Manajemen Produk | Mengelola Kualitas Produk Untuk Memperkuat Nilai Produk

“kualitas produk memainkan peranan penting dalam advokasi. Sebagus apa pun kempanye pemasaran dan seluas apa pun kanal distribusinya, kalau produknya tidak bagus pada akhirnya tak menghasilkan apa-apa” (Sigit Kurniawan at al).

Ada banyak alasan mengapa  orang merekomendasikan atau bahkan mengadvokasi sebuah produk. Bisa jadi karena iklan yang cukup persuasif, gimmick marketing yang menggoda, sales person yang berkarakter, harga miring, dan sebagainya. Namun, semua itu tidak ada artinya apa-apa jika produk yang ditawarkan tidak bagus atau berkualitas.

Produk yang berkualitas pada dasarnya merupakan senjata advokasi (pembelaan oleh konsumen) yang mumpuni sekaligus membantu meringankan tugas perusahaan. Sebab, produk yang bagus pasti akan direkomendasikan oleh konsumen. Maksud bagus dan berkualitas di sini bisa dipahami secara beragam.  Produk dibilang bagus karena produk tersebut tahan lama alias tidak mudah rusak. Produk itu bagus juga bisa dikarenakan karena mampu menjalankan fungsi-fungsi yang menjawab kebutuhan pelanggan.

Di industri otomotif, misalnya, kenderaan Jepang dibilang bagus karena bandel dan tahan lama dan tak kalah bersaing dengan produk-produk Amerika dan Eropa. Di industri smartphone, Apple dan Samsung menjadi dua merk yang sering direkomendasikan. Orang merekomendasikan dua merek tersebut bukan karena merek ini keren semata tetapi secara produk, keduanya berkualitas di kategori smartphone.

Kata kunci di balik produk yang bagus adalah inovasi. Tanpa inovasi, tidak akan ada produk yang baik. Tanpa inovasi, produk pun akan cepat usang dan tidak relevan dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks dan cepat berubah.

Fenomena ini lumrah terjadi di produk elektronik seperti smartphone. Produk-produk di kategori ini selalu menarik karena life-cycle-nya yang tergolong pendek. Bukan karena produknya tidak laku, tetapi karena inovasi-inovasi yang berjalan terus-menerus dan super cepat. Menurut Jo Semidang, Corporate Marketing and Online Business Director Samsung Electronics Indonesia, strategi pemasaran sebagus apa pun akan sia-sia belaka kalau tidak didukung oleh produk yang berkualitas. Di balik produk yang berkualitas tersebut, ada inovasi yang senantiasa diwujudkan oleh Samsung

Manajemen Produk Kreatif

Marketing pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni manajemen merek, manajemen produk, dan manajemen pelanggan. Ketiganya saling terkait dan mendukung. Di dalam manajemen produk, menjadikan produk tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan adalah yang utama.

Samsung misalnya, mengelola produk sedemikian rupa sehingga produk-produk ponsel Samsung selalu dinanti-nantikan pelanggannya. Caranya, Samsung selalu berinovasi dengan cara meluncurkan serangkaian seri pada smartphone-nya. Kempanye pemasarannya pun selalu mengusung pada kekuatan produk secara fungsional. Jadi, kalau sebuah unit ponsel Samsung secara produk mengusung kamera yang mampu mengatasi kondisi lingkungan minim cahaya, kelebihan inilah yang dikomunikasikan. Semua selalu menuju pada kualitas produk.

Inovasi-inovasi yang dilakukan pun tidak harus 100% dalam wujud produk baru. Inovasi tersebut bisa pembaruan fitur-fitur didalamnya. Sebab itu, penambahan fitur-fitur baru itulah yang membuat sebuah varian produk memiliki nilai produk yang tak jarang menjadi bahan rekomendasi di kalangan konsumen.

Akhirnya, kualitas produk menjadi elemen utama dan pertama dalam sebuah bisnis. Memang, kalau produk bagus, tetapi promosinya jelek, produk itu mungkin tidak akan disadari keberadaannya oleh pelanggan. Namun, jika produk bagus tetapi distribusinya kurang baik sehingga pelanggan tak menemukan produk yang dicari, bisnis juga tidak maksimal. Namun, sebagus apa pun promosi, semenarik apa pun kempanye pemasarannya, dan semasif apa pun distribusnya kalau produknya tidak bagus, pada akhirnya akan sama saja.

Jadi, pastikan bahwa produk yang akan  Anda tawarkan kepada pelanggan Anda ini merupakan produk yang bagus. Sebab, itu akan membuat langkah Anda sedikit lebih ringan.

Tulisan ini sebagaimana dikutip dari majalah Marketeers edisi Maret 2017 yang dituliskan oleh Sigit Kurniawan, Jaka Perdana, Ramadhan Triwijanarko dan penulis lakukan penulisan kembali (re-writing) karena artikel ini sangat bagus untuk diketahui oleh pelaku bisnis kreatif dan juga bagi mahasiswa yang sedang belajar ilmu marketing.

The following two tabs change content below.

Hamdani

Praktisi Bisnis. Konsultan Profesional Bidang Keuangan dan UKM.

Tinggalkan Balasan