Membaca Pemikiran Herman Kertajaya Tentang Marketing 4.0

Pilkada DKI Jakarta benar-benar merupakan ajang ‘pertempuran’ political brand gaya baru. Ada beberapa hoaks dan Fake News dihalakan oleh tim pemenang pasangan calon? Ternyata “Tech is not only for Good”, tapi ada juga yang “Tech for Bad.”

Dan mereka yang terlibat di sini, disebut sebagai Cyber Army! Army memang perang, karena itu boleh menghalalkan semua cara. walaupun perang juga ada etikanya, tapi biasanya sangat mudah dilanggar dan sulit dibuktikan.

Sebab itu sebuah korporasi tidak boleh sekali-sekali meniru orang politik yang menggunakan Cyber Army. Political Marketing dilakukan untuk mencapai tujuan jangka pendek, yaitu memenangkan sebuah Pilkada atau Pemilu.

Tetapi korporasi harus mencapai tujuan jangka panjang, yang tidak boleh tercederai oleh tujuan jangka pendek. Karenanya, korporasi perlu upaya  seorang Content Creator yang harus bisa menimbulkan dampak positif jangka panjang.

Pada model Marketing 4.0, Content Marketing diperlukan untuk meningkatkan Curiosity dari Appeal (A2) ke Ask (A3). Peranannya sangat strategis karena Content Creation yang salah akan “menghambat” Path menuju fase yang sangat strategis.

Ask ini sebenarnya jadi pembeda dari traditional marketing, di mana target audience hanya diminta menerima dan di-persuade untuk menyetujui pesan dari marketer. Pada digital marketing, justru inilah tahapan yang penting karena lanskapnya sudah jadi horizontal, inklusif, dan sosial. Bukan vertikal, eksklusif dan individual.

Tahapan “kritis” berikutnya ada pada Affinity yang akan mendorong customer melakukan Advocacy. Ada empat situasi yang mungkin terjadi. Pertama, orang puas dan melakukan komplimen. Kedua, orang puas dan diam saja. Ketiga, orang tidak puas dan tidak complain.

Untuk situasi pertama, haruslah ada amplification supaya orang yang bersangkutan mau memberikan komplimen ke publik. Kalau dibiarkan organik maka orang Indonesia cenderung diam. Sedangkan orang yang tidak puas dan diam saja justru orang paling berbahaya, karena dia langsung pindah ke pesaing.

Orang yang tidak puas kalau diberi akses untuk complain ke marketer dan ditangani dengan baik dan fair, maka makin memuji pemasarnya. Di marketing 4.0 dipercayai bahwa Advocacy (A5) adalah ultimate phase yang akan paling menentukan customer engagement.

Content is the King

Bukan hanya frekuensi dan media yang digunakan. Inti dari Content Creation yang pas adalah pengetahuan marketer terhadap anxiety and desire dari audiens yang dituju.

Kenapa film Warkop DKI Reborn, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2), dan My stupid Boss bisa sukses besar pada tahun 2016 di Indonesia? Menurut Herman Kertajaya adalah orang Indonesia memang suka “Laugh and Love’. Tidak terlalu mikirin ekonomi yang lagi sulit tahun lalu. Yang penting bisa ketawa ketiwi dan baper.

Lantas kenapa Cek Toko Sebelah yang dimulai pada akhir tahun lalu jadi film paling sukses sampai sekarang ini? Ternyata pluralisme yang berdasarkan Bhinneka Tunggal Ika adalah desire orang Indonesia ketika ada gejala devided.

Dan kenapa pula film Surga yang Tidak Dirindukan 2 cukup sukses dan banyak komunitas berhijab melakukan nonton bareng (nobar)? Mungkin saja isu poligami adalah anxiety di audiens itu. Jadi, apa pun konten yang akan dibuat haruslah menjawab anxiety dan desire audiens.

Walaupun sangat sulit menemukan hal tersebut karena audiens biasanya tidak mau menampakkan secara jelas. Bisa karena malu, jaga gengsi, tidak terbuka dan sebagainya.

Makanya tugas seorang Content Creator adalah “unlocking the heart”! Biasanya selalu beyond the mind karena sering tidak masuk akal sehat. Aneh tapi nyata, Disney dulu hanya bermain dengan Mickey Mouse untuk audiens anak-anak. Sekarang, mereka bisa memainkan Star Wars Series untuk orang dewasa.

Percayalah bahwa digital marketing tidak akan mengganti traditional marketing, tapi keduanya harus diintegrasikan. Traditional marketing tetap merupakan dasar dari digital marketing, karena yang namanya digital marketing, ya marketing! Tapi, digital marketing makin menjadi platform dari suatu proses terpadu digital dan traditional.

Kombinasi keduanya merupakan suatu keniscayaan, karena itu budget yang sama besarnya haruslah bisa dialokasikan secara tepat. Digital marketing, terutama mobile marketing bisa jadi sangat powerful karena bisa sangat bersifat H2H atau Human to Human.

Smart phone sudah menjadi bagian dari seorang manusia sendiri yang merupakan indera keenam atau “the sixth sense.” Sekarang semua orang bisa mengandalkan smart phone dengan berbagai apps-nya untuk melakukan “sensing” pada lanskapnya. Dengan demikian responding bisa dilakukan secepat mungkin, walupun belum tentu benar.

Situasinya jadi paradoks. Semua orang memerlukan “the sixth sense” ini supaya tidak kalah bersaing dengan orang lain. Perlu diperhatikan juga berbeda platform yang digunakan akan berbeda juga cara pendekatannya. Sebagai contoh penggunaan media sosial yang berbeda satu sama lain.

Dan ketika semua orang menggunakannya, maka dengan mudah semua digital behavior datanya terekam. Justru dengan melakukan Big Data Analisys itulah maka orang tersebut akan dengan mudah terbaca anxiety dan desire-nya.

Lantas apa kesimpulannya? Pertama, korporasi hanya boleh menggunakan Tech for Good! Kedua, content cration secara benar merupakan kunci kemenangan dalam marketing 4.0. Ketiga, konten yang bisa menjawab Anxiety and Desire audiensnya sangatlah penting di samping frekuensi dan jenis media. Keempat, smartphone sudah merupakan ‘the sixth sense” bagi semua orang karena merupakan media yang sangat personal.

Demikianalah yang mampu saya baca dari catatan Herman Kertajaya (HK), menulis kembali pemikiran (HK) karena saya rasa masih sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Dengan cara ini barangkali bisa tersebar buat banyak orang.

Salam.[]

Pisang Sale Khas Aceh Besar

 

Aceh sebagai salah satu daerah tropis, mampu menghasilkan begitu banyak buah pisang. Tanaman pisang yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia tersebut sangat mudah hidup dan tumbuh di lahan-lahan perkebunan warga.

Sebagai tanaman tropis, pohon pisang tidak membutuhkan banyak air dalam proses penanamannya. Sehingga berkebun pisang dapat dilakukan oleh siapa saja, yang penting memiliki lahan yang cocok dan tidak mudah diserang hewan buas.

Dalam kehidupan masyarakat Aceh pohon pisang dikenal sebagai tumbuhan multimanfaat. Bagaimana tidak? Mulai dari ujung daun sampai akar batang pisang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Oleh sebab tidak heran jika setiap rumah di desa-desa di Aceh selalu ada pohon pisang walaupun hanya beberapa batang. Ini mengisyaratkan bahwa antara masyarakat Aceh dan pohon pisang memilki satu ikatan dalam kehidupan.

Selain berguna dari batangnya, daun, pelepah, pohon pisang juga menghasilkan buah yang sangat enak, manis dan lembut. Apalagi jika dikonsumsi saat buah sudah matang.

Dari sisi kesehatan, buah pisang mengandung banyak vitamin yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Dapat membuat pencernaan jadi lebih sehat dan menyegarkan badan. Bahkan pisang ini sangat direkomendasikan sebagai makanan pendamping bagi balita.

Produk Pisang Sale

Tidak salah jika orang mengatakan buah pisang sebagai buah ajaib. Maksudnya buah tersebut memiliki banyak khasiat juga, mudah ditanami juga, dan yang lebih hebatnya, pisang dapat diolah menjadi berbagai produk lain yang lebih bernilai.

Salah satu olahan pisang yang akrab dengan masyarakat Aceh adalah pisang sale atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan (pisang asap).

Seperti yang dilakukan oleh seorang gadis Aceh lulusan sebuah perguruan tinggi swasta di Banda Aceh yang kini menekuni usaha pembuatan pisang sale. Bersama dengan orang tuanya, Anggun Kasturi (22) menciptakan sebuah produk khas yang terbuat dari pisang.

Jenis pisang yang digunakan dalam produksi pisang sale sangat mempengaruhi kualitas, baik dari segi cita rasa maupun warna dan daya tahan penyimpanan.

Anggun Kasturi (22) sedang menjelaskan proses produksi pisang sale nya ke konsumen yang berkunjung langsung ke rumah produksi (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Berdasarkan pengalamannya, pisang wak (saya tidak tahu sebutan dalam bahasa Indonesia) memiliki keunggulan tersendiri dari jenis pisang lain sebagai bahan baku pisang sale.

Dengan rasanya yang manis, pisang wak sangat digemari oleh konsumen. Sehingga setiap bulannya, produksi pisang sale milik Anggun selalu meningkat. Bahkan untuk permintaan di pasar Banda Aceh saja saat ini sudah mencapai 500 kg per bulan.

Belum lagi permintaan konsumen luar kota bahkan sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Jakarta yang dikirim setiap minggu.

Meluasnya penjualan dan area pemasaran pisang sale tidak terlepas dari bantuan teknologi informasi yang dikerap digunakan oleh Anggun. Dengan ketrampilan yang diperoleh di bangku kuliah, telah menolong ia dalam mengembangkan usaha pisang sale nya tersebut.

Memanfaatkan kehebatan sosial media dalam melakukan promosi adalah salah satu strategi pemasaran yang dilakukan oleh  dara manis asal Aceh Besar ini. Dan kini telah terbukti upaya yang selama ini dilakukan telah memberikan hasil maksimal.

Lezatnya Roti Sele Samahani Aceh

Jangan pernah mengatakan sudah menjelajahi Aceh jika Anda belum menginjakkan kaki di sebuah kota kecil yang tidak jauh dari Kota Banda Aceh dan mencicipi jajanan khas penuh sensasi.

Ya! Tepatnya pasar Kecamatan Kuta Malaka  Kabupaten Aceh Besar yang terletak dilintas jalan Banda Aceh-Medan KM 18 Samahani. Jajanan khas berupa roti tawar yang diberikan selai (baca: sele) didalamnya dengan cita rasa manis dan beraroma gandum.

Roti sele secara umum memang tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh. Makanan ini sudah dikenal oleh semua orang. Biasanya roti sele sering dijual si warung-warung kopi sebagai cemilan pendamping minuman kopi, beberapa orang menjadikannya sebagai jajanan hari-hari.

Menikmati roti sele sambil meneguk kopi Aceh memberikan pengalaman rasa tersendiri, apalagi jika dikonsumsi pada sore hari. Maka tidak heran jika hampir semua warung kopi yang ada di Banda Aceh selalu menyediakan roti sele bagi pelanggan mereka.

Roti sele Samahani pada awalnya adalah jajanan warung kopi lokal yang hanya dinikmati oleh masyarakat setempat saja. Penjualannya pun terbatas di Samahani dan saat itu masyarakat didaerah lain belum tahu tentang roti sele Samahani tersebut.

Menurut cerita dari salah seorang penjual roti sele Samahani yang kini eksis di bisnis ini mengatakan bahwa jajanan roti sele yang ia jual merupakan resep turun temurun dan hasil kreasi masyarakat setempat. Ia tidak menyangka jika produk roti sele ini bisa seterkenal sekarang ini.

Memang setiap daerah di Aceh memiliki cerita masing-masing soal roti sele. Tetapi roti sele yang satu ini memang beda, fenomenal dan penuh sensasi rasa. Di Pidie juga banyak penghasil roti namun roti sele Samahani sangat khas.

Kalau dilihat dari bahan roti yang digunakan, tidak ada bedanya dengan roti daerah lain. Teksturnya pun bisa dikatakan sama. Tetapi ada satu yang tidak terdapat pada roti dari daerah lain, yaitu sele dan cita rasanya yang unik.

