Politeknik? Mengapa Tidak!

Sejak reformasi dicanangkan di tahun 1998, Politeknik di Indonesia hampir tidak terdengar kiprahnya, bahkan gelegarnya seolah mati tertelan bumi.

Kenapa demikian?

Alasannya sederhana, Politeknik dianggap sebagai Perguruan Tinggi (PT) kelas bawah yang memiliki lulusan tidak bergelar, sehingga lulusan politeknik tidak memiliki kebanggaan layaknya lulusan PT umum yang memiliki sejumlah gelar kesarjanaan seperti Insinyur (Ir), Dokter (dr), Sarjana Hukum (SH), Sarjana Ekonomi (SE) dan sebagainya. Akibatnya sebagian lulusan politeknik berusaha melanjutkan ke PT untuk memperoleh gelar kesarjanaan tertentu. Demikian pula, hingga saat ini Politeknik kurang peminat sehingga jumlah pertumbuhan kelulusannya mengalami hambatan. Pangkalan Data Perguruan Tinggi (2015) mempublikasi, jumlah Politeknik hanya sebanyak 262 institusi dari sejumlah 4300 PT, atau hanya sekitar 6% dari seluruh jumlah PT di Indonesia. Dan dari jumlah itu, 63% dikelola swasta, 17% negeri dan 20% dikelola kedinasan. Data itu menegaskan bahwa minat lulusan sekolah menengah atas masuk politeknis sangat terbatas dibanding masuk perguruan tinggi umum, disisi lain Politeknik yang dikelola swasta menunjukkan dominan. Data yang sama menunjukkan jumlah mahasiswa Politeknik saat ini sebesar 234.495 mahasiswa, jauh dibawah jumlah mahasiswa diperguruan tinggi yang berjumlah sekitar 10 juta mahasiswa.

Politeknik adalah penyelenggara pendidikan tinggi dengan bidang pengetahuan khusus, bertujuan agar lulusannya dapat bekerja secara profesional dalam keahlian tertentu. Politeknik memberikan pengalaman belajar dan latihan yang cukup untuk membentuk kemampuan profesional dan terampil di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, Politeknik harus dapat memberikan pendidikan dan pengajaran vokasi setingkat Pendidikan Tinggi, program Diploma dan Profesi/Spesialis, serta sebagai Pusat penciptaan, pengembangan dan penyelenggaraan Iptek.

Politeknik kini menjadi penting ketika Presiden RI mengemukakan pendapatnya tentang Politeknik, antara lain Politeknik di indonesia sebaiknya memiliki sistem seperti politeknik yang ada di Jerman, ini berarti menegaskan bahwa lulusan Politeknik harus bisa membuat, merekayasa, mengelola produk iptek, namun juga harus bisa mengembangkan secara kreatif sehingga produk iptek menjadi lebih sempurna. Dengan kata lain bahwa Politeknik tidak boleh hanya melamun,hanya paparan konsep dan produk berupa jurnal tapi juga harus mengasilkan produk inovatif yang efisien, murah, kuat dan aman serta siap masuk ke pasar. Jika itu yang dimaksud, maka sebuah Politeknik tidak cukup hanya berkutat di tingkat kesiapan Teknologi saja, tetapi juga harus bergerak secara cepat mengembangkan pasar, menyiapkan organisasi dan tata-kelola, memperluas jaringan pasar, jaringan inovasi dan klaster industri, mengembangkan kerjasama serta mempu mengelola manajemen resiko. Dan bahkan kemampuan teknopreneurship juga menjadi faktor penting mendongkrak kapasitas Politeknik.

Politeknik di Indonesia saat ini??..

