Manajemen Produk | Mengelola Kualitas Produk Untuk Memperkuat Nilai Produk

“kualitas produk memainkan peranan penting dalam advokasi. Sebagus apa pun kempanye pemasaran dan seluas apa pun kanal distribusinya, kalau produknya tidak bagus pada akhirnya tak menghasilkan apa-apa” (Sigit Kurniawan at al).

Ada banyak alasan mengapa  orang merekomendasikan atau bahkan mengadvokasi sebuah produk. Bisa jadi karena iklan yang cukup persuasif, gimmick marketing yang menggoda, sales person yang berkarakter, harga miring, dan sebagainya. Namun, semua itu tidak ada artinya apa-apa jika produk yang ditawarkan tidak bagus atau berkualitas.

Produk yang berkualitas pada dasarnya merupakan senjata advokasi (pembelaan oleh konsumen) yang mumpuni sekaligus membantu meringankan tugas perusahaan. Sebab, produk yang bagus pasti akan direkomendasikan oleh konsumen. Maksud bagus dan berkualitas di sini bisa dipahami secara beragam.  Produk dibilang bagus karena produk tersebut tahan lama alias tidak mudah rusak. Produk itu bagus juga bisa dikarenakan karena mampu menjalankan fungsi-fungsi yang menjawab kebutuhan pelanggan.

Di industri otomotif, misalnya, kenderaan Jepang dibilang bagus karena bandel dan tahan lama dan tak kalah bersaing dengan produk-produk Amerika dan Eropa. Di industri smartphone, Apple dan Samsung menjadi dua merk yang sering direkomendasikan. Orang merekomendasikan dua merek tersebut bukan karena merek ini keren semata tetapi secara produk, keduanya berkualitas di kategori smartphone.

Kata kunci di balik produk yang bagus adalah inovasi. Tanpa inovasi, tidak akan ada produk yang baik. Tanpa inovasi, produk pun akan cepat usang dan tidak relevan dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks dan cepat berubah.

Fenomena ini lumrah terjadi di produk elektronik seperti smartphone. Produk-produk di kategori ini selalu menarik karena life-cycle-nya yang tergolong pendek. Bukan karena produknya tidak laku, tetapi karena inovasi-inovasi yang berjalan terus-menerus dan super cepat. Menurut Jo Semidang, Corporate Marketing and Online Business Director Samsung Electronics Indonesia, strategi pemasaran sebagus apa pun akan sia-sia belaka kalau tidak didukung oleh produk yang berkualitas. Di balik produk yang berkualitas tersebut, ada inovasi yang senantiasa diwujudkan oleh Samsung

Manajemen Produk Kreatif

Marketing pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni manajemen merek, manajemen produk, dan manajemen pelanggan. Ketiganya saling terkait dan mendukung. Di dalam manajemen produk, menjadikan produk tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan adalah yang utama.

Samsung misalnya, mengelola produk sedemikian rupa sehingga produk-produk ponsel Samsung selalu dinanti-nantikan pelanggannya. Caranya, Samsung selalu berinovasi dengan cara meluncurkan serangkaian seri pada smartphone-nya. Kempanye pemasarannya pun selalu mengusung pada kekuatan produk secara fungsional. Jadi, kalau sebuah unit ponsel Samsung secara produk mengusung kamera yang mampu mengatasi kondisi lingkungan minim cahaya, kelebihan inilah yang dikomunikasikan. Semua selalu menuju pada kualitas produk.

Inovasi-inovasi yang dilakukan pun tidak harus 100% dalam wujud produk baru. Inovasi tersebut bisa pembaruan fitur-fitur didalamnya. Sebab itu, penambahan fitur-fitur baru itulah yang membuat sebuah varian produk memiliki nilai produk yang tak jarang menjadi bahan rekomendasi di kalangan konsumen.

Akhirnya, kualitas produk menjadi elemen utama dan pertama dalam sebuah bisnis. Memang, kalau produk bagus, tetapi promosinya jelek, produk itu mungkin tidak akan disadari keberadaannya oleh pelanggan. Namun, jika produk bagus tetapi distribusinya kurang baik sehingga pelanggan tak menemukan produk yang dicari, bisnis juga tidak maksimal. Namun, sebagus apa pun promosi, semenarik apa pun kempanye pemasarannya, dan semasif apa pun distribusnya kalau produknya tidak bagus, pada akhirnya akan sama saja.

Jadi, pastikan bahwa produk yang akan  Anda tawarkan kepada pelanggan Anda ini merupakan produk yang bagus. Sebab, itu akan membuat langkah Anda sedikit lebih ringan.

Tulisan ini sebagaimana dikutip dari majalah Marketeers edisi Maret 2017 yang dituliskan oleh Sigit Kurniawan, Jaka Perdana, Ramadhan Triwijanarko dan penulis lakukan penulisan kembali (re-writing) karena artikel ini sangat bagus untuk diketahui oleh pelaku bisnis kreatif dan juga bagi mahasiswa yang sedang belajar ilmu marketing.

Inspirasi | Kesan dan Pesan Kegiatan Happy Selling

Kesan

Tidak bisa dihitung pelajaran yang kami dapatkan dari Kegiatan Happy Selling yang diadakan oleh kampus kami LP3I dan Dosen Entrepreneur kami, dengan adanya kegiatan Happy Selling ini kami diajarkan bagaimana menjadi pengusaha muda mendapatkan penghasilan sambil kuliah. Menjadi sosok yang sukses dan pantang menyerah, karena sangat jelas bahwa tidak ada usaha yang baru dimulai langsung sukses atau jaya. Maka, dari situlah kami diajarkan bagaimana menawarkan, membujuk, meyakinkan pembeli agar membeli produk yang kami tawarkan, yang tadinya tidak berminat berubah menjadi membeli. Karena pada dasarnya kita sebagai penjual membutuhkan konsumen. Dan konsumen adalah Raja

Disini kami memanfaatkan fasilitas seperti tenda, meja yang disediakan oleh LP3i. Kami stay di tenda dengan modal senyum juga dengan ramah menyapa setiap orang yang melewati dihadapan kami untuk singgah, setiap ada yang membeli, hati terasa sejuk dan bahagia walaupun hanya membeli sepotong kue saja.

Dengan adanya kegiatan Happy selling ini, kami juga dapat melatih kesabaran kami dalam menghadapi berbagai macam sifat dan tingkah pembeli yang berbeda-beda, ditambah dengan cuaca panas terik, juga dengan semangat kami terjun kelapangan untuk berinteraksi, menawarkan, menjual produk-produk kami dengan orang yang tidak kami kenal sebelumnya agar menjadi omset penjualan. Alhamdulillah kami mampu memenuhi target yang sebelumnya telah kami tetapkan.

Adanya acara ini, bukan semulus yang dilihat, keadaan siap di stand, segembira di lapangan juga bukan sesemangat pada saat menawarkan produk. Dibalik itu semua, banyak sekali keadaan-keadaan, situasi dan kondisi yang tidak sesuai dengan rencana dan tidak kami perkirakan sebelumnya, ketidaksiapan kami dalam memasak, berbelanja juga mem-packing produk-produk kami. Saat itu, kami benar-benar belajar bagaimana menyesuaikan pikiran satu dengan pikiran yang lainnya, memikirkan produk apakah yang laku jika dijual nanti sesuai dengan tempat yang kami pilih.

Izinkan kami menceritakan sedikit pengalaman lucu kami, Pada Sabtu 6 Mei 2017 Pukul 13.30 WIB kami bersiap-siap untuk berbelanja segala keperluan yang kami butuhkan untuk bahan baku produksi, ada yang tidak tahu yang mana kol dijual, yang mana labu, yang mana tepung untuk membuat makanan yang berbeda-beda. Setiap kami berbelanja, kami selalu menanyakan kepada si penjual resep apa saja jika membuat timphan, dsb-nya. Kami yakin pada saat membeli semua kebutuhan itu, kami di bodoh-bodohi mungkin saja si penjual melihat kami yang tidak tau apa-apa menaikkan harga atau memilih bahan yang kurang bagus.

Karena kami yang bodoh ini tidak mau kalah pandainya dengan penjual, kami pun juga menghitung ulang, mendata, negosiasi harga, juga mengecek bahan-bahan yang diberikan kepada si penjual sebelum meninggalkan kedai tersebut. Karena ini pertama kali bagi kami, malam harinya kami bolak balik ke pasar peunayong untuk mencari bahan yang kurang. Semuanya serba terburu-buru.

Dengan adanya Happy Selling inilah kami memasak, mencari resep di internet, sudah tau sedikit-sedikit bagaimana membuat timphan, brownies, mie hun, bubur sumsum dsb-nya. Pagi harinya kami menyiapkan apa yang belum siap dikerjakan tadi malam, sehingga kami kurang istirahat, tidak tidur malam, kepikiran bagaimana jika tidak siap. Karena tidak semua produk yang bisa dikerjakan malam hari, beberapa produk harus di masak pada pagi hari.

Alhamdulillah kami bisa kompak, bisa menyatukan semua pikiran teman-teman yang lain agar sejalan, merancang rencana bersama-sama bagaimana meyakinkan, merayu si pembeli agar mau membeli produk kami dan  terjual habis. Tidak terjual habis pun tidak apa-apa asalkan modal kami kembali. Tetapi uang hasil dari menjual produk kami itu digabung, jadi kami tidak tau apakah kami untung atau rugi, karena kalau masalah uang itu sangat sensitif. Apalagi ada kelompok yang mengeluarkan modal banyak, banyak menggaet pembeli, produknya rata-rata habis. Tetapi kami menyikapinya dengan santai dan berusaha adil untuk membaginya.

Pesan

Jangan malu! jangan sombong! Jangan takut! Kita masih muda, masih sanggup memanfaatkan waktu. Lakukanlah apa yang bermanfaat, carilah uang yang halal. Jualkan lah produk-produk kamu ke orang-orang. Belajarlah bagaimana menjadi orang yang ramah, jujur dan berani. Menjadi orang ramah, jujur, berani adalah kunci untuk sukses. Mengapa? Karena jika kita ramah, jujur dan bera pasti membeli yakin membeli produk kita, karena pada hakekatnya dia membayar atas keramahan yang kita miliki bukan membeli produk kita. Begitulah salah satu bagaimana membujuk pembeli yang aturannya tidak membeli malah membeli. Jangan membuat konsumen itu yang aturannya membeli malah tidak jadi membeli. Kita sangat membutuhkan konsumen guys! Uang ada dikantong mereka gaetlah mereka sesuai dengan aturannya…

“Hopefully we become succesful people not looking at the pricetag when we have shopping”. -ade-

Kontributor | Ade Andriani Fitri, Irma Yunita, Raisul Fatta, Muhammad Rian, Nana Supiana, Sony Dewantara

Motivasi | Raih Masa Depan Dengan Harapan (Hope)

Ketika Allah SWT bertanya kepada manusia, apa yang telah kamu siapkan untuk hari esok mu? Pertanyaan ini mempunyai makna bahwa apa yang kamu harapkan dan kita dapatkan pada masa depan kita. Terminologi masa depan mungkin bisa didefinisikan secara berbeda-beda, sesuai pribadi masing-masing. Mengapa demikian? Karena masa depan berkaitan erat dengan subjek yang secara langsung didasari pada tujuan hidup seseorang. Dalam rentetan waktu setiap orang pasti akan mengalami proses perjalanan waktu tersebut, sejak dia lahir, kemudian bisa berjalan, merangkak remaja lalu kemudian mengalami masa pendewasaan sampai pada akhirnya secara materi kita meninggalkan demensi waktu yang telah kita miliki. Gambaran tersebut merupakan bukti bahwa setiap kita pasti melewati masa lalu, masa sekarang dan akan menuju masa depan. Secara sederhana masa depan dapat diartikan satu kondisi dan ruang waktu yang akan kita lalui sejak satu detik setelah sekarang. Ini berati juga bahwa masa depan itu dimulai bukan nanti akan tetapi satu detik setelah sekarang. Karena Allah SWT saja mempertanyakan tentang masa depan maka  masa depan itu menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kita berikan perhatian.

Masa depan mempunyai kaitan erat dengan cita-cita. Saya memberikan makna cita-cita yakni merupakan sesuatu yang diharapkan dapat terjadi oleh seseorang pada satu saat dikemudian hari. Harapan yang diperjuangkan untuk menjadi kenyataan. Dan dalam banyak pengalaman, cita-cita itu menjadi tujuan akhir dari sebuah episode kehidupan. Dengan kita memilki cita-cita maka kita memilki tujuan hidup.

Menurut Kamus Oxford Advanced Learner`s Dictionary of Current English (2000) dalam  Herry Tjahjono;The XO (2007) goal artinya cita-cita. Namun ada juga yang mengatakan namanya tujuan (objective). Tapi dalam praktiknya kebanyakan orang menyamakannya. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa sebuah goal atau cita-cita adalah semacam tujuan akhir.

Langkah pertama menuju masa depan dimulai dengan harapan (Hope)

Harapan ini sangatlah penting dan bermanfaat bagi motivasi kita. Harapan, senantiasa mengarah kedepan, ke hari esok. Secara psikologis, dengan mengelola harapan kita akan mengeleminir berbagai hal yang kurang baik atau kontraproduktif di masa lalu, di kemudian hari. Beckhard & Hariss dalam Hery Tjahjono (2007) bahkan menyarankan agar kita lebih terfokus ke masa depan daripada sibuk dengan masa lalu kita. Price Pritchett (1994) juga mengatakan pentingnya harapan Akan hari esok, katanya “Hope for tomorrow enables us to transcend the problems of today,” katanya. Perbedaan antara masalah dan kesempatan terletak pada yang namanya harapan.

Menurut Pritchett, kesempatan sering datang dan menyamar dalam bentuk masalah atau kesulitan. Jika kita mampu melihat harapan yang terselip di tengah masalah atau kesulitan yang datang maka masalah itu sesungguhnya menjadi sebuah kesempatan (opportunity). Ini pula sesuai dengan firman Allah yang maknanya bahwa dalam setiap kesulitan ada kemudahan.  Maka harapan mampu menjadi daya tarik untuk mendaki puncak kehidupan kita. Harapan, sesungguhnya adalah anugerah terhebat dari Allah SWT, yang jarang dikelola dengan baik dan layak. Simpul-simpul kebijaksanaan manusia juga sering lahir dari anugerah yang disebut harapan ini.

Harapan menyelimuti kebutuhan dan keinginan, semua bermuara pada harapan terhadap diri sendiri. Harapan terhadap diri sendiri ini harus menuju pada sesuatu yang jelas dan tegas, yakni GOAL. Dengan memiliki goal maka hidup semakin bergairah dan semangat, karena setiap bangun tidur di pagi hari, dalam setiap langkah dan nafas kehidupan senantiasa ada yang kita tunggu-tunggu dengan penuh harapan. Penentuan sebuah goal adalah menuangkan ide di atas secarik kertas. Goal haruslah lengkap dan fokus, persis sebuah peta. Sudahkan kita menetapkan GOAL kita?

http://hamdani75.wordpress.com

Marketing | Usaha Ritel Pangan Yang Aman Bagi Konsumen (Bagian 2)

#KUNCI KEDUA: SEDIAKAN SARANA SIMPAN DAN PAJANG YANG AMAN

Ruang Penyimpanan

Pengelola ritel yang menjual produk pangan perlu memperhatikan masalah sarana dan tempat penyimpanan yang aman. Adapun untuk ruang penyimpanan yang baik memiliki kriteria berikut ini:

  • Lantai, dinding, dan langit-langit di bagian penyimpanan daging dan ikan sebaiknya berwarna merah muda atau putih sehingga memantulkan sinar terang, bersih, dan tidak di serang hama.
  • Fasilitas penyimpanan pangan, bahan pangan, perlengkapan, dan peralatan-peralatan sekali pakai, kain lap, dan pengemas sebaiknya dirancang dan dibangun agar mudah dibersihkan, mencegah masuknya hama, memberi perlindungan efektif dari cemaran, dan mencegah kerusakan pangan.
  • Fasilitas penyimpanan tidak boleh ditempatkan dekat dengan: area yang digunakan untuk menyimpan kain kotor, loker, toilet, ruang untuk membuang sampah, ruang mekanik, dan di bawah saluran air buangan yang tidak terbungkus untuk mencegah penetesan, atau ruang penyimpanan bahan kimia/pestisida.
  • Benda-benda yang dapat didaur ulang seperti botol atau kaleng disimpan dengan baik untuk mencegah bersarangnya hama.

Tempat Penyimpanan

Fasilitas display dan penyimpanan produk sebelum di display juga sangat berpengaruh terhadap kontrol kualitas produk pangan agar tetap dalam kondisi baik dan aman. Pada aspek ini, beberapa hal perlu menjadi perhatian seorang pengelola ritel produk pangan antara lain:

  • Produk harus ditangani dengan hati-hati pada saat disusun/ditumpuk di rak/unit penyimpanan agar tidak rusak.
  • Rak atau unit untuk penyimpanan produk pangan dibersihkan secara berkala atau teratur sehingga lebih higienis dan bersih dari kotoran, tumpahan, atau ceceran produk.
  • Beberapa produk sebaiknya disimpan dalam lemari penyimpanan dingin/beku maupun lemari kering. Lemari sebaiknya dibuat sedemikian rupa sehingga hama tidak bisa masuk dan berkembang biak didalamnya.
  • Adapun kriteria tempat penyimpanan; terbuat dari bahan yang tahan lama dan mudah dibersihkan; jumlah rak untuk penyimpanan pangan cukup banyak, Sehigga tidak ada pangan yang tersimpan di  lantai. Seluruh produk pangan harus tersimpan pada rak atau palet yang sesuai dengan suhu penyimpanannya dengan jarak minimum 15 cm di atas lantai. Rak diletakkan sekurang-kurangnya 5 cm dari dinding agar terjadi sirkulasi udara dan sebagai akses memudahkan pemeriksaan secara visual; ditempatkan pada lokasi yang kering dan bebas serangan hama.

Sarana Pemajangan (Display)

Tujuan dari pemajangan adalah untuk meningkatkan daya tarik visual konsumen, selain itu pemajangan yang baik juga akan menjaga produk pangan tetap awet dan aman. Oleh sebab itu pengelola ritel harus memperhatikan dengan baik masalah sarana pemajangan untuk menambah minat pembelian. Diantara hal penting tersebut antara lain:

  • Tempat pemajangan harus bersih, kering, memiliki cukup cahaya, dan ventilasi. Produk harus ditangani dengan hati-hati pada saat disusun di rak atau unit pajang agar tidak rusak. Unit untuk pajang harus selalu dibersihkan.
  • Produk pangan yang di pajang terlindungi dari pencemaran, seperti cemaran air, udara, serangan hama.
  • Rak display harus memudahkan konsumen untuk mengambil barang yang dibutuhkan (jika ritelnya konsep swalayan)

Tempat pemajangan perlu ditempatkan pada ruang yang memiliki cahaya yang cukup atau diberikan penerangan lampu dan adanya sirkulasi udara yang baik. Jauhi produk pangan dari kelembaban karen bisa berkembangnya bakteri.

#KUNCI KETIGA: PAJANG DENGAN AMAN

tata letak produk pangan harus diatur sedemikian rupa agar konsumen tidak mencemari produk, untuk itu penjual harus :

  • Menyediakan sendok atau penjepit untuk mengambil produk.
  • Mengatur produk sedemikian rupa sehingga tangan konsumen tidak berada di atas suatu jenis produk pada saat sedang mengambil produk yang lain.
  • Meletakkan produk dengan baik untuk mencegah konsumen batuk atau bersin ke arah produk.

Secara umum pada kondisi risiko cemaran silang rentan terjadi, maka produk satu dan produk lainnya harus dipisahkan selama pemajangan.

Pangan mentah terpisah dari pangan yang telah dimasak. Jika diletakkan di rak yang sama dengan pangan olahan, maka pangan olahan terletak di rak bagian atas dan pangan mentah dibagian bawah.

Produk pangan harus diletakkan secara benar dan teratur di rak pemajangan dengan stok baru di belakang dan stok lama di rak bagian depan. Hal ini untuk menjamin rotasi stok yang baik dalam meminimalkan kerusakan pangan.

Pajang Secara Benar

Pangan yang dipajang pada  suhu ruang sesuai dan tidak diletakkan langsung di atas lantai tetapi diletakkan pada pallet, rak atau unit pajang, minimal 15 cm di atas lantai.

Produk pangan tidak ditumpuk atau berdesak-desakan, terutama untuk pangan yang disimpan di suhu dingin atau suhu beku. Isilah unit pajang/display jangan terlalu penuh menyebabkan suhu dingin atau beku yang diinginkan untuk mengawetkan produk tidak tercapai sehingga risiko pertumbuhan mikroba akan lebih besar.

Produk pangan olahan beku seperti nugget, ayam goreng tepung beku, olahan daging lainnya, es krim, dan sebagainya harus dipajang pada lemari beku.

Untuk produk beku dipajang pada bagian dalam pemajangan beku (frozen showcase) yang suhunya dikendalikan di bawah -18 DC.

#KUNCI KEEMPAT: JAGA KEBERSIHAN

Dalam Islam kebersihan adalah sebahagian dari iman. Kebersihan ada kaitannya dengan kesehatan. Sebab itu setiap orang perlu menjaga kebersihan, baik tubuhnya, pakaian dan tempat. Untuk para pemasar ritel produk pangan sangat penting untuk memperhatikan masalah kebersihan. Makanan yang dijual harus memenuhi standar kebersihan dan kesehatan. Bagaimanapun itu adalah hak konsumen. Pemasar dapat menyediakan fasilitas yang bersih. Terutama sekitar area penjualan dan display. Lakukan pembersihan peralatan dan fasilitas yang digunakan secara berkala, kontrol jalur pembuangan dengan baik, lantai selalu di pel dan diberi pengharum ruangan.

Pengendalian Hama

Hama di sini adalah seluruh yang termasuk dalam kriteria hewan pengganggu. Tikus, burung, serangga, dan hewan lainnya tidak boleh berkeliaran di area ritel. Perangkap diletakkan jauh dari sumber cahaya, bebas dari aliran udara dan jauh dari produk pangan. Semprotan anti serangga tidak boleh digunakan di area untuk menangani, menyimpan atau memasak pangan. Semua jendela yang terbuka harus dilengkapi dengan kasa serangga yang dapat dibongkar pasang untuk mempermudah pembersihan.

#KUNCI KELIMA: JUAL DENGAN AMAN

Kunci terakhir dari rangkaian tips ritel produk pangan adalah menjual dengan aman. Penekanan pada aspek ini adalah sangat komprehensif atau mencakup keseluruhan dari berbagai faktor-faktor yang telah disebutkan pada Bagian I dan tersebut di atas. Penjualan merupakan proses akhir dari kegiatan pemasaran ritel produk pangan yang aman bagi konsumen. Disini titik krusial keberhasilan dari usaha ritel. Sebab itu pengelola harus pandai mengkombinasikan seluruh sumber daya dan strategi yang dimiliki untuk memuaskan konsumen. Jika tidak, maka konsumen akan membeli di toko pesaing akibat mereka mengalami kekecewaan atas produk dan layanan buruk yang mereka rasakan dari ritel kita.

Wiraniaga yang bertugas juga harus terlihat rapi, bersih dan harum tubuhnya saat melayani konsumen ketika membeli produk. Murah senyum dan ramah dalam pelayanan akan menambah rasa senang konsumen. Pada fase awal ketika memulai melayani konsumen, mereka terlebih dahulu dapat menciptakan suasana nyaman dan akrab dengan pelanggan, sambil berbicara kecil dan memuliakan setiap pengunjung yang datang merupakan karakter yang harus dimiliki oleh petugas penjualan ritel.

Pastikan produk pangan dalam kondisi baik dan tidak cacat saat sebelum barang diserahkan kepada konsumen. Jelaskan setiap pertanyaan jika ada hal-hal yang kurang jelas bagi pelanggan baik informasi harga, cara pembayaran dan lain sebagainya.

Akhirnya selamat mencoba semoga usaha ritelnya berjalan sukses dan memberikan manfaat buat masyarakat dan kita sebagai pelaku usaha.

Marketing | Usaha Ritel Pangan Yang Aman Bagi Konsumen (Bagian 1)

Tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat atau konsumen memperoleh produk pangan yang dibutuhkan adalah dengan membelinya di pasar. Selain mudah dalam menjangkau tempat penjualan, alasan lainnya adalah karena di pasar tersedia beragam produk yang sesuai dengan keinginannya. Konsumen juga memiliki banyak pilihan sebelum menentukan keputusan pembelian. Itulah mengapa produsen produk pangan pada umumnya menjual produknya melalui saluran pasar atau saluran distribusi yang ada.

Bila dibandingkan dengan menjual sendiri, menyalurkan produk melalui pihak pemasar atau dijual oleh pihak lain memiliki beberapa kelebihan dan keuntungan bagi produsen. Diantaranya, produsen tidak perlu lagi menyediakan display produk, pelayanan penjualan sudah dilakukan oleh pemasar, jika para pemasar yang menjadi channel distribusinya telah memiliki pasar atau pelangga yang banyak tentu saja akan berpengaruh pada permintaan produk pangan yang ditawarkan. Sedangkan produsen cukup berproduksi saja dan tidak perlu memikirkan strategi penjualannya.

Namun lain halnya jika produk pangan yang dihasilkan dijual sendiri oleh produsen. Mereka harus menyediakan sarana dan prasarana sendiri untuk mendukung penjualan produknya, memiliki tenaga penjualan yang dapat diandalkan dan memahami strategi pemasaran yang tepat.

Biasanya produsen produk pangan menghasilkan barang-barang konsumsi, seperti makanan siap saji dalam kemasan, kue, ikan beku, dan berbagai product consumer lainnya. Skala produksinya pun tidak terlalu besar, karena produk pangan lebih cepat rusak atau tidak tahan lama (undurable goods). Pada usaha mikro kecil dan menengah umumnya memproduksikan barang-barang konsumsi untuk segmen pasar menengah ke bawah dengan harga terjangkau.

Untuk menjangkau pasarnya, produsen produk pangan harus jeli melihat saluran pemasarnya. Karena penjualannya secara eceran berbeda dengan penjualan skala besar atau grosir. Saat ini banyak sekali saluran pemasar eceran (ritel) yang masuk ke segmen pasar menengah kebawah. Jika kita jalan-jalan ke pasar, maka pedagang eceran atau ritel sangat mudah kita temukan. Baik dengan konsep pemasar pengecer tradisional maupun pasar ritel modern.

Dari sisi konsumen, keputusan pembelian terhadap sebuah produk pangan yang dilakukan sudah melalui pertimbangan yang matang sebagaimana dijelaskan dalam teori perilaku konsumen dan sistim keputusan pembelian. Beberapa aspek yang dipikirkan oleh konsumen sebelum membeli diantaranya; kesesuaian antara produk dengan kebutuhannya, harga, merk, dan yang utama adalah soal keamanan mengkonsumsi. Kenapa soal keamanan? Karena tidak ada konsumen yang ingin pingsan atau mati setelah mengkonsumsi suatu produk disebabkan oleh keracunan misalnya. Oleh sebab itu, produsen perlu memikirkan bagaimana cara menghasilkan produk yang aman di konsumsi dan kemudian memudahkan para pemasar dalam menjual produk pangan tersebut.

Berbicara tentang keamanan produk pangan, berikut penulis ingin menguraikan beberapa hal tentang tips menghasilkan dan menjual produk pangan yaitu dimulai dari rantai produksi sampai ke tempat-tempat penjualan sebelum di beli dan di konsumsi oleh masyarakat atau konsumen.

Lima Kunci Keamanan Produk Pangan Untuk Ritel

Perlu diketahui tujuan dari keamanan pangan adalah untuk mencegah perpindahan penyakit melalui pangan seperti keracunan pangan dan untuk mempertahankan mutu pangan sepanjang mata rantai mulai dari tempat produksi (seperti: lahan) hingga siap dikonsumsi. Salah satu mata rantai tersebut adalah ritel. Seperti telah disebutkan diatas yaitu tempat penjualan pangan di tingkat ritel bisa bervariasi mulai dari pasar tradisional, swalayan, supermarket, hingga hipermarket.

SahabatPreneur yang berbahagia. Sesuai dengan topik tulisan ini kita akan belajar ritel produk pangan yang aman. Jadi bayangkan saja ketika Anda membaca artikel ini berarti Anda bisa memposisikan diri sebagai peritel produk pangan. Baik langsung saja kita catat kunci pertama dari lima kunci yang harus Anda perhatikan yaitu:

#KUNCI PERTAMA: TERIMA PRODUK PANGAN YANG AMAN

Penanggung Jawab.

Sudah barang tentu setiap pengelola ritel memiliki pengelola yang bertanggung jawab terhadap operasional usahanya. Penanggung jawab bertugas untuk mengawasi penerimaan produk pangan dari para pemasok atau produsen. Jika Anda memilih usaha ritel produk pangan dan memiliki petugas penanggung jawab, maka tugas mereka adalah:

  • Menetapkan jadwal pengiriman dan tidak menerima produk pangan yang tidak dipesan
  • Mengawasi pembongkaran muatan barang masuk, termasuk pencatatan jam pembongkaran.
  • Memperhatikan ketentuan hukum seperti pemalsuan atau tindakan kejahatan lainnya.
  • Memeriksa dokumen pengiriman dan jika perlu melakukan perbaikan/koreksi pada dokumen tersebut.

Pemilihan Pemasok.

Menerima produk dari pemasok yang belum dikenal bisa menimbulkan risiko penerimaan produk pangan yang tidak aman. Oleh sebab itu pengelola ritel harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

  • Membeli produk pangan dari pemasok yang memiliki reputasi yang baik, jujur dan bertanggung jawab.
  • Menyusun spesifikasi produk yang dapat diterima dengan mengutamakan persyaratan keamanan produk pangan dan mengkomunikasikannya dengan pihak pemasok dengan memastikan bahwa produsen produk pangan telah menerapkan Cara Produksi Pangan dengan Baik (CPPB), pemasok telah menerapkan Cara Penanganan Pangan yang Baik serta Cara Transportasi Pangan yang Baik.

Kenderaan Pemasok

Sistim transportasi yang digunakan oleh pemasok ikut mempengaruhi kualitas produk pangan yang di supply ke pihak ritel. Karenanya pihak pengelola ritel harus memperhatikan dengan baik masalah pengangkutan yang digunakan yaitu:

  • Kenderaan dirancang, dikontruksi, dipelihara dan digunakan dengan cara-cara yang dapat mencegah produk pangan dari kerusakan dan pencemaran.
  • Kenderaan dan wadah dalam kondisi bersih dan tidak digunakan untuk mengangkut selain bahan pangan.
  • Pada saat produk pangan dan nonpangan diangkut bersama-sama, dipastikan bahwa produk pangan tidak tercemar oleh produk nonpangan, tidak akan terjadi pencemaran silang.
  • Produk pangan harus dijaga suhunya pada suhu dingin atau suhu beku, dikirim dalam keadaan berpendingin atau dengan wadah berinsulator yang dilengkapi dengan alat pengukur suhu.

Pengiriman dan Penerimaan Produk Pangan

Secara umum setiap peritel memiliki standar operasional untuk pengiriman dan penerimaan produk pangan misalnya melakukan pemeriksaan untuk memastikan produk yang diterima telah memenuhi persyaratan keamanan pangan yang telah ditetapkan, menolak produk pangan yang telah tercemar, memiliki formulir pengecekan (cheklist) untuk kondisi produk pangan yang diterima. Selain itu pengelola juga memeriksa label dan kelengkapan label untuk pangan olahan. Pengelola dan penanggung jawab memastikan pangan olahan tersebut yang dalam kemasan mempunyai nomor MD, ML, atau P-IRT dan mempunyai label yang lengkap sesuai peraturan yang berlaku.

 

 

Tips Bisnis | Usaha Makanan Siap Saji

Kelas Entrepreneurship OS-38

Selamat berjumpa kembali SahabatPreneur yang baik hatinya

Kehidupan semakin berkembang. Dunia semakin maju. Manusia menginginkan semuanya serba cepat, mudah dan berkualitas. Termasuk dalam hal makanan. Konsumen lebih menyukai makanan siap saji daripada memasak sendiri. Sebagian barangkali mungkin malas memasak, karena berkutat di dapur bisa bikin kepanasan, kotor dan bau asap. Mungkin juga barangkali tidak bisa menemukan resep yang pas dengan kemampuannya dalam mengolah bahan-bahan yang ada. Tentu saja ada begitu banyak alasan lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Sebagai wirausahawan tentu hal tersebut merupakan peluang bisnis. Kita bisa memawarkan berbagai makanan siap saji sesuai selera pelanggan dan daya belinya. Apalagi ‘malas masak’ yang menjadi tren bagi ibu-ibu karier zaman sekarang. Bahkan Remaja putri yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya juga malas memasak, malas mencuci, malas membersihkan rumah dan takut kotor tangannya, pokoknya malas segalanya atau serba malaslah. Mereka meminta agar pekerjaan seperti itu dilakukan oleh asisten rumah tangga saja, tukang kebun dan tenaga sewaan yang sengaja mereka bayar untuk melayani kebutuhannya.

Tapi baiklah, lupakan saja jika fenomena di atas terkesan sangat tidak positif. Bagaimana tidak, disebabkan oleh kemajuan berbagai bidang, dunia semakin modern telah membuat perubahan dalam gaya hidup manusia. Jika zaman dulu perempuan dihargai dan dihormati karena keberadaannya dalam rumah tangga bisa menjadi ibu yang baik dan ‘sempurna’, menyediakan makanan favorit anggota keluarganya dan makanan rumahan yang lezat dan sehat. Namun kini justru perempuan  yang bekerja di rumah, melayani anak-anaknya, menyiapkan makanan untuk seluruh anggota keluarga, dianggap kolot, tidak modern dan kampungan.

Pembaca yang budiman! Sebenarnya yang ingin penulis bahas bukanlah tentang perempuan malas. Namun ternyata malas itu juga ada nilai positifnya bagi orang lain. Contohnya karena ada orang malas masak, maka positifnya bisa menjadi peluang usaha rumah makan, katering atau restoran. Contoh lainnya adanya orang yang malas mencuci, maka wirausahawan dapat membuka usaha laundry. Begitulah!

Nah, kebayangkan bagaimana bila seorang wirausahawan jeli melihat peluang usaha makanan siap saji? Jajanan kue atau usaha pengolahan pangan lainnya? Wah… Bisnisnya bisa meledak, omzetnya tinggi. Anda tahu alasannya kan? Sekarang silakan SahabatPreneur menganalisis sendiri apa kira-kira bisnis makanan dan produk pangan yang cocok untuk ditawarkan. Agar bisnis makanan dan pangan bisa sukses, maka banyak faktor-faktor yang harus diperhatikan. Terutama soal citarasa, kualitas dan yang paling penting adalah higeinis/kebersihan. Bagaimana pun produk makanan dan pangan siap saji sangat bergantung pada aktivitas bahan yang dipakai dan proses pengolahannya.

Agar produk makanan siap saji yang hasilkan memenuhi standar kualitas dan aman untuk di konsumsi, SahabatPreneur perlu perhatikan beberapa tips berikut ini:

  1. Sediakan bahan baku aman (beli dan simpan). Kita harus memilih bahan baku yang baik agar sejak dari bahan baku pangan sudah dijamin aman. Ketelilitian menilai bahan baku akan sangat berpengaruh pada kualitas makanan yang kita buatkan, baik dari segi cita rasa maupun daya tahan produk.
  2. Olah pangan secara seksama. Pengolahan pangan adalah proses mengubah bahan mentah menjadi masakan siap santap. Pengolahan pangan harus memperhatikan kaidah pengolahan yang baik. Seperti; tempat pengolahan pangan atau dapur harus sehat dan bersih, bahan di pilih dengan di sortir. Dll
  3. Pajang dan sajikan pangan secara aman. Kondisi pemajangan produk makanan harus dapat mempertahankan mutu dan keamanan produk makanan yang dijual. Misalnya; fasilitas pajang harus bersih, kering, memiliki cukup cahaya, dan ventilasi.
  4. Jual produk makanan/pangan secara aman. Penjual harus memperhatikan semua kondisi yang terkait dengan keamanan pangan dan produk, termasuk fasilitas, dan tatacara dalam menangani produk. Seperti wadah yang bersih, terpisah untuk setiap jenis pangan/makanan, tertutup. Selain itu penjual juga harus sehat, bersih, dan rapi serta menerapkan kebiasaan yang higienis selama menjual, tidak memegang makanan secara langsung tanpa memakai sarung tangan. Penjual harus memotong kukunya dan bersih, tidak menggaruk-garuk kepala apalagi (maaf, garuk pantat. Hehe), jualan sambil merokok, meludah, batuk, dll.
  5. Jaga kebersihan. Fasilitas dan peralatan yang digunakan harus bersih, cuci tangan saat mau menjual makanan, lingkungan tempat penjualan harus bebas dari pencemaran sampah, dll.

Demikian tips yang SahabatPreneur harus perhatikan dengan baik. Khusus buat wirausahawan yang akan melaksanakan usaha makanan semoga bisa lancar dan sukses.

Inspirasi Bisnis | Kebiasaan NEETIP Menjadi Peluang Usaha

SahabatPreneur yang berbahagia. Jumpa lagi dengan saya disini. Insha Allah kali ini penulis menurunkan lagi sebuah tulisan inspiratif buat Anda semua. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan ide bagi SahabatPreneur dalam mengembangkan bisnis dengan semangat kewirausahaan yang tinggi.

Pembaca yang budiman. Terkadang untuk membangun sebuah kesuksesan, kita perlu belajar dari orang lain yang sudah lebih dulu meraih keberhasilan. Begitu juga halnya dalam merintis sebuah bisnis, SahabatPreneur juga harus belajar dan bila perlu menirunya dari wirausaha yang telah terbukti sukses. Menurut sebuah teori, kesuksesan itu memiliki pola, sebagaimana juga kegagalan. Jadi, jika seorang calon wirausaha ingin sukses dalam bisnisnya, maka terapkanlah pola kesuksesan yang ada. Selain itu, pola kesuksesan juga dapat di kloning untuk menciptakan berbagai kesuksesan lainnya.

Nah, pada edisi artikel inspirasi kali ini, penulis menyarankan Anda belajar dari seorang tokoh muda ini, wirausahawan online berbasis aplikasi. Dan bisnis ini tergolong usaha kreatif dan prospek. Lebih tepatnya nama bisnis tersebut adalah NEETIP.

Neetip adalah aplikasi mobile yang mengakomodir orang untuk nitip dibelikan barang di suatu tempat. Begitu juga sebaliknya, menjadi orang yang bersedia dititipi. Orang yang minta tolong titip di sebut Tipper dan yang bersedia dititipi namanya Helper.

Lewat teknologi, kebiasaan titip-menitip bisa menjadi lebih luas cakupannya, baik dari lokasi dan pelakunya. Ide dari bisnis ini sendiri adalah berawal dari pengalaman pribadi business owner Antonius Stefanus saat bepergian, seringkali ada teman yang titip dibelikan sesuatu, mulai dari makanan sampai barang. Begitu sebaliknya, kadang kita yang nitip ke teman-teman yang bepergian.

Berawal dari pengalaman inilah, Antonius pun membuat aplikasi Neetip pada bulan Maret tahun 2016 lalu. Pada awal pendiriannya, Antonius mengaku buta sama sekali mengenai model bisnis yang akan diterapkan hingga pasarnya belum ketahuan. Bisa dikatakan belum ada benchmark yang bisa digunakan Neetip sebagai acuan. Sehingga semuanya harus dimulai dari awal, menentukan sistem kerja yang tepat, hingga menyangkut soal keamanan sistem aplikasinya. Di sisi lain, Neetip ingin menciptakan suatu keunggulan dan diffrensiasi dalam bisnisnya.

Kini, sejak Neetip beroperasi secara full system pada akhir 2016 dan menggunakan model base on location. Keunggulan berbasis lokasi adalah kita bisa nitip apa saja, dari mana saja secara real time. Sedangkan yang lain base on road.

Konsep bisnis Neetip adalah member to member di mana setiap orang yang sudah terdaftar di aplikasi Neetip bisa menjadi helper dan tipper. Sebagi contoh, seorang pemilik akun Neetip ingin menitip beli Dodol di Banda Aceh. Maka ia pun mengarahkan lokasi di salah satu wilayah yang ada penjual kue tersebut. Nah, jika di Banda Aceh ada pemilik akun Neetip yang akan ke Jakarta dan memutuskan untuk menjadi helper, maka ia akan mendapatkan notifikasi dari tipper yang ingin titip Dodol di lokasi dekatnya. Nah, selanjutnya terserah si helper apakah mau terima tawaran tersebut atau tidak.

Keunggulan dari Neetip adalah adanya ruang negosiasi dan pilihan bagi tipper untuk mengambil tawaran dari helper yang paling menarik. Sebab, melalui aplikasi Neetip ini, tipper bisa mendapat tawaran dari maksimal lima helper. Selanjutnya, helper bisa bisa mengajukan sejumlah uang tip dari transaksi tersebut.

SahabatPreneur yang budiman. Jika kita memahami lebih dalam dari kisah Antonius Stefanus di atas, terlihat bahwa kegiatan bisnis yang dilakukannya adalah apa yang kita alami setiap hari, di mana kita sering menitip oleh-oleh dari teman-teman kita yang pergi ke luar kota atau bahkan sering juga kita membantu teman-teman kita yang diluar kota untuk membeli barang-barang yang diminatinya di kota temannya tersebut. Penulis sendiri memiliki pengalaman itu, kebetulan penulis memiliki teman di kota lain, dan sebelumnya ia pernah lama tinggal di kota penulis karena mengikuti suaminya yang bertugas. Tentu saja, ketika ia dipindahkan ke kotanya kembali, maka mereka sangat merindukan kota yang pernah lama ditinggalinya, rindu akan suasananya, orang-orangnya, tempat-tempat wisata dan yang paling banyak adalah orang ingin kembali menikmati makanan khas daerah tersebut. Syukur jika lokasinya dekat, tetapi jika jauh, maka tentu saja kita akan menelpon atau menghubungi teman kita untuk membantu membelikan dan mengirimkannya. Dan itu tidak kita bayar alias free.

Dibalik itu juga, ketika suatu ide bisnis baru mulai dijalankan, maka pasti owner-nya belum memiliki sistem yang standar apalagi mapan. Pada umumnya para pemilik masih meraba-raba dan mencari pola bisnis yang tepat dalan operasionalnya. Dan hal ini lumrah terjadi bagi pemula. Maka disinilah mentalitas entrepreneur nya muncul dan diuji. Untuk semua itu pasti membutuhkan keberanian, mustahil bagi wirausahawan yang mau sukses namun takut atau tidak berani mengambil risiko.

Inilah kejelian Antonius dalam menangkap peluang bisnis. Dengan melakukan kapitalisasi suatu kebiasaan,  Neetip dapat memberikan nilai positif bagi masyarakat, khususnya bagi para pengguna. Juga telah membantu setiap untuk saling terhubung baik secara online maupun offline. Dengan kata lain, orang pun bisa mendapatkan kenalan baru lantaran menjadi pengguna neetip. Jadi, dengan konsep bisnis seperti ini banyak manfaat yang diperoleh selain tip/komisi pastinya juga memperoleh relasi.

Bagaimana dengan Anda SahabatPreneur yang berbagia, Apa ide bisnis mu???

 

Brand Ambassador | Membangun Karir di Dunia Marketing

Asriah Ani Chaidesar Brand Ambassador PT Pegadaian Banda Aceh

SahabatPreneur yang budiman. Kali ini penulis menurunkan sebuah tulisan inspiratif buat Anda semua pembaca dan pengunjung setia blog kita bersama. Tulisan sederhana ini muncul dari sebuah ide untuk memberikan motivasi bagi Anda para pembaca tentang sebuah perjalanan membangun karir di dunia marketing.

Dalam tulisan berikut ini, penulis menggabungkan metode penulisan artikel dan biografi. Kali ini kita akan menampilkan seorang tokoh muda, cantik, pintar dan bersahaja dari sebuah kampus biru yang cukup terkenal di Indonesia. Yuk langsung saja kita berkenalan dengan sahabat kita yang satu ini. Kini dia menyandang predikat sebagai The Best Brand Ambassador PT Pegadaian Indonesia Banda Aceh tahun 2017.

Namanya Asriah Ani Chaidesar, dara manis kelahiran Banda Aceh yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester empat jurusan sekretaris pada Lembaga Pendidikan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Banda Aceh. Sehari-hari dia di panggil dengan sebutan Asri oleh teman-temannya. Gadis cantik yang berulang tahun pada tanggal 4 Desember ini sejak tahun 2015 merupakan alumni sebuah SMK di Kota Banda Aceh. Ia mampu menyelesaikan pendidikan menengahnya tepat waktu dengan prestasi yang mengagumkan.

Sehari-hari Asri menghabiskan waktunya untuk belajar, menuntut ilmu di kampus yang dibanggakannya. Banyak hal-hal baru yang ia peroleh semenjak ia bergabung di lembaga pengembangan profesi tersebut. Mendapatkan teman-teman baru yang baik dan care merupakan kebahagiaan yang luar biasa bagi dirinya.

Ia tertarik untuk mempelajari bidang kesekretarisan, itulah alasanya Asri memilih kuliah di jurusan yang kini sedang ia tekuni. Anak dari pasangan (Alm) Bapak Wan Chairuddin dan Ibu Dewi Sartika ini tergolong mahasiswa yang sangat aktif dikampusnya. Bersama dengan teman-temannya ia bergabung dalam organisasi intra kampus, melakukan berbagai kegiatan sosial, dan seni.

Karena ketertarikannya terhadap profesi sekretaris, Asri banyak belajar tentang perusahaan, surat menyurat, penataan kearsipan, membuat skedul rapat, notulen, dan teknik komunikasi yang baik. Maka tidak heran, jika berbincang-bincang dengannya kita akan merasa betah dan menyenangkan. Gadis cantik berkulit kuning langsat ini memiliki hobi travelling, membaca buku dan berolah raga. Ia tergolong gadis yang berkepribadian ramah, murah senyum dan peduli pada orang lain. Ia suka menyapa siapapun teman yang bertemu dengannya, tidak sombong dan terkesan sederhana. Sebab itulah kehadirannya ditengah-tengah sahabatnya menjadikan setiap suasana lebih menyenangkan dan seru.

Dalam bidang olah raga, Asri juga banyak mengukir prestasi dari sejumlah event yang diikuti, diantaranya sebagai runner-up WBL Season II 2017, juara tiga Engineering Basket Ball Cup yang diraihnya pada tahun 2016. Bahkan pada event yang sama Asri pernah memegang juara pertama Engineering Basket Ball Cup pada tahun 2015. Selain itu, Asri juga memenangkan EBC se-Aceh sebagai juara pertama dan diraihnya pada tahun 2015 dan sederet prestasi lainnya.

Sebagai gadis yang pernah mengikuti ajang MVP GIRL Honda DBL 2014 Aceh series dan mendapatkan juara pertama, ia merasa sangat bersyukur karena dapat mempersembahkan berbagai tropi dan penghargaan bagi orang tua dan keluarganya. Apalagi semenjak ayahnya dipanggil sang Ilahi, ibunyalah yang terus mendukung dan memberi semangat. Meskipun ibunya sibuk dengan tugasnya sebagai kepala sekolah, namun mampu membagi waktu untuk mendukung kesuksesan Asriah.

Awali Karir Sebagai Brand Ambassador

Asriah Ani Chaidesar mengawali karirnya sebagai Brand Ambassador tahun ini. Debut pertamanya di dunia branding ketika ia terpilih sebagai The Best Brand Ambassador dalam sebuah ajang kontes yang diselenggarakan oleh MarkPlus.Inc pada tanggal 27 April 2017 di Hotel Hermes Banda Aceh. Ia berhasil menyisihkan 7 kontestan lainnya dan menyabet predikat Brand Ambassador sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa di Kota Banda Aceh.

Sebagai pendatang baru, Asri tentu belum memiliki pengalaman yang banyak di dunia branding dan marketing. Namun karena ketekunannya untuk belajar ilmu marketing dikampusnya telah membuat rasa percaya diri Asri menjadi lebih baik. Kini ia tidak canggung lagi jika diajak bicara tentang  bisnis dan marketing. Asri dengan sangat mudah dapat menjelaskan konsep-konsep marketing yang berkembang saat ini. sebab kemampuan itulah, maka juri yang mengujinya saat kontes berlangsung menetapkan Asri sebagai pemenangnya.

Menjadi Brand Ambassador sebuah perusahaan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Asri sangat paham bahwa memerlukan kerja keras, sabar dan memiliki keyakinan yang kuat merupakan prasyarat yang harus ada pada setiap orang yang ingin sukses membangun karirnya sebagai Brand Ambassador. Khusus sebagai duta merk (Brand ambassador=BA) PT Pegadaian, Asri mengatakan “kejujuran dan citra baik di mata konsumen adalah modal utama setiap BA.” Begitu kata gadis yang masih berstatus single ini.

Kedepan, ia sudah menyusun sebuah rencana untuk menjalani profesi barunya itu dengan gemilang, tidak mengecewakan pihak perusahaan yang telah mengontraknya tersebut. Ia berharap agar keluarga dan teman-temanya terus memberikan dukungan baik moril maupun materil. Ia optimis jika setiap pekerjaan dijalani dengan hati senang dan penuh cinta, kendala apapun akan mudah dihadapi.

Sekilas Tentang Brand Ambassador

Menurut Wikipedia Brand Ambassador atau istilah Indonesia Duta Merek adalah istilah pemasaran untuk seseorang atau grup yang dipekerjakan dengan dikontrak oleh sebuah organisasi atau perusahaan untuk mempromosikan suatu merek dalam bentuk produk atau jasa.

Duta Merek dimaksudkan untuk mewujudkan identitas perusahaan dalam penampilan, sikap, nilai-nilai dan etika. Elemen kunci dari duta merek terletak pada kemampuan mereka untuk menggunakan strategi promosi yang akan memperkuat pelanggan dan mempengaruhi masyarakat untuk membeli suatu produk lebih banyak lagi.

Biasanya, seorang duta merek dikenal sebagai pembicara positif yang menunjukkan hal-hal positif dari suatu merek yang ditunjuk sebagai agen internal atau eksternal untuk menciptakan kenaikan dalam penjualan suatu merek berupa produk atau jasa. Melalui duta mereknya perusahaan ingin agar brand-nya menjadi lebih dikenal dan dekat dengan masyarakat yang dilayaninya.

Apa Kata Asriah Ani Chaidesar Tentang Brand Ambassador

Sebagai orang yang telah mempelajari ilmu marketing. Asri memahami benar bagaimana posisi BA dalam upaya meningkatkan citra baik sebuah perusaahan. Kata kunci yang selalu dipegangnya adalah berkata jujur tentang produk yang dipromosikan merupakan prinsip dasar agar konsumen atau masyarakat mau mempercayai dan menggunakan produk yang ditawarkan perusahaan. Sikap itu pulalah yang kini ia memiliki untuk membantu mengembangkan bisnis dan layanan PT Pegadaian Indonesia melalui kegiatan marketing.

Pada akhir tulisan ini, Asri berpesan agar masyarakat yang saat ini sudah menjadi bagian dari keluarga besar PT Pegadaian Banda Aceh agar terus meningkatkan pembelian layanan dan penggunaan produk. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi bisa mengajak teman, keluarga dan masyarakat lainnya untuk menikmati semua layanan yang diberikan oleh PT Pegadaian di Indonesia pada umumnya.

Sebagai penutup. Ucapan selamat bertugas bagi Asriah Ani Chaidesar semoga kemampuan marketing-nya semakin mantap dan karirnya bisa cemerlang. Bravoooo Asriah Ani Chaidesar.