riset yang diberikan oleh para ahli sebagaimana tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa bidang riset dapat dilakukan pada bidang apa saja, tidak terbatas hanya pada ilmu eksak namun juga non-eksak seperti ilmu sosial. Yang menjadi kunci perlunya dilakukan suatu riset adalah untuk memecahkan masalah, hal ini berarti bahwa riset dilakukan ketika ada suatu masalah dan bertujuan untuk memecahkan masalah tersebut.

Namun riset harus dilakukan dan didasarkan pada akal sehat dan proses yang jelas sehingga hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan kebetulan belaka. Sehingga riset itu tidak dapat dipisahkan dengan tindakan ilmiah. Maksudnya adalah proses yang dilakukan haruslah sesuai dan benar menurut kaidah-kaidah ilmiah atau sering disebut sesuai dengan metode ilmiah.

Dengan kemajuan dan perkembangan dunia dewasa ini, riset bukan hanya dilakukan dalam kapasitas pengembangan keilmuan dan literasi semata, namun juga telah menjadi bagian dari kegiatan penting dalam aktivitas ekonomi dan manajemen perusahaan seperti riset pemasaran, riset SDM dan sebagainya.

aktivitas pemasaran merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam bisnis bahkan merupakan aktivitas pokok dan strategis segenap perusahaan, karena pemasaran menjadi ujung tombak bagi perusahaan untuk menjual produk dan jasa yang dihasilkan. Dengan strategi pemasaran yang baik dan efektif serta sesuai dengan target pasar yang dituju sangat membantu memperlancar dalam menjual produk-produknya.

Perpaduan antara riset yang berbasis keilmuan dan ilmiah dengan bisnis, maka telah memungkinkan bagi perusahaan untuk memperoleh informasi yang tepat dalam menentukan kebijakan bisnisnya dalam jangka panjang. Manajemen telah dapat melihat secara pasti terhadap perubahan lingkungan bisnisnya. Dengan demikian para manejer dapat menysuaikan diri dengan perubahan tersebut dan menggunakan kekuatan internal yang dimilikinya untuk mengambil peluang eksternal dalam rangka mengembangkan bisnis perusahaan menuju pertumbuhan.

Manajemen senantiasa harus mengkaji program pemasaran mereka dan memangkas bagian-bagian yang tidak efesien serta tidak mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi masyarakat terutama konsumennya. Dalam iklim ekonomi apapun, pertimbangan-pertimbangan pemasaran tetap merupakan faktor yang sangat menentukan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan di sebuah perusahaan. Itulah gunanya melakukan riset bisnis agar perusahaan memperoleh informasi untuk membuat keputusan.

Riset Bisnis

Menurut Suliyanto (2005) dalam bukunya Metode Riset Bisnis riset bisnis diartikan sebagai usaha yang bertujuan memperoleh informasi guna memecahkan masalah bisnis atau mengembangkan pengetahuan yang berkaitan dengan bisnis menggunakan metode ilmiah. adapun ciri-ciri metode ilmiah menurut Davis dan Cosenza  (1993: 37) yaitu;

  • Metode ilmiah bersifat kritis dan analitis. Karakteristik ini mendorong suatu kepastian dan proses penyelidikan untuk mengidentifikasi masalah dan metode untuk mendapatkan solusinya.
  • Metode ilmiah adalah logis. Logis merujuk pada metode dari argumentasi ilmiah. Kesimpulan secara rasional diturunkan dari bukti-bukti yang ada.
  • Metode ilmiah bersifat objektif. Objektivitas mengandung makna bahwa hasil yang diperoleh ilmuan yang lainakan sama apabila studi yang sama dilakukan pada kondisi yang sama. Dengan kata lain, hasil penelitian dikatakan ilmiah apabila dapat dibuktikan kebenarannya.
  • Metode ilmiah bersifat konseptual dan teoritis. Ilmu pengetahuan mengandung arti pengembangan struktur konsep dan teoritis untuk menuntun dan mengarahkan upaya penelitian.
  • Metode ilmiah adalah empiris. Metode ini pada prinsipnya bersandar pada realitas.
  • Metode ilmiah adalah sistematis. Sistematis mengandrung arti suatu prosedur yang cermat dan mengikuti aturan tertentu yang baku.

Ruang Lingkup Riset Bisnis

Bisnis merupakan kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik profit oriented maupun non-profit oriented. Pada dasarnya, ruang lingkup riset bisnis dapat kita kelompokkan menjadi beberapa kategori:

  1. Bidang akuntansi dan keuangan. Permasalahan dibidang akuntansi misalnya; sistem anggaran, metode penentuan biaya, perpajakan, penyusutan. Sedangkan dibidang keuangan misalnya; pembiayaan perusahaan, analisa rasio keuangan, perilaku bursa efek dan kelayakan bisnis serta evaluasi bisnis.
  2. Bidang pemasaran. Permasalahan dalam bidang pemasaran misalnya; promosi, penentuan saluran distribusi, pengembangan produk, penetapan harga, kepuasan pelanggan, segmentasi dan positioning.
  3. Bidang sumber daya manusia. Permasalahan utama dalam bidang SDM adalah bagaimana cara mendapatkan tenaga kerja yang tepat, menggunakan secara optimal, mengembangkan hingga memberhentikannya. Permasalah yang ada yang ada dibidang sumber daya manusia misalnya; sikap dan perilaku karyawan, motivasi kerja, produktivitas karyawan, budaya organisasi, dan kepemimpinan.
  4. Bidang operasional. Permasalahan yang ada dalam bidang operasional misalnya; penentuan kombinasi produk, kualitas produk, penentuan lokasi pabrik, sistem penugasan, layout pabrik dan sistem informasi manajemen.

