Branding (in) Indonesia: Update! Oleh: Herman Kartajaya

Pilkada DKI Jakarta benar-benar merupakan ajang ‘pertempuran’ political brand gaya baru. Ada berapa Hoax dan Fake News dihalalkan oleh tim pemenang pasangan calon? Ternyata “Tech is not only for Good”.

Dan, mereka yang terlibat di sini, disebut sebagai Cyber Army! Army memang untuk perang, karena itu boleh menghalalkan semua cara. Walaupun perang juga ada etiknya, tapi biasanya sangat mudah dilanggar dan sulit dibuktikan.

 WHY?

Curiosity in Marketing

Ini adalah judul buku saya ketujuh bersama profesor Philip Kotler, yang juga melibatkan Iwan Setiawan, COO MarkPlus, Inc. Sebagai co-author. Kalau Marketing 3.o mencapai 27 bahasa dalam waktu tujuh tahun, maka yang satu ini mencapai 12 bahasa dalam dua bulan terakhir. Inilah buku tentang From Traditional to Digital. Tapi diperuntukkan untuk Tech For Good!

Sebab, sebuah korporasi tidak boleh sekali kali meniru orang politik yang menggunakan Cyber Army.

Political Marketing dilakukan untuk mencapai tujuan jangka pendek, yaitu memenangkan sebuah Pilkada atau Pemilu.

Tapi korporasi harus mencapai tujuan jangka panjang, yang tidak boleh tercederai oleh tujuan jangka pendek. Karenanya, korporasi perlu punya seorang Content Creator yang harus bisa menimbulkan dampak positif jangka panjang.

Di konsep Marketing 4.o, Content Marketing diperlukan untuk meningkatkan Curiosity dari Appeal (A2) ke Ask (A3)

Peranannya sangat strategis karena Content Creation yang salah akan “menghambat” Customer Path menuju ke fase yang sangat strategis.

Ask ini sebenarnya jadi pembeda dari traditional marketing, di mana target audience hanya diminta menerima dan di-persuade untuk menyetujui pesan dari marketeer. Pada digital marketing, justru inilah tahapan yang penting Karena lanskapnya sudah jadi horizontal, inklusif, dan sosial. Bukan vertikal, eksklusif dan individual.

Tahapan “kritis” berikutnya ada pada Affinity yang akan mendorong costumer melakukan Advocacy. Ada empat situasi yang mungkin terjadi. Pertama, orang puas dan melakukan komplimen. Kedua, orang puas dan diam saja. Ketiga,  orang tidak puas dan komplain. Keempat, orang tidak puas dan tidak komplain.

Untuk situasi pertama, haruslah ada amplication supaya orang yang bersangkutan mau memberikan komplimen ke publik. Kalau dibiarkan organik, maka orang Indonesia cenderung diam. Rugikan kita?

Sedangkan orang yang tidak puas dan diam justru orang yang paling berbahaya, karena dia langsung pindah ke pesaing. Orang yang tidak puas kalau diberi akses untuk komplain ke marketeer dan ditangani dengan baik dan fair, maka akan makin memuji pemasarnya.

Di Marketing 4.0, kami percaya bahwa Advocacy (A5) adalah ultimate phase yang akan paling menentukan customer engagement.

What?

Anxiety and Desire in New Content Marketing

Content is the King! Bukan hanya frekuensi dan media yang digunakan. Inti dari Content Creation yang pas adalah pengetahuan marketeer terhadap anxiety and desire dari audiens yang di tuju.

Kenapa Film Warkop DKI Reborn, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC), dan My Stupid Boss bisa sukses besar pada tahun 2016 di Indonesia? Dugaan kami adalah orang Indonesia memang suka “Laugh and Love”. Tidak terlalu mikirin ekonomi yang lagi sulit pada tahun lalu. Yang penting masih bisa ketawa-ketiwi dan baper.

Lantas kenapa Cek Toko Sebelah yang dimulai pada akhir tahun lalu jadi film paling sukses sampai sekarang pada tahun 2017 ini? Ternyata pluralisme yang berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika adalah desire orang Indonesia ketika ada gejala devided. 

Dan kenapa pula film Surga  Yang Tidak Dirindukan 2 cukup sukses dan banyak komunitas berhijab melakukan nonton bareng (nobar)? Mungkin saja, isu poligami adalah salah satu anxiety di audiens itu.

Sebaliknya, pada tahun 2017, ternyata ada banyak sosialita perempuan kita yang pergi ke Singapura hanya untuk nonton Fifty Shade Darker. Bisa jadi, perilaku seksual menyimpang itu jadi ‘secret desire’ dari audiens tersebut.

Jadi? Apa pun konten yang akan dibuat haruslah menjawab anxiety and desire audiens. Walaupun sangat sulit menemukan hal tersebut karena audiens biasanya tidak mau menampakkannya secara jelas. Bisa karena malu, jaga gengsi, tidak terbuka dan sebagainya.

Makanya, tugas seorang content creator adalah “unlocking the heart” Biasanya selau beyond the mind karena sering tidak masuk akal sehat. Aneh tapi nyata. Disney dulu hanya bermain dengan Mickey Mouse untuk audiens anak-anak. Sekarang, mereka bisa memainkan Star Wars Series untuk orang dewasa.

Sedangkan lagu Let It Go dari Princess Elsa di film Frozen sampai dibawakan penyanyi terkenal dalam 45 bahasa. Termasuk Anggun yang menyanyikan lagunya dalam Bahasa Indonesia. WOW!

HOW?

The Sixth Sense in Digital Platform. Percayalah bahwa digital marketing tidak akan mengganti traditional marketing. Tapi keduanya harus diintegrasikan.

Traditional marketing tetap merupakan dasar dari digital marketing, karena yang namanya digital marketing, ya marketing! Tapi,  digital marketing makin menjadi platform dari suatu proses terpadu digital dan traditional.

Kombinasi keduanya merupakan suatu kemutlakan, karena itu budget yang sama besarnya haruslah bisa dialokasikan secara tepat. Digital marketing, terutama mobile marketing bisa jadi sangat powerful karena bisa sangat bersifat H2H atau Human to Human.

Smartphone sudah menjadi bagian dari seorang manusia sendiri yang merupakan indera keenam “the sixth sense”. Sekarang semua orang bisa mengandalkan smartphone dengan berbagai aplikasinya untuk melakukan “sensing” pada lanskapnya. Dengan demikian responding bisa dilakukan secepat mungkin, walaupun belum tentu benar.

Situasinya jadi paradoks. Semua orang memerlukan “the sixth sense” ini supaya tidak kalah bersaing dengan orang lain. Perlu diperhatikan juga berbeda platform yang digunakan akan berbeda juga cara pendekatannya. Sebagai contoh penggunaan media sosial yang berbeda satu sama lain. Dan ketika semua orang menggunakannya, maka dengan mudah semua digital behaviour datanya terekam. Justru dengan melakukan Big Data Analysis itulah maka orang tersebut akan dengan mudah membaca anxiety and desire-nya.

Lantas apa kesimpulannya? Pertama; korporasi hanya boleh menggunakan Tech for Good! Kedua; content creation secara benar merupakan kunci kemenangan dalam marketing. Keiga; konten yang bisa menjawab Anxiety and Desire audiensnya sangatlah penting di samping frekuensi dan jenis media. Keempat; smartphone sudah merupakan “the sixth sense” bagi semua orang karena merupakan media yang sangat personal. Kelima; digital behaviour analysis bisa digunakan untuk mempertajam suatu upaya digital marketing.

 

The following two tabs change content below.

Hamdani

Praktisi Bisnis. Konsultan Profesional Bidang Keuangan dan UKM.

Tinggalkan Balasan