Tampak seorang pekerja bagian pelayanan penjualan sedang mengolesi sele pada roti yang telah dibelah menggunakan sendok khusus. (foto: koleksi pribadi)
Tampak seorang pekerja bagian pelayanan penjualan sedang mengolesi sele pada roti yang telah dibelah menggunakan sendok khusus. (foto: koleksi pribadi)

Untuk menghasilkan sele yang lezat dan memiliki cita rasa khas, proses pembuatannya dilakukan dengan menggunakan beberapa bahan, seperti telur ayam, gula pasir dll.

Kebanyakan bahan adonan sele roti Samahani menggunakan telur ayam ras, padahal jika memakai telur ayam kampung atau telur bebek, cita rasa sele yang dihasilkan lebih lezat lagi. Namun harga produksi sedikit lebih mahal karena harga jual telur ayam kampung lebih tinggi daripada telur ayam ras.

Menurut penjual roti sele Samahani yamg yang sudah lama menggeluti usaha ini. Sejak ia meneruskan bisnis tersebut dari orang tuanya. Dibandingkan dulu, saat ini roti sele Samahani sudah terkenal luas. Bahkan sampai ke Malaysia.

Penyanyi rock legendaris Indonesia Ahmad Albar pun pernah singgah di warungnya dan menikmati lezatnya roti sele Samahani. Kini jajanan tersebut bukan lagi hanya sekedar pelengkap minum kopi saja tetapi telah menjadi oleh-oleh yang selalu dibawa pulang oleh setiap masyarakat yang bepergian ke Banda Aceh atau berangkat ke Medan.

Saat pertama kali terjun ke usaha jualan roti sele Samahani, setiap harinya hanya dapat terjual tidak lebih dari 100 unit roti dengan harga jual Rp3.000-Rp3.500. Dan para penjual pun tidak banyak, hanya beberapa orang saja.

Meskipun sekarang ini juga para penjual tidak terlalu ramai, di pasar Samahani sendiri hanya berkisar lima penjual. Namun harga jual roti per buah telah meningkat menjadi Rp7.000-Rp7.500 per unit. Menurut pendapat beberapa konsumen harga jual tersebut tidak mahal atau wajar.

Dengan besaran harga sebesar itu, penjualan roti setiap harinya mencapai 600-700 buah per hari. Rata-rata pembelinya adalah warga Aceh yang melintasi jalan Banda Aceh -Medan. Bahkan penjualan roti selama lebaran meningkat hingga 200 persen.

Kelebihan lain dari sele roti Samahani adalah daya tahannya bisa sampai tiga hari. Apalagi kalau disimpan ditempat sejuk bisa lebih awet dan tidak basi ataupun terjadi perubahan rasa. Dengan dibungkus menggunakan kertas khusus membuat kualitas roti sele Samahani ini tetap terjaga.

Roti sele Samahani telah dibungkus dengan kertas pembungkus khusus. (koleksi pribadi)
Roti sele Samahani telah dibungkus dengan kertas pembungkus khusus. (koleksi pribadi)

Hmmm…. Nyummmi, itulah sedikit ulasan tentang jajan khas dari Samahani Aceh Besar semoga semakin menambah wawasan kita terhadap kuliner nusantara. Tentunya jika Anda berkunjung ke Aceh jangan lupa singgah di outlet penjualan roti sele Samahani.

Salam.[]

Penulis telah tayangkan tulisan ini juga di https://www.kompasiana.com/cangkoiburong/5b33a477dd0fa83cdd7c7ee2/satu-lagi-lezatnya-roti-selai-samahani-sangat-digemari-warga-aceh

Catat Ragam Even Wisata Aceh 2018

Aceh memang fenomenal, menjadi buah bibir masyarakat dunia. Bukan hanya karena Aceh sulit ditaklukkan oleh Belanda saat masa penjajahan dulu lalu menjadi sejarah cikal bakal kemerdekaan negeri Indonesia tercinta.

Namun masyarakat dunia juga sering membicarakan Aceh karena budaya Islamnya yang sangat kental ditengah-tengah masyarakat, sehingga saat ini di Aceh diberlakukan syariat Islam sebagai bagian dari hukum positif yang berlaku dalam wilayah hukum Aceh.

Tidak sampai disitu, Aceh juga sering dibicarakan ditingkat Internasional karena memiliki sumber minyak dan gas yang cukup besar sebagai kekayaan alam Aceh namun masyarakatnya justru miskin.

Belum lagi Aceh sangat terkenal dengan daun ganja yang sangat berkualitas dan disukai masyarakat dunia yang senang menghisap ganja.

Dan terakhir Aceh menjadi pusat perhatian masyarakat diberbagai belahan dunia ketika Aceh luluh lantak ketika dihantam banjir besar tsunami pada tahun 2004 yang menelan korban ratusan ribu jiwa dan memporak-poranda Kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Itu semua merupakan bagian dari bahan pembicaraan masyarakat Internasional terhadap Aceh. Fenomenal, unik dan itulah fakta sejarahnya.

Karena begitu uniknya Aceh, telah membuat begitu banyak orang ingin mengetahui dan mengenal Aceh secara lebih dekat. Kedatangan wisatawan dari manca negara untuk melihat mesjid Raya Baiturrahman, melihat tempat-tempat bersejarah dan menikmati panorama alam yang sangat indah dan sejuk.

Menurut sebuah data menunjukkan jumlah kunjugan wisatawan baik wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara terus terjadi peningkatan. Pada tahun 2017 lalu jumlah wisatawan mencapai 2.944.169 orang, jumlah ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang berjumlah 2.154.249 orang.

Fakta ini telah membuat rasa optimisme Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan Wakilnya Nova Iriansyah untuk meningkatkan lagi jumlah kunjungan wisnus dan wisman ke Aceh dengan membuat berbagai program dan terobosan dalam dunia keparawisataan.

Bukan hanya membenahi infrastruktur dan sistim pelayanan perjalanan wisata yang dipermudah dan accessable, namun masyarakat Aceh juga diajak untuk siap menyambut tamu yang datang dengan sifat terbuka dan ramah.

Melihat berbagai potensi Aceh yang sangat menarik untuk ditawarkan kepada wisatawan, Gubernur Aceh mencanangkan program khusus wisata Aceh yang mengusung tema “Aceh Hebat melalui Ragam Pesona Wisata.” program ini diharapkan dapat menjadi magnet bagi tamu luar Aceh untuk menjadikan Aceh sebagai salah satu destinasi wisata pilihan.

Apalagi Aceh baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pariwisata dengan anugerah Destinasi Wisata Halal Dunia, maka semakin memberikan keyakinan bagi Aceh untuk terus memperkuat branding dan positioning industri parawisata Aceh dalam kancah persaingan lokal maupun global.

Untuk mewujudkan impian Aceh menjadi daerah yang menarik, aman dan nyaman dikunjungi, kini Aceh menyusun berbagai rencana aksi even wisata berkelas Internasional dengan beragam kegiatan yang menonjolkan daya tarik wisata alam bagi para wisatawan yang akan mengunjungi Aceh.

Beberapa even besar yang masuk kategori Atraksi Top Aceh 2018, diantaranya Sabang Marine Festival, Aceh Internasional Marathon, Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII, Gayo Alas Montain Internasional Festival, Tour de Leuser, Aceh Internasional Freediving, Aceh Surfing Championship dan dua even menarik lainnya bidang kuliner yaitu Aceh Culinary Festival dan Internasional Rapa’i Festival.

Even Aceh Internasional Marathon 2018, Aceh Surfing Championshipdan Aceh Internasional Freediving adalah kegiatan berkonsep wisata bidang olah raga, target pesertanya adalah atlet berbagai negara.

Aceh Internasional Marathon sendiri akan digelar pada tanggal 29 Juli 2018 di Sabang dengan target peserta sebanyak 5.000 orang. Pemilihan Sabang sebagai tempat pelaksanaan mengingat Sabang selama ini telah menjadi destinasi wisata internasional dan tidak asing lagi bagi masyarakat dunia.

Berbagai even ini digelar bukan hanya menjadi ajang serimonial belaka, namun ini bagian dari strategi memperkenal Aceh ke dunia luar, apalagi selama ini Aceh sering dianggap sebagai daerah yang tidak aman, konflik dan beresiko tinggi.

Pemerintah Aceh sangat menginginkan setiap wisatawan yang akan berkunjung maupun yang sudah berkunjung ke Aceh bisa mengenang berbagai pengalaman yang berkesan selama berwisata di tanah rencong ini.

Tidak perlu kuatir, Aceh sudah aman. Anda bisa datang dan menikmati suasana damai Aceh kapan saja. Bahkan tengah malam pun Anda bisa menikmati nikmatnya kopi Aceh, martabak, canai Aceh, Mie Aceh dan berbagai jenis kuliner khas Aceh lainnya, tanpa perlu merasa takut.

Tentu saja, kondisi ini berkat dukungan masyarakat yang sangat menyadari betapa penting menjaga keamanan dan menghindari konflik yang tidak ada gunanya. Kemudian Pemerintah Aceh meramu situasi ini menjadi satu kekuatan baru dalam mempromosikan dunia wisata Aceh ke wisatawan internasional.

Dengan moto promosi wisata Aceh “The Light of Aceh” merefleksikan semangat seluruh masyarakat Aceh dalam menyambut kedatangan wisatawan ke Aceh dengan ramah, memuliakan mereka dalam bingkai syariat islam

Kapitalisasi Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi

Setiap guru dan siswa pasti sudah sangat hafal dengan momentum 2 Mei, ya! Hari Pendidikan Nasional, tepatnya hari ini. Di hari tersebut berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan di gelar secara besar-besaran dan sangat meriah. Mulai dari acara berbentuk seremonial sampai kegiatan yang bersifat spiritual, dari pagelaran seni sampai festival budaya.

Acara Hardiknas pun dilakukan mulai dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Biasanya pada acara yang bersifat penting dan strategis, kegiatan dimulai dengan acara upacara kenegaraan, seperti menaikkan bendera merah putih oleh pasukan pengibar bendera, menyanyikan lagu kebangsaan dan seterusnya secara khidmat.

Yang menjadi pembina upacara pun pasti orang nomor satu di setiap level pemerintahan, jika pemerintah pusat, maka Presiden-lah yang bertindak sebagai pembina upacara. Dan seterusnya sampai pemerintah level dibawahnya. Begitulah gambaran peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun dan hampir tidak perubahan yang signifikan dalam tata tertib acaranya.

Tidak ada yang salah dengan memperingati hari apapun, seperti halnya kemarin (1 Mei 2018) para buruh memperingati Hari Buruh Sedunia atau lebih dikenal dengan Mayday atau juga Hari Kartini, Hari Pahlawan dan hari-hari lainnya. Bahkan secara pribadi pun kita memiliki hari khusus yang memiliki histori atau nilai tertentu dan kita pun memperingatinya, misalnya hari lahir lalu diperingati dengan Hari Ulang Tahun. Sekali lagi tidak ada yang salah. Namun yang menjadi masalah adalah mengapa harus memperingatinya? Apa tujuan memperingatinya? Dan bagaimana para stakeholder memaknai peringatan hari pendidikan tersebut? Inilah yang menjadi subtansinya menurut hemat penulis.

Dari hasil survey kecil-kecilan yang penulis lakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa dan guru yang mengikuti acara peringatan Hardiknas, penulis mendapati sebanyak 40 persen mengatakan bahwa tujuannya adalah hanya mengikuti kegiatan seremonial, 20 persennya mengatakan bertujuan ingin meningkatkan kemajuan pendidikan, sementara 35 persen lainnya bertujuan mendukung program pemerintah. Hanya 5 persen yang tidak menjawab. Dari hasil survey sederhana tersebut dapat dilihat bahwa ternyata tujuan mendukung program pemerintah dalam memajukan pendidikan paling tinggi. Tentu hal ini sangat positif.

Permasalahan Dunia Pendidikan Saat Ini

Jika kita mengikuti berbagai informasi yang disajikan oleh media massa baik media cetak, media elektronik dan media daring (online), dunia pendidikan nasional masih diselimuti berbagai masalah, mulai dari masalah fasilitas sekolah, laboratorium, mobiler, yang masih belum memadai dan bahkan masih timpang antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kemudian masalah guru yang masih terjadi kekurangan dan kurang kompeten, persoalan kurikulum yang masih tumpah tindih dan masalah teknis lainnya.