Pada umumnya di negara seperti Canada, Meksiko serta beberapa negara Eropa, termasuk Indonesia, Politeknik sendiri sering disamakan dengan institut teknologi, tetapi bedanya politeknik tidak mengeluarkan lulusan bergelar Sarjana sebagaimana Institut Teknologi yang ada di Indonesia, melainkan Diploma, kebanyakan Politeknik mengeluarkan lulusan yang bergelar Diploma III, yang ditempuh dalam 3 tahun. Disamping jenjang pendidikan, perbedaan antara Politeknik dengan Universitas terjadi pada kurikulumnya, jika Universitas lebih menekankan pada suatu teori, konsep dan perkembangan keilmuan kedepan serta minim praktik langsung lapangan/industri, maka Politeknik hampir 75% Praktik dilapangan dengan menekankan aplikasi keilmuan. Politeknik merupakan salah satu bentuk perguruan tinggi selain akademi, intitusi, sekolah tinggi maupun universitas di Indonesia. Banyak politeknik yang berprestasi mengalahkan Universitas. Mahasiswa Politeknik yang berprestasi dibidang teknologi, diantaranya adalah Politeknik Negeri Bandung yang pernah meraih gelar juara robotik tingkat internasional, mengalahkan Universitas.

Read more at https://www.ristekdikti.go.id/politeknik-bangkit-mendukung-kinerja-pembangunan/#8PabhD1A8G6ljdKV.99

Nah adik-adik, tunggu apa lagi ayo segera mendaftarkan diri di Politeknik Kutaraja di Banda Aceh Jalan Syiah Kuala No 10 atau kunjungi www.poltekkutaraja.ac.id

Pendidikan Vokasi dan Bonus Demografi 2020-2030

Pendidikan | Politeknik Kutaraja

Kampus Politeknik Kutaraja “pendidikan vokasi”.

Menurut laporan badan buruh dunia ILO (international labour organization) tingkat pendidikan pekerja di Indonesia sebanyak 60 persen adalah lulusan sekolah dasar (SD), di mana pendidikannya sangat rendah, tidak terdidik dan tidak memiliki ketrampilan sehingga produktivitasnya ikut rendah. Namun di masa mendatang, dunia kerja membutuhkan tenaga kerja yang terdidik, terampil dan berkemampuan tinggi, yang mampu bekerja sama dalam tim, memiliki kemampuan memecahkan masalah secara efektif, mampu memproses dan memanfaatkan informasi, serta mampu memanfaatkan teknologi secara efektif dalam pasar global, dalam rangka meningkatkan produktivitas. Dan berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2015, hanya 8,32% dari angkatan kerja saat ini berasal dari bangku kuliah. Yang paling besar justru belum tamat SD (13,02%), tidak/belum pernah sekolah (27,42%), SMP (18,03%), dan SMA (17,26%). Oleh sebab itu, proses pendidikan tinggi harus difokuskan pada pemberdayaan dan peningkatan kemampuan mahasiswa dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sehingga mampu menghasilkan mahasiswa yang mandiri, berkompeten dan produktif.

Mahasiswa sebagai subyek pembelajaran dalam pusaran pendidikan di perguruan tinggi, perlu diarahkan untuk belajar secara aktif membangun pengetahuan dan keterampilannya dengan cara bekerjasama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait. Tidak hanya secara internal dengan para dosen, instruktur dan citivas akademika namun juga secara eksternal yaitu dengan industri atau perusahaan dan pemerintah. Model pendidikan dan proses pembelajaran seperti ini sangat berbeda dengan apa yang diterapkan di perguruan tinggi pendidikan akademik saat ini, di mana mahasiswa seringkali hanya menjadi objek dari sebuah proses. Dosen sering bertindak sebagai pusat (center) dalam kegiatan belajar mengajar, bahkan sistim terpusat semacam ini tidak jarang memperagakan hegemoni dosen dalam perkuliahan begitu menonjol. Mahasiswa suka tidak suka harus menerima begitu saja apa yang diajarkan oleh sang dosen tanpa boleh membantah karena semuanya berdasarkan teori (based on theory). Hal ini membuat pemikiran mahasiswa tidak berkembang dan menjadi sangat terbatas, melahirkan para penganut teori dan takut berinovasi. Namun apa boleh buat, Indonesia sudah cukup lama menerapkan sistim pendidikan seperti itu. Paradigma pendidikan yang dilandasi asumsi John Locke bahwa pikiran peserta didik yang belum terlatih sama dengan kertas kosong yang menunggu dosen untuk menulisinya telah begitu mendarah daging.

