The Power of Selling | The Power to Get What You Want in Life

“YOU CAN HAVE EVERYTHING IN LIFE YOU WANT, IF YOU WILL JUST HELP ENOUGH OTHER PEOPLE GET WHAT THEY WANT.”
LET ZIGLAR CHANGE YOUR LIFE!

Welcome to Selling World

Do you want to be successful in sales and in life? You’ll have a chance to meet the pros, the people who have achieved success in their careers in sales. For most people, to achieve personal success entails more than just making a lot of money. Many would claim that to be successful in a career means to have fulfilled an ongoing goal—one that has been carefully planned according to their interests and passions. Is it your vision to run your own business? Or would you rather pursue a profession in a service organization? Do you want to excel in the technology field or, perhaps, work in the arts? Can you see yourself as a senior executive? Imagine yourself in the role that defines success for you. Undoubtedly, to assume this role requires more than just an initial desire; those who are most successful take many necessary steps over time to become sufficiently qualified for the job presented to them. Think about your goal: what it will take to get there? With a good plan and the right information, you can achieve whatever you set out to do. It may seem like a distant dream at the moment, but it can be a reality sooner than you think. Think about successful people who do what you want to do. What do they all have in common? Of course, they have all worked hard to get to their current position, and they all have a passion for their job. There is, additionally, a subtler key ingredient for success that they all share; all successful people effectively engage in personal selling, the process of interacting one-on-one with someone to provide information that will influence a purchase or action.

Congratulations, You’re in Sales!
If you think personal selling is only for salespeople, think again. Everyone in every walk of life uses personal selling (some more effectively than others!). Selling is what makes people successful. We all have to sell our ideas, our points of view, and ourselves every day to all sorts of people—and not just those related to our jobs. For example, when you work on a team project, you have to sell your ideas about how your team should approach the project (or, sometimes more delicately, you will have to persuade others as to what you should do about a lazy team member). When you are with your friends, you have to sell your point of view about which movie you want to see or where you want to go to eat. When you pitch in for a friend’s gift, you have to sell your ideas about what gift to give. You are selling every day whether you realize it or not. Think about the products and services that you buy (and concepts and causes that you believe in) and how
selling plays a role in your purchase decision. If you rented an apartment or bought a car, someone sold you on the one you chose. If you read a product review for a new computer online then went into the store to buy it, someone reinforced your decision and sold you the brand and model you bought. If you ran in a 5K race to raise money for a charity, someone sold you on why you should invest your time and your money in that particular cause. A professor, an advisor, or another student may have even sold you on taking this course!

I Sell Stories
Selling is vital in all aspects of business, just as it is in daily life. Consider Ike Richman, the vice president of public relations for Comcast-Spectacor, who is responsible for the public relations for all NBA and NHL games and hundreds of concerts and events held at the company’s Wachovia Center in Philadelphia. When you ask Ike to describe his job, he replies, “I sell stories.” What he means is that he has to “pitch”— or advertise—his stories (about the games or concerts) to convince the press to cover the events that he is promoting. So, even though he is not in the sales department, his job involves selling. Gary Kopervas, similarly, is the chief creative strategist at Backe Digital Brand Communications. He works in the creative department in an advertising agency, yet he describes his job as “selling ideas,” not creating ads. Connie Pearson-Bernard, the president and founder of Seamless Events, Inc., an event planning company, says she sells experiences. For many of her clients, she also sells time because she and her team execute all the required details to create the perfect event. As you notice, all these people are engaged in selling, even though “sales” may not be included in their respective job descriptions. Clearly, whether you pursue a career in sales or in another discipline, selling is an important component of every job…and everyday life.

Pelajaran dalam Menjual dari Salespeople yang Sukses
Siapa yang Ingin Menjadi Millionaire? Bayangkan menjadi anak putus sekolah yang berusia sembilan belas tahun dengan seorang anak di jalan. Itu menggambarkan Tom Hopkins pada tahun 1976. Dia bekerja di konstruksi untuk membayar tagihan. Dia sadar harus ada cara yang lebih baik untuk mencari uang, jadi dia mengambil pekerjaan di penjualan real estat, tapi tidak berhasil. Bahkan, setelah enam bulan pertama, dia hanya menjual satu rumah dan menghasilkan rata-rata hanya $ 42 sebulan untuk mendukung keluarganya.