Menghadapi era digital dan model pendidikan abad 21 tuntutan terhadap pendidikan semakin komplit, bukan hanya dari segi perkembangan teknologi yang sangat cepat namun tingkat persaingan pun kian meluas, tidak lagi kompetisi berbasis lokal tetapi secara global. Sebab itu jika semua persoalan pendidikan yang selama ini tidak dibenahi, maka sangat mempengaruhi kualitas lulusan dan peserta didik dalam berkompetisi. Misalanya persoalan guru, menurut Namin AB Ibnu Solihin (2015) “Guru banyak yang masih mengajar pakai cara zaman dahulu, padahal sekarang sudah zaman digital. Ditambah siswa yang dihadapinya lahir di zaman digital. Praktik mengajar seperti ini kebanyakan terjadi di sekolah-sekolah negeri. Bahkan, kepala sekolahnya sendiri banyak yang usinya tua, dan sudah hampir pensiun,”

Dari segi kelengkapan fasilitas sekolah juga masih ada yang belum mencapai standar minimal. Di Aceh sendiri masih ada sekolah yang masih menggunakan gedung atau tempat belajar yang tidak layak, bahkan lebih pantas disebut kandang kambing daripada tempat belajar. Fakta ini terdapat di Kabupaten Aceh Utara. Selain sarana tempat belajar, aliran listrik yang tidak tersedia juga merupakan masalah yang fundamental untuk menerapkan sekolah berbasis internet dan digital. Memang hal ini sangat ironis, belahan dunia lain yang justru sangat maju namun masih ada sekolah di Indonesia yang belum teraliri listrik.

Penerapan kurikulum juga menjadi polemik tersendiri dalam proses belajar mengajar di Indonesia, bukan hanya di kota-kota besar bahkan di Aceh juga menjadi kontroversial dan terjadi simpang siur di kalangan para pendidik dan sekolah. Sebagian yang setuju dan tertarik dengan kurikulum 13 (K13), maka disekolah tersebut diterapkan kurikulum 13 meskipun secara infrastruktur dan proses belum siap. Namun sebagian yang lain justru menolak penerapan K13 walaupun ditengarai K13 sangat relevan dan bagus untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Proyeksi kebutuhan pendidikan abad 21 sendiri sekurang-kurangnya ada tiga komponen utama yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik agar mampu berkompetisi secara global; pertama : Karakter, ini berkaitan dengan personaliti dan soft skill seseorang.

Karakter unggul yang dibutuhkan pada era sekarang dan kedepan adalah mereka yang mempunyai karakter moral yang baik, seperti kejujuran, etika dan nilai-nilai spiritualitas yang baik. Lalu karakter kerja, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan seseorang diarahkan pada kesiapan mereka untuk memasuki pasar dunia kerja, mampu bersaing untuk merebut peluang kerja yang ada bahkan hingga mereka mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Karakter kerja yang dibutuhkan misalnya seseorang harus memiliki etos kerja yang tinggi, tidak malas, kreatif dan bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik dan tuntas.

Kemudian komponen yang kedua yaitu; kompetensi, seorang peserta didik harus memiliki kompetensi pada bidang yang pilih. Kompetensi itu merupakan kemampuan seseorang dalam mengembangkan sumber daya yang dimilikinya untuk digunakan dalam melakukan pekerjaan sebagai suatu keahlian yang melekat pada dirinya. Misalnya kompetensi di bidang teknik, administrator, akuntansi, dan lain sebagainya.

Dan yang komponen yang ketiga adalah literasi. Yang di maksud dengan literasi adalah keterbukaan wawasannya. Paling tidak seseorang memiliki empat kemampuan literasi yang harus dimiliki. Pertama; literasi bacaan, kedua; lterasi budaya, ketiga; literasi teknologi dan keempat; literasi keuangan.

Persoalan Ekonomi

Salah satu keberhasilan pemerintah mewujudkan pemenuhan hak pendidikan rakyatnya adalah mampu meningkatkan aksesibilitas layanan pendidikan secara merata di seluruh nusantara.

Hal ini dimaksudkan untuk pemberantasan buta aksara dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu visi pendiri negara ini. Memberikan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas merupakan perintah konstitusi yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Namun jika kita melihat data jumlah murid sekolah dasar yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah setiap tahun memang meningkat tetapi secara rasio justru menurun. Begitu juga yang lulus SMP masih sangat banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan atas, padahal pemerintah telah menerapkan program wajib belajar pendidikan dasar -dari SD sampai dengan SMA-.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Shabri A. Majid (2014) tentang pengaruh pertumbuhan eknomi terhadap pendidikan, ditemukan ternyata pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan suatu daerah.

Aceh adalah daerah yang pertumbuhan ekonominya tergolong rendah di pulau sumatera. Banyak siswa-siswa Aceh yang tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bukan karena tidak ada minat akan tetapi karena terbentur dengan kemampuan orang tua mereka dalam keuangan (ekonomi).

Ketiadaan biaya yang harus dibayarkan ke sekolah, itulah yang menyebabkan mereka harus menguburkan impian dan cita-cita mereka secara lebih dalam. Mahalnya biaya pendidikan menjadi penyebab utama rendahnya tingkat partisipasi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Karena faktor ekonomi orang tua sehingga mereka lebih mememilih bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga.

Kapitalisasi pendidikan di Indonesia telah menyebabkan anak-anak Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya mengalami gagal sekolah alias putus sekolah. Memang katanya tidak ada kutipan apapun di sekolah, pungutan liar di berantas, tersedianya dana operasional sekolah atau daan BOS, tetapi siapa yang berani menjamin bahwa tidak setoran apapun dari orang tua ke sekolah? Inilah persoalan peringatan hari pendidikan nasional yang jatuh pada hari ini. Tidak terlalu penting kegiatan tersebut berlangsung rutin setiap tahun namun jika semuanya tanpa makna.

Seremonial hanya menyenangkan hati pejabat tetapi masalah pendidikan dasar yang menjadi kewajiban negara bagi rakyatnya tidak pernah ada kemajuan setiap tahunnya. Akhirnya marilah kita ubah cara kita menangani permasalahan pendidikan di negeri ini dan berikan perhatian yang serius terhadap sumber daya manusia Indonesia menuju pendidikan abad 21 yang penuh tantangan ini. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf jika ada kekurangan.

Baca juga di https://www.kompasiana.com/cangkoiburong

Tingginya Kredit Macet di Aceh, Pertanda Perekonomian Memburuk?

Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, kredit macet di Aceh pada triwulan pertama 2018 mencapai Rp 688 miliar. Dari jumlah tersebut, sektor perdagangan mendominasi dengan nilai kredit macet Rp 319 miliar. Kemudian diikuti sektor konstruksi Rp 111 miliar dan jasa-jasa Rp 55 miliar. (Serambi Indonesia, 22 April 2018).

Menurut Pemimpin kantor perwakilan Bank Indonesia Banda Aceh Zainal Arifin Lubis, jumlah kredit macet di Aceh termasuk tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir trennya mulai menurun. Sebagai perbandingan, tahun 2014 kredit macet di Aceh mencapai Rp 1,1 triliun. Tapi, pada 2015 turun menjadi Rp 990 miliar, lalu 2016 menjadi Rp 789 miliar, dan 2017 sebesar Rp 634 miliar. Sementara untuk tahun 2017 sampai triwulan pertama, kredit macet mencapai Rp 688 miliar.

Bila kita amati dari data yang dikeluarkan oleh BI di atas, ternyata sektor perdagangan memberikan kontribusi terbesar jumlah kredit macet di Aceh periode triwulan pertama tahun 2018. Hal ini menimbulkan tanda tanya ada masalah apa dengan sektor perdagangan di Aceh. Di sisi lain sebetulnya yang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Aceh adalah sektor pertanian, perkebunan dan perikanan, kontribusi sektor Pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto Aceh di atas 27 persen. Nah, apakah perbankan selama ini keliru memilih sektor andalan dalam menyalurkan kredit?

Dari hasil penelusuran berbagai sumber informasi memang ditemukan sejumlah pedagang di Kota Banda Aceh mengeluh karena omsetnya menurun dan sepi pembeli. Bahkan keluhan mereka mewakili aspirasi para pedagang lainnya di Pasar Atjeh. Sejumlah pedagang tas, sepatu, dan pakaian muslim di Pasar Atjeh juga menyampaikan bahwa akhir-akhir ini sangat sepi pembeli. Meskipun begitu, kita juga perlu berhati-hati untuk menyimpulkan bahwa sudah pasti daya beli masyarakat yang menjadi faktor utama lesunya sektor perdagangan di Aceh, apalagi di era digital ini di mana masyarakat cenderung lebih senang membeli secara online.

Penyebab Kredit Macet

Pada umunya kredit usaha di Aceh lebih banyak dinikmati oleh pelaku UMKM berbagai sektor, mulai dari sektor perdagangan sampai sektor pertanian, namun jika kita melihat data yang rilis oleh Bank Indonesia Aceh, sektor perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan mendapatkan kucuran kredit yang lebih besar mencapai 52,9 persen, dan sektor yang paling sedikit adalah sektor pertanian/perikanan hanya 8,4 persen. Alasan pihak bank lebih mengutamakan sektor perdagangan karena dari sisi risikonya yang rendah, mudah dikontrol dan memiliki cash flow yang relatif cepat.

Menurut laporan BI Aceh (2016) berdasarkan klasifikasi usaha sebagian besar kredit UMKM disalurkan pada usaha menengah mencapai 45,5 persen dan selebihnya kepada usaha kecil yaitu 29,6 persen dan usaha mikro sebesar 25,0 persen, sementara jenis kredit yang diberikan adalah kredit modal kerja (KMK). Sedangkan bank penyalur didominasi oleh bank persero milik pemerintah.

Bila kita mengacu pada berbagai hasil penelitian empiris terkait dengan kredit usaha secara umum yang dilakukan oleh para akademisi dan praktisi ditemukan bahwa kredit macet atau  non performing loan (NPL) disebabkan oleh banyak faktor, antara lain adalah pertumbuhan ekonomi, tingkat suku bunga, itikad baik debitur untuk membayar (karakter) dan lain sebagainya. Dengan kata lain bahwa kredit macet tersebut ada hubungannya dengan variabel makro ekonomi dan moneter.

Menurut Hamdani (2016) dalam penelitiannya menemukan bahwa dalam jangka pendek, variabel produk domestik regional bruto mempengaruhi dan memiliki hubungan satu arah dengan kredit UMKM sedangkan variabel suku bunga memiliki hubungan sebab akibat dengan kredit UMKM, begitu juga halnya variabel NPL memiliki hubungan satu arah dengan kredit UMKM di Aceh.

Sementara Zainal Arifin Lubis (acehbisnis.co, 21 April 2018) mengatakan beberapa faktor penyebab tingginya kredit macet di Aceh; pertama, aspek bisnis yaitu bila bisnis tidak berkembang dan kurangnya pasar terhadap produk yang dihasilkan, serta operasional kegiatan juga kurang menguntungkan, sehingga pengembalian pinjaman menjadi lemah. Kedua, aspek karakter, yaitu pengembalian uang ke bank menunggak. Peminjam mengangap uang itu uang rakyat, sehingga mereka enggan mengembalikan uang tersebut. Namun alasan debitur mengganggap uang tersebut adalah uang rakyat sangat kecil kemungkinan, karena saat debitur mengajukan pinjaman oleh petugas bank pasti sudah menyampaikan seluruh informasi yang perlu diketahui oleh calon peminjam dan lagi pula debitur pun dengan suka rela menyerahkan jaminan tambahan sebagai agunan atas asset yang mereka miliki. Maka, yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana proses pemberian kredit oleh petugas bank tersebut. Patut diduga bahwa proses yang dilakukan tidak sesuai prosedur. Sehingga potensi kredit macet memang sudah diketahui sejak awal namun diabaikan atau tidak mampu di maintenance oleh bank.