Namun pada pendidikan vokasi seperti Politeknik Kutaraja, proses pembelajaran yang dilakukan menerapkan sistim yang sangat berbeda dengan pendidikan akademi, di mana mahasiswa merupakan sebagai pusat pembelajaran atau apa yang disebut dengan student centre learning (SCL). Strategi belajar model SCL dianggap sangat penting dalam mengajar dan mahasiswa dilatih menggunakan strategi belajar tersebut agar dapat mandiri dalam meningkatkan keberhasilan belajarnya. Paradigma pembelajaran telah bergeser dari pembelajaran berpusat pada dosen ke pembelajaran berpusat pada mahasiswa, pergeseran tersebut menyentuh semua aspek pembelajaran. Oleh sebab itu maka Politeknik Kutaraja sangat menekankan agar untuk mencapai tujuan pembelajaran, mahasiswa dibantu dengan berbagai fasilitas pendukung, seperti laboratorium komputer, praktek mini bank, lab administrasi perkantoran dan magang kerja dengan pihak relasi/industri. Sehingga mahasiswa Politeknik Kutaraja memiliki satu karakteristik yang khas sejak mulai kuliah sampai lulus.

Karakteristik pendidikan vokasi pada umumnya adalah bagaimana menciptakan profil lulusan yang berorientasi pada profesi atau dunia kerja, memiliki sikap profesional berstandar, mempunyai pengetahuan praktis, dengan ketrampilan khusus yang ditekankan pada kebutuhan dunia kerja, serta memiliki kepekaan dan tanggung jawab yang tinggi terhadap lingkungan kerja dan sosial. Semua ini dapat dicapai karena dosen atau pengajar pada pendidikan vokasi adalah mereka yang mempunyai keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri serta profesi. Apalagi ditunjang dengan media pembelajaran yang cukup, tentu akan sangat membantu memberikan stimulus bagi mahasiswa untuk menguasai keahlian dan kompetensi sesuai bidang minat dan bakatnya.

Fenomena Bonus Demografi

Dalam beberapa tahun ke depan Indonesia akan menghadapi bonus demografi.  Bonus demografi adalah suatu fenomena dimana jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Menurut Prof. Haryono Suyono,  seperti dikutip oleh Win Konadi dan Zainuddin Iba (2009), menyatakan bahwa Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi adalah melimpahnya jumlah penduduk produktif usia angkatan kerja (15-64 tahun), yang mencapai sekitar 60 persen atau 160-180 juta jiwa pada 2020, sedangkan sekitar  30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun). Jika bonus demografi tersebut berhasil memanfaatkannya dengan melakukan berbagai upaya yang diperlukan untuk terjadinya hal tersebut, maka Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 dunia, meningkatnya target pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan investasi yang ujungnya adalah akan terserap tenaga kerja produktif sebagai hasil dari bonus demografi . Dengan demikian kebutuhan terhadap tenaga kerja juga mengalami peningkatan.

Meskipun begitu, banyak perusahaan yang masih mengkhawatirkan kualitas lulusan universitas di Indonesia. Pasalnya, kebutuhan tenaga kerja (talent) pada tahun 2021 akan mengalami perubahan seiring meningkatkan adaptasi teknologi dalam operasional perusahaan. Di sisi lain, kebanyakan kurikulum pendidikan di Indonesia tidak banyak berubah sesuai perubahan zaman. Berdasarkan laporan Bank Dunia tahun 2015, dari sisi kompetetif, tenaga kerja di Indonesia masih jauh berada negara-negara di dunia dengan menduduki peringkat ke-111 di dunia, atau ke-6 di Asia Tenggara. Dalam usaha untuk meningkatkan kualitas penduduk produktif dan berdaya saing masa mendatang, salah satu usaha yang tepat adalah dengan menyediakan kesempatan pendidikan seluas-luasnya. Kemudahan akses pendidikan dan didukung oleh prasarana pendidikan yang lengkap, serta tenaga pendidik yang berkualitas, akan menciptakan masyarakat yang berkualitas pula. Dengan kesempatan mengenyam pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi, tentu menjadi modal penting untuk menciptakan angkatan kerja yang berkualitas dan terampil. Inilah komitmen POLITEKNIK KUTARAJA di Banda Aceh untuk mewujudkan generasi muda yang berkualitas, smart dan berdaya saing. (*ham)

Politeknik Sebagai Pilihan Pendidikan Masa Depan

Pendidikan Vokasi Sebagai Model Pendidikan Masa Depan Indonesia l Politeknik Kutaraja 

Politeknik Penuh Inspirasi

Dewasa ini di Indonesia sesuai data Badan Pusat Statistik jumlah pengangguran terdidik yang merupakan lulusan perguruan tinggi masih menjadi permasalahan utama. Hal ini, salah satunya disebabkan karena masih ada beberapa lulusan perguruan tinggi yang kualitas lulusannya kurang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia usaha dan industri saat ini. Walaupun pendidikan merupakan kebutuhan dasar akan ilmu pengetahuan namun tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan tinggi di Indonesia juga diarahkan untuk mencapai kemajuan negara dan kesejehteraan lulusan itu sendiri.

Berbicara mengenai pendidikan, di Indonesia ada tiga jenis pendidikan tingggi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, program pendidikan di pendidikan tinggi mencakup pendidikan akademik (sarjana, magister, dan doktor), pendidikan profesi/spesialis dan pendidikan vokasi (diploma). Secara definisi pendidikan akademik dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni tertentu. Pendidikan kademik mencakup program pendidikan sarjana (S1), magister atau master (S2) dan doktor (S3).

Sedangkan Pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Pendidikan vokasi mencakup program pendidikan diploma I (D1), diploma II (D2), diploma III (D3) dan Sarjana Terapan. Lulusan pendidikan vokasi mendapatkan gelar vokasi, misalnya A.Ma (Ahli Madya), A.Md (Ahli Madya). S.Tr.(Sarjana Terapan). Ada kecenderungan (trend) pendidikan di masa depan, dimana mulai terjadi pergeseran dari sistem pendidikan untuk invensi menuju pendidikan yang lebih mengacu pada kebutuhan masyarakat, maka pendidikan tinggi vokasi merupakan pendidikan yang sangat sesuai dalam penyiapan lulusan yang mampu bekerja dan siap berprofesi.

Dalam pendidikan vokasi penguasaan aspek keilmuan dan teor-teori tidak begitu utama, justru yang sangat penting adalah mahasiswa/siswa memiliki ketrampilan khusus dalam bidang program yang mereka ikuti. Pendidikan vokasi menekankan pembelajaran terstruktur dengan keahlian, dalam kurikulumnya mencakup muatan pembelajaran keilmuan, keterampilan dan praktik kerja lapangan. Lembaga pendidikan vokasi juga bermitra dengan perusahaan dan industri sebab pembelajaran tidak hanya dilakukan kampus tapi juga di perusahaan, inilah kelebihan pendidikan vokasional yang paling subtansial, dimana mahasiswanya dituntut mampu bekerja dengan terampil saat dibutuhkan perusahaan dan maupun pemerintah. Sehingga dalam perkembangan dunia saat ini lulusan perguruan tinggi vokasi sangat dibutuhkan peranannya dalam berbagai sektor, terutama sektor ekonomi dan bisnis. Kontribusi para lulusan yang memiliki keahlian dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan industri.

Jika kita berkaca pada negara-negara maju ternyata rasio pendidikannya lebih besar pendidikan vokasi bila dibandingkan pendidikan akademik dan perannya pun nyata dalam mencapai kemajuan. Jerman misalnya. Model pendidikan vokasi di Jerman telah terbukti mendukung kemajuan industri/perusahaan dan ketahanan ekonomi Jerman. Di negara lainnya juga meniru sistem pendidikan vokasi ini seperti Cina. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang lebih memilih lulusan pendidikan kejuruan yang telah menguasai keahlian praktikal, karena dianggap lebih siap kerja, maka tingkat permintaan lulusan oleh industri semakin tinggi. Itulah ciri khas perguruan tinggi vokasi di mana dapat menghasilkan lulusan yang profesional di bidangnya, sebab kurikulum yang diberikan berbasis kompetensi sehingga lulusan pendidikan vokasi dapat bersaing di dalam dunia kerja.

Jadi sebenarnya dapat kita katakan bahwa pendidikan vokasi adalah sistem pendidikan yang memadukan antara fungsi pendidikan (education) yang menyiapkan sumber daya manusia seutuhnya dengan pelatihan (training) yang berperan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap bekerja atau berkarir pada suatu bidang profesi tertentu.

Meskipun pendidikan vokasi masih tergolong baru dan berusia muda di Indonesia namun minat dan animo masyarakat untuk mengenyam pendidikan jenis ini tergolong tinggi dan tren-nya terus terjadi peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini dapat kita lihat dengan pertumbuhan pendirian kampus politeknik yang begitu pesat. Berdasarkan data Kemenristekdikti (2015) dari sejumlah 3.227 perguruan tinggi, total politeknik di Indonesia berjumlah 262, yang terdiri atas 43 (17%) politeknik negeri, 53 politeknik kedinasan (20%) dan 166 politeknik swasta (63%) atau meningkat dari tahun sebelumnya. Walaupun demikian, jumlah politeknik di Indonesia juga masih sangat besar ketimpangannya.

Kebutuhan Lulusan Vokasi.
Mengaitkan potensi yang ada dengan pengembangan pendidikan vokasi menuju Indonesia yang makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Dengan potensi yang begitu besar, untuk mengeksploitasinya secara bijaksana diperlukan tenaga kerja yang bermutu dari segi pengetahuan (faktual, konseptual, prosedural), keahlian/keterampilan (sesuai dengan bidang garapan), dan karakter nasionalis yang kuat dan mulia. Semua ini dapat diperoleh melalui pendidikan dalam arti luas.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas maka Politeknik merupakan lembaga pendidikan yang sangat tepat untuk mewujudkan visi tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2007 menyatakan bahwa pendidikan politeknik sangat sesuai untuk dikembangkan di Indonesia karena didasarkan pada besarnya kebutuhan tenaga kerja dan sumber daya manusia terampil di Indonesia.

Jika memperhatikan program pembangunan Pemerintah yang tertuang dalam Nawacita pun pengembangan pendidikan vokasi pun sangat relevan sebagai penyedia tenaga kerja yang handal berkompeten, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Sehingga sangat tepat jika Presiden Jkw-Jk memasukkan pendidikan vokasi sebagai sasaran utama program kerja bidang pendidikan atau apa yang disebut dengan Program Indonesia Pintar. Dalam dua dekade ke depan, Indonesia membutuhkan satu juta lulusan baik tingkat sekolah kejuruan maupun tingkat diploma tiga dan sarjana terapan seperti lulusan politeknik. Inilah peluang dan target yang akan kita manfaatkan untuk menyiapkan para lulusan yang siap pakai, memiliki kahlian dan berdaya saing sebagaimana visi dan misi POLITEKNIK KUTARAJA (*ham)

Pentingnya Mengetahui Bakat dan Minat Bagi Siswa SMA/SMK Sederajat

Pendidikan | Politeknik Kutaraja

Foto: Dewa 19, Ahmad Dhani dkk. (google.com)

Memang bukan jaminan bahwa dengan mengetahui bakat yang dimiliki oleh seseorang, lalu orang tersebut serta merta menjadi sukses. No! Masih diperlukan serangkaian variabel lain yang harus dmiliki juga dilakukan. Bagaimana mungkin tanpa mengerjakan apapun kemudian menjadi sukses hanya karena mereka diduga memiliki suatu bakat. Bagaimana pula nasib orang yang tidak mempunyai bakat?

Namun yang meyakini teori sukses dan bakat tentu saja sangat percaya bahwa kontribusi paling besar yang dapat menunjang kesuksesan seseorang adalah diawali dengan sebuah bakat. Atas dasar ini lalu seseorang dapat dengan mudah memilih sejak dini jalan kesuksesan yang mereka bangun. Dengan kata lain melakukan sesuatu dengan tidak berbakat akan sangat berbeda hasil dan kualitasnya dibanding bila dikerjakan oleh mereka yang memiliki bakat pada bidang tersebut.