Demikian semoga bermanfaat. Wasalam

WhatsApp Mulai Cari Uang, Begini Caranya

Oleh: OIK YUSUF
Sumber: Kompas.com – 06/09/2017, 15:04 WIB

Semenjak dibeli seharga 22 miliar dollar AS oleh Facebook tahun 2014 lalu, WhatsApp belum memiliki jalur pemasukan yang signifikan.

Oleh sebab itulah, perusahaan layanan pesan instan tersebut berupaya mengeksplorasi upaya monetize melalui para pelaku bisnis. Ya, WhatsApp kini mulai cari uang melalui para pebisnis.
Uji cobanya sendiri direncanakan mulai bergulir dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam perkembangan terbaru, WhatsApp mengumumkan bakal mulai menguji coba fitur-fitur yang dirasa bakal berguna untuk para pelaku bisnis yang selama ini sudah menggunakan layanannya untuk berkomunikasi dengan konsumen.

“Kami sedang membangun dan menguji aneka tool baru lewat aplikasi WhatsApp business untuk perusahaan kecil dan solusi enterprise untuk perusahaan berskala besar dengan basis pelanggan global,” tulis WhatsApp dalam sebuah posting blog.

Contoh-contoh pelaku bisnis yang disasar WhatsApp mulai dari toko roti dan pakaian lokal untuk usaha kecil, hingga maskapai penerbangan, situs e-commerce, dan perbankan untuk perusahaan berskala besar.

Nantinya, layanan WhastApp bisa dipakai untuk memudahkan komunikasi dengan pelanggan, misalnya memberikan statementtertulis, konfirmasi pengiriman barang, dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya.

“Kami tahu masing-masing bisnis punya kebutuhan berbeda. Misalnya, mereka ingin official presence -profil yang terverifikasi sehingga mudah diidentifikasi dan dibedakan dari orang lain- serta cara yang lebih mudah untuk merespons pesan (dari pelanggan),” lanjut WhatsApp.

Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Reuters, Rabu (6/9/2017), WhatsApp diketahui sudah memulai pilot program yang menambahkan badge berwarna hijau untuk menandai akun perusahaan yang sudah diverifikasi. Ada juga aplikasi WhatsApp Business yang khusus ditujukan bagi pelaku usaha.

Chief Operating Officer WhatsApp Matt Idema mengatakan pihaknya berencana menarik biaya langganan dari para pelaku bisnis sebagai salah satu sumber pemasukan. Namun, dia mengaku belum bisa memberikan informasi lebih jauh soal seperti apa persisnya fitur-fitur berbayar itu nanti.

“Kami masih memikirkan detail-detail monetisasinya,” ujar Idema.

Artikel asli  

Ekonomi Kerakyatan | Pengembangan Ekonomi Kerakyatan di Aceh

MENGEMBANGKAN EKONOMI KERAKYATAN DI ACEH
Oleh : Hamdani, SE.,M.Si
(Peminat Ekonomi Kerakyatan dan UMKM)
hamdani.aceh@gmail.com

Akhir-akhir ini istilah ekonomi kerakyatan mulai tidak terdengar lagi dalam perbincangan perekonomian Indonesia. Istilah tersebut kian menjadi asing di tengah-tengah masyarakat bahkan mungkin dikalangan petinggi negara ini sekalipun. Mengapa isu ekonomi kerakyatan semakin redup? Pada rapat terbuka sidang MPR RI dalam rangka mendengarkan pidato kenegaraan yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 16 Agustus 2017, Ketua MPR Zulkifli Hasan memaparkan hasil kunjungan anggota MPR RI ke beberapa daerah untuk melihat perkembangan serta kemajuan pembangunan segala aspek kehidupan bangsa Indonesia sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat, termasuk didalamnya aspek ekonomi. Beliau menyebutkan bahwa Provinsi Makassar sangat maju dan mengalami pertumbuhan yang sangat pesat karena perekonomiannya dikuasai dan dijalankan oleh rakyat atau dengan istilah ekonomi kerakyatan.