Perekonomian Aceh

Kepala BPS Aceh Wahyudin mengatakan Perekonomian Aceh Triwulan IV-2017 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp37,77 triliun atau sebesar US$2,79 milyar. Sementara PDRB tanpa migas adalah sebesar Rp36,72 triliun atau sebesar US$2,71 milyar. Ekonomi Aceh dengan migas secara kumulatif (c to c) hingga triwulan IV-2017 tumbuh sebesar 4,19 persen, pertumbuhan c to c tanpa migas adalah sebesar 4,14 persen. Bila dibandingkan triwulan lV-2016 (y-on-y) tumbuh sebesar 3,58 persen. Rendahnya pertumbuhan ekonomi Aceh bahkan di bawah rata-rata nasional bisa menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kredit macet.

Dalam rapat terbatas bidang perekonomian Presiden RI memberikan perhatian dan arahan khusus kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh untuk mengelola serta memanfaatkan seluruh potensi unggulan untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi di Aceh, sekaligus memberikan kesejahteraan bagi rakyat Aceh, fokus mengembangkan sektor unggulan, misalnya industri pertanian hingga penghiliran industri.

Dari berbagai data dan informasi yang telah diuraikan diatas, menurut saya penyebab utama tingginya kredit macet di Aceh sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Aceh yang mengalami penurunan. sehingga menyebabkan proses bisnis yang dilakukan oleh debitur mengalami hambatan, hal ini terlihat pada penurunan omset penjualan para pedagang di pasar-pasar di Aceh. Rendahnya daya beli masyarakat juga menjadi persoalan tersendiri dalam perekonomian Aceh. (ham)*

Baca juga di kompasiana.com

Reformasi ‘Aceh Carong’

Dalam visi dan misi Pemerintah Aceh, Gubernur Aceh Bapak Irwandi Yusuf mencanangkan tiga program utama terkait pendidikan, yaitu Aceh Carong, Aceh Meuadab dan Aceh Teuga. Program Aceh Carong menekankan kepada prestasi pendidikan Aceh ditingkat nasional, strategi yang ditempuh untuk meningkatkan prestasi tersebut melalui perbaikan fasilitas pendidikan, kualitas guru dan peningkatan sistem.

Menurut Gubernur Aceh, secara kualitas pendidikan Aceh berada pada peringkat ketiga terendah di Indonesia atau secara nasional, Provinsi Aceh berada pada urutan 32 dari 34 provinsi. Padahal bila dibandingkan dengan jumlah anggaran yang dikucurkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mencapai rasio maksimal yaitu 20% dari total anggaran. (acehprov.go.id/28 Februari 2018). Sebab itulah kemudian program Aceh Carong dimunculkan untuk peu carong aneuk-aneuk Aceh.

Saya sangat bisa memahami kegalauan Bapak Gubernur dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah agar rangking Aceh menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang, bagaimana tidak! Aceh yang sejak dulu diberikan gelar istimewa di bidang pendidikan namun justru selalu gagal dalam rangking terbaik nasional. Aceh yang dulu bahkan mengajarkan tenaga-tenaga pengajar dari negara lain namun justru sangat tertinggal dalam dunia pendidikan.

Saya juga sangat sepakat dengan saudara Affan Ramli yang dalam opininya “Tafsir Kuno ‘Aceh Carong’” (Serambi Indonesia, 14 Maret 2018) yang menuliskan bahwa “pemaknaan Aceh Carong tidak boleh sangat sempit, di mana indikator prestasi pendidikan Program Aceh Carong hanya diukur dengan nilai Ujian Nasional (UN) para siswa”. Namun haruslah lebih luas, bahwa konsep Program Aceh Carong mampu menggambarkan filosofi pendidikan Aceh secara menyeluruh dalam berbagai aspek, menuju penyiapan sumber daya manusia (SDM) Aceh yang mampu merespon perubahan zaman dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dunia saat ini bahkan puluhan tahun yang akan datang dengan tetap mempertahankan indentitas ke-aceh-an dan nilai-nilai Islam dan iman, hingga mereka sanggup mengembalikan keharuman Aceh di pentas internasional seperti Aceh di masa kejayaannya. Dan dalam hal ini saya meyakini Pemerintah Aceh sudah menyiapkan cetak biru (blue print) pendidikan Aceh jangka panjang untuk mengakomodir keinginan dan cita-cita rakyat Aceh tersebut.

Program Aceh Carong haruslah dapat melahirkan siswa-siswi Aceh yang memiliki kualifikasi terbaik lahir batin, berkarakter, memiliki mental juang tinggi dengan semangat pantang menyerah alias “beuheu tungang” dan berakhlaqul karimah. Soft skill semacam ini sangat penting untuk dimiliki oleh generasi muda Aceh terkini, jiwa militan ke-aceh-an tidak boleh pudar karena pengaruh perubahan zaman. Selain penguatan bersifat soft skill, Program Aceh Carong juga harus dapat mencetak siswa-siswi yang memiliki keahlian dan keterampilan baik keterampilan di bidang umum maupun bidang khusus. Dengan hard skill yang mereka dapatkan dari lembaga pendidikan, maka akan sangat bermanfaat untuk menunjang kehidupan mereka di masa depan. Dengan hard skill yang berkualitas akan memudahkan mereka untuk mengakses dunia kerja dan memperoleh pekerjaan. Apalagi pada 2030-2040, Indonesia di prediksi akan mengalami bonus demografi, di mana penduduk dengan usia produktif (mencapai 64%) lebih banyak dibandingkan dengan penduduk non produktif dari 297 juta jiwa penduduk Indonesia, maka persaingan hebat tidak dapat dihindari.

 Pendidikan Vokasi sebagai Kunci

Untuk menjawab tantangan tersebut dan upaya mengantisipasi dampak negatif dari bonus demografi, maka selayaknya Pemerintah Aceh mulai membenahi sektor pendidikan vokasi. Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional pasal 15 disebutkan pendidikan vokasi yaitu merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana. Melalui pendidikan vokasi Program Aceh Carong akan berfokus pada peningkatan kualitas keahlian SDM yang memiliki kompetensi baik berstandar nasional bahkan internasional. Apalagi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro juga mengatakan bahwa pendidikan vokasi mulai tahun 2018 menjadi program perioritas pemerintah bidang pendidikan (detik.com/22 Mei 2018).

Terobosan Gubernur Aceh membuka sekolah menengah kejuruan (SMK) penerbangan merupakan satu langkah maju dalam konteks paradigma baru pendidikan Aceh masa depan. Apalagi dengan mengirimkan sebanyak 10 orang siswa-siswanya untuk magang di perusahaan penerbangan Boeing Amerika (Serambi Indonesia, 13 Maret 2018), tentu ini merupakan modal awal untuk mengembangkan lebih jauh sektor kedirgantaraan di Aceh suatu saat nanti. Menurut saya ini bukanlah program “cet langet”, tetapi cita-cita mulia dan harapan agar suatu saat nanti paling tidak maskapai penerbangan jamaah haji Aceh diterbangkan oleh pilot-pilot yang merupakan putra-putri Aceh sendiri. (jadi Bapak Gubernur maju terus dan kesampingkan suara-suara sumbang jika ada).

Di bidang pendidikan tinggi juga Pemerintah Aceh kiranya perlu mendorong agar kampus-kampus yang berbasis pendidikan vokasi semakin meningkatkan kualitas proses dan kualitas lulusannya, bahkan Gubernur Aceh harus memberikan perhatian yang lebih besar untuk memberdayakan sekolah-sekolah vokasi, baik dalam pengadaan laboratorium, alat-alat praktikum, meningkatkan kompetensi keahlian guru/dosen vokasi. Memperbanyak sekolah-sekolah kejuruan (SMK), mendorong dibukanya jurusan-jurusan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan realitas saat ini. Mendorong kerjasama pihak sekolah dengan dunia industri nasional bahkan luar negeri dalam bidang akademik, pemagangan dan penempatan kerja. mendirikan politeknik-politeknik bidang khusus dan lain sebagainya.

Kemenristek Dikti sendiri memasuki era revolusi industri 4.0 (generasi keempat) telah menetapkan pembenahan pendidikan vokasi menjadi salah satu strategi menekan potensi meningkatnya pengangguran terdidik. Seperti dilansir oleh media Indonesia.com. Menristek Dikti mengatakan “negara bisa maju karena politeknik (pendidikan vokasi) negara mana pun di dunia. Saya ingin menjadikan politeknik garis depan dalam perekonomian Indonesia”. Dengan kata lain negara maju sedikit pengganggurannya. Dan sayangnya selama ini institusi pendidikan kita lebih banyak melahirkan SDM yang tidak punya skill (keahlian) sehingga mereka menganggur.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya sangat berharap kepada Gubernur Aceh agar konsep Aceh Carong dapat mengusung paradigma baru dengan perspektif yang unik, memenuhi ekspektasi para praktisi pendidikan dan pengguna lulusan. Sehingga siswa-siswi yang dilahirkan oleh Program Aceh Carong hendaknya adalah mereka yang mampu memberikan manfaat dan berdampak positif bagi kemajuan Aceh di masa yang akan datang. Sehingga apa yang dikuatirkan oleh saudara Affan Ramli dalam tulisan opininya tidak terjadi. Akhirnya semoga seluruh program dalam rencana kerja Gubernur Aceh dalam konteks Aceh Carong dapat terwujud dan terealisasi. Amiinnn.

Silakan baca juga di  http://aceh.tribunnews.com/2018/04/17/reformasi-aceh-carong

Good Corporate Governance (GCG) Sebagai Prinsip Manajemen Modern

Tidak sedikit perusahaan yang mengalami kegagalan (failure) dalam operasionalisasi, padahal mereka sudah melakukan investasi besar dan bahkan mereka juga bekerja seperti umumnya perusahaan lain. Mengapa bisa terjadi?

(Many companies are experiencing failure (failure) in operationalization, companies doing great work and even they are also working. How did it happen?)

Dalam era globalisasi dan kecanggihan teknologi informasi seperti sekarang ini semua kemungkinan bisa saja terjadi. sebab itu, situasi ini telah mendorong para pemimpin perusahaan untuk menyesuaikan seluruh rencana strategisnya dengan perubahan lingkungan yang demikian cepat agar memberikan dampak positif bagi organisasi (perusahaan) yang dipimpinnya. Kondisi dinamis ini harus selalu menjadi perhatian dan selalu diamati dari waktu ke waktu. Menurut Martin (1999) teknologi informasi sangat berperan penting dalam menyimpan dan memproses informasi. Sehingga dengan menempatkan fungsi teknologi informasi dan peranannya dalam operasional perusahaan, maka rencana strategis perusahaan akan lebih mudah dilaksanakan.

(In this era of globalization and the sophistication of information technology like today all possibilities can happen. therefore, this situation has encouraged corporate leaders to adapt all of their strategic plans to such rapidly changing environments in order to have a positive impact on the organizations they lead. This dynamic condition should always be a concern and always observed from time to time. According to Martin (1999) information technology plays an important role in storing and processing information. So by putting the function of information technology and its role in the company’s operations, the company’s strategic plan will be more easily implemented).

Namun untuk mencapai kesuksesan yang optimal dan mengurangi risiko kegagalan, sebuah organisasi (perusahaan) juga harus memperhatikan faktor-faktor lainnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah organisasi (perusahaan) adalah kerjasama tim. Variabel ini mempunyai andil besar dalam mencapai kesuksesan perusahaan. Tetapi tidak mudah membentuk tim yang solid yang berorientasi pada tujuan dan visi yang sama, terbuka atas segala ide, dan mengutamakan kepentingan tim di atas kepentingan pribadi. Melihat pentingnya kerjasama tersebut bagi kemajuan perusahaan, banyak perusahaan yang menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk menggalakkan budaya kerja sama dalam bermanajemen.

(But in order to achieve optimal success and reduce the risk of failure, an organization (company) should also pay attention to other factors. One of the factors that influence the success of an organization (the company) is teamwork. This variable has a big share in achieving the company’s success. But it is not easy to form a solid team that is oriented toward the same goals and vision, open to ideas, and put the interests of the team above personal gain. Given the importance of such cooperation for the advancement of the company, many companies are organizing various trainings to promote a culture of cooperation in management).

Untuk mencapai sebuah struktur dengan bermanajemen yang baik dan profesional, maka perlu menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang handal serta unggul dalam praktek manajemen tersebut. Saat ini banyak perusahaan yang mengadopsi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam menjalankan fungsi-fungsi manajemennya.  Forum of Corporate Governance for Indonesia (FCGI) 2001, menjelaskan bahwa:  “corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan (dengan kata lain sebagai sistem yang mengendalikan perusahaan) antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta pemegang kepentingan internal dan eksternal lainya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka”.

(To achieve a structure with a good management and professional, it is necessary to apply the principles of good governance and excel in the practice of management. Today many companies are adopting the principles of Good Corporate Governance (GCG) in carrying out its management functions. The FCGI 2001, explains that: “corporate governance is a set of rules governing relationships (in other words as a system that controls the company) between shareholders, managers (managers) of companies, creditors, governments, employees and other internal and external interest holders relating to their rights and obligations “.)

Saat ini prinsip GCG masih dipercaya sebagai unsur manajemen modern, di mana dalam manajemen modern sebuah organisasi (perusahaan) digerakkan oleh orang-orang yang saling bekerja sama yang berazaskan pada sikap partisipasi aktif (active partisipatory) dalam rangka untuk mencapai kemajuan bersama. Terdapat lima prinsip GCG yang dapat dijadikan pedoman bagi para pelaku organisasi, yaitu Transparency, Accountability, Responsibility, Indepandency dan Fairness yang biasanya diakronimkan menjadi TARIF.

(Today GCG principles are still believed to be a modern management element, in which the modern management of an organization is driven by people working together that are based on active participatory attitudes in order to achieve mutual progress. There are five GCG principles that can be used as guidance for the organizers, namely Transparency, Accountability, Responsibility, Indepandency and Fairness which is usually referred to as TARIF.)

  1. Transparency (Keterbukaan). Secara harfiah transparency dapat diartikan “tembus pandang”. Dalam konteks manajemen organisasi dimaksudkan bahwa adanya keterbukaan informasi yang akurat dan berkualitas yang tersedia bagi segenap pemangku kepentingan (stakeholders). Termasuk pola komunikasi yang dibangun dan dijalankan juga haruslah pola komukasi terbuka, jujur dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada hal-hal yang ditutup-tutupi dan apalagi “disembunyikan” demi untuk keuntungan pribadi dan kelompok tertentu.
  2. Accountability (Akuntabilitas). Menurut Mardiasmo (2009), akuntabilitas adalah sebuah kewajiban melaporkan dan bertanggung jawab atas keberhasilan atau pun kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai hasil yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui media pertanggungjawaban yang dikerjakan secara berkala. Akuntabilitas dapat diwujudkan dengan adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggungjawaban setiap elemen perusahaan atau organisasi. Akuntabilitas ini merupakan pertanggungjawaban yang berhubungan dengan setiap program yang akan dijalankan. Orang yang berwenang dalam program ini harus bisa menunjukkan jika program yang dibangun dapat berjalan dengan baik atau tidak dan apa saja upaya yang dapat dilakukan agar program yang direncanakan dapat berjalan dengan optimal (Adzikra Ibrahim).
  3. Responsibility (Pertanggungan Jawab).  Meskipun dari sisi pengertiannya hampir sama namun secara prinsip antara akuntabilitas berbeda dengan responsibilitas. Pun begitu, akuntabilitas dan resposibilitas saling berhubungan sebagai bagian dari sistem yang menyeluruh. Responsibility lebih bersifat internal sebagai pertanggungjawaban bawahan kepada atasan yang telah memberikan tugas dan wewenang kepadanya. 
  4. Independence (Kemandirian). Prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan atau organisasi dikelola secara profesional tanpa ada benturan kepentingan dan tanpa tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
  5. Fairness ( Kesetaraan dan memiliki hak serta kedudukan yang sama). Prinsip fairness ini mengajarkan penerapan azas keadilan bagi semua pemangku kepentingan. Perlakuan yang adil merupakan paradigma yang harus dimiliki oleh para organisatoris dan pelaksana manajemen dalam suatu perusahaan atau organisasi. Tidak boleh ada perlakuan yang sangat istimewa kepada sekelompok orang namun memandang rendah sebagian lainnya. Diskriminasi dalam kebijakan dan keputusan akan mengakibatkan ketimpangan sosial dalam sebuah perkumpulan. Memuji sekelompok orang namun menghukum sekelompok lainnya akan merugikan seluruh pemangku kepentingan. Dengan demikian fairness diharapkan dapat menjadi faktor pendorong yang dapat memonitor dan memberikan jaminan perlakuan yang adil di antara beragam kepentingan dalam perusahaan

 

  1. Transparency. Literally transparency can be interpreted as “transparent”. In the context of organizational management it is intended that an accurate and quality information disclosure is available to all stakeholders. Including communication patterns built and run should also be open, honest and accountable. Nothing is covered up and let alone “hidden” for the sake of personal gain and certain groups.
  2. Accountability. According Mardiasmo (2009), accountability is an obligation to report and be responsible for the success or failure of the organization’s mission in achieving predetermined results, through the media accountability that is done periodically. Accountability can be realized with the clarity of function, structure, system and accountability of every element of the company or organization. This accountability is the responsibility associated with each program to be run. The person in charge of this program should be able to show if the program is running well or not and what efforts can be made to the planned program can run optimally (Adzikra Ibrahim).
  3. Responsibility (Coverage). Although in the sense of almost the same but in principle between accountability is different from responsibilitas. Also, accountability and resposibility are interconnected as part of a comprehensive system. Responsibility is more internal as the responsibility of subordinates to the boss who has given the task and authority to him.
  4. Independence (Independence). This principle requires that the company or organization be professionally managed without conflict of interest and without the pressure or intervention of any party that is not in compliance with applicable regulations.
  5. Fairness (Equality and have equal rights and position). This fairness principle teaches the application of the principle of justice for all stakeholders. Fair treatment is a paradigm that must be owned by the organizers and management executors in a company or organization. There should be no very special treatment to a group of people but look down on others. Discrimination in policies and decisions will lead to social inequality within an association. Praising a group of people but punishing another group will harm all stakeholders. Thus fairness is expected to be a driving factor that can monitor and provide a fair treatment guarantee among various interests in the company.

Jika kita mengacu pada prinsip-prinsip penerapan GCG dalam sebuah perusahaan (organisasi), maka hampir bisa dipastikan bahwa tingkat kegagalan yang dialami oleh kebanyakan perusahaan dalam bermanajemen dapat dihindari bahkan cenderung membuat sebuah organisasi semakin maju, solid dan berdaya saing. Namun sayangnya konsep GCG ini hanya menjadi lips service yang tertulis rapi dan indah dalam dokumen yang disimpan rapi dalam sebuah laci di lemari perusahaan yang terkunci rapat di ruang arsip. Lalu bagaimana sebuah perusahaan (organisasi) mau maju dan tumbuh berkembang?

(If we refer to the principles of GCG implementation within a company (organization), it is almost certain that the failure rate experienced by most companies in the management can be avoided and even tend to make an organization more advanced, solid and competitive. But unfortunately the concept of GCG is just a lips service that is written neatly and beautifully in a document that is stored neatly in a drawer in the closet company locked tightly in the archives. Then how does a company (organization) want to grow and grow?)

Politeknik: Inovasi Pendidikan Masa Kini

Pemerintah sedang merancang sistem perkuliahan baru bagi mahasiswa politeknik. Mahasiswa bisa melanjutkan kuliah meski dipertengahan mengajukan cuti untuk bekerja. Kebijakan yang bakal dikeluarkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) ini dilakukan agar politeknik tidak dipandang sebagai kelas dua dalam dunia pendidikan tinggi.

Menurut Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir, lulusan politeknik saat ini sangat kompeten dan dibutuhkan dunia kerja. Sistem baru yang dipersiapkan pemerintah bersama-sama dengan politeknik berupa perkuliahan Multi Entry Multi Outcome (MEMO). Sistem ini memungkinkan mahasiswa dapat memilih berbagai alternatif perkuliahan, sehingga ini bisa langsung bekerja di industri yang membutuhkan lalu mereka pun bisa melanjutkan kuliah lagi.

Nasir menjelaskan, dengan adanya MEMO maka pada tahun pertama mahasiswa dapat sertifikat Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) level tiga. Lalu jika ingin melanjutkan kerja dulu maka mahasiswa bisa cuti kuliah. Setelah itu dia bisa melanjutkan kuliah pada tahun kedua. Dengan sistem itu maka tidak ada mahasiswa yang drop out atau zero DO di politeknik.

“Sistem MEMO diharapkan dapat mempercepat kebutuhan industri dan memutus mata rantai kemiskinan. Sehingga mahasiswa lulusan politehnik akan selalu siap kerja dan bukan lagi siap training,” katga mantan Rektor Universitas Diponegoro ini saat rapat koordinasi Forum Direktur Politeknik Se-Indonesia (FDPNI) di Jakarta, Minggu (18/3/2018).

Terkait penilaian akreditas, guru besar akuntansi ini menyebutkan banyak politeknik yang sebenarnya berkualitas namun belum mendapat akreditasi yang baik. “Instrumen yang digunakan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) adalah instrumen pada akademik. Sementara politeknik aspek akademiknya hanya 30 persen dan 70 persennya adalah praktek. Ini enggak nyambung. Jadi harus ada instrumen khusus untuk penilaian politeknik,” ujarnya. Untuk itu, dialog dengan BAN PT akan sesegera mungkin dilakukan pihaknya guna mengatasi persoalan tersebut.

Ketua FDPNI Rahmat Imbang menyebutkan bahwa kajian skema MEMO ini masih membutuhkan beberapa penyesuaian dan penyelerasan peraturan. Di antaranya penyesuaian kurikulum, instrumen penilaian BAN PT, hingga pangkalan data pendidikan tinggi (untuk menjamin keabsahan ijazah).

Sementara Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, pemerintah sudah melakukan peningkatan terkait akses lulusan pendidikan vokasi ke dunia kerja melalui nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antar lima kementerian, yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset Teknologi dan Penididikan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian BUMN.

Namun hal ini masih perlu dukungan dari sektor industri sebagai user dan penyedia lapangan kerja. “Agar pendidikan vokasi dapat disalurkan pada sektor tertentu, diperlukan akses terhadap industri,” ujarnya.

Menurut Imelda, akses ke industry ini sebenarnya sudah diusahakan oleh pemerintah melalui MoU antara lima kementerian tersebut. Namun demikian, perlu adanya revisi dari para perusahaan, terutama dalam menentukan syarat bagi para pencari kerja. “Selama ini banyak sekali para lulusan pendidikan vokasi yang mengalami kesulitan dalam mencari kerja karena mereka dianggap tidak memiliki kualifikasi pendidikan. Padahal secara praktikalnya mereka memenuhi kompetensi yang ada,” ungkapnya.

Imelda menambahkan, masih ada sebagian dari masyarakat yang memandang pendidikan vokasi sebagai pendidikan kelas dua. Pendidikan akademik yang memberikan gelar strata 1 (S1) atau strata 2 (S2) dan seterusnya masih menjadi pilihan sebagian besar masyarakat. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya lulusan pendidikan vokasi mencari pekerjaan.

Persyaratan perekrutan karyawan baru yang ditetapkan oleh perusahaan atau institusi lebih mengutamakan lulusan yang mengantongi ijazah akademik ketimbang ijazah pendidikan vokasi. Oleh karena itu perlu adanya perubahan persepsi dari sisi perusahaan/ pemberi kerja dan juga masyarakat. Karena keberadaan lulusan pendidikan vokasi bisa menjawab salah satu tantangan globalisasi yaitu masuknya pekerja asing ke Indonesia. “Kalau Indonesia memiliki pekerja yang sudah siap dengan keterampilan dan keahlian di bidangnya, maka tidak perlu takut bersaing dengan pekerja asing,” jelasnya.

Baca disini Artikel asli

Politeknik? Mengapa Tidak!

Sejak reformasi dicanangkan di tahun 1998, Politeknik di Indonesia hampir tidak terdengar kiprahnya, bahkan gelegarnya seolah mati tertelan bumi.

Kenapa demikian?

Alasannya sederhana, Politeknik dianggap sebagai Perguruan Tinggi (PT) kelas bawah yang memiliki lulusan tidak bergelar, sehingga lulusan politeknik tidak memiliki kebanggaan layaknya lulusan PT umum yang memiliki sejumlah gelar kesarjanaan seperti Insinyur (Ir), Dokter (dr), Sarjana Hukum (SH), Sarjana Ekonomi (SE) dan sebagainya. Akibatnya sebagian lulusan politeknik berusaha melanjutkan ke PT untuk memperoleh gelar kesarjanaan tertentu. Demikian pula, hingga saat ini Politeknik kurang peminat sehingga jumlah pertumbuhan kelulusannya mengalami hambatan. Pangkalan Data Perguruan Tinggi (2015) mempublikasi, jumlah Politeknik hanya sebanyak 262 institusi dari sejumlah 4300 PT, atau hanya sekitar 6% dari seluruh jumlah PT di Indonesia. Dan dari jumlah itu, 63% dikelola swasta, 17% negeri dan 20% dikelola kedinasan. Data itu menegaskan bahwa minat lulusan sekolah menengah atas masuk politeknis sangat terbatas dibanding masuk perguruan tinggi umum, disisi lain Politeknik yang dikelola swasta menunjukkan dominan. Data yang sama menunjukkan jumlah mahasiswa Politeknik saat ini sebesar 234.495 mahasiswa, jauh dibawah jumlah mahasiswa diperguruan tinggi yang berjumlah sekitar 10 juta mahasiswa.

Politeknik adalah penyelenggara pendidikan tinggi dengan bidang pengetahuan khusus, bertujuan agar lulusannya dapat bekerja secara profesional dalam keahlian tertentu. Politeknik memberikan pengalaman belajar dan latihan yang cukup untuk membentuk kemampuan profesional dan terampil di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, Politeknik harus dapat memberikan pendidikan dan pengajaran vokasi setingkat Pendidikan Tinggi, program Diploma dan Profesi/Spesialis, serta sebagai Pusat penciptaan, pengembangan dan penyelenggaraan Iptek.

Politeknik kini menjadi penting ketika Presiden RI mengemukakan pendapatnya tentang Politeknik, antara lain Politeknik di indonesia sebaiknya memiliki sistem seperti politeknik yang ada di Jerman, ini berarti menegaskan bahwa lulusan Politeknik harus bisa membuat, merekayasa, mengelola produk iptek, namun juga harus bisa mengembangkan secara kreatif sehingga produk iptek menjadi lebih sempurna. Dengan kata lain bahwa Politeknik tidak boleh hanya melamun,hanya paparan konsep dan produk berupa jurnal tapi juga harus mengasilkan produk inovatif yang efisien, murah, kuat dan aman serta siap masuk ke pasar. Jika itu yang dimaksud, maka sebuah Politeknik tidak cukup hanya berkutat di tingkat kesiapan Teknologi saja, tetapi juga harus bergerak secara cepat mengembangkan pasar, menyiapkan organisasi dan tata-kelola, memperluas jaringan pasar, jaringan inovasi dan klaster industri, mengembangkan kerjasama serta mempu mengelola manajemen resiko. Dan bahkan kemampuan teknopreneurship juga menjadi faktor penting mendongkrak kapasitas Politeknik.

Politeknik di Indonesia saat ini??..

Pada umumnya di negara seperti Canada, Meksiko serta beberapa negara Eropa, termasuk Indonesia, Politeknik sendiri sering disamakan dengan institut teknologi, tetapi bedanya politeknik tidak mengeluarkan lulusan bergelar Sarjana sebagaimana Institut Teknologi yang ada di Indonesia, melainkan Diploma, kebanyakan Politeknik mengeluarkan lulusan yang bergelar Diploma III, yang ditempuh dalam 3 tahun. Disamping jenjang pendidikan, perbedaan antara Politeknik dengan Universitas terjadi pada kurikulumnya, jika Universitas lebih menekankan pada suatu teori, konsep dan perkembangan keilmuan kedepan serta minim praktik langsung lapangan/industri, maka Politeknik hampir 75% Praktik dilapangan dengan menekankan aplikasi keilmuan. Politeknik merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, intitusi, sekolah tinggi maupun universitas di Indonesia. Banyak politeknik yang berprestasi mengalahkan Universitas. Mahasiswa Politeknik yang berprestasi dibidang teknologi, diantaranya adalah Politeknik Negeri Bandung yang pernah meraih gelar juara robotik tingkat internasional, mengalahkan Universitas.

Read more at https://www.ristekdikti.go.id/politeknik-bangkit-mendukung-kinerja-pembangunan/#8PabhD1A8G6ljdKV.99

Nah adik-adik, tunggu apa lagi ayo segera mendaftarkan diri di Politeknik Kutaraja di Banda Aceh Jalan Syiah Kuala No 10 atau kunjungi www.poltekkutaraja.ac.id

Pendidikan Vokasi dan Bonus Demografi 2020-2030

Pendidikan | Politeknik Kutaraja

Kampus Politeknik Kutaraja “pendidikan vokasi”.

Menurut laporan badan buruh dunia ILO (international labour organization) tingkat pendidikan pekerja di Indonesia sebanyak 60 persen adalah lulusan sekolah dasar (SD), di mana pendidikannya sangat rendah, tidak terdidik dan tidak memiliki ketrampilan sehingga produktivitasnya ikut rendah. Namun di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan berkemampuan tinggi, yang mampu bekerja sama dalam tim, memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif, mampu memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global, dalam rangka meningkatkan produktivitas. Dan berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2015, hanya 8,32% dari angkatan kerja saat ini berasal dari bangku kuliah. Yang paling besar justru belum tamat SD (13,02%), tidak/belum pernah sekolah (27,42%), SMP (18,03%), dan SMA (17,26%). Oleh sebab itu, proses pendidikan tinggi harus difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sehingga mampu menghasilkan mahasiswa yang mandiri, berkompeten dan produktif.

Mahasiswa sebagai subyek pembelajaran dalam pusaran pendidikan di perguruan tinggi, perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Tidak hanya secara internal dengan para dosen, instruktur dan citivas akademika namun juga secara eksternal yaitu dengan industri atau perusahaan dan pemerintah. Model pendidikan dan proses pembelajaran seperti ini sangat berbeda dengan apa yang diterapkan di perguruan tinggi pendidikan akademik saat ini, di mana mahasiswa seringkali hanya menjadi objek dari sebuah proses. Dosen sering bertindak sebagai pusat (center) dalam kegiatan belajar mengajar, bahkan sistim terpusat semacam ini tidak jarang memperagakan hegemoni dosen dalam perkuliahan begitu menonjol. Mahasiswa suka tidak suka harus menerima begitu saja apa yang diajarkan oleh sang dosen tanpa boleh membantah karena semuanya berdasarkan teori (based on theory). Hal ini membuat pemikiran mahasiswa tidak berkembang dan menjadi sangat terbatas, melahirkan para penganut teori dan takut berinovasi. Namun apa boleh buat, Indonesia sudah cukup lama menerapkan sistim pendidikan seperti itu. Paradigma pendidikan yang dilandasi asumsi John Locke bahwa pikiran peserta didik yang belum terlatih sama dengan kertas kosong yang menunggu dosen untuk menulisinya telah begitu mendarah daging.

Namun pada pendidikan vokasi seperti Politeknik Kutaraja, proses pembelajaran yang dilakukan menerapkan sistim yang sangat berbeda dengan pendidikan akademi, di mana mahasiswa merupakan sebagai pusat pembelajaran atau apa yang disebut dengan student centre learning (SCL). Strategi belajar model SCL dianggap sangat penting dalam mengajar dan mahasiswa dilatih menggunakan strategi belajar tersebut agar dapat mandiri dalam meningkatkan keberhasilan belajarnya. Paradigma pembelajaran telah bergeser dari pembelajaran berpusat pada dosen ke pembelajaran berpusat pada mahasiswa, pergeseran tersebut menyentuh semua aspek pembelajaran. Oleh sebab itu maka Politeknik Kutaraja sangat menekankan agar untuk mencapai tujuan pembelajaran, mahasiswa dibantu dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti laboratorium komputer, praktek mini bank, lab administrasi perkantoran dan magang kerja dengan pihak relasi/industri. Sehingga mahasiswa Politeknik Kutaraja memiliki satu karakteristik yang khas sejak mulai kuliah sampai lulus.

Karakteristik pendidikan vokasi pada umumnya adalah bagaimana menciptakan profil lulusan yang berorientasi pada profesi atau dunia kerja, memiliki sikap profesional berstandar, mempunyai pengetahuan praktis, dengan ketrampilan khusus yang ditekankan pada kebutuhan dunia kerja, serta memiliki kepekaan dan tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan kerja dan sosial. Semua ini dapat dicapai karena dosen atau pengajar pada pendidikan vokasi adalah mereka yang mempunyai keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri serta profesi. Apalagi ditunjang dengan media pembelajaran yang cukup, tentu akan sangat membantu memberikan stimulus bagi mahasiswa untuk menguasai keahlian dan kompetensi sesuai bidang minat dan bakatnya.

Fenomena Bonus Demografi

Dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan menghadapi bonus demografi.  Bonus demografi adalah suatu fenomena dimana jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Menurut Prof. Haryono Suyono,  seperti dikutip oleh Win Konadi dan Zainuddin Iba (2009), menyatakan bahwa Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah melimpahnya jumlah penduduk produktif usia angkatan kerja (15-64 tahun), yang mencapai sekitar 60 persen atau 160-180 juta jiwa pada 2020, sedangkan sekitar  30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun). Jika bonus demografi tersebut berhasil memanfaatkannya dengan melakukan berbagai upaya yang diperlukan untuk terjadinya hal tersebut, maka Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 dunia, meningkatnya target pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan investasi yang ujungnya adalah akan terserap tenaga kerja produktif sebagai hasil dari bonus demografi . Dengan demikian kebutuhan terhadap tenaga kerja juga mengalami peningkatan.

Meskipun begitu, banyak perusahaan yang masih mengkhawatirkan kualitas lulusan universitas di Indonesia. Pasalnya, kebutuhan tenaga kerja (talent) pada tahun 2021 akan mengalami perubahan seiring meningkatkan adaptasi teknologi dalam operasional perusahaan. Di sisi lain, kebanyakan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak banyak berubah sesuai perubahan zaman. Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2015, dari sisi kompetetif, tenaga kerja di Indonesia masih jauh berada negara-negara di dunia dengan menduduki peringkat ke-111 di dunia, atau ke-6 di Asia Tenggara. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas penduduk produktif dan berdaya saing masa mendatang, salah satu usaha yang tepat adalah dengan menyediakan kesempatan pendidikan seluas-luasnya. Kemudahan akses pendidikan dan didukung oleh prasarana pendidikan yang lengkap, serta tenaga pendidik yang berkualitas, akan menciptakan masyarakat yang berkualitas pula. Dengan kesempatan mengenyam pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi, tentu menjadi modal penting untuk menciptakan angkatan kerja yang berkualitas dan terampil. Inilah komitmen POLITEKNIK KUTARAJA di Banda Aceh untuk mewujudkan generasi muda yang berkualitas, smart dan berdaya saing. (*ham)

Politeknik Sebagai Pilihan Pendidikan Masa Depan

Pendidikan Vokasi Sebagai Model Pendidikan Masa Depan Indonesia l Politeknik Kutaraja 

Politeknik Penuh Inspirasi

Dewasa ini di Indonesia sesuai data Badan Pusat Statistik jumlah pengangguran terdidik yang merupakan lulusan perguruan tinggi masih menjadi permasalahan utama. Hal ini, salah satunya disebabkan karena masih ada beberapa lulusan perguruan tinggi yang kualitas lulusannya kurang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia usaha dan industri saat ini. Walaupun pendidikan merupakan kebutuhan dasar akan ilmu pengetahuan namun tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan tinggi di Indonesia juga diarahkan untuk mencapai kemajuan negara dan kesejehteraan lulusan itu sendiri.

Berbicara mengenai pendidikan, di Indonesia ada tiga jenis pendidikan tingggi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, program pendidikan di pendidikan tinggi mencakup pendidikan akademik (sarjana, magister, dan doktor), pendidikan profesi/spesialis dan pendidikan vokasi (diploma). Secara definisi pendidikan akademik dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tertentu. Pendidikan kademik mencakup program pendidikan sarjana (S1), magister atau master (S2) dan doktor (S3).

Sedangkan Pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan vokasi mencakup program pendidikan diploma I (D1), diploma II (D2), diploma III (D3) dan Sarjana Terapan. Lulusan pendidikan vokasi mendapatkan gelar vokasi, misalnya A.Ma (Ahli Madya), A.Md (Ahli Madya). S.Tr.(Sarjana Terapan). Ada kecenderungan (trend) pendidikan di masa depan, dimana mulai terjadi pergeseran dari sistem pendidikan untuk invensi menuju pendidikan yang lebih mengacu pada kebutuhan masyarakat, maka pendidikan tinggi vokasi merupakan pendidikan yang sangat sesuai dalam penyiapan lulusan yang mampu bekerja dan siap berprofesi.

Dalam pendidikan vokasi penguasaan aspek keilmuan dan teor-teori tidak begitu utama, justru yang sangat penting adalah mahasiswa/siswa memiliki ketrampilan khusus dalam bidang program yang mereka ikuti. Pendidikan vokasi menekankan pembelajaran terstruktur dengan keahlian, dalam kurikulumnya mencakup muatan pembelajaran keilmuan, keterampilan dan praktik kerja lapangan. Lembaga pendidikan vokasi juga bermitra dengan perusahaan dan industri sebab pembelajaran tidak hanya dilakukan kampus tapi juga di perusahaan, inilah kelebihan pendidikan vokasional yang paling subtansial, dimana mahasiswanya dituntut mampu bekerja dengan terampil saat dibutuhkan perusahaan dan maupun pemerintah. Sehingga dalam perkembangan dunia saat ini lulusan perguruan tinggi vokasi sangat dibutuhkan peranannya dalam berbagai sektor, terutama sektor ekonomi dan bisnis. Kontribusi para lulusan yang memiliki keahlian dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan industri.

Jika kita berkaca pada negara-negara maju ternyata rasio pendidikannya lebih besar pendidikan vokasi bila dibandingkan pendidikan akademik dan perannya pun nyata dalam mencapai kemajuan. Jerman misalnya. Model pendidikan vokasi di Jerman telah terbukti mendukung kemajuan industri/perusahaan dan ketahanan ekonomi Jerman. Di negara lainnya juga meniru sistem pendidikan vokasi ini seperti Cina. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang lebih memilih lulusan pendidikan kejuruan yang telah menguasai keahlian praktikal, karena dianggap lebih siap kerja, maka tingkat permintaan lulusan oleh industri semakin tinggi. Itulah ciri khas perguruan tinggi vokasi di mana dapat menghasilkan lulusan yang profesional di bidangnya, sebab kurikulum yang diberikan berbasis kompetensi sehingga lulusan pendidikan vokasi dapat bersaing di dalam dunia kerja.

Jadi sebenarnya dapat kita katakan bahwa pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan yang memadukan antara fungsi pendidikan (education) yang menyiapkan sumber daya manusia seutuhnya dengan pelatihan (training) yang berperan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap bekerja atau berkarir pada suatu bidang profesi tertentu.

Meskipun pendidikan vokasi masih tergolong baru dan berusia muda di Indonesia namun minat dan animo masyarakat untuk mengenyam pendidikan jenis ini tergolong tinggi dan tren-nya terus terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat kita lihat dengan pertumbuhan pendirian kampus politeknik yang begitu pesat. Berdasarkan data Kemenristekdikti (2015) dari sejumlah 3.227 perguruan tinggi, total politeknik di Indonesia berjumlah 262, yang terdiri atas 43 (17%) politeknik negeri, 53 politeknik kedinasan (20%) dan 166 politeknik swasta (63%) atau meningkat dari tahun sebelumnya. Walaupun demikian, jumlah politeknik di Indonesia juga masih sangat besar ketimpangannya.

Kebutuhan Lulusan Vokasi.
Mengaitkan potensi yang ada dengan pengembangan pendidikan vokasi menuju Indonesia yang makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Dengan potensi yang begitu besar, untuk mengeksploitasinya secara bijaksana diperlukan tenaga kerja yang bermutu dari segi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural), keahlian/keterampilan (sesuai dengan bidang garapan), dan karakter nasionalis yang kuat dan mulia. Semua ini dapat diperoleh melalui pendidikan dalam arti luas.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas maka Politeknik merupakan lembaga pendidikan yang sangat tepat untuk mewujudkan visi tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2007 menyatakan bahwa pendidikan politeknik sangat sesuai untuk dikembangkan di Indonesia karena didasarkan pada besarnya kebutuhan tenaga kerja dan sumber daya manusia terampil di Indonesia.

Jika memperhatikan program pembangunan Pemerintah yang tertuang dalam Nawacita pun pengembangan pendidikan vokasi pun sangat relevan sebagai penyedia tenaga kerja yang handal berkompeten, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Sehingga sangat tepat jika Presiden Jkw-Jk memasukkan pendidikan vokasi sebagai sasaran utama program kerja bidang pendidikan atau apa yang disebut dengan Program Indonesia Pintar. Dalam dua dekade ke depan, Indonesia membutuhkan satu juta lulusan baik tingkat sekolah kejuruan maupun tingkat diploma tiga dan sarjana terapan seperti lulusan politeknik. Inilah peluang dan target yang akan kita manfaatkan untuk menyiapkan para lulusan yang siap pakai, memiliki kahlian dan berdaya saing sebagaimana visi dan misi POLITEKNIK KUTARAJA (*ham)

Pentingnya Mengetahui Bakat dan Minat Bagi Siswa SMA/SMK Sederajat

Pendidikan | Politeknik Kutaraja

Foto: Dewa 19, Ahmad Dhani dkk. (google.com)

Memang bukan jaminan bahwa dengan mengetahui bakat yang dimiliki oleh seseorang, lalu orang tersebut serta merta menjadi sukses. No! Masih diperlukan serangkaian variabel lain yang harus dmiliki juga dilakukan. Bagaimana mungkin tanpa mengerjakan apapun kemudian menjadi sukses hanya karena mereka diduga memiliki suatu bakat. Bagaimana pula nasib orang yang tidak mempunyai bakat?

Namun yang meyakini teori sukses dan bakat tentu saja sangat percaya bahwa kontribusi paling besar yang dapat menunjang kesuksesan seseorang adalah diawali dengan sebuah bakat. Atas dasar ini lalu seseorang dapat dengan mudah memilih sejak dini jalan kesuksesan yang mereka bangun. Dengan kata lain melakukan sesuatu dengan tidak berbakat akan sangat berbeda hasil dan kualitasnya dibanding bila dikerjakan oleh mereka yang memiliki bakat pada bidang tersebut.

Lalu apakah bakat itu? Euis (2004) menyatakan bahwa, bakat (Aptitude) diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar terwujud. Menurut KBBI bakat dapat diartikan dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir. Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkan untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan dengan suatu latihan khusus, misalnya: berupa kemampuan berbahasa, kemampuan bermain musik dan lain sebagainya (Wijaya 1988). Ya! bakat itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang atau bahkan kepada setiap orang, artinya bahwa setiap orang sebenarnya adalah memiliki bakat pada bidang tertentu. Bisa jadi seseorang sangat berbakat pada bidang musik, dan orang lainnya berbakat pada bidang melukis atau lainnya. Karena bakat ini bawaan sejak lahir, maka idealnya setiap orang sudah mengetahui apa bakat yang dimiliki dan dibidang apa bakat tersebut. Paling tidak, setiap orang tua sudah mengenali dan mengetahui bakat-bakat anaknya.

Untuk mengetahui bakat-bakat yang dimiliki, memang secara kasat mata bisa terlihat dan diketahui dengan mempelajari perilaku yang ditampilkan oleh orang tersebut, namun untuk memastikannya memerlukan suatu teknik secara ilmiah yang diakui dalam ilmu pengetahuan modern. Pekerjaan ini hanya dapat dilakukan oleh para praktisi yang mempelajari ilmu perilaku atau yang sering kita kenal dengan sebutan psikolog. Merekalah yang dapat menentukan seseorang memiliki bakat apa dan dibidang mana.

Seiring perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Sebahagian pekerjaan para psikolog dalam melihat dan menentukan bakat seseorang sudah dapat dilakukan oleh orang yang bukan psikolog sekalipun. Dengan bantuan aplikasi baik online maupun offline yang dirancang secara khusus, seseorang dapat melihat bakat dirinya sendiri. Tentu saja aplikasi yang dimaksud juga merupakan hasil rancangan dan rekomendasi para psikolog.

Politeknik Kutaraja Akan Mengadakan Tes Bakat dan Minat Bagi Siswa SMA/SMK Sederajat se-Kota Banda Aceh. Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu tri darma perguruan tinggi, segenap manajemen Politeknik Kutaraja di Banda Aceh merencanakan untuk melakukan kegiatan tersebut sebagai upaya membantu para siswa yang akan lulus SMA/SMK dan melanjutkan kuliah untuk mengetahui bakat yang sesuai dengan pilihan jurusan dan bidang ilmu yang cocok dengan minatnya. Sehingga proses pendidikan yang mereka jalani nantinya dapat lebih menyenangkan dan memuaskan. Hal tersebut sangat penting karena dengan suasana hati yang gembira, maka para siswa akan dapat melahirkan prestasi-prestasi terbaiknya dalam perkulihan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah tidak menimbulkan stress yang sangat menganggu proses pendidikan disebabkan ketidaksukaan mereka terhadap jurusan dan bidang yang mereka pilih sendiri sejak awal, dimana mereka tidak mengetahui apa bakat dan minat yang mereka miliki. Jika kondisi ini terjadi, maka ujung-ujungnya adalah mereka akan gagal kuliah dan bahkan terkena droup out (DO) dari kampus mereka. Tentu saja situasi tersebut tidak diinginkan oleh siapa pun apalagi para orang tua siswa/mahasiswa.

Jika dikaitkan dengan dunia kerja, seseorang yang sudah mengetahui bakat yang dimilikinya, maka mereka akan mencari kerja dibidang bakat mereka tersebut. Bekerja dengan keahlian tertentu karena suatu bakat akan sangat membantu mereka dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan berkualitas. Jika dia seorang yang berbakat dalam melukis, maka keahlian melukisnya itu dapat melahirkan karya yang sangat luar biasa. Kenapa bisa? ya karena mereka melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan perasaan yang sangat menyenangkan. Kinerja pun sangat produktif dan berkualitas tinggi.

Kisah Sukses DEWA 19 Karena Bakat Bermain Musik. Seperti dilansir pada laman facebook Inspira diposting pada tanggal 18 November 2015. Grup musik Dewa 19, sulit untuk tak menyebut nama Ahmad Dhani. Musisi bertangan dingin yang sukses menukangi band itu hingga berhasil mencapai puncak popularitas dengan puluhan hits yang sebagian besar ia ciptakan bersama rekan-rekannya.

Putra pasangan Eddy Abdul Manaf dan Joyce Theresia Pamela ini sejak duduk di bangku SD sudah menggandrungi karya-karya grup band legendaris asal Inggris, Queen. Kecintaannya pada band yang terkenal dengan hits Bohemian Rapsody itu dapat terlihat dari koleksi albumnya yang mencapai 50 keping. Bakat bermusik anak pertama dari tiga bersaudara ini mulai bergeliat saat ia bersekolah di SMPN 6 Surabaya. Saat itu, tepatnya di tahun 1986, Dhani dan tiga orang sahabatnya Andra Junaidi, Erwin Prasetya, dan Wawan Juniarso mendirikan grup band DEWA.

Awalnya, mereka mengusung aliran musik rock namun kemudian mencoba jalur musik jazz. Perubahan aliran musik tersebut kemudian diikuti pula dengan perubahan nama DEWA menjadi Downbeat. Bersama Downbeat, Dhani dan kawan-kawan sempat menjuarai Festival jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA ’90 atau juara II Djarum Super Fiesta Musik. Namun pada akhirnya Dhani kembali ke jalur rock dengan mengibarkan bendera DEWA 19 dan kemudian merekrut Ari Lasso sebagai vokalis. Setelah lulus SMA, di tahun 1991, Ahmad Dhani hijrah ke Jakarta. Alasan kepindahannya ke ibukota karena di Kota itu tidak ada studio yang memadai. Setibanya di Jakarta, Dhani pun mencoba peruntungan nasib dengan mencari perusahaan rekaman yang akan melabeli Dewa 19. Dengan modal seadanya, Dhani menginjak rimba ibukota, gentayangan dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota.  Namun pada akhirnya Ahmad Dhani dan DEWA 19 sukses menjadi Band Papan Atas di Indonesia. (Inspira)——(*ham)

Politeknik Berkualitas, Pendidikan Vokasi Akan Jadi Pilihan Favorit

Pendidikan | Banda Aceh

Gambar: Pendidikan Vokasi Politeknik

Sebagaimana dilansir website resmi Kemenristekdikti beberapa waktu lalu bahwa Indonesia saat ini sangat membutuhkan pendidikan yang bersifat menghasilkan output yang memiliki ketrampilan atau skill yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga outcome-nya jelas dan fokus pada mempersiapkan lulusan yang berkompeten dan berdaya saing serta siap memasuki dunia kerja. Pendidikan semacam itulah yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah, di mana kurikulum yang diterapkan dapat menjawab tantangan pasar tenaga kerja dan kebutuhan industri. Pola pembelajaran pun dapat dilakukan dengan pendekatan praktis dan sedikit teoritis. Tidak seperti selama ini, para mahasiswa atau siswa lebih banyak belajar teori dan sangat sedikit praktek, akibatnya para lulusan memiliki pengetahuan yang banyak tetapi miskin ketrampilan. Tidak mampu bekerja sehingga sulit bersaing dengan para pencari kerja dari negara-negara lain.

Untuk mampu bersaing di ranah nasional maupun global, industri suatu negara harus didukung oleh tenaga kerja yang produktif. Produktivitas tenaga kerja ditentukan oleh kompetensi tenaga kerja yang dapat membantu memajukan daya saing perekonomian suatu bangsa.

Hal ini disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir saat meresmikan Politeknik Ketenagakerjaan bersama 2 (dua) Menteri kabinet kerja yaitu Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Hanif Dakhiri dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur, bertempat di BBPLK, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (26/10).

Langkah strategis yang telah ditempuh oleh Kementerian Ketanagakerjaan RI yang baru saja mendirikan Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker), disambut baik Menteri Nasir dalam rangka melahirkan tenaga kerja baru yang berkompeten dari Politeknik.

“Pendidikan vokasi di Indonesia hanya sekitar 16%. Politeknik harus kita dorong agar menjadi Politeknik yang berkualitas dan unggul, dengan begitu saya yakin kedepannya pendidikan vokasi akan menjadi salah satu pilihan favorit bagi anak-anak di Indonesia untuk mengemban pendidikan yang lebih tinggi,” tutur Menteri Nasir dalam sambutannya.

Bila dibandingkan, jumlah penduduk Indonesia hanya sebanyak 1 (satu) banding 6 (enam) dari jumlah penduduk di China, namun di China hampir 56% perguruan tingginya merupakan pendidikan vokasi, sedangkan di Indonesia dengan jumlah perguruan tinggi yang lebih banyak dibanding China tetapi China memiliki lebih banyak tenaga kerja yang produktif bila dibandingkan dengan Indonesia.

“Kompetensi tenaga kerja banyak dipengaruhi oleh pengalaman semasa kerja dan pengalaman kerja semasa masih menjadi peserta didik. Saat ini, pendidikan vokasi menjadi kunci jawaban atas kebutuhan tenaga kerja yang produktif dan kompetitif,” ujar Menteri Nasir.

Menteri Nasir menambahkan, para pendidik di Politeknik tidak hanya berasal dari lulusan akademik dengan syarat lulusan pendidikan S1 ataupun S2, tetapi ketika dia sudah menjadi ahli industri di bidangya dan berpengalaman, itu bisa menjadi prioritas untuk menjadi dosen di Politeknik.

Harapan Menteri Nasir, nantinya lulusan Politeknik selain mendapatkan ijazah, mereka juga harus memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya masing-masing minimal pada tingkatan 5 (lima). Ia juga mengimbau agar mahasiswa Politeknik jangan hanya menjadi ahli madya tetapi harus diarahkan untuk memiliki sertifikasi industri.

Dalam kaitan itulah, Politeknik Kutaraja di Banda Aceh hadir untuk menyiapkan generasi muda Aceh untuk memimpin negeri ini kedepan. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan belum terkelola dengan baik, maka para siswa lulusan SMA/SMK sederajat perlu dibekali dengan pendidikan yang berbasis pada penerapan ketrampilan serta keahlian yang unggul, kreatif dan inovatif, sehingga pada tataran pelaksanaan dilapangan SDM Aceh mampu menghasilkan output yang lebih besar dan lebih berkualitas.

Pendidikan vokasi pada Politeknik Kutaraja menekankan pada program studi bidang manajemen dan keuangan. Sekurang-kurangnya dalam periode sekarang ini membuka empat program studi dengan berbagai strata. Ada Prodi Akuntansi (D3), Prodi Administrasi Perkantoran (D3), Sarjana Terapan Analis Keuangan dan Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Keuangan Sektor Publik (MKSP). 

Semua program studi tersebut dibuka mengacu kepada kebutuhan tenaga kerja pada bidang tersebut dilapangan. Aceh saat ini masih kekurangan tenaga madya tatalaksan kantor yang mumpuni dan berkompeten, masih ditemukan di kantor-kantor pemerintahan di mana pegawainya banyak yang belum menguasai aplikasi komputer perkantoran, tidak bisa mengoperasionalkan komputer, apalagi level computer for office tingkat lanjut. Kondisi ini berlaku bukan hanya pada perkantoran di tingkat kabupaten/kota bahkan level provinsi sekalipun. Belum lagi pegawai kantor kelurahan yang ada di gampong-gampong.

Politeknik Kutaraja juga akan berkiprah dalam menyiapkan SDM dan lulusannya dalam bidang tenaga ahli tatakelola keuangan publik, yaitu dengan membuka jurusan Manajemen Keuangan Sektor Publik. Memang beberapa kabupaten/kota di Aceh telah berhasil memperoleh predikat WTP dari BPK dalam pengelolaan anggaran daerah, namun masih banyak juga daerah-daerah yang belum mampu mencapai predikat tersebut karena berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah kurangnya tenaga ahli atau pegawai yang mampu dalam membuat perencanaan, pengelolaan dan pelaporan yang standar dan baik akan anggaran daerah tersebut. Nah disinilah peran Politeknik Kutaraja untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja dengan keterampilan dan pengetahuan keuangan negara/daerah sesuai dengan yang diharapkan.

Bagi siswa SMA/SMK sederajat yang akan lulus tahun 2018, silakan mendaftarkan diri untuk kuliah di Politeknik Kutaraja dengan pilihan program studi yang telah kami paparkan di atas dengan datang langsung ke kampus di Jalan Syiah Kuala No.10 Jambo Tape Banda Aceh (Depan MIN Jambo Tape) atau melalui website (online) www.poltekkutaraja.ac.id pada setiap hari/jam kerja. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut dapat juga menghubungi Telephone: (0651) 8016378/whatsapp +6281360329710 (*ham)

Kemana Setelah SMA? | Menerawang Jalan Panjang

Kampus Politeknik Kutaraja. Jln Syiah Kuala No 10 Banda Aceh

Sukses Berbisnis | Pendidikan. Banda Aceh, 22 Desember 2017 | Tulisan singkat dan sederhana ini penulis ingin sedikit mengupas tentang pendidikan, khususnya pendidikan dasar.

Berbicara tentang pendidikan berarti kita berbicara tentang kebutuhan dasar manusia pada era millenium ini. Pendidikan yang saya maksudkan adalah suatu proses di mana manusia melakukan sebuah upaya untuk memperoleh pengetahuan yang dapat menjadikan dirinya menjadi lebih baik. Dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi mampu. Bagaimana pun pendidikan merupakan pondasi penting bagi sebuah nergara. Sebuah negara akan mampu mencapai kemajuan yang berarti dan berkualitas jika sumber daya manusia yang di milikinya mampu melahirkan berbagai ide besar dan inovasi-inovasi baru. Misalnya kita lihat negara-negara eropa, Amerika, Jepang bahkan negara-negara lain dibelahan dunia tidak segan-segan untuk memajukan pendidikan dinegaranya dengan anggaran yang sangat besar.

Bagaimana di Indonesia? Menurut Professor Andrew Rosser dari Universitas Melbourne hari Senin (20/11/2017) malam dalam acara bernama Lowy Institute di NGV sebagaimana dilansir oleh media berita online mengatakan bahwa Indonesia sudah mampu memberikan pendidikan bagi warga nergaranya secara merata, meskipun dengan anggaran yang terus meningkat namun kualitas pendidikannya belum begitu baik. Berdasarkan informasi tersebut diatas maka inilah tugas kita semua mulai dari pemerintah, masyarakat, guru, dosen, pihak perusahaan swasta dan pengusaha harus berpikir bagaimana caranya meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita sehingga baik secara kuantitas maupun kualitas, pendidikan di Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Bagaimana Pendidikan di Aceh? Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022, Bapak Irwandi dan Nova Iriansyah dalam visi-misinya menekankan betapa sangat penting bagi Pemerintah Aceh untuk terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, terutama pendidikan dasar bagi setiap rakyat Aceh. Sehingga untuk mewujudkan cita-citanya, pasangan ini membuat program kerja dalam bidang pendidikan yaitu ACEH CARONG. Dengan program kerja ini diharapkan akses pendidikan dan kualitasnya dapat lebih meningkat dari sebelumnya. Ini merupakan terobosan yang bagus dan tentu harus didukung oleh anggaran yang cukup, pengajar/guru yang berkompeten dan fasilitas (sarana/prasarana) di setiap sekolah tersedia secara cukup, lengkap dan fungsional. Inilah salah satu program unggulan yang diusung oleh Gubernur Aceh dan wakilnya.

UN (ujian nasional) di Depan Mata. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya siswa SD sampai dengan SMA pada bulan April menghadapi ujian akhir sekolah dan dilanjutkan dengan ujian nasional. Namun yang menjadi pokok perhatian kita adalah what`s next setelah lulus dari SMA? Jika kita melihat data yang ada bahwa pengangguran lulusan SMA juga sangat tinggi, hal ini mengindikasikan bahwa tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berarti memilih jadi pengangguran. Kenapa? Ya karena tidak ada lowongan kerja yang dapat menampung seluruh lulusan SMA di Aceh.

Dalam rangka mendukung program Pemerintah Aceh dalam mewujudkan ACEH CARONG, Yayasan Pendidikan Sarana Ilmu Kutaraja Provinsi Aceh kini telah mendirikan sebuah lembaga pendidikan perguruan tinggi vokasi yaitu POLITEKNIK KUTARAJA dengan izin Kemendiknas Dikti masing-masing Program Studi Akuntansi (D3), Administrasi Perkantoran (D3), Analis Keuangan (Sarjana Terapan) dan Manajemen Keuangan Sektor Publik (MKSP) Sarjana Terapan. Semua program studi tersebut menekankan pada kurikulum berbasis kompetensi dengan menerapkan pola pembelajaran teori dan praktek yang lebih banyak untuk menumbuhkan skill yang siap bekerja di berbagai industri (perusahaan swasta dan sektor pemerintah).

Saat ini kampus POLITEKNIK KUTARAJA beralamat di Jalan Syiah Kuala No 10 Banda Aceh (Depan MIN Jambo Tape). Penerimaan mahasiswa baru untuk semua prodi mulai dibuka untuk Tahun Ajaran 2018/2019. SIlakan datang dan berkunjung ke kampus POLITEKNIK KUTARAJA untuk mendapatkan informasi lebih detil pada setiap jam kerja.

Harapan kami semoga siswa lulusan SMA di Provinsi Aceh memiliki pilihan yang lebih banyak untuk meneruskan pendidikannya dan dapat mewujudkan impian mereka sekaligus menciptakan ACEH CARONG sebagai generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. (*ham)