Pendidikan Vokasi dan Bonus Demografi 2020-2030

Pendidikan | Politeknik Kutaraja

Kampus Politeknik Kutaraja “pendidikan vokasi”.

Menurut laporan badan buruh dunia ILO (international labour organization) tingkat pendidikan pekerja di Indonesia sebanyak 60 persen adalah lulusan sekolah dasar (SD), di mana pendidikannya sangat rendah, tidak terdidik dan tidak memiliki ketrampilan sehingga produktivitasnya ikut rendah. Namun di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan berkemampuan tinggi, yang mampu bekerja sama dalam tim, memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif, mampu memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global, dalam rangka meningkatkan produktivitas. Dan berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2015, hanya 8,32% dari angkatan kerja saat ini berasal dari bangku kuliah. Yang paling besar justru belum tamat SD (13,02%), tidak/belum pernah sekolah (27,42%), SMP (18,03%), dan SMA (17,26%). Oleh sebab itu, proses pendidikan tinggi harus difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sehingga mampu menghasilkan mahasiswa yang mandiri, berkompeten dan produktif.

Mahasiswa sebagai subyek pembelajaran dalam pusaran pendidikan di perguruan tinggi, perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Tidak hanya secara internal dengan para dosen, instruktur dan citivas akademika namun juga secara eksternal yaitu dengan industri atau perusahaan dan pemerintah. Model pendidikan dan proses pembelajaran seperti ini sangat berbeda dengan apa yang diterapkan di perguruan tinggi pendidikan akademik saat ini, di mana mahasiswa seringkali hanya menjadi objek dari sebuah proses. Dosen sering bertindak sebagai pusat (center) dalam kegiatan belajar mengajar, bahkan sistim terpusat semacam ini tidak jarang memperagakan hegemoni dosen dalam perkuliahan begitu menonjol. Mahasiswa suka tidak suka harus menerima begitu saja apa yang diajarkan oleh sang dosen tanpa boleh membantah karena semuanya berdasarkan teori (based on theory). Hal ini membuat pemikiran mahasiswa tidak berkembang dan menjadi sangat terbatas, melahirkan para penganut teori dan takut berinovasi. Namun apa boleh buat, Indonesia sudah cukup lama menerapkan sistim pendidikan seperti itu. Paradigma pendidikan yang dilandasi asumsi John Locke bahwa pikiran peserta didik yang belum terlatih sama dengan kertas kosong yang menunggu dosen untuk menulisinya telah begitu mendarah daging.

Namun pada pendidikan vokasi seperti Politeknik Kutaraja, proses pembelajaran yang dilakukan menerapkan sistim yang sangat berbeda dengan pendidikan akademi, di mana mahasiswa merupakan sebagai pusat pembelajaran atau apa yang disebut dengan student centre learning (SCL). Strategi belajar model SCL dianggap sangat penting dalam mengajar dan mahasiswa dilatih menggunakan strategi belajar tersebut agar dapat mandiri dalam meningkatkan keberhasilan belajarnya. Paradigma pembelajaran telah bergeser dari pembelajaran berpusat pada dosen ke pembelajaran berpusat pada mahasiswa, pergeseran tersebut menyentuh semua aspek pembelajaran. Oleh sebab itu maka Politeknik Kutaraja sangat menekankan agar untuk mencapai tujuan pembelajaran, mahasiswa dibantu dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti laboratorium komputer, praktek mini bank, lab administrasi perkantoran dan magang kerja dengan pihak relasi/industri. Sehingga mahasiswa Politeknik Kutaraja memiliki satu karakteristik yang khas sejak mulai kuliah sampai lulus.

Karakteristik pendidikan vokasi pada umumnya adalah bagaimana menciptakan profil lulusan yang berorientasi pada profesi atau dunia kerja, memiliki sikap profesional berstandar, mempunyai pengetahuan praktis, dengan ketrampilan khusus yang ditekankan pada kebutuhan dunia kerja, serta memiliki kepekaan dan tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan kerja dan sosial. Semua ini dapat dicapai karena dosen atau pengajar pada pendidikan vokasi adalah mereka yang mempunyai keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri serta profesi. Apalagi ditunjang dengan media pembelajaran yang cukup, tentu akan sangat membantu memberikan stimulus bagi mahasiswa untuk menguasai keahlian dan kompetensi sesuai bidang minat dan bakatnya.

Fenomena Bonus Demografi

Dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan menghadapi bonus demografi.  Bonus demografi adalah suatu fenomena dimana jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Menurut Prof. Haryono Suyono,  seperti dikutip oleh Win Konadi dan Zainuddin Iba (2009), menyatakan bahwa Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah melimpahnya jumlah penduduk produktif usia angkatan kerja (15-64 tahun), yang mencapai sekitar 60 persen atau 160-180 juta jiwa pada 2020, sedangkan sekitar  30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun). Jika bonus demografi tersebut berhasil memanfaatkannya dengan melakukan berbagai upaya yang diperlukan untuk terjadinya hal tersebut, maka Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 dunia, meningkatnya target pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan investasi yang ujungnya adalah akan terserap tenaga kerja produktif sebagai hasil dari bonus demografi . Dengan demikian kebutuhan terhadap tenaga kerja juga mengalami peningkatan.

Meskipun begitu, banyak perusahaan yang masih mengkhawatirkan kualitas lulusan universitas di Indonesia. Pasalnya, kebutuhan tenaga kerja (talent) pada tahun 2021 akan mengalami perubahan seiring meningkatkan adaptasi teknologi dalam operasional perusahaan. Di sisi lain, kebanyakan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak banyak berubah sesuai perubahan zaman. Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2015, dari sisi kompetetif, tenaga kerja di Indonesia masih jauh berada negara-negara di dunia dengan menduduki peringkat ke-111 di dunia, atau ke-6 di Asia Tenggara. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas penduduk produktif dan berdaya saing masa mendatang, salah satu usaha yang tepat adalah dengan menyediakan kesempatan pendidikan seluas-luasnya. Kemudahan akses pendidikan dan didukung oleh prasarana pendidikan yang lengkap, serta tenaga pendidik yang berkualitas, akan menciptakan masyarakat yang berkualitas pula. Dengan kesempatan mengenyam pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi, tentu menjadi modal penting untuk menciptakan angkatan kerja yang berkualitas dan terampil. Inilah komitmen POLITEKNIK KUTARAJA di Banda Aceh untuk mewujudkan generasi muda yang berkualitas, smart dan berdaya saing. (*ham)

The following two tabs change content below.

Hamdani

Praktisi Bisnis. Konsultan Profesional Bidang Keuangan dan UKM.

Tinggalkan Balasan