Kapitalisasi Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi

Setiap guru dan siswa pasti sudah sangat hafal dengan momentum 2 Mei, ya! Hari Pendidikan Nasional, tepatnya hari ini. Di hari tersebut berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan di gelar secara besar-besaran dan sangat meriah. Mulai dari acara berbentuk seremonial sampai kegiatan yang bersifat spiritual, dari pagelaran seni sampai festival budaya.

Acara Hardiknas pun dilakukan mulai dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Biasanya pada acara yang bersifat penting dan strategis, kegiatan dimulai dengan acara upacara kenegaraan, seperti menaikkan bendera merah putih oleh pasukan pengibar bendera, menyanyikan lagu kebangsaan dan seterusnya secara khidmat.

Yang menjadi pembina upacara pun pasti orang nomor satu di setiap level pemerintahan, jika pemerintah pusat, maka Presiden-lah yang bertindak sebagai pembina upacara. Dan seterusnya sampai pemerintah level dibawahnya. Begitulah gambaran peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun dan hampir tidak perubahan yang signifikan dalam tata tertib acaranya.

Tidak ada yang salah dengan memperingati hari apapun, seperti halnya kemarin (1 Mei 2018) para buruh memperingati Hari Buruh Sedunia atau lebih dikenal dengan Mayday atau juga Hari Kartini, Hari Pahlawan dan hari-hari lainnya. Bahkan secara pribadi pun kita memiliki hari khusus yang memiliki histori atau nilai tertentu dan kita pun memperingatinya, misalnya hari lahir lalu diperingati dengan Hari Ulang Tahun. Sekali lagi tidak ada yang salah. Namun yang menjadi masalah adalah mengapa harus memperingatinya? Apa tujuan memperingatinya? Dan bagaimana para stakeholder memaknai peringatan hari pendidikan tersebut? Inilah yang menjadi subtansinya menurut hemat penulis.

Dari hasil survey kecil-kecilan yang penulis lakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa dan guru yang mengikuti acara peringatan Hardiknas, penulis mendapati sebanyak 40 persen mengatakan bahwa tujuannya adalah hanya mengikuti kegiatan seremonial, 20 persennya mengatakan bertujuan ingin meningkatkan kemajuan pendidikan, sementara 35 persen lainnya bertujuan mendukung program pemerintah. Hanya 5 persen yang tidak menjawab. Dari hasil survey sederhana tersebut dapat dilihat bahwa ternyata tujuan mendukung program pemerintah dalam memajukan pendidikan paling tinggi. Tentu hal ini sangat positif.

Permasalahan Dunia Pendidikan Saat Ini

Jika kita mengikuti berbagai informasi yang disajikan oleh media massa baik media cetak, media elektronik dan media daring (online), dunia pendidikan nasional masih diselimuti berbagai masalah, mulai dari masalah fasilitas sekolah, laboratorium, mobiler, yang masih belum memadai dan bahkan masih timpang antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kemudian masalah guru yang masih terjadi kekurangan dan kurang kompeten, persoalan kurikulum yang masih tumpah tindih dan masalah teknis lainnya.

Menghadapi era digital dan model pendidikan abad 21 tuntutan terhadap pendidikan semakin komplit, bukan hanya dari segi perkembangan teknologi yang sangat cepat namun tingkat persaingan pun kian meluas, tidak lagi kompetisi berbasis lokal tetapi secara global. Sebab itu jika semua persoalan pendidikan yang selama ini tidak dibenahi, maka sangat mempengaruhi kualitas lulusan dan peserta didik dalam berkompetisi. Misalanya persoalan guru, menurut Namin AB Ibnu Solihin (2015) “Guru banyak yang masih mengajar pakai cara zaman dahulu, padahal sekarang sudah zaman digital. Ditambah siswa yang dihadapinya lahir di zaman digital. Praktik mengajar seperti ini kebanyakan terjadi di sekolah-sekolah negeri. Bahkan, kepala sekolahnya sendiri banyak yang usinya tua, dan sudah hampir pensiun,”

Dari segi kelengkapan fasilitas sekolah juga masih ada yang belum mencapai standar minimal. Di Aceh sendiri masih ada sekolah yang masih menggunakan gedung atau tempat belajar yang tidak layak, bahkan lebih pantas disebut kandang kambing daripada tempat belajar. Fakta ini terdapat di Kabupaten Aceh Utara. Selain sarana tempat belajar, aliran listrik yang tidak tersedia juga merupakan masalah yang fundamental untuk menerapkan sekolah berbasis internet dan digital. Memang hal ini sangat ironis, belahan dunia lain yang justru sangat maju namun masih ada sekolah di Indonesia yang belum teraliri listrik.