Menurut San Afri Awang (Kepala Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM) menyebutkan bahwa ekonomi kerakyatan adalah tata laksana ekonomi yang bersifat kerakyatan yaitu penyelenggaraan ekonomi yang memberi dampak kepada kesejahteraan rakyat kecil dan kemajuan ekonomi rakyat yaitu keseluruhan aktivitas perekonomian yang dilakukan oleh rakyat kecil. Zulkifli Hasan menambahkan, perkebunan coklat di Makassar adalah milik rakyat, warung-warung milik rakyat dan café-café juga milik rakyat. Begitulah gambaran ekonomi kerakyatan. Pernyataan Ketua MPR RI sejalan dengan Konvensi ILO 169 tahun 1989 yang mendefinisikan ekonomi kerakyatan sebagai ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan masyarakat lokal dalam mempertahankan kehidupannnya. Memang ILO menempatkan sistem ekonomi kerakyatan sebagai ekonomi tradisional (sub sistem), namun itu pandangan dua puluh delapan tahun yang lalu. Kini seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka ekonomi kerakyatan pun mampu menjadi ekonomi modern dengan produktivitas tinggi dan maju seperti halnya di Provinsi Makassar.

Secara konsep, ekonomi kerakyatan dikembangkan melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang bertujuan untuk melepaskan rakyat dari belenggu kapitalisme dunia pada masa itu. Perhatian terhadap sistem ekonomi kerakyatan dicurahkan oleh Bung Hatta yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia pada hakekatnya adalah pembangunan ekonomi kerakyatan. Maka yang perlu dilakukan adalah mengubah struktur ekonomi umumnya dari ekonomi kolonial atau semacamnya ke ekonomi nasional yang
berkerakyatan. Dan secara formal yuridis dan politis ekonomi kerakyatan pun diakomodir dalam GBHN tahun 1993 sebagai hasil rumusan Sidang Umum MPR RI tahun 1992.

Ideologi dasar konsep ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat sesuai dengan pasal 33 ayat 1 UUD 1945 dan sila ke-empat Pancasila. Sehingga pasal 33 menjadi landasan konstitusional sistem ekonomi kerakyatan terutama bagian penjelasannya yang dalam pasal tersebut tercantum dasar ekonomi di mana produksi dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota masyarakat, karena itu perekonomian di susun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas
kekeluargaan. Tujuan utama dari sistem ekonomi kerakyatan yaitu menjamin kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara merata lebih utama daripada kemakmuran individual dan segelintir golongan yang menguasai faktor-faktor produksi.

Bila ditinjau dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa sistem ekonomi nasional yang sebenarnya adalah menganut sistem ekonomi kerakyatan, di mana sistim ini menganut azas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila dan menunjukkan keberpihakan yang
sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Sehingga bila dalam perekonomian nasional mengabaikan kesejahteraan rakyat banyak dan lebih mengutamakan sekelompok pemilik modal, maka hal tersebut bertentangan dengan semangat ekonomi kerakyatan dan harus ditolak.

IMPLIMENTASI

Untuk membumikan ekonomi kerakyatan di tengah-tengah masyarakat dan agar mampu memberikan kontribusi nyata dalam pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah, pemerintah perlu mengambil peran yang lebih konkrit untuk mendorong percepatan implimentasi kegiatan perekonomian yang berbasis pada kekuatan rakyat terutama dalam aspek produksi, pengolahan dan pemasaran hasil. Dalam upaya mencapai maksud tersebut para pengambil kebijakan di negeri ini dan penguasa di daerah perlu kiranya memiliki keinginan yang kuat dan kesadaran politiknya untuk menempatkan sistim ekonomi kerakyatan sebagai poros penting dalam pusaran ekonomi Indonesia dan daerah.

Dalam menguatkan penetrasi implementasi semangat ekonomi kerakyatan sebagaimana antusiasnya Bung Hatta pada fase awal kemerdekaan dalam aktivitas perekonomian, maka dibutuhkan kesamaan paradigma antara rakyat, penguasa (pemerintah) dan para pendukung ekonomi kerakyatan perlu kiranya merumuskan kebijakan bersama yang lebih nyata dan aplikatif di lapangan sehingga akan terbentuk sinergitas mulai dari hulu sampai hilir dan multi stakeholder. Kondisi saat ini, ekonomi kerakyatan hanyalah slogan belaka tanpa benar-benar dilaksanakan sebagai kebijakan strategis negara dan tidak memperoleh advokasi yang memadai dari pemerintah. Jika pun rakyat melakukan aktivitasusaha dan kegiatan perekonomian tidak lebih dari hanya sekedar bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bukan karena mereka telah ditempatkan sebagai elemen penting dalam memajukan perekonomian nasional. Yang saya maksud adalah pemerintah perlu mendeklarasikan sistim ekonomi kerakyatan secara terbuka sebagai sistim ekonomi yang dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan konsistensi antara UUD 1945 dengan realitas di lapangan.

