CHESTER BERNARD DAN TEORI SISTEM | Scientific Management

Chester Bernard (1938) analisanya mengenai manajer sungguh-sungguh merupakan suatu pendekatan sistem sosial, karena agar mengerti dan menganalisa fungsi-fungsi para pejabat, Bernard memperhatikan tugas-tugas mereka yang utama dalam sistem di mana mereka beroperasi. Seperti yang ditulisnya dalam buku berjudul The Function of the Executive, (Fungsi-fungsi Pejabat). Sistem seperangkat unsur yang saling terkait yang berfungsi secara keseluruhan. Suatu sistem akan mencakup masukan (input ), Tranformasi (proses), dan keluaran (output).

Dalam teori Sistem dikenal Sistim Terbuka, yakni suatu sistem berinteraksi dengan lingkungan, dan Sistem Tertutup, yakni suatu sistem tidak berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi dengan sistem tertutup akan mengabaikan keberadan lingkungan, dan menjadi tidak akan mengetahui apakah posisi organisasi kuat, lemah, mempunyai kesempatan atau dalam posisi terancam. Teori Sistem menawarkan manajer perspektif yang sangat berguna. Melalui pendekatan sistem maka manajer dapat mengenal lingkungan dan memahami bagaimana organisasi bekerja, sehingga kinerja aktual organisasi dapat diketahui sedini mungkin. Konsep Sub-sistem menunjukkan bahwa antar unit organisasi terdapat ketergantungan yang sangat kuat yang jika diabaikan akan sangat membahayakan hidup organisasi. Sinergi akan memperlihatkan nilai kerja sama dalam organisasi sedangkan Entropi akan menunjukkan berbagai indikasi akan berakhirnya organisasi.

Dalam menentukan tugas para manajer adalah untuk memelihara suatu sistem usaha kerjasama dalam organisasi yang formal, Bernard memusatkan perhatiannya pada alasan adanya sistem-sistem kerjasama itu maupun sifat sistem tersebut. Logika analisanya dapat dilihat dalam langkah-langkah dibawah ini:

  1. Pembatasan-pembatasan fisik dan biologis terhadap individu-individu membawa mereka kepada kerjasama. Bahkan termasuk pembatasan-pembatasan psikologis dan sosial terhadap individu-individu juga memainkan suatu peranan yang menimbulkan kerja sama.
  2. Tindakan kerja sama membawa kepada penetapan sistem kerjasama di mana terdapat faktor-faktor atau unsur-unsur fisik, biologis, pribadi dan sosial. Bernard juga menunjukkan bahwa kelanjutan kerjasama tergantung dari efektivitas dan efesiensi dari anggota pihak yang bekerja sama.
  3. Setiap sistem kerja sama dapat ke dalam dua bagian: “organisasi” yang meliputi banyak interaksi orang-orang di dalam sistem itu, dan “unsur-unsur lainnya.”
  4. Organisasi dapat  juga dibagi  ke dalam dua macam: organisasi “formal”, yaitu kumpulan interaksi sosial yang secara sadar dikoordinasikan, mempunyai tujuan bersama dan ditentukan dengan sengaja. Organisasi “informal’, yaitu interaksi-interaksi sosial tanpa tujuan bersama yang umum atau dikoordinasikan dengan sadar.
  5. Organisasi formal tidak dapat berlangsung kalau tidak ada orang-orang yang (a) yang dapat saling berkomunikasi, (b) yang mau menyumbang kepada kegiatan kelompok, dan (c) dengan sadar mempunyai tujuan umum.
  6. Setiap organisasi formal harus mencakup unsur-unsur berikut ini: (a) suatu sistem fungsionalisasi sehingga orang-orang dapat berspesialisasi; (b) suatu sistem perangsang yang efektif dan efesien yang akan menyebabkan orang menyumbang kepada kegiatan kelompok; (c) suatu sistem kekuasaan (otoritas) yang akan menyebabkan anggota kelompok menerima keputusan-keputusan di dalam organisasi; dan (d) suatu sistem pengambilan keputusan yang logis.
  7. Jadi fungsi-fungsi para pejabat (semua level manajer) dalam organisasi yang formal ini adalah sebagai berikut: (a) pemeliharaan komunikasi organisasi melalui suatu skema organisasi, ditambah dengan adanya orang-orang yang loyal, bertanggung-jawab, dan mampu bekerja, serta suatu “organisasi informal” eksekutif yang rukun; (b) perlindungan terhadap pelayanan pokok dari individu-individu di dalam organisasi; dan (c) perumusan dan definisi mengenai tujuannya (yaitu perencanaan).
  8. Fungsi-fungsi pelaksana memasuki proses melalui pekerjaan pelaksana dengan atau integrasi dari keseluruhannya dan dengan menemukan keseimbangan yang paling baik di antara kekuatan-kekuatan dan kejadian-kejadian yang berlawanan.
  9. Untuk membuat pelaksana efektif, diperlukan suatu kepemimpinan yang mempunyai tanggung jawab yang sangat tinggi; sebagaimana telah ditekankan dengan tepat oleh Bernard, “kerjasamalah dan bukannya kepemimpinan, yang menjadi proses kreatif; tetapi kepemimpinan adalah pengecam yang sangat diperlukan dari kekuatan-kekuatan itu.”

Thank you for your visited on my blog

Timbulnya Ilmu Perilaku dalam Ilmu Manajemen | Hamdani

Pada  periode yang sama di mana F.W. Taylor, Fayol dan lainnya memusatkan diri pada manajemen ilmiah dan tugas-tugas manajer, banyak para sarjana dan para pelaksana memikirkan, mengadakan percobaan, dan menulis tentang psikologi industri  dan tentang teori sosial, yang kedua-duanya dalam banyak hal, di rangsang oleh gerakan manajemen ilmiah. Indikasi ini bisa kita lihat dengan timbul dan berkembangnya psikologi industri, tumbuhnya manajemen kepegawaian, dan perkembangan pendekatan sosiologis terhadap hubungan dan manajemen manusia.

TIMBULNYA PSIKOLOGI INDUSTRI

Hugo Munsterberg diakui sebagai “bapak psikologi industri”. Dia belajar psikologi dan menerima gelar doktornya pada Universitas Leizip pada tahun 1885. Pada tahun 1910 minatnya tertuju pada penerapan psikologi dalam industri, di mana dia melihat pentingnya penerapan ilmu perilaku kepada gerakan manajemen ilmiah yang baru.

Dalam bukunya berjudul Psikologi dan Efesiensi Industrial, yang diterbitkan tahun 1912, Munsterberg menerangkan dengan jelas bahwa tujuannya adalah menemukan (1) bagaimana mendapatkan orang-orang yang memiliki sifat-sifat mental yang paling cocok dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan; (2) dalam kondisi psikologis manakah out put yang paling besar dan paling memuaskan dapat diperoleh dari pekerjaan setiap orang; (3) bagaimana suatu perusahaan dapat mempengaruhi para pekerja dengan demikian rupa sehingga dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Sebagaimana hal Taylor, Musnterberg tertarik akan minat yang timbal balik antara manajer dan para pekerja. Dalam menyelesaikan pekerjaannya, Munsterberg juga dilengkapi dengan pendapat baru Lilian Gilbret, Walter Dill Scott yang berusaha menerapkan konsep-konsep psikologi dalam praktek manajemen ilmiah. Mereka semua adalah ahli dalam ilmu perilaku. Dan bahkan Scott juga banyak menulis buku-buku mengenai penerapan konsep-konsep psikologi pada periklanan dan pemasaran, tentang perkembangan praktek manajemen kepegawaian, seperti seleksi yang efektif.

PERTUMBUHAN MANAJEMEN KEPEGAWAIAN

Robert Owen sebagai pelopor dan kontributor terhadap manajemen kepegawaian, lalu pemikiran dan idenya diakui oleh para ahli manajemen lainnya dan para industriawan. Antara lain adalah Walter Dill Scott, B.F.Goodrich,dll. Bahkan Henry Ford sebagai otokrat industri juga memikirkan tentang apa yang akan dilakukan para pekerja mengingat gaji mereka yag jauh lebih besar dan prihatin memikirkan pergantian buruh, mendirikan mendirikan sebuah departemen kepegawaian pada tahun 1914 atau yang diberi nama “departemen sosiologi.”

Industriawan yang memperkembangkan praktek-praktek manajemen kepegawaian secara lebih luas sebelumnya adalah B. Seebohm Rountree (Inggris, 1889) dengan membuat banyak program yag bertujuan mempertinggi status para pekerja. Diantara banyak program tersebut ada departemen kesehatan (1904), sekolah lanjutan waktu siang (1923), dan praktek-praktek inovasi, seperti tunjangan pengangguran, psikolog-psikolog industri perusahaan  yang terlatih untuk membimbing baik para manajer maupun para pekerja, dan perbekalan untuk kantin-kantin dan rekreasi.

Ilmu jiwa manajerial berlandaskan dua prinsip dasar: (1) apa pun yang menjadi alasan yang menyebabkan setiap individu tertentu untuk ikut serta dalam industri, tujuan dasarnya yang benar haruslah pelayanan kepada masyarakat, dan (2) industri adalah benda manusia, di mana pria dan wanita mendapatkan nafkah, dan dari mana pria da wanita harus megharapkan nafkah untuk hidup yang layak dijalani.

Perkembangan Pendekatan Sosiologis Dalam Manajemen

Setelah berkembangnya manajemen ilmiah oleh Taylor dan manajemen administratif oleh Henry Fayol. Kemudian muncul pendekatan baru sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan dari perilaku kelompok atau yang disebut “manusia sosial” dalam manajemen. Inilah awal perkembangan teori organisasi atau pendekatan sistem sosial dalam manajemen. “bapak teori organisasi” tersebut adalah Max Weber, Emile Durkheim (1839) dan Vilfredo Pareto (1896-1917)

Max Weber adalah cendikiawan berbangsa Jerman. Analisa empirisnya tentang Gereja, Pemerintahan, Ketentaraan dan Perusahaan menyebabkan dia percaya bahwa hirarki, otoritas, dan birokrasi (termasuk peraturan-peraturan yang jelas, defiisi tugas-tugas, dan ketertiban) merupakan pondasi segala organisasi sosial.

Emile Durkheim, cendikiawan Perancis dalam tulisannya menekankan bahwa kelompok-kelompok, melalui penetapan nilai-nilai dan norma-norma mereka, mengendalikan kelakuan manusia dalam setiap organisasi sosial. Sedangkan Vilfredo Pareto (Perancis-Italia) memadang bahwa masyarakat sebagai kerumunan berbelit-belit yang terdiri dari kesatua-kesatuan atau unsur-unsur yang saling bergantung-yaitu sebagai suatu sistem sosial dengan banyak sub-sistem. Diantara banyak idenya terdapat kecenderungan sistem-sistem sosial untuk mencari keseimbangan karena diganggu oleh pengaruh dari luar atau dari dalam. Dia juga melihat bahwa menjadi tugas kaum elit (yaitu:tingkat yang berkuasa) dalam setiap masyarakat untuk menyediakan kepemimpinan supaya dapat memelihara sistem sosial itu.

PELAKSANAAN MANAJEMEN MEMERLUKAN PENDEKATAN SISTEM

 Tidak ada manajer pelaksana yang dapat mengabaikan pendekatan sistem. Para manajer selalu harus memperhitungkan sejumlah besar pengaruh timbal-balik dan variabel yang saling mempengaruhi dalam pekerjaan mereka. Lalu apakah sistem itu?

Lanjut ke posting selanjutnya…

Dimensi Manajemen | Management Principles

Pandangan para pakar Manajemen dapat dikelompokkan
sebagai berikut :

  1. Manajemen sebagai suatu proses kerja sama dari dua orang atau lebih.
  2. Manajemen sebagai suatu seni mencapai tujuan dari dua
    orang atau lebih.
  3. Manajemen sebagai ilmu mempelajari kerja sama dua
    orang atau lebih untuk mencapa tujuan bersama.
    Pandangan penulis :

Manajemen sebagai ilmu mempelajari dan seni proses kerja sama manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat-alat) untuk mencapai tujuan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Proses kerja sama.
Jika (para)manusia berkumpul untuk mencapai tujuan
bersama pasti akan terjadi suatu proses kerja sama agar tujuan tercapai. Dengan pandangan ini, akan banyak aktifitas yang dikerjakan melalui beragam tahapan sehingga tujuan yang akan dicapai menjadi fokus kajian dan anlisis dari para pakar manajemen. Manajemen sebagai suatu proses ini memberikan pemahaman akan pentingnya dinamika Organisasi.

Ad. Manajemen sebagai suatu Seni. Penetrapan atau pelaksanaan berbagai tehnik dan fungsi manajemen didalam organisasi yang berbeda-beda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya ini merupakan suatu (ketrampilan)seni. Karena setiap peristiwa / kejadian yang muncul dipengaruhi berbagai faktor yang banyak, luas, dan rumit maka akan membuat satu manajer dalam mengambil keputusan organisasi dapat berbeda dengan manajer lainnya. Perbedaan gaya, pemikiran dan filosofi manajer akan mempengaruhi pola kinerja yang di terapkan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Ilmu. Jika Ilmu didefisikan suatu pengetahuan yang terorganisir dan yang sistematis sebagaimana yang dijelaskan oleh M. Nazir dalam buku berjudul Metode Penelitian maka Manajemen dapat dikatakan sebagai Ilmu. Para pakar Manajemen dan para manajer dapat memberikan definisi, menganalisis, menguji, dan mengukur berbagai fenomena / kejadian dan perilaku manusia kemudian menyimpulkannya sehingga dihasilkan suatu teori, yaitu Teori Manajemen.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu

Pengertian Manajemen dan Organisasi

Kata Manajemen merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Management”, dalam bahasa Indonesia padanan kata yang cocok adalah “Tata Laksana” yang berarti Pengaturan atau Cara kerja. George R.Terry berpendapat bahwa “Manajemen adalah pencapaian tujuan (organisasi) yang sudah ditentukan sebelumnya dengan mempergunakan bantuan orang lain”. Dengan makin berkembang pola pikir manusia dan semakin besar atau mahal biaya-biaya operasional organisasi, membuat manusia (kita) perlu menata ulang kebijakan dalam bekerja untuk lebih efisien dan efektif.

Berdasar pandangan tersebut, manusia akan lebih banyak bekerja dengan sarana pendukung (alat-alat) kerja daripada dengan manusia lainnya agar lebih cepat dan lebih baik hasil produk (Barang atau Jasa)nya. Pengaturan dan kerja sama (satu) manusia dengan sarana pendukung (alat) kerja dapat termasuk dalam pengertian manajemen.

Dalam buku ini, penulis berpendapat Manajemen didefinisikan sebagai “Pengaturan dan kerja sama unsur- unsur manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat- alat)untuk mencapai tujuan (organisasi ) secara efektif dan efisien”. Definisi tersebut memberikan pemahaman perlunya penataan (para) manusia dan sarana pendukung yang bekerja secara efektif dan efisien dalam suatu organisasi guna mencapai tujuan yang ditentukan untuk dicapai /diraih.

Kata Organisasi merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Organization”, yang artinya mengatur atau kumpulan sesuatu yang diatur bekerja sama. Jadi pengertian Organisasi ini adalah “Kumpulan manusia dan sarana pendukung yang diikat pada suatu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama”. Agar organisasi dapat beroperasi dengan lancar, perlu ada manusia yang mengatur organisasi itu sesuai dengan pengertiannya yang diistilahkan Manajer. Manajer merupakan “Manusia yang melakukan atau melaksanakan semua fungsi manajemen yang diarahkan kepada pencapaian
tujuan organisasi”.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu