Marketing | Usaha Ritel Pangan Yang Aman Bagi Konsumen (Bagian 1)

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat atau konsumen memperoleh produk pangan yang dibutuhkan adalah dengan membelinya di pasar. Selain mudah dalam menjangkau tempat penjualan, alasan lainnya adalah karena di pasar tersedia beragam produk yang sesuai dengan keinginannya. Konsumen juga memiliki banyak pilihan sebelum menentukan keputusan pembelian. Itulah mengapa produsen produk pangan pada umumnya menjual produknya melalui saluran pasar atau saluran distribusi yang ada.

Bila dibandingkan dengan menjual sendiri, menyalurkan produk melalui pihak pemasar atau dijual oleh pihak lain memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan bagi produsen. Diantaranya, produsen tidak perlu lagi menyediakan display produk, pelayanan penjualan sudah dilakukan oleh pemasar, jika para pemasar yang menjadi channel distribusinya telah memiliki pasar atau pelangga yang banyak tentu saja akan berpengaruh pada permintaan produk pangan yang ditawarkan. Sedangkan produsen cukup berproduksi saja dan tidak perlu memikirkan strategi penjualannya.

Namun lain halnya jika produk pangan yang dihasilkan dijual sendiri oleh produsen. Mereka harus menyediakan sarana dan prasarana sendiri untuk mendukung penjualan produknya, memiliki tenaga penjualan yang dapat diandalkan dan memahami strategi pemasaran yang tepat.

Biasanya produsen produk pangan menghasilkan barang-barang konsumsi, seperti makanan siap saji dalam kemasan, kue, ikan beku, dan berbagai product consumer lainnya. Skala produksinya pun tidak terlalu besar, karena produk pangan lebih cepat rusak atau tidak tahan lama (undurable goods). Pada usaha mikro kecil dan menengah umumnya memproduksikan barang-barang konsumsi untuk segmen pasar menengah ke bawah dengan harga terjangkau.

Untuk menjangkau pasarnya, produsen produk pangan harus jeli melihat saluran pemasarnya. Karena penjualannya secara eceran berbeda dengan penjualan skala besar atau grosir. Saat ini banyak sekali saluran pemasar eceran (ritel) yang masuk ke segmen pasar menengah kebawah. Jika kita jalan-jalan ke pasar, maka pedagang eceran atau ritel sangat mudah kita temukan. Baik dengan konsep pemasar pengecer tradisional maupun pasar ritel modern.

Dari sisi konsumen, keputusan pembelian terhadap sebuah produk pangan yang dilakukan sudah melalui pertimbangan yang matang sebagaimana dijelaskan dalam teori perilaku konsumen dan sistim keputusan pembelian. Beberapa aspek yang dipikirkan oleh konsumen sebelum membeli diantaranya; kesesuaian antara produk dengan kebutuhannya, harga, merk, dan yang utama adalah soal keamanan mengkonsumsi. Kenapa soal keamanan? Karena tidak ada konsumen yang ingin pingsan atau mati setelah mengkonsumsi suatu produk disebabkan oleh keracunan misalnya. Oleh sebab itu, produsen perlu memikirkan bagaimana cara menghasilkan produk yang aman di konsumsi dan kemudian memudahkan para pemasar dalam menjual produk pangan tersebut.

Berbicara tentang keamanan produk pangan, berikut penulis ingin menguraikan beberapa hal tentang tips menghasilkan dan menjual produk pangan yaitu dimulai dari rantai produksi sampai ke tempat-tempat penjualan sebelum di beli dan di konsumsi oleh masyarakat atau konsumen.

Lima Kunci Keamanan Produk Pangan Untuk Ritel

Perlu diketahui tujuan dari keamanan pangan adalah untuk mencegah perpindahan penyakit melalui pangan seperti keracunan pangan dan untuk mempertahankan mutu pangan sepanjang mata rantai mulai dari tempat produksi (seperti: lahan) hingga siap dikonsumsi. Salah satu mata rantai tersebut adalah ritel. Seperti telah disebutkan diatas yaitu tempat penjualan pangan di tingkat ritel bisa bervariasi mulai dari pasar tradisional, swalayan, supermarket, hingga hipermarket.