PILAR EKONOMI KERAKYATAN

Agar bangunan ekonomi kerakyatan dapat berdiri kokoh dan berjalan dengan baik untuk menghalau sistim ekonomi kapitalis dan komunis, maka sendi-sendi dan pilar ekonomi kerakyatan pun perlu diperkuat dan didorong untuk meningkatkan daya saing sehingga pelaku ekonomi kerakyatan mampu mencapai keunggulan bersaing dengan korporasi-korporasi besar
milik para kapitalis yang memiliki modal dan menguasai teknologi. Beberapa pilar ekonomi kerakyatan yang perlu perhatian lebih besar adalah sebagai berikut: Pertama; Koperasi. Sebagai buah fikir dari konsep sistem ekonomi kerakyatan yang dikembangkan oleh Bung Hatta adalah lembaga usaha Koperasi. Secara teori, koperasi merupakan suatu badan usaha yang ideal dengan budaya masyarakat Indonesia, di mana sikap saling bekerjasama, saling membantu dan gotong royong merupakan ciri khas dan watak bangsa Indonesia dan inilah yang disebut dengan azas kekeluargaan. Namun sayangnya jumlah koperasi yang berhasil dan sukses dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya sangat sedikit bila dibandingkan dengan koperasi yang gagal. Sebagai contoh; Dalam tahun 2017 Pemerintah Aceh melalui Dinas Koperasi dan UKM telah membubarkan ribuan koperasi yang tidak aktif dan gagal menjalankan operasionalnya sebagaimana diharapkan sesuai dengan UU dan peraturan yang berlaku. Pembubaran ribuan koperasi tersebut bukan tanpa alasan namun sudah melalui proses kajian dan evaluasi menyeluruh yang telah dilakukan oleh dinas teknis terkait. Karena koperasi merupakan salah satu perwujudan masyarakat pelaku usaha dan elemen penting dalam sistem ekonomi kerakyatan, maka keberadaannya harus mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan ekonomi dan kesejahteraan anggota dan masyarakat. Kedua; UMKM. Menurut UU No.20 Tahun 2008 Tentang UMKM merupakan usaha produktif milik masyarakat (individu/kelompok) yang memiliki asset dan omset pada batasan tertentu. Yang menjadi catatan dari pengertian di atas adalah usaha produktif milik masyarakat. Tidak bisa dipungkiri bahwa struktur ekonomi Indonesia 99,9 persen adalah UMKM bahkan UMKM mampu menyelamatkan ekonomi Indonesia saat terjadi krisis 1997 lalu. Dan beberapa tahun ini keseriusan pemerintah untuk mengembangkan UMKM mulai nyata dan mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Berbagai kebijakan dan regulasi yang mendukung UMKM pun sudah banyak dikeluarkan oleh pemerintah. Secara nasional, pertumbuhan dan produktivitas UMKM masih belum merata atau masih didominasi oleh UMKM di pulau Jawa. Sedangkan pemerintah daerah di luar Jawa belum serius memberdayakan pelaku UMKM sehingga produktivitasnya sangat rendah. Aceh misalnya. Demikian, semoga bermanfaat!

Banda Aceh, 22 Agustus 2017
Penulis

ANALISIS DAYA SAING | BELAJAR DARI NOKIA

Mengapa Nokia Bisa Bangkrut di Indonesia?

Nokia adalah brand yang terkenal  dengan tagline “connecting people” ini pernah menjadi “raja” produsen terbesar selama 14 tahun dengan variasi produk mulai dari handphone (HP) tahan banting, desain yang unik dan tentunya dengan keawetannya. Namun, akhirnya Nokia harus mengakui kenyataan pahit, kalah bersaing melawan kubu Android dan Apple yang dengan cepat menggerus pangsa pasarnya. Nokia Corporation merupakan produsen perlatan telekomunikasi terbesar di dunia serta perusahaan terbesar di Finlandia.

Pada tahun 2013 muncul kabar bahwa unit bisnis perangkat dan layanan Nokia Akan dibeli Microsoft. Ini tentu membawa dampak besar bagi bisnis ponsel Nokia, termasuk dalam kepemilikan brand “Lumia” dan “Asha” karena kedua nama tersebut identic dengan produk-produk Nokia kini telah beralih pemilik. Nama Nokia sendiri tetap menjadi hak milikprodusen asal Finlandia, karena tidak ikut di beli.

Dengan demikian. Kiprah di ranah smartphone berakhir bagi Nokia. Sebagaimana dikutip dari The Verge, penghilangan nama Nokia dimulai dari Perancis. Serta negara-negara lain di seluruh dunia. Namun ada tiga area utama yang masih dimliki oleh Nokia di masa depan, yaitu NSN, HERE, Advantage Technologies. Beberapa sebab Nokia mengalami kemunduran:

  1. Keangkuhan sebagai penguasaSebagai penguasa selama 14 tahun dengan market share yang begitu besar membuat mereka tidak mempersiapkan rencana akan perkembangan dunia Gadget.
  2. Kedatangan Stephen ElopElop merupakan mantan orang Microsoft yang memimpin divisi bisnis. Selama tiga tahun memimpin Nokia, pendapatan perusahaan justru menurun hingga 40 persen. Untuk bisa bertahan, Elop merumahkan 40.000 karyawan dan memangkas biaya operasional 50 persen serta Symbian dimatikan. Meego juga dihentikan pengembangannya.
  3. Terlambat menyadari perkembangan operasi systemTahun 2010 Andriod mulai terlihat dan para vendor ramai-ramai mendukungnya, namun Nokia sudah menyatakan tidak akan memakai Android karena percaya diri dengan kekuatan softwarenya. Vendor asal Finlandia itu telah menetapkan Meego dan Symbian sebagai jiwa bagi jajaran ponsel masa depan Nokia. Seiring perkembangan operasi sitem yang begitu pesat, para pengguna Symbian beralih pada Android dan Ios dari Apple. Seandainya pihak Nokia tidak gengsi dulu menolak Google dengan OS Androidnya, mungkin Nokia Akan tetap menjadi market share global terbesar smartphone dunia.

Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kegagalan Nokia, antara lain:

  1. Nokia sudah tertinggal jauh dari kompetitornya
  2. Nokia terlalu fokus pada hardware dan operating system HP
  3. Nokia terlalu banyak kehilangan momentum
  4. Nokia tidak memperhatikan kebutuhan pasar

Indonesia merupakan pasar terbesar bagi Nokia karena memiliki jumlah penduduk yang besar. Selama 14 tahun ponsel Nokia menjadi ponsel nomor satu di Indonesia. Namun kejayaannya tumbang setelah penjualan ponselnya turun dalam waktu cepat. Tahun 2012 Nokia hanya mampu menjual 83 juta unit pada kwartal pertama. Para pengamat ponsel di Indonesia yakin penyebab jebloknya penjualan ponsel Nokia tidak lepas dari kesalahan yang telah dilakukan oleh Nokia. Beberapa kesalahan ditegarai antara lain:

  1. Nokia terlalu lamban dalam merespon pasarPada tahun 2002, Nokia sempat menjadi pelopor dengan system operasi Symbian GO, sayangnya sisitem ini kalah bersaing dengan Android dan iOs. Tahun 2007, iphone booming dengan full touchscreen dan disusul dengan Android, Nokia seperti tidak bergeming dalam menanggapi perubahan pasar.
  2. Terlalu fokus pada system operasi Symbian. Smartphone jenis lain menanggapi permintaan pasar mereka langsung bergerak tepat dengan meluncurkan smartphone yang system operasinya beragam. Sementara  Nokia terlalu berkonsentrasi pada Symbian mulai ditingglkan, langkah penyelamatan dengan seri Lumia yang bekerjasama denga Microsoft rasanya sudah terlambat.
  3. Kurang memperhatikan pasar kelas bawah. Di negara berkembang seperti Indonesia, produsen Nokia kurang memperhatikan pasar kelas bawah. Padahal di Indonesia pangsa pasar kelas menengah bawah adalah pasar yang paling ngetop.
  4. Nokia kurang inovasi. Nokia hanya memasarkan merk, bukannya inovasi pasar sehingga pasar menjadi jenuh dengan produknya yang biasa saja.
  5. Eksekusi adalah kunci. Sementara kompetitornya kian bersinar  dengan produk Galaxinya, Apple berkibar dengan iphone-nya. Sedangkan Nokia kian memburuk dalam beberapa tahun. Kerjasama Nokia dengan Microsoft melalui seri Lumia banyak membantu penjualan Nokia.

MENGAPA SAMSUNG LEBIH DIMINATI

Samsung Electronics Indonesia sejak tahun 1991 terus mengedepankan inovasinya untuk memenuhi keinginan konsumen Indonesia. Bahkan pada tahun 2012, SEIN berhasil meraih posisi terdepan untuk total pasar ponsel. Sejak tahun 2007 Samsung berhasil mengembangkan bisnisnya 10 x lipat. Berikut beberapa rahasia Samsung bisa terus memikat pasar Indonesia:

  1. Mengenal dan mengetahui kebutuhan konsumen. Ini salah satu kunci keberhasilan SEIN di seluruh dunia, tak hanya mendirikan pabrik saja, tetapi SEIN juga mengembangkan R&D local. SEIN memberikan nilai lebih dalam setiap produk yang diciptakannya, jadi konsumen mendapat kemudahan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  2. Edukasi masyarakat. SEIN terus mengedepankan inovasinya pada bidang marketing, layanan konsumen dan layanan purna jual. SEIN memiliki misi untuk membawa konsumen ke tingkat hidup yang lebih bahagia dengan mengajak dan mengedukasi masyarakat untuk mengoptimalkan teknologi.
  3. Memanjakan konsumen. Melalui layanan purna jual My Samsung Service, masyarakat bisa mengakses call centre 24 jam serta bantuan via online.
  4. Dukungan global. Samsung mendapatkan dukungan global dari R&D. satu dari lima pekerjaan Samsung di seluruh dunia bergabung di tim R&D, Samsung memiliki 6 pusat desain di seluruh dunia, maka dari itu berbagai inovasi terus bermunculan untuk memudahkan kebutuhan konsumen.