Lalu apakah bakat itu? Euis (2004) menyatakan bahwa, bakat (Aptitude) diartikan sebagai kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar terwujud. Menurut KBBI bakat dapat diartikan dasar (kepandaian, sifat, dan pembawaan) yang dibawa sejak lahir. Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkan untuk mencapai suatu kecakapan, pengetahuan, dan keterampilan dengan suatu latihan khusus, misalnya: berupa kemampuan berbahasa, kemampuan bermain musik dan lain sebagainya (Wijaya 1988). Ya! bakat itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada seseorang atau bahkan kepada setiap orang, artinya bahwa setiap orang sebenarnya adalah memiliki bakat pada bidang tertentu. Bisa jadi seseorang sangat berbakat pada bidang musik, dan orang lainnya berbakat pada bidang melukis atau lainnya. Karena bakat ini bawaan sejak lahir, maka idealnya setiap orang sudah mengetahui apa bakat yang dimiliki dan dibidang apa bakat tersebut. Paling tidak, setiap orang tua sudah mengenali dan mengetahui bakat-bakat anaknya.

Untuk mengetahui bakat-bakat yang dimiliki, memang secara kasat mata bisa terlihat dan diketahui dengan mempelajari perilaku yang ditampilkan oleh orang tersebut, namun untuk memastikannya memerlukan suatu teknik secara ilmiah yang diakui dalam ilmu pengetahuan modern. Pekerjaan ini hanya dapat dilakukan oleh para praktisi yang mempelajari ilmu perilaku atau yang sering kita kenal dengan sebutan psikolog. Merekalah yang dapat menentukan seseorang memiliki bakat apa dan dibidang mana.

Seiring perkembangan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi. Sebahagian pekerjaan para psikolog dalam melihat dan menentukan bakat seseorang sudah dapat dilakukan oleh orang yang bukan psikolog sekalipun. Dengan bantuan aplikasi baik online maupun offline yang dirancang secara khusus, seseorang dapat melihat bakat dirinya sendiri. Tentu saja aplikasi yang dimaksud juga merupakan hasil rancangan dan rekomendasi para psikolog.

Politeknik Kutaraja Akan Mengadakan Tes Bakat dan Minat Bagi Siswa SMA/SMK Sederajat se-Kota Banda Aceh. Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu tri darma perguruan tinggi, segenap manajemen Politeknik Kutaraja di Banda Aceh merencanakan untuk melakukan kegiatan tersebut sebagai upaya membantu para siswa yang akan lulus SMA/SMK dan melanjutkan kuliah untuk mengetahui bakat yang sesuai dengan pilihan jurusan dan bidang ilmu yang cocok dengan minatnya. Sehingga proses pendidikan yang mereka jalani nantinya dapat lebih menyenangkan dan memuaskan. Hal tersebut sangat penting karena dengan suasana hati yang gembira, maka para siswa akan dapat melahirkan prestasi-prestasi terbaiknya dalam perkulihan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah tidak menimbulkan stress yang sangat menganggu proses pendidikan disebabkan ketidaksukaan mereka terhadap jurusan dan bidang yang mereka pilih sendiri sejak awal, dimana mereka tidak mengetahui apa bakat dan minat yang mereka miliki. Jika kondisi ini terjadi, maka ujung-ujungnya adalah mereka akan gagal kuliah dan bahkan terkena droup out (DO) dari kampus mereka. Tentu saja situasi tersebut tidak diinginkan oleh siapa pun apalagi para orang tua siswa/mahasiswa.

Jika dikaitkan dengan dunia kerja, seseorang yang sudah mengetahui bakat yang dimilikinya, maka mereka akan mencari kerja dibidang bakat mereka tersebut. Bekerja dengan keahlian tertentu karena suatu bakat akan sangat membantu mereka dalam menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan berkualitas. Jika dia seorang yang berbakat dalam melukis, maka keahlian melukisnya itu dapat melahirkan karya yang sangat luar biasa. Kenapa bisa? ya karena mereka melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan perasaan yang sangat menyenangkan. Kinerja pun sangat produktif dan berkualitas tinggi.

Kisah Sukses DEWA 19 Karena Bakat Bermain Musik. Seperti dilansir pada laman facebook Inspira diposting pada tanggal 18 November 2015. Grup musik Dewa 19, sulit untuk tak menyebut nama Ahmad Dhani. Musisi bertangan dingin yang sukses menukangi band