SahabatPreneur yang berbahagia. Sesuai dengan topik tulisan ini kita akan belajar ritel produk pangan yang aman. Jadi bayangkan saja ketika Anda membaca artikel ini berarti Anda bisa memposisikan diri sebagai peritel produk pangan. Baik langsung saja kita catat kunci pertama dari lima kunci yang harus Anda perhatikan yaitu:

#KUNCI PERTAMA: TERIMA PRODUK PANGAN YANG AMAN

Penanggung Jawab.

Sudah barang tentu setiap pengelola ritel memiliki pengelola yang bertanggung jawab terhadap operasional usahanya. Penanggung jawab bertugas untuk mengawasi penerimaan produk pangan dari para pemasok atau produsen. Jika Anda memilih usaha ritel produk pangan dan memiliki petugas penanggung jawab, maka tugas mereka adalah:

  • Menetapkan jadwal pengiriman dan tidak menerima produk pangan yang tidak dipesan
  • Mengawasi pembongkaran muatan barang masuk, termasuk pencatatan jam pembongkaran.
  • Memperhatikan ketentuan hukum seperti pemalsuan atau tindakan kejahatan lainnya.
  • Memeriksa dokumen pengiriman dan jika perlu melakukan perbaikan/koreksi pada dokumen tersebut.

Pemilihan Pemasok.

Menerima produk dari pemasok yang belum dikenal bisa menimbulkan risiko penerimaan produk pangan yang tidak aman. Oleh sebab itu pengelola ritel harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

  • Membeli produk pangan dari pemasok yang memiliki reputasi yang baik, jujur dan bertanggung jawab.
  • Menyusun spesifikasi produk yang dapat diterima dengan mengutamakan persyaratan keamanan produk pangan dan mengkomunikasikannya dengan pihak pemasok dengan memastikan bahwa produsen produk pangan telah menerapkan Cara Produksi Pangan dengan Baik (CPPB), pemasok telah menerapkan Cara Penanganan Pangan yang Baik serta Cara Transportasi Pangan yang Baik.

Kenderaan Pemasok

Sistim transportasi yang digunakan oleh pemasok ikut mempengaruhi kualitas produk pangan yang di supply ke pihak ritel. Karenanya pihak pengelola ritel harus memperhatikan dengan baik masalah pengangkutan yang digunakan yaitu:

  • Kenderaan dirancang, dikontruksi, dipelihara dan digunakan dengan cara-cara yang dapat mencegah produk pangan dari kerusakan dan pencemaran.
  • Kenderaan dan wadah dalam kondisi bersih dan tidak digunakan untuk mengangkut selain bahan pangan.
  • Pada saat produk pangan dan nonpangan diangkut bersama-sama, dipastikan bahwa produk pangan tidak tercemar oleh produk nonpangan, tidak akan terjadi pencemaran silang.
  • Produk pangan harus dijaga suhunya pada suhu dingin atau suhu beku, dikirim dalam keadaan berpendingin atau dengan wadah berinsulator yang dilengkapi dengan alat pengukur suhu.

Pengiriman dan Penerimaan Produk Pangan

Secara umum setiap peritel memiliki standar operasional untuk pengiriman dan penerimaan produk pangan misalnya melakukan pemeriksaan untuk memastikan produk yang diterima telah memenuhi persyaratan keamanan pangan yang telah ditetapkan, menolak produk pangan yang telah tercemar, memiliki formulir pengecekan (cheklist) untuk kondisi produk pangan yang diterima. Selain itu pengelola juga memeriksa label dan kelengkapan label untuk pangan olahan. Pengelola dan penanggung jawab memastikan pangan olahan tersebut yang dalam kemasan mempunyai nomor MD, ML, atau P-IRT dan mempunyai label yang lengkap sesuai peraturan yang berlaku.

 

 

The following two tabs change content below.

Hamdani

Praktisi Bisnis. Konsultan Profesional Bidang Keuangan dan UKM.

Tinggalkan Balasan