Selain rahasi di atas, ada beberapa alasan lain mengapa produk Samsung begitu diminati oleh pasar, yaitu:

  1. Fast charging. Untuk seseorang yang tingkat mobilitasnya tinggi, maka alasan ini patut dipikirkan. Dalam waktu 15 menit smartphone akan full terisi dayanya.
  2. Kamera yang jernih. Kamera Samsung disertarakan dengan kamera DSLR 18 MP terdapat pada Samsung S7 samsung juga menambahkan fitur terbaru yaitu hand emotion dimana ketika kita memperlihatkan kamera ke sensor maka kita tidak perlu lagi meng-klik simbul kamera. 
  3. Fast loading. Smartphone Samsung merupakan smartphone yang anti loading, bahkan ketika dipakai secara bersamaan Samsung tetap bekerja dengan normal.
  4. Body yang terlihat eksklusif. Smartphone Samsung selalu membuat konsumen terpana dengan first looking, mempunyai lebar kurang dari 7 mm dengan layar jernih full HD, dan dengan warna yang terlihat mahal yaitu gold, silver, blue thortoal. Serta tekstur body kuat namun ringan.

Sebagai brand ternama di Indonesia, Samsung tidak hanya berfokus untuk menampilkan inovasi produk dan layanannya. Di sisi lain, SEIN juga turut berkontribusi untuk masyarakat Indonesia. Melalui program Samsung Corporate Citilizenship (SCC), SEIN juga fokus unutk menciptakan perubahan positif bagi Indonesia yang lebih baik. Kini SEIN memfokuskan kegiatannya dibidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan kesehatan.

  1. Pendidikan. Salah satu program strategis SCC adalah rumah belajar Samsung. Dengan bantuan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), RBS memberikan pelatihan di bidang elektronik
  2. Pemberdayaan masyarakat. Mendukung program One Village One Product dan Kementerian Koperasi membantu meningkatkan produktivitas dan pemberian akses informasi, pelatihan pemasaran online dan pemberian alat produksi kepada Koperasi Wanita Stragent di Lombok.
  3. Kesehatan. SEIN melakukan sejumlah program untuk menjadikan masyarakat Indonesia yang lebih sehat. SEIN mendukung program WASH yang bertujuan memperbaiki akses air, sanitasi dan promosi tentang pentingnya kesehatan.

Artikel ini bermaksud sebagai pembelajaran tentang Keunggulan Bersaing dan Meningkatkan Daya Saing dalam Mata Kuliah Smart Entrepreneur.

Kontributor | Ulfa Silvia

Buku Panduan Pendirian Usaha Bidang Ekonomi Kreatif

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan Buku Panduan Pendirian Usaha Bidang Ekonomi Kreatif dapat diselesaikan dengan baik. Buku Panduan Pendirian 10 (sepuluh) Bidang Usaha Ekonomi Kreatif merupakan kerjasama antara Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

Buku Panduan ini dipersiapkan dalam 2 (dua) versi yaitu Versi Cetak dan Elektronik (E-Book). Penyiapan E-Book dimaksudkan untuk memudahkan pembaca mengakses buku panduan ini.

Pada prinsipnya sasaran buku panduan ini adalah para calon atau pelaku usaha pemula yang tertarik untuk mendirikan dan mengembangkan usaha ekonomi kreatif. Oleh karena itu, penulisan buku dibuat sesederhana mungkin dengan harapan mudah dipahami dan diterapkan oleh para pembaca.

Penulisan buku panduan ini belum bisa dikatakan sempurna apalagi sebagai referensi untuk pelaku usaha ekonomi kreatif yang sudah berkecimpung lama dibidangnya. Untuk itu, kepada masyarakat sangat diharapkan memberikan saran dan masukan dalam penyempurnaan buku panduan ini di masa mendatang.

Akhir kata atas nama Badan Ekonomi Kreatif saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan buku panduan ini. Semoga upaya dan kerja keras yang dilakukan ini dapat mendorong pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Jakarta,  Juli 2017

Kepala Badan Ekonomi Kreatif

ttd

Triawan Munaf

http://www.bekraf.go.id/berita/page/17/88-buku-panduan-pendirian-usaha-bidang-ekonomi-kreatif

Manajemen Produk | Mengelola Kualitas Produk Untuk Memperkuat Nilai Produk

“kualitas produk memainkan peranan penting dalam advokasi. Sebagus apa pun kempanye pemasaran dan seluas apa pun kanal distribusinya, kalau produknya tidak bagus pada akhirnya tak menghasilkan apa-apa” (Sigit Kurniawan at al).

Ada banyak alasan mengapa  orang merekomendasikan atau bahkan mengadvokasi sebuah produk. Bisa jadi karena iklan yang cukup persuasif, gimmick marketing yang menggoda, sales person yang berkarakter, harga miring, dan sebagainya. Namun, semua itu tidak ada artinya apa-apa jika produk yang ditawarkan tidak bagus atau berkualitas.