Suatu hari, dia bertemu dengan seseorang yang menyarankan agar dia mengikuti seminar pelatihan penjualan. Tom terinspirasi oleh konsep dalam seminar dan menempatkan mereka untuk bekerja. Sebelum berusia tiga puluh tahun, Tom adalah seorang jutawan yang menjual dengan nyata perkebunanya. Tom sekarang menjadi legenda di arena penjualan dengan “Training for Champions” dan “Sales Boot Camp” program. Dia adalah seorang penulis, pembicara, kolumnis, dan pelatih sukses di Tom Hopkins International, yang menyediakan pelatihan penjualan untuk perusahaan seperti Best Buy, State Farm Insurance, Aflac, A.S. Army Perekrut, dan banyak lagi

Dunia Penjualan Baru.
Ada beberapa orang yang mungkin berpikir menjual sebagai pertemuan dengan tekanan tinggi antara wiraniaga dan karyawan pelanggan. Bertahun-tahun yang lalu, hal itu mungkin terjadi dalam beberapa situasi. Tapi di dunia sekarang ini, sukses menjual bukan sesuatu yang Anda lakukan “menjadi” pelanggan, itu adalah sesuatu yang Anda lakukan “dengan” pelanggan. Pelanggan memiliki suara dan paling terlibat dalam situasi penjualan. Dengan alat berbasis internet seperti forum, sosial jaringan seperti Facebook, MySpace, dan Twitter, bersama dengan situs Web, live chat, dan interaktif lainnya fitur memungkinkan pelanggan untuk berpartisipasi dalam proses tidak peduli apapun yang mereka beli.

Brand + Selling = Sukses

Source/reference: saylor.org

Manajemen | Perlunya Pengetahuan Manajemen

Masalah seringkali timbul sebagai akibat dari usaha memperbaiki suatu situasi dengan menerapkan sebuah prinsip yang tidak didesain secara baik untuk menangani persoalan tersebut. Analisa terhadap kegagalan perusahaan yang telah dilakukan bertahun-tahun lamanya yang menunjukkan bahwa persentase yang tinggi dari kegagalan-kegagalan itu disebabkan oleh manajemen yang tidak berkemampuan (terampil) dan tidak berpengalaman.

Majalah Forbes, majalah investor terkrmuka, yang telah mengadakan penyelidikan terhadap firma-firma dagang Amerika selama beberapa tahun, telah menemukan bahwa perusahaan yang melaksanakan manajemen yang baik hampir selalu berhasil. Bank of America beberapa tahun lalu mengatakan dalam publikasinya yang bernama Small Business Reporter “Dalam analisa terakhir, lebih dari 90% dari kegagalan perusahaan disebabkan oleh tidak adanya kemampuan dan pengalaman dalam manajemen.”

Untuk mencapai keberhasilan manajemen dalam perusahaan-perusahaan dan semua jenis organisasi, maka pengetahuan manajemen dan sebagai suatu ilmu mutlak untuk dimengerti. Para menajer dituntut untuk menggunakan pengetahuan tersebut agar dapat membantu mengerti dengan baik tentang manajemen dan menolong mengembangkan praktek-praktek manajemen sekarang.

Sebagai sebuah ilmu, manajemen memiliki prinsip dan teori untuk melengkapi kerangka struktural ilmu tersebut. Prinsip-prinsip  adalah kebenaran-kebenaran fundamental, atau apa yang dipercaya sebagai kebenaran pada suatu waktu tertentu, yang menerangkan hubungan-hubungan antara dua atau lebih variabel. Prinsip-prinsip yang paling mengandung arti ialah prinsip-prinsip yang melibatkan hubungan sebab-musabab dengan variabel yang bergantung dan yang tidak bergantung. Teori adalah pengelompokan yang sistematis dari prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Tugasnya adalah mengikat menjadi satu pengetahuan yang berarti, dan memberinya suatu kerangka. Seperti dikatakan oleh Homans, ”dalam bentuknya yang paling rendah teori adalah suatu klasifikasi, sekumpulan lubang pada kandang merpati, lemari arsip di mana terdapat kumpulan fakta. Tidak ada yang lebih sesat daripada fakta yang terlepas.”

Pentingnya teori bagi pengembangan pengetahuan yang terorganisir telah ditunjukkan oleh Talcott Parsons dalam esainya;”rasanya agak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa indeks yang paling penting dari keadaan kedewasaan suatu ilmu adalah teori sistematis. Ini meliputi sifat skema konseptual umum yang dipakai di lapangan, dalam jenis-jenis dan pada derajat-derajat integrasi logis dari unsur-unsur yang berbeda dalam membentuknya, dan cara-cara di mana dia sebenarnya dipakai dalam penyelidikan empiris.”

