Sikap Mental Wirausaha

Pendahuluan

Menjadi seorang wirausahawan memang tidak mudah, tidak semudah yang kita bayangkan tetapi juga bukan berarti tidak bisa dilakukan. Wirausahawan sukses membutuhkan persiapan, memerlukan sikap-sikap positif, mental tarung dan perilaku sukses serta pengetahuan yang luas tentang apa yang akan dijalankan, membutuhkan keahlian (skill) secara umum dan teknis untuk mengelola seluruh sumber daya yang digunakan dalam menghasilkan output.

Karakteristik wirausaha yang ideal adalah antara lain:

Adanya kemauan dan rasa percaya diri (willingness and self-confidence).

Modal utama dan paling penting dalam memulai berwirausaha adalah adanya niat dan kemauan. Segala perbuatan yang  tidak di mulai dengan niat yang baik dan nawaitu yang lurus seringkali tindakan-tindakan yang lakukan kurang serius dan tidak fokus pada arah tujuan atau bahkan karena tanpa ada niat tujuan pun tidak ada. Niat itu menjadi alasan pertama mengapa seseorang memilih atau tidak memilih untuk melakukan satu pekerjaan atau kegiatan tertentu. Impian yang dimiliki oleh setiap orang merupakan manifestasi dari sebuah keinginan kuat yang datangnya secara tulus dari diri seseorang yang kemudian lahir dari hatinya untuk melakukan sesuatu (take action) agar impiannya tercapai. Mungkin saja bahwa niat itu muncul karena dipicu dengan melihat pengalaman-pengalaman sukses orang lain atau peristiwa-peristiwa yang di alami dalam hidupnya dan itu hanya sebagai pencetus saja. Maka milikilah niat dan keyakinan. Seorang wirausahawan harus mempunyai keyakinan dan percaya bahwa dengan tekad dan kemauan yang tinggi akan mampu mengatasi semua permasalahan dilapangan. Dalam menyelesaikan persoalan wirausahawan tidak boleh begitu saja mau menerima sesuatu dalam kondisi apa adanya atau dalam keadaan yang tidak tuntas. Wirausahawan harus merasa yakin bahwa segala persoalan mampu diselesaikan dengan baik, tuntas dan sesuai rencana dengan dorongan hati nurani bahkan dengan cara-cara yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Terkadang dalam keadaan yang sulit, seorang wirausahawan menemukan inovasi-inovasi yang bisa menjadi solusi unik untuk memecahkan permasalahan.

Keberanian Mengambil Resiko (risk taking). Kegagalan produk, kegiatan produksi yang berjalan lambat dan tidak sesuai rencana, pemasaran yang tidak berhasil, cash flow usaha yang tidak sehat, karyawan yang mau mengundurkan diri di saat usaha sedang turun, bahan baku yang langka, dan lain-lain adalah contoh-contoh kondisi nyata dalam usaha dan ini sering terjadi, apalagi pada usaha yang baru di bangun dan belum berjalan dengan stabil, kecendrungan menuju gagal lebih besar daripada tumbuh dan berkembang maju. Wirausahawan harus melihat kondisi seperti ini sebagai lapangan tempat mendapatkan pelajaran dan pengalaman dengan berani dan yakin bahwa dalam kondisi sesulit apapun solusi pasti ditemukan.

Seorang wirausahawan ketika mengerjakan sesuatu haruslah berorientasi kepada hasil yang ingin di capai atau harus berbasiskan pada prestasi bukan sekedar bekerja secara rutin dan asal-asalan. Keberhasilan dalam mencapai suatu hasil merupakan kepuasan batin yang tidak dapat di nilai dengan materi dan itulah di anggap sebagai kesuksesan bagi seorang wirausahawan meskipun materi itu juga penting sebagai ukuran keberhasilan suatu usaha, misalnya asetnya mengalami peningkatan, dll.

Selain harus berani berhasil, seorang wirausahawan juga harus berani gagal, siap menghadapi kondisi terburuk sekalipun, hadapi kegagalan dan memetik hikmahnya. Mungkin saja kegagalan itu datang untuk menasehati kita, memuliakan hati kita, membersihkan pikiran negatif kita bahkan sebagai obat untuk menyingkirkan keangkuhan kita barangkali atau bahkan bisa menjadi sebab sehingga wawasan kita semakin bertambah serta semakin dekat kepada Allah SWT. Ketika cara berpikir seorang wirausahawan semakin positif dan berprasangka baik maka kalimat yang menyatakan “kegagalan merupakan kesuksesan yang tertunda” itu kita sepakati dan yakin bahwa benar adanya.

Fokus pada sasaran dan tujuan (Goal Setting and Destination)Sasaran dan tujuan merupakan dua hal yang seiring sejalan dalam satu tindakan, seorang wirausahawan melakukan akvitas usahanya harulah berdasarkan pada sasaran yang ingin dicapai sehingga tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang akan tercapai pada waktu yang telah di targetkan. Kebanyakan wirausaha mengalami kegagalan pada awal-awal pendirian usaha (permulaan) adalah karena mereka tidak mempunyai tujuan yang jelas bahkan ada yang tidak memilki tujuan sama sekali alias ikut-ikutan. Sebuah usaha yang di bentuk oleh orang yang tidak mempunyai visi yang jauh kedepan dan tidak disertai dengan tujuan yang ingin di raih maka usaha tersebut tidak memiliki kekuatan secara ideologis, tidak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan pemiliknya sehingga wirausaha itu tidak memiliki peta perjalanan usahanya kedepan.

Secara bisnis, tujuan pendirian usaha adalah untuk mendapatkan keuntungan (profit), dengan sejumlah modal yang dikeluarkan dimuka dan mengelolanya dengan proses produksi dengan harapan mendapatkan sejumlah kelebihan atas modal tersebut. Namun begitu, ada tujuan lain yang menjadi target atau sasaran seorang wirausaha, bisa saja yang ingin dicapai dalam usahanya adalah kepuasan batin, pengakuan orang lain terhadap dirinya atau ingin menciptakan lapangan kerja bagi orang lain sehingga dia merasa bahagia.

Para pakar menyatakan bahwa kebahagiaan merupakan dan didorong oleh arti dan makna sebuah hasil yang dapat dicapai oleh seseorang dan bukan pada target sasaran yang harus dicapai. Pernyataan ini indentik dengan kebahagiaan yang ingin dicapai oleh wirausaha yang mempunyai keinginan untuk mendapatkan kepuasan batin dan kepuasan non materi.

Apapun tujuan dan sasaran yang ingin diraih oleh seorang wirausahawan, hal yang terpenting yang harus diperhatikan adalah bagaimana menerapkan prinsip-prinsip bisnis dalam usahanya. Apa itu prinsip bisnis? Bahwa setiap menghasilkan sesuatu mesti dari sesuatu, maknanya adalah wirausaha harus mampu mengembalikan sejumlah modal investasi yang telah dikeluarkannya pada awal memulai usaha. Pada tahap pertama seorang wirausahawan harus mampu membuat usahanya terus berjalan, berproduksi dan bertahan hidup di tengah-tengah para pesaing, dalam kondisi produknya belum begitu dikenal oleh masyarakat, pada tingkat penjualan yang masih rendah, terlebih dengan biaya produksi dan pemasaran begitu deras mengalir keluar.

Setiap wirausaha harus menyadari bahwa tidak selamanya kondisi dilapangan seperti yang disampaikan dalam perencanaan. Hal ini disebabkan antara lain oleh faktor eksternal dan keterbatasan kondisi internal. Diantara keterbatasan tersebut bisa berbentuk kurangnya informasi yang diperlukan ketika proses perencanaan usaha berlangsung atau bisa saja keterbatasan itu dalam bidang kekurangan modal kerja, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang tidak mendukung keberhasilan sebuah usaha. Namun sekali layar terkembang surut kita berpantang, itulah prinsip yang harus dipegang oleh seorang wirausahawan.

Pemberani dan pekerja keras (hard worker and intrepid). Dalam dunia usaha dan kewirausahaan modal itu diartikan dalam artian yang luas dan meliputi berbagai aspek, artinya bukan hanya uang saja yang dianggap satu-satunya sebagai modal usaha. Namun, hal-hal yang non fisik pun bisa menjadi modal, seperti waktu, pendidikan, pengalaman kerja, peluang pasar bahkan di dunia modern sekarang ini, informasi pun bahkan menjadi modal yang sangat penting dalam mejalankan suatu usaha.Berkaitan dengan waktu, terdapat dua hal penting, yakni (1) kesempatan dan (2) efesiensi. Kejelian dan kecekatan dalam melihat kesempatan dan menggunakan moment yang tepat sangat menentukan keberhasilan. Bekerja semakin efesien  jika dalam satuan waktu atau tenaga atau biaya yang digunakan mampu meghasilkan output lebih banyak, dengan kata lain tingkat produtivitasnya meningkat.

Maka untuk mencapai pertumbuhan produksi dan produktivitas, seorang wirausahawan harus mampu melihat berbagai kekuatan yang dimilikinya dan memadukannya dengan konsep kerja keras (effort). Mewajibkan diri sendiri dan karyawannya untuk memiliki etos kerja yang baik, tidak malas dan lambat bergerak, memiliki inisiatif meningkatkan prestasi serta mempunyai rasa kepemilikan yang tinggi terhadap usaha yang sedang dikelolanya. Ethos = Sikap dasar, ciri-ciri dan pandangan penilaian seseorang atau sekelompok orang, terhadap suatu kegiatan tertentu. Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda “Tidaklah seorang di antara kamu makan suatu makanan lebih baik daripada memakan dari hasil keringatnya sendiri.” (HR Baihaqi).

Kita sering memperhatikan beberapa orang bisa dan mampu bekerja lebih keras dari seorang wirausahawan, demikian juga seorang pimpinan eksekutif pada sebuah perusahaan dapat bekerja lebih keras dari target, beban kerja dan waktu yang telah ditentukan. Namun, seorang wirausahawan harus mampu bekerja lebih daripada itu, bekerja sepanjang waktu tanpa batasan tanpa kenal lelah dimanapun tempatnya berada.

Seorang wirausaha bekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya termotivasi oleh prestasi yang diharapkan, tergerak oleh rasa ingin puas dan menciptakan kebahagiaan bagi dirinya, karyawannya, keluarganya dan masyarakat umum yang dilayaninya. Maka, dimensi ruang, tempat dan waktu tidak lagi menjadi alasan baginya untuk membatasi kerja kerasnya. Etos kerja yang baik akan membentuk cara berpikir yang berbeda dan orientasinya menuju kepada pencapaian hasil kerja dan karya bukan lagi hanya sekedar bekerja untuk mendapatkan sejumlah uang atau pendapatan layaknya seorang gajian.

Meskipun bekerja keras, bahkan lebih keras dari orang lain pada umumnya itu penting. Akan tetapi jauh lebih penting, seorang wirausahawan harus mampu mengkombinasikan cara kerja keras dengan cara kerja cerdas sehingga menghasilkan satu kolaborasi strategi yang unggul untuk mencapai tujuan. Otot dan otak adalah dua hal yang berbeda namun jika disatukan akan menjadi satu kekuatan yang luar biasa. Otot membutuhkan asupan makanan yang penuh protein dan nutrisi yang baik dan cukup agar kemampuan geraknya semakin kuat dan cekatan sedangkan otak bukan hanya membutuhkan makanan-makanan fisik yang berprotein tinggi dengan berbagai macam variasi nutrisi yang diperlukan, otak juga membutuh asupan gizi nonfisik. Otak membutuhkan pengetahuan dan ilmu pengetahuan agar kemampuan berfikirnya menjadi lebih baik, agar otak mampu bekerja secara optimal untuk menggunakan akal dalam menciptakan ide-ide dan gagasan baru dalam menyelesaikan segala persoalan dalam mengelola sebuah usaha.

Selain seorang wirausahawan harus terus menerus untuk belajar dan belajar, mempunyai pengalaman pada bidang yang sama sebelumnya juga merupakan satu keunggulan untuk mendorong upaya kerja keras dan kerja cerdas semakin melaju cepat. Ada hal-hal yang sebelumnya sudah diketahui dan dipelajari lalu kemudian pada saat ini dihadapkan lagi pada kasus yang sama, maka seorang wirausahawan yang sudah berpengalaman hanya membutuhkan waktu yang singkat saja untuk membuat keputusan. Berbeda dengan wirausaha pemula yang hanya mengandalkan pengetahuan semata tanpa mempunyai sedikitpun pengalaman maka membutuhkan waktu yang lama dalam memutuskan sesuatu diantara banyak pilihan yang dihadapkan padanya. Jikapun dia mampu membuat keputusan yang sangat cepat namun menurut saya kualitas keputusannya berbeda dengan wirausaha yang telah berpengalaman. Lalu kalau begitu, apakah untuk menjadi wirausaha harus mempunyai pengalaman terlebih dahulu? Jawabannya bisa bermacam-macam dan bervariasi tergantung yang menjawabnya. Namun menurut saya, apakah kalau orang lain pernah mengalami kegagalan lalu kita mesti gagal dulu seperti orang tersebut?

Kerja lebih itu

Tiba dan memulai kerja lebih awal

Kerja lebih bersemangat dan bergairah

Kerja lebih cermat, tertib, dan lancer

Kerja lebih cekatan dan cepat selesai

Waktu kerja lebih lama

Pulang paling akhir

Kerja lebih ikhlas

Hasil kerja lebih baik

Berani Mengambil Resiko (risk taking).

Berani hidup maka kita juga harus berani mati, berani bahagia juga harus berani menderita. Mungkin itulah satu kalimat yang dapat mewakili judul point yang ingin dibahas. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang tidak memiliki risiko. Risiko itu merupakan suatu dampak yang ditimbulkan oleh karena sesuatu atau dengan singkat kata risiko itu adalah akibat yang ditimbulkan dan biasanya negatif, sehingga banyak orang tidak bersedia menerima risiko tersebut karena sifatnya merugikan. Padahal resiko itu bergerak secara paralel dengan keuntungan, semakin tinggi resiko semakin tinggi pula potensi keuntungan yang mungkin diraih. Sebagai contoh; menjual shabu-shabu mempunyai risiko tinggi, ganjarannya adalah hukuman penjara seumur hidup bahkan hukuman gantung kalau dibeberapa negara lain. Namun, keuntungan yang bakal di dapat juga sangat tinggi. Kalau di Aceh, menjual ganja pasti berhadapan dengan aparat penegak hukum tetapi jika berhasil maka keuntungan yang di raih juga besar. Tapi itu dalam konteks negatif dan yang kita harapkan adalah wirausaha yang melakukan usaha dan bisnis yang sehat, halal juga baik, memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya maupun orang lain.

Risiko yang memungkinkan terjadi dalam wirausaha adalah mengalami kerugian atau gagal, selebih daripada itu tidak ada, belum pernah ada berita di media massa bahwa ada orang yang ditangkap polisi atau dipenjarakan gara-gara gagal bisnisnya, juga belum pernah ada juga orang di usir dari kampungnya karena produk yang dibuatnya tidak laku di jual dipasar. Bahkan menurut saya, berjalan dijalan raya baik berjalan kaki maupun menggunakan kenderaan bermotor memiliki risiko yang sangat tinggi, bisa saja terjadi ketabrakan atau kecelakaan dengan berbagai macam cara dan dengan alasan yang tidak kita mengerti serta terjadi secara tiba-tiba dan diluar dugaan kita. Bukankah angka kematian di jalan raya setiap tahun semakin bertambah? Maka bandingkan dengan risiko yang kita alami dalam berwirausaha, paling tinggi adalah kita kehilangan sejumlah uang atau aset karena bisnis kita tidak berjalan, tidak sampai kehilangan nyawakan? Bagi seorang wirausaha pembelajar, kegagalan itu merupakan guru yang sangat berjasa bagi dirinya, dia belajar dari kesalahan tersebut, berusaha memperbaiki kekurangan pada episode sebelumnya dan dia akan bangkit membuat lompatan melintas tinggi dari batas kegagalan pada masa pertama, tidak merisaukan sedikitpun uang yang hilang karena dengan masih memiliki nyawa dan semangat untuk bangkit maka uang itu akan sangat mudah di dapatkan kembali.

Perlu di catat bahwa setiap usaha baik baru maupun usaha yang telah lama berjalan akan selalu berhadapan dengan risiko. Setiap saat risiko bisa datang bahkan secara tiba-tiba dan tidak diketahui secara pasti. Tidak ada seorangpun mampu menolak risiko kecuali memang dia tidak melakukan apapun alias diam saja itupun mempunyai risiko juga, yang paling mungkin adalah bagaimana risiko itu dikelola dan di antisipasi sehingga dampaknya tidak terlalu besar kerugiannya. Dalam kaitan inilah seorang wirausaha harus memiliki sikap berani mengambil risiko, maksudnya segala tindakan akan atau tidak akan di ambilnya telah diperhitungkan dan di pertimbangkan secara matang dan benar-benar dampaknya. Dengan demikian apapun yang terjadi dalam usaha kita masih dalam keadaan terkendali dan dibawah pengawasan kita. Namun secara logika tidak mungkin seseorang dengan secara sadar “menjerumuskan” dirinya kedalam risiko kehilangan modal dan sumber-sumber daya lainnya.

Karakter berani yang dimiliki oleh seorang wirausaha adalah berani karena sikap mawas diri bukan berani membabi buta tanpa perhitungan. Dalam mengelola sebuah usaha sudah bisa dipastikan bahwa setiap saat kita selalu dihadapkan pada berbagai pilihan dan diantara banyak pilihan tersebut kita diharuskan untuk memilih beberapa hal yang menjadi prioritas untuk kepentingan operasionalisasi usaha kita. Nah, disinilah peran kepemimpinan seorang wirausaha dibutuhkan, kita diharuskan untuk membuat satu keputusan karena tidak mungkin semua pilihan yang ada (sekerangjang pilihan) dapat kita jalankan semuanya atau mempunyai tingkat kepentingan yang sama pada saat ini sehingga seorang manajer perlu memutuskan. Lagi-lagi seorang wirausaha harus berani membuat keputusan dan dengan berani juga menanggung risiko atas keputusan yang telah dibuat.

Menghadapi risiko, adalah gabungan kerja keras, kecerdikan, kehati-hatian, kecermatan membaca peluang dan kesiapan menghadapi kegagalan maupun keberhasilan. Happy ending sebuah ikhtiar adalah keberhasilan. Ini dicapai, tentu setelah melewati keberhasilan demi keberhasilan kecil, seperti keberhasilan menyingkirkan kesulitan, kendala dan bahaya. Proses ini dibangun dari kesungguhan melahirkan segenap potensi diri seorang wirausaha. Dengan demikian seorang entrepreneur mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan, kekalahan menjadi kemenangan. Jika anda tidak siap untuk gagal maka lebih baik jangan masuk ke dunia ini bahkan bermimpi pun jangan! Karena itu Lee Kuan Yew mengatakan “kita perlu menggalakan orang untuk berani mengambil risiko. Hal ini membutuhkan pola pikir yang sangat berbeda. Untuk kita, itu berarti mengabaikan peraturan yang telah berlaku selama 30 tahun lebih.”

Selanjutnya baca: Hamdani (2013). Be Entrepreneur.

The following two tabs change content below.

Hamdani

Praktisi Bisnis. Konsultan Profesional Bidang Keuangan dan UKM.

Tinggalkan Balasan