Produk yang berkualitas pada dasarnya merupakan senjata advokasi (pembelaan oleh konsumen) yang mumpuni sekaligus membantu meringankan tugas perusahaan. Sebab, produk yang bagus pasti akan direkomendasikan oleh konsumen. Maksud bagus dan berkualitas di sini bisa dipahami secara beragam.  Produk dibilang bagus karena produk tersebut tahan lama alias tidak mudah rusak. Produk itu bagus juga bisa dikarenakan karena mampu menjalankan fungsi-fungsi yang menjawab kebutuhan pelanggan.

Di industri otomotif, misalnya, kenderaan Jepang dibilang bagus karena bandel dan tahan lama dan tak kalah bersaing dengan produk-produk Amerika dan Eropa. Di industri smartphone, Apple dan Samsung menjadi dua merk yang sering direkomendasikan. Orang merekomendasikan dua merek tersebut bukan karena merek ini keren semata tetapi secara produk, keduanya berkualitas di kategori smartphone.

Kata kunci di balik produk yang bagus adalah inovasi. Tanpa inovasi, tidak akan ada produk yang baik. Tanpa inovasi, produk pun akan cepat usang dan tidak relevan dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks dan cepat berubah.

Fenomena ini lumrah terjadi di produk elektronik seperti smartphone. Produk-produk di kategori ini selalu menarik karena life-cycle-nya yang tergolong pendek. Bukan karena produknya tidak laku, tetapi karena inovasi-inovasi yang berjalan terus-menerus dan super cepat. Menurut Jo Semidang, Corporate Marketing and Online Business Director Samsung Electronics Indonesia, strategi pemasaran sebagus apa pun akan sia-sia belaka kalau tidak didukung oleh produk yang berkualitas. Di balik produk yang berkualitas tersebut, ada inovasi yang senantiasa diwujudkan oleh Samsung

Manajemen Produk Kreatif

Marketing pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni manajemen merek, manajemen produk, dan manajemen pelanggan. Ketiganya saling terkait dan mendukung. Di dalam manajemen produk, menjadikan produk tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan adalah yang utama.

Samsung misalnya, mengelola produk sedemikian rupa sehingga produk-produk ponsel Samsung selalu dinanti-nantikan pelanggannya. Caranya, Samsung selalu berinovasi dengan cara meluncurkan serangkaian seri pada smartphone-nya. Kempanye pemasarannya pun selalu mengusung pada kekuatan produk secara fungsional. Jadi, kalau sebuah unit ponsel Samsung secara produk mengusung kamera yang mampu mengatasi kondisi lingkungan minim cahaya, kelebihan inilah yang dikomunikasikan. Semua selalu menuju pada kualitas produk.

Inovasi-inovasi yang dilakukan pun tidak harus 100% dalam wujud produk baru. Inovasi tersebut bisa pembaruan fitur-fitur didalamnya. Sebab itu, penambahan fitur-fitur baru itulah yang membuat sebuah varian produk memiliki nilai produk yang tak jarang menjadi bahan rekomendasi di kalangan konsumen.

Akhirnya, kualitas produk menjadi elemen utama dan pertama dalam sebuah bisnis. Memang, kalau produk bagus, tetapi promosinya jelek, produk itu mungkin tidak akan disadari keberadaannya oleh pelanggan. Namun, jika produk bagus tetapi distribusinya kurang baik sehingga pelanggan tak menemukan produk yang dicari, bisnis juga tidak maksimal. Namun, sebagus apa pun promosi, semenarik apa pun kempanye pemasarannya, dan semasif apa pun distribusnya kalau produknya tidak bagus, pada akhirnya akan sama saja.

Jadi, pastikan bahwa produk yang akan  Anda tawarkan kepada pelanggan Anda ini merupakan produk yang bagus. Sebab, itu akan membuat langkah Anda sedikit lebih ringan.

Tulisan ini sebagaimana dikutip dari majalah Marketeers edisi Maret 2017 yang dituliskan oleh Sigit Kurniawan, Jaka Perdana, Ramadhan Triwijanarko dan penulis lakukan penulisan kembali (re-writing) karena artikel ini sangat bagus untuk diketahui oleh pelaku bisnis kreatif dan juga bagi mahasiswa yang sedang belajar ilmu marketing.

Inspirasi | Kesan dan Pesan Kegiatan Happy Selling

Kesan

Tidak bisa dihitung pelajaran yang kami dapatkan dari Kegiatan Happy Selling yang diadakan oleh kampus kami LP3I dan Dosen Entrepreneur kami, dengan adanya kegiatan Happy Selling ini kami diajarkan bagaimana menjadi pengusaha muda mendapatkan penghasilan sambil kuliah. Menjadi sosok yang sukses dan pantang menyerah, karena sangat jelas bahwa tidak ada usaha yang baru dimulai langsung sukses atau jaya. Maka, dari situlah kami diajarkan bagaimana menawarkan, membujuk, meyakinkan pembeli agar membeli produk yang kami tawarkan, yang tadinya tidak berminat berubah menjadi membeli. Karena pada dasarnya kita sebagai penjual membutuhkan konsumen. Dan konsumen adalah Raja

Disini kami memanfaatkan fasilitas seperti tenda, meja yang disediakan oleh LP3i. Kami stay di tenda dengan modal senyum juga dengan ramah menyapa setiap orang yang melewati dihadapan kami untuk singgah, setiap ada yang membeli, hati terasa sejuk dan bahagia walaupun hanya membeli sepotong kue saja.