Setiap sistem dari prinsip-prinsip atau teori yang memerlukan kejelasan konsep-yaitu gambar mental sesuatu benda yang dibentuk oleh penyamarataan dari fakta-fakta. Jelaslah bahwa suatu definisi yang jelas tentang suatu kata ialah jenis konsep dasar. Dengan demikian pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar dan teknik dalam manajemen dapat mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap bagaimana mempraktekkannya, menjelaskannya dan mengembangkannya. Karena dalam semua bidang kerjasama manusia, efesiensi usaha kelompok sangat ketinggalan dibandingkan dengan efesiensi mesin, maka penerapan pengetahuan manajemen akan lebih mengembangkan kemajuan manusia.

Kebutuhan akan konsep manajemen yang jelas dan kebutuhan akan kerangka teori dan prinsip yang berpautan telah disadari bertahun-tahun yang lalu oleh sarjana manajemen praktis yang lebih dulu, seperti misalnya Henry Fayol, Chester Barnard dan Alvin Brown. Sesungguhnya, inilah arti pelaksanaan manajemen dan manajemen—yaitu penerapan pengetahuan pada kenyataan untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan.

Sistem Manajemen

Secara  fundamental, sistem itu bukanlah sesuatu yang baru atau mengejutkan. Sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan benda-benda yang saling berhubungan, atau saling bergantung, sehingga membentuk satu kesatuan yang kompleks; (suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang telah disusun dengan teratur menurut skema atau rencana tertentu. Menurut The Random House Dictionary of The Engglish Language sistem sebagai suatu kumpulan fakta, prinsip, doktrin dan lain-lain semacamnya dalam bidang khusus mengenai pengetahuan atau pemikiran, kumpulan itu tersusun rapi dan bersifat komprehensif. Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh hidup adalah suatu sistem. Jadi konsep pokok dari teori sistem bisa dikatakan sebagai suatu sistem—seperti halnya suatu perusahaan adalah lebih daripada jumlah bagian-bagiannya, dia harus dipandang sebagai keseluruhan. Supaya suatu sistem bisa dipandang sebagai sistem, dia harus mempunyai batas-batas yang memisahkannya dari lingkungannya.

Salah satu sistem yang bisa kita pelajari adalah sistem sosial misalmya. Sistem sosial dari segala jenis disusun oleh orang-orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Hal ini ditunjukkan oleh Katz dan Kahn dengan baik seperti berikut ini:

Struktur sosial pada pokoknya adalah sistem tersusun. Mereka telah dibuat oleh manusia dan merupakan sistem yang tidak sempurna. Mereka bisa merobek pada pinggir-pinggrinya dalam semalam, tetapi bisa juga berlangsung berabad-abad melebihi hidup organisasi biologis yang mula-mula telah menciptakan mereka. Sementara yang mempererat hubungan mereka pada pokoknya bersifat psikologis dan bukannya biologis. Sistem-sistem sosial telah bercokol dalam sikap-sikap, penegrtian, kepercayaan, motivasi, kebiasaan dan pengharapan manusia. Sistem-sistem demikian itu melambangkan pola-pola hubungan di mana kelanjutan kesatuan-kesatuan perorangan yang terlibat dalam hubungan itu dapat endah sekali. Suatu organisasi dapat mempunyai angka pergantian yang sangat tinggi dan masih bertahan juga. Hubungan-hubungan pokok dan bukannya pokok-pokok itu sendiri menyebabkan adanya kelanjutan itu.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bermanajemen merupakan bentuk penataan system sosial dalam sistem manajemen. Di mana pola hubungan dapat berubah-ubah seperti setiap kumpulan manusia  dengan hubungan-hubungan mereka.

Baca: Koontz, O’Donnell, Weihrich. 1986. Manajemen. Edisi Ketujuh. Penerbit Erlangga

Dasar-dasar Teori dan Ilmu Manajemen

Pengantar Ilmu Manajemen

Barangkali tidak ada bidang aktivitas manusia yang lebih penting daripada bermanajemen, sebab tugas dasar dari semua manajer di segala tingkat dan dalam segala macam perusahaan ialah membentuk dan memelihara suatu lingkungan di mana orang-orang yang bekerja sama dalam kelompok-kelompok, dapat menyelesaikan tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, para manajer diserahi tanggung jawab untuk mengambil tindakan yang memungkinkan orang-orang memberi sumbangan terbaiknya kepada tujuan-tujuan kelompok.

Download Bahan Bacaan Manajemen DISINI

Sejak manusia mulai membentuk kelompok untuk mencari cita-cita yang tidak dapat mereka capai secara perorangan, maka sistem manajemen menjadi hal yang sangat esensial untuk menjamin koordinasi usaha-usaha perorangan. Setelah masyarakat semakin mengandalkan usaha kelompok, dan setelah banyak kelompok yang terorganisir menjadi besar, tugas para manajer menjadi semakin penting.

Bermanajemen adalah hal yang sangat esensial dalam segala kerja sama yang terorganisir, begitu juga pada segala tingkat organisasi dalam sebuah perusahaan. Bermanajemen bukan hanya fungsi dari direktur perusahaan tetapi juga sampai pengawas dilapangan sekalipun.

Walaupun kelemahan dan kesulitan bermanajemen dapat timbul pada setiap tingkat manajemen, namun manajemen yang efektif dan cerdas menuntut bahwa semua orang yang bertanggung jawab bagi pekerjaan orang lain, pada setiap tingkat dan dalam setiap jenis perusahaan, dapat menganggap dirinya sebagai menajer. Sehingga dengan demikian tidak ditemukan perbedaaan yang fundamental antara manajer dan pejabat pimpinan, pengurus, atau pengawas. Memang harus diakui, suatu situasi tertentu dapat sangat berbeda antara macam-macam tingkat dalam suatu organisasi atau berbagai jenis organisasi atau berbagai jenis perususahaan, ruang lingkup, kekuasaan boleh jadi berbeda-beda, jenis-jenis kesulitan yang ditangani barangkali sangat berlainan, dan seorang dalam peran manajer boleh jadi juga menjadi seorang wiraniaga.

Ilmu dan Manajemen

Meskipun umur organisasi manusia untuk mencapai tujuan-tujuan umum sudah berabad-abad, namun baru sekarang suatu ilmu mengenai manajemen berkembang. Sejak Perang Dunia II ada kesadaran yang makin bertambah, bahwa mutu bermanajemen penting bagi hidup modern, dan hal itu telah menghasilkan analisa dan penyelidikan luas terhadap proses manajemen, lingkungannya dan teknik-tekniknya.

Beberapa ilmu sosial lebih maju dari yang lainnya. Dengan segala kekurangannya, ilmu ekonomi, misalnya, telah berhasil menerangkan arah kegiatan mana akan menghasilkan output yang tertinggi dengan pengeluaran tenaga dan modal sesedikit mungkin. Tetapi prinsip-prinsip ekonomi mengasumsikan bahwa tujuan-tujuan ekonomis dapat dapat dicapai melalui koordinasi kegiatan manusia baik perusahaan, maupun kelompok-kelompok perusahaan, dikelola dengan baik.

Ilmu dan Metode Ilmiah

Ilmu menerangkan gejala-gejala. Ilmu itu berdasarkan suatu kepercayaan kepada rasionalitas alam yaitu pada ide bahwa hubungan-hubungan bisa ditemukan antara dua atau lebih kumpulan kejadian. Ciri-ciri pokok dari suatu ilmu adalah bahwa pengetahuan telah ditemukan dan disistematisir melalui penerapan metode ilmiah. Dalam arti bahwa hubungan-hubungan antara variabel-variabel dan batas-batas telah dipastikan dan prinsip-prinsip pokok telah ditemukan.

Metode ilmiah meliputi penentuan melalui observasi atas kejadian-kejadian atau benda-benda dan memeriksa kecermatan fakta-fakta tersebut melalui penyelidikan lebih lanjut. Setelah mengklasifikasi dan menganalisa fakta-fakta, para ilmuan mencari dan menemukan beberapa hubungan sebab-musabab yang menurut anggapan mereka adalah benar. Generalisasi demikian itu yang disebut hipotesa, kemudian diuji kecermatannya. Kalau hipotesa terbukti benar, dan mencerminkan atau menerangkan realitas, dan sebab itu mempunyai nilai dalam meramalkan apa yang akan terjadi dalam kejadian yang sama, hipotesa itu disebut prinsip.

Menyusun Laporan Hasil Riset | Metode Riset Bisnis

Kriteria Laporan Riset

Langkah terakhir dalam proses riset adalah membuat laporan riset yang akan disampaikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Fromat laporan riset sering kali berbeda-beda sesuai kondisi pihak-pihak yang membutuhkan. Namun, pada dasarnya laporan riset memiliki tiga bagian utama yaitu bagian awal, bagian utama dan bagian akhir. Laporan riset harus memenuhi beberapa kriteria antara lain:

  1. Laporan harus sistematis. Maksudnya laporan harus runtut mulai akar masalah hingga kesimpulan yang akhirnya digunakan sebagai dasar untuk menyusun rekomendasi.
  2. Laporan harus efesien. Artinya, yang dicantumkan dalam laporan riset adalah hal-hal yang memang dipandang perlu oleh pihak-pihak yang membutuhkan sehingga mereka tidak jenih saat membaca isi laporan riset.
  3. Laporan harus menggunakan kaidah bahasa yang baku. Laporan disusun harus menggunakan bahasa yang baku sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. Jika ada bahasa asing yang sulit diartikan, hendaknya ditulis miring sebagai penarik perhatian bagi pembaca untuk menafsirkannya sendiri.
  4. Laporan harus rapi. Penyusunan laporan riset dibuat serapi mungkin, baik menyangkut teknik pengetikan maupun tata letak gambar, tabel dan kelengkapan laporan riset yang lain.
  5. Laporan dapat mendorong minat orang untuk membaca isinya. Pemilihan kata yang tepat, gambar, warna dan desain laporan hendaknya dapat menarik minat pembaca, terutama pada bagian sampul.

Bagian-Bagian Laporan Riset

Berikut beberapa pedoman penulisan sebuah laporan riset. Namun, pedoman ini tidak berlaku mutlak karena laporan riset juga sangat tergantung pada sponsor yang membiayai riset, lembaga yang akan memakai atau selera peneliti itu sendiri.

Bagian Awal Laporan

Bagian awal laporan terdiri dari atas:

  • Sampul. Halaman sampul sebaiknya terdiri atas dua bagian, yaitu halaman sampul luar (depan) dari karton (hard cover) dan sampul dalam dari kertas putih biasa. Sampul sebaiknya didesain dengan baik sehingga menarik minat pembaca dan dapat mencerminkan isinya yang terkandung didalamnya.
  • Ringkasan. Ringkasan (summary) berisi masalah riset, tujuan riset, hasil-hasil riset yang menonjol dan masalah esensial lainnya yang terkait dengan riset yang dinyatakan dengan bahasa yang padat dan jelas.
  • Halaman prakata. Prakata memuat uraian singkat proses penulisan laporan, ucapan terima kasih dan tanpa uraian yang bersifat ilmiah.
  • Halaman daftar isi. Halaman ini berisi petunjuk letak bagian-bagian yang ada dalam laporan riset yang ditunjukkan oleh nomor halaman sehingga pembaca akan mudah mencari dengan cepat bagian-bagian yang diperlukan. Daftar isi memuat daftar tabel, daftar gambar, judul bab dan subbab, daftar pustaka dan lampiran. Keterangan yang mendahului daftar isi tidak perlu dimuat dalam daftar isi. Judul bab diketik menggunakan huruf kapital, sedangkan judul subbab diketik dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama tiap kata diketik dengan huruf besar.
  • Halaman daftar tabel. Laporan riset sering kali memuat beberapa tabel yang digunakan untuk menjelaskan sebuah pembahasan. Untuk mempermudah pembaca dalam mencari tabel-tabel yang diperlukan, maka perlu dibuat daftar tabel. Jika hanya terdapat satu tabel, daftar tabel tidak diperlukan. Beberapa pedoman dalam penulisan daftar tabel adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar tabel diketik pada halaman baru
  2. Judul daftar tabel diketik dengan menggunakan huruf kapital tanpa diakhiri titik dan diletakkan di tengah bagian kertas
  3. Daftar tabel memuat semua tabel yang disajikan dalam teks dan lampiran. Nomor tabel ditulis dengan angka yang diurutkan dari bab awal hingga akhir.
  4. Judul tabel dalam halaman daftar tabel harus sama dengan judul tabel dalam teks.
  • Halaman daftar gambar. Gambar sering kali lebih efesien untuk menjelaskan alur logika, keadaan sebuah objek dan langkah-langkah sebuah kegiatan. Dengan demikian, peneliti sering kali menampilkan gambar dalam sebuah laporan riset sehingga perlu dibuat daftar gambar. Beberapa pedoman dalam menyusun daftar gambar adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar gambar diketik pada halaman baru
  2. Halaman daftar gambar memuat daftar gambar, nomor gambar, judul gambar dan nomor halaman.
  3. Cara pengetikan daftar gambar sama seperti daftar tabel.
  • Halaman daftar singkatan (jika ada)
  • Halaman daftar simbol (jika ada)
  • Halaman daftar lampiran. Agar laporan riset sistematis, rapi, pada dan jelas, tidak semua data dimasukkan ke dalam bagian utama laporan riset. Hal-hal yang menunjukkan data pendukung dan proses analisis data cukup ditampilkan di bagian lampiran. Jika lampiran lebih dari satu, maka perlu dibuat daftar lampiran. Beberapa pedoman dalam menyusun daftar lampiran adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar lampiran diketik pada halaman baru
  2. Judul daftar lampiran diketik di tengah atas halaman dengan huruf kapital
  3. Halaman daftar lampiran memuat nomor, teks judul lampiran, dan nomor halaman. Judul daftar lampiran harus sama dengan judul dalam teks.

Isi Bagian Utama Laporan

Bagian utama laporan riset terdiri dari atas beberapa bab. Jumlah bab tidak dibakukan, melainkan disesuaikan dengan ruang lingkup riset peneliti. Bagian utama utama umumnya terdiri atas pendahuluan, tinjuan pustaka, metode riset, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka.