Penerapan kurikulum juga menjadi polemik tersendiri dalam proses belajar mengajar di Indonesia, bukan hanya di kota-kota besar bahkan di Aceh juga menjadi kontroversial dan terjadi simpang siur di kalangan para pendidik dan sekolah. Sebagian yang setuju dan tertarik dengan kurikulum 13 (K13), maka disekolah tersebut diterapkan kurikulum 13 meskipun secara infrastruktur dan proses belum siap. Namun sebagian yang lain justru menolak penerapan K13 walaupun ditengarai K13 sangat relevan dan bagus untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Proyeksi kebutuhan pendidikan abad 21 sendiri sekurang-kurangnya ada tiga komponen utama yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik agar mampu berkompetisi secara global; pertama : Karakter, ini berkaitan dengan personaliti dan soft skill seseorang.

Karakter unggul yang dibutuhkan pada era sekarang dan kedepan adalah mereka yang mempunyai karakter moral yang baik, seperti kejujuran, etika dan nilai-nilai spiritualitas yang baik. Lalu karakter kerja, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan seseorang diarahkan pada kesiapan mereka untuk memasuki pasar dunia kerja, mampu bersaing untuk merebut peluang kerja yang ada bahkan hingga mereka mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Karakter kerja yang dibutuhkan misalnya seseorang harus memiliki etos kerja yang tinggi, tidak malas, kreatif dan bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik dan tuntas.

Kemudian komponen yang kedua yaitu; kompetensi, seorang peserta didik harus memiliki kompetensi pada bidang yang pilih. Kompetensi itu merupakan kemampuan seseorang dalam mengembangkan sumber daya yang dimilikinya untuk digunakan dalam melakukan pekerjaan sebagai suatu keahlian yang melekat pada dirinya. Misalnya kompetensi di bidang teknik, administrator, akuntansi, dan lain sebagainya.

Dan yang komponen yang ketiga adalah literasi. Yang di maksud dengan literasi adalah keterbukaan wawasannya. Paling tidak seseorang memiliki empat kemampuan literasi yang harus dimiliki. Pertama; literasi bacaan, kedua; lterasi budaya, ketiga; literasi teknologi dan keempat; literasi keuangan.

Persoalan Ekonomi

Salah satu keberhasilan pemerintah mewujudkan pemenuhan hak pendidikan rakyatnya adalah mampu meningkatkan aksesibilitas layanan pendidikan secara merata di seluruh nusantara.

Hal ini dimaksudkan untuk pemberantasan buta aksara dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu visi pendiri negara ini. Memberikan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas merupakan perintah konstitusi yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Namun jika kita melihat data jumlah murid sekolah dasar yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah setiap tahun memang meningkat tetapi secara rasio justru menurun. Begitu juga yang lulus SMP masih sangat banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan atas, padahal pemerintah telah menerapkan program wajib belajar pendidikan dasar -dari SD sampai dengan SMA-.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Shabri A. Majid (2014) tentang pengaruh pertumbuhan eknomi terhadap pendidikan, ditemukan ternyata pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan suatu daerah.

Aceh adalah daerah yang pertumbuhan ekonominya tergolong rendah di pulau sumatera. Banyak siswa-siswa Aceh yang tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bukan karena tidak ada minat akan tetapi karena terbentur dengan kemampuan orang tua mereka dalam keuangan (ekonomi).

Ketiadaan biaya yang harus dibayarkan ke sekolah, itulah yang menyebabkan mereka harus menguburkan impian dan cita-cita mereka secara lebih dalam. Mahalnya biaya pendidikan menjadi penyebab utama rendahnya tingkat partisipasi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Karena faktor ekonomi orang tua sehingga mereka lebih mememilih bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga.

Kapitalisasi pendidikan di Indonesia telah menyebabkan anak-anak Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya mengalami gagal sekolah alias putus sekolah. Memang katanya tidak ada kutipan apapun di sekolah, pungutan liar di berantas, tersedianya dana operasional sekolah atau daan BOS, tetapi siapa yang berani menjamin bahwa tidak setoran apapun dari orang tua ke sekolah? Inilah persoalan peringatan hari pendidikan nasional yang jatuh pada hari ini. Tidak terlalu penting kegiatan tersebut berlangsung rutin setiap tahun namun jika semuanya tanpa makna.

Seremonial hanya menyenangkan hati pejabat tetapi masalah pendidikan dasar yang menjadi kewajiban negara bagi rakyatnya tidak pernah ada kemajuan setiap tahunnya. Akhirnya marilah kita ubah cara kita menangani permasalahan pendidikan di negeri ini dan berikan perhatian yang serius terhadap sumber daya manusia Indonesia menuju pendidikan abad 21 yang penuh tantangan ini. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf jika ada kekurangan.

Baca juga di https://www.kompasiana.com/cangkoiburong