Dengan adanya kegiatan Happy selling ini, kami juga dapat melatih kesabaran kami dalam menghadapi berbagai macam sifat dan tingkah pembeli yang berbeda-beda, ditambah dengan cuaca panas terik, juga dengan semangat kami terjun kelapangan untuk berinteraksi, menawarkan, menjual produk-produk kami dengan orang yang tidak kami kenal sebelumnya agar menjadi omset penjualan. Alhamdulillah kami mampu memenuhi target yang sebelumnya telah kami tetapkan.

Adanya acara ini, bukan semulus yang dilihat, keadaan siap di stand, segembira di lapangan juga bukan sesemangat pada saat menawarkan produk. Dibalik itu semua, banyak sekali keadaan-keadaan, situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan rencana dan tidak kami perkirakan sebelumnya, ketidaksiapan kami dalam memasak, berbelanja juga mem-packing produk-produk kami. Saat itu, kami benar-benar belajar bagaimana menyesuaikan pikiran satu dengan pikiran yang lainnya, memikirkan produk apakah yang laku jika dijual nanti sesuai dengan tempat yang kami pilih.

Izinkan kami menceritakan sedikit pengalaman lucu kami, Pada Sabtu 6 Mei 2017 Pukul 13.30 WIB kami bersiap-siap untuk berbelanja segala keperluan yang kami butuhkan untuk bahan baku produksi, ada yang tidak tahu yang mana kol dijual, yang mana labu, yang mana tepung untuk membuat makanan yang berbeda-beda. Setiap kami berbelanja, kami selalu menanyakan kepada si penjual resep apa saja jika membuat timphan, dsb-nya. Kami yakin pada saat membeli semua kebutuhan itu, kami di bodoh-bodohi mungkin saja si penjual melihat kami yang tidak tau apa-apa menaikkan harga atau memilih bahan yang kurang bagus.

Karena kami yang bodoh ini tidak mau kalah pandainya dengan penjual, kami pun juga menghitung ulang, mendata, negosiasi harga, juga mengecek bahan-bahan yang diberikan kepada si penjual sebelum meninggalkan kedai tersebut. Karena ini pertama kali bagi kami, malam harinya kami bolak balik ke pasar peunayong untuk mencari bahan yang kurang. Semuanya serba terburu-buru.

Dengan adanya Happy Selling inilah kami memasak, mencari resep di internet, sudah tau sedikit-sedikit bagaimana membuat timphan, brownies, mie hun, bubur sumsum dsb-nya. Pagi harinya kami menyiapkan apa yang belum siap dikerjakan tadi malam, sehingga kami kurang istirahat, tidak tidur malam, kepikiran bagaimana jika tidak siap. Karena tidak semua produk yang bisa dikerjakan malam hari, beberapa produk harus di masak pada pagi hari.

Alhamdulillah kami bisa kompak, bisa menyatukan semua pikiran teman-teman yang lain agar sejalan, merancang rencana bersama-sama bagaimana meyakinkan, merayu si pembeli agar mau membeli produk kami dan  terjual habis. Tidak terjual habis pun tidak apa-apa asalkan modal kami kembali. Tetapi uang hasil dari menjual produk kami itu digabung, jadi kami tidak tau apakah kami untung atau rugi, karena kalau masalah uang itu sangat sensitif. Apalagi ada kelompok yang mengeluarkan modal banyak, banyak menggaet pembeli, produknya rata-rata habis. Tetapi kami menyikapinya dengan santai dan berusaha adil untuk membaginya.

Pesan

Jangan malu! jangan sombong! Jangan takut! Kita masih muda, masih sanggup memanfaatkan waktu. Lakukanlah apa yang bermanfaat, carilah uang yang halal. Jualkan lah produk-produk kamu ke orang-orang. Belajarlah bagaimana menjadi orang yang ramah, jujur dan berani. Menjadi orang ramah, jujur, berani adalah kunci untuk sukses. Mengapa? Karena jika kita ramah, jujur dan bera pasti membeli yakin membeli produk kita, karena pada hakekatnya dia membayar atas keramahan yang kita miliki bukan membeli produk kita. Begitulah salah satu bagaimana membujuk pembeli yang aturannya tidak membeli malah membeli. Jangan membuat konsumen itu yang aturannya membeli malah tidak jadi membeli. Kita sangat membutuhkan konsumen guys! Uang ada dikantong mereka gaetlah mereka sesuai dengan aturannya…

“Hopefully we become succesful people not looking at the pricetag when we have shopping”. -ade-

Kontributor | Ade Andriani Fitri, Irma Yunita, Raisul Fatta, Muhammad Rian, Nana Supiana, Sony Dewantara