  1. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan bab pertama laporan yang mengantarkan pembaca untuk dapat menjawab pertanyaan mengenai apa yang diteliti, untuk apa dan mengapa riset dilakukan. Bab pendahuluan memuat antara lain; latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup riset, tujuan dan manfaat riset. Akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Latar belakang riset: bagian ini berisi fakta-fakta yang relevan sehingga dapat memberikan alasan mengapa riset ini penting dan menarik untuk dilakukan. Latar belakang ini merupakan titik awal yang mendorong dilakukannya riset sehingga harus dapat meyakinkan bahwa riset ini benar-benar perlu dilakukan.
  2. Perumusan masalah: Perumusan masalah pada dasarnya merupakan penyederhanaan permasalahan yang telah dituangkan dalam latar belakang riset agar lebih mudah dipahami. Perumusan masalah tidak selalu berupa kalimat tanya. Hanya saja, penggunaan kalimat tanya akan lebih menunjukkan permasalahn yang akan dipecahkan.
  3. Tujuan riset: Tujuan riset mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam riset. Isi dan rumusan tujuan riset mengacu pada isi dan rumusan masalah riset. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Tujuan riset dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dengan demikian, antara latar belakang riset, rumusan masalah dan tujuan riset harus sesuai.
  4. Manfaat riset: Bagian ini berisi manfaat yang akan diperoleh apabila riset dilakukan. Bagian ini akan menyebutkan pihak-pihak yang akan memperoleh manfaat beserta bentuknya. Manfaat riset juga memperkuat alasan riset harus dilakukan.
  5. Ruang lingkup dan keterbatasan riset: ruang lingkup dan keterbatasan riset berisi cakupan dan batasan-batasan dalam riset agar menjadi lebih terarah. Yang dikemukakan dalam ruang lingkup adalah variabel-variabel yang diteliti, populasi dan subjek riset, dan waktu pengambilan data. Keterbatasan riset dipaparkan agar pembaca dapat menyikapi temuan riset sesuai kondisi yang ada. Keterbatasan perlu dituangkan dalam laporan riset karena adanya suatu keadaan yang tidak dapat dihindari dalam riset. Beberapa hal yang menyebabkan keterbatasan riset adalah alasan-alasan prosedural, teknik riset, ataupun faktor logistik, kendala yang bersumber dari adat, dan kepercayaan yang tidak memungkinkan peneliti untuk mencari data yang diinginkan.

Selain hal-hal di atas, bab pendahuluan juga dapat memuat kerangka pemikiran atau hipotesis walaupun hal ini tidak selalu wajib. Kerangka pemikiran dan hipotesis merupakan ringkasan bab tinjauan pustaka yang berisi uraian hasil-hasil riset yang mendukung atau menolak teori di sekitar permasalahan riset, Juga, diuraikan kesenjangan antara hasil riset terdahulu sehingga kesenjangan tersebut perlu diteliti kembali. Uraian kerangka pemikiran biasanya mengarah pada uraian hipotesis.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka atau kadang disebut telaah pustaka digunakan untuk mempertajam masalah, mencari pendekatan-pendekatan yang telah dilakukan peneliti sebelumnya untuk menghindari pengulangan-pengulangan yang tidak perlu dan mengatasi kekurangan yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya.

Penulisan tinjauan pustaka dimulai dari hal-hal yang bersifat umum terlebih dahulu kemudian mengarah kepada hal-hal yang spesifik. Metode penulisan semacam ini diharapkan dapat mengarahkan pembaca dari belum paham menjadi sangat paham terhadap objek yang diteliti.

Bab tinjuan pustaka membahas teori yang mendasar, objek yang diteliti, dan beberapa hasil riset terdahulu yang relevan dengan masalah riset. Tinjauan pustaka harus dapat menjelaskan variabel-variabel yang diteliti dan keterkaitan antar variabel tersebut.

Posisi tinjauan pustaka ditempatkan sesudah sajian perumusan masalah, tujuan dan kegunaan riset, agar bahan-bahan kepustakaan yang disajikan dalam tinjauan pustak terpandu secara terarah. Bab tinjauan pustaka selain mengulas tinjauan teoritis, juga mengulas riset empiris, maka kerangka pemikiran dan hipotesis dapat disusun.

Metode Riset

Pokok-pokok bahasan yang terkandung dalam metode riset mencakup lokasi riset, metode riset, jenis dan cara memperoleh data, ukuran sampel dan teknik analisis data. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bagian ini juga mencantumkan definisi konsep dan definisi operasional riset.

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan pembahasan merupakan inti laporan riset. Ada yang menggabungkan hasil dan pembahasan dalam satu bab, namun ada juga yang memisahkannya. Beberapa hal yang perlu dituangkan dalam bab ini adalah sebagai berikut:

  • Kondisi obyek/karakteristik responden: bagian awal hasil riset berisi kondisi obyek riset atau gambaran umum responden beserta karakteristiknya.
  • Hasil riset: berisi temuan-temuan berdasarkan analisis data. Bagian ini juga mengemukakan uraian bahasan dari peneliti bersangkutan, yang dapat diperkuat, berlawanan atau sesuai dengan hasil riset orang lain. Alasan tersebut dapat berupa penjelasan baik kualitatif, kuantitatif ataupun secara statistik.

Kesimpulan dan Rekomendasi

kesimpulan dan rekiomendasi sebaiknya disajikan secara terpisah agar lebih mudah dipahami. Dengan kata lain, rekomendasi adalah implikasi riset. Beberapa hal perlu diperhatian adalah sebagai berikut:

  • Kesimpulan harus dinyatakan dalam kalimat singkat, padat dan jelas berdasarkan hasil pembahasan. Kesimpulan merupakan jawaban atas perumusan masalah dan tujuan riset yang telah dirumuskan di muka. Kesimpulan dapat merupakan pembuktian singkat akan kebenaran atau penolakan hipotesis (jika ada)
  • Saran disusun berdasarkan kesimpulan. Saran dapat berupa tindakan-tindakan praktis yang harus dilaksanakan dalam pemecahan masalah, berupa riset lanjutan yang perlu dilakukan untuk penyempurnaan, pengembangan teori atau antisipasi masalah yang ditemui oleh peneliti.

Bagian Akhir

Bagian akhir riset berisi hal-hal yang perlu dicantumkan  yang mendukung atau terkait erat dengan bagian inti. Bagian akhri ini biasanya terdiri dari daftar pustaka/rujukan, daftar lampiran, dan riwayat hidup peneliti.

Sumber/referensi : Suliyanto. Metode Riset Bisnis.  2005:221. Andi: Yogyakarta

Dasar-Dasar Riset Bisnis | Penelitian Bisnis

Pengertian Riset

Download Materi  DISINI 

Riset atau penelitian tidak hanya dilakukan pada bidang-bidang ilmu past sepeti Biologi, Fisika, Kimia, tetapi juga pada bidang-bidang ilmu sosial seperti hukum, ekonomi dan politik.

Sebahagian orang saat ini masih membayangkan bahwa riset itu hanya dilakukan dalam sebuah laboratorium dengan dilengkapi sejumlah alat dan melalui proses-proses yang sulit dan rumit. Seakan-akan riset itu hanyalah kegiatan para analis semata untuk melakukan serangkaian eksperimen. Meskipun pendapat tersebut di atas tidak salah atau ada benarnya, namun itu hanyalah pandangan riset dalam artian sempit. Secara lebih luas, riset itu memiliki jangkauan dan bidang kelimuan yang tidak hanya terbatas pada kegiatan ujicoba di laboratorium semata namun termasuk seluruh kegiatan manusia dalam kehidupan sosial juga bisa dijadikan sebagai lapangan kegiatan riset.

Menurut Cooper dan Emoy (1995) dalam Suliyanto (2005) riset merupakan suatu kegiatan sistematik yang bertujuan menyediakan informasi untuk memecahkan permasalahan. Sedang menurut Sekaran (1992) riset adalah suatu usaha yang sistematik dan terorganisasi untuk meneliti suatu masalah spesifik yang memerlukan jawaban. Dari definisi riset yang diberikan oleh para ahli sebagaimana tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa bidang riset dapat dilakukan pada bidang apa saja, tidak terbatas hanya pada ilmu eksak namun juga non-eksak seperti ilmu sosial. Yang menjadi kunci perlunya dilakukan suatu riset adalah untuk memecahkan masalah, hal ini berarti bahwa riset dilakukan ketika ada suatu masalah dan bertujuan untuk memecahkan masalah tersebut.

Namun riset harus dilakukan dan didasarkan pada akal sehat dan proses yang jelas sehingga hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan kebetulan belaka. Sehingga riset itu tidak dapat dipisahkan dengan tindakan ilmiah. Maksudnya adalah proses yang dilakukan haruslah sesuai dan benar menurut kaidah-kaidah ilmiah atau sering disebut sesuai dengan metode ilmiah.

Dengan kemajuan dan perkembangan dunia dewasa ini, riset bukan hanya dilakukan dalam kapasitas pengembangan keilmuan dan literasi semata, namun juga telah menjadi bagian dari kegiatan penting dalam aktivitas ekonomi dan manajemen perusahaan seperti riset pemasaran, riset SDM dan sebagainya.

aktivitas pemasaran merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam bisnis bahkan merupakan aktivitas pokok dan strategis segenap perusahaan, karena pemasaran menjadi ujung tombak bagi perusahaan untuk menjual produk dan jasa yang dihasilkan. Dengan strategi pemasaran yang baik dan efektif serta sesuai dengan target pasar yang dituju sangat membantu memperlancar dalam menjual produk-produknya.

Perpaduan antara riset yang berbasis keilmuan dan ilmiah dengan bisnis, maka telah memungkinkan bagi perusahaan untuk memperoleh informasi yang tepat dalam menentukan kebijakan bisnisnya dalam jangka panjang. Manajemen telah dapat melihat secara pasti terhadap perubahan lingkungan bisnisnya. Dengan demikian para manejer dapat menysuaikan diri dengan perubahan tersebut dan menggunakan kekuatan internal yang dimilikinya untuk mengambil peluang eksternal dalam rangka mengembangkan bisnis perusahaan menuju pertumbuhan.

Manajemen senantiasa harus mengkaji program pemasaran mereka dan memangkas bagian-bagian yang tidak efesien serta tidak mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi masyarakat terutama konsumennya. Dalam iklim ekonomi apapun, pertimbangan-pertimbangan pemasaran tetap merupakan faktor yang sangat menentukan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan di sebuah perusahaan. Itulah gunanya melakukan riset bisnis agar perusahaan memperoleh informasi untuk membuat keputusan.

Riset Bisnis

Menurut Suliyanto (2005) dalam bukunya Metode Riset Bisnis riset bisnis diartikan sebagai usaha yang bertujuan memperoleh informasi guna memecahkan masalah bisnis atau mengembangkan pengetahuan yang berkaitan dengan bisnis menggunakan metode ilmiah. adapun ciri-ciri metode ilmiah menurut Davis dan Cosenza  (1993: 37) yaitu;

  • Metode ilmiah bersifat kritis dan analitis. Karakteristik ini mendorong suatu kepastian dan proses penyelidikan untuk mengidentifikasi masalah dan metode untuk mendapatkan solusinya.
  • Metode ilmiah adalah logis. Logis merujuk pada metode dari argumentasi ilmiah. Kesimpulan secara rasional diturunkan dari bukti-bukti yang ada.
  • Metode ilmiah bersifat objektif. Objektivitas mengandung makna bahwa hasil yang diperoleh ilmuan yang lainakan sama apabila studi yang sama dilakukan pada kondisi yang sama. Dengan kata lain, hasil penelitian dikatakan ilmiah apabila dapat dibuktikan kebenarannya.
  • Metode ilmiah bersifat konseptual dan teoritis. Ilmu pengetahuan mengandung arti pengembangan struktur konsep dan teoritis untuk menuntun dan mengarahkan upaya penelitian.
  • Metode ilmiah adalah empiris. Metode ini pada prinsipnya bersandar pada realitas.
  • Metode ilmiah adalah sistematis. Sistematis mengandrung arti suatu prosedur yang cermat dan mengikuti aturan tertentu yang baku.

Ruang Lingkup Riset Bisnis

Bisnis merupakan kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik profit oriented maupun non-profit oriented. Pada dasarnya, ruang lingkup riset bisnis dapat kita kelompokkan menjadi beberapa kategori:

  1. Bidang akuntansi dan keuangan. Permasalahan dibidang akuntansi misalnya; sistem anggaran, metode penentuan biaya, perpajakan, penyusutan. Sedangkan dibidang keuangan misalnya; pembiayaan perusahaan, analisa rasio keuangan, perilaku bursa efek dan kelayakan bisnis serta evaluasi bisnis.
  2. Bidang pemasaran. Permasalahan dalam bidang pemasaran misalnya; promosi, penentuan saluran distribusi, pengembangan produk, penetapan harga, kepuasan pelanggan, segmentasi dan positioning.
  3. Bidang sumber daya manusia. Permasalahan utama dalam bidang SDM adalah bagaimana cara mendapatkan tenaga kerja yang tepat, menggunakan secara optimal, mengembangkan hingga memberhentikannya. Permasalah yang ada yang ada dibidang sumber daya manusia misalnya; sikap dan perilaku karyawan, motivasi kerja, produktivitas karyawan, budaya organisasi, dan kepemimpinan.
  4. Bidang operasional. Permasalahan yang ada dalam bidang operasional misalnya; penentuan kombinasi produk, kualitas produk, penentuan lokasi pabrik, sistem penugasan, layout pabrik dan sistem informasi manajemen.

Demikian semoga bermanfaat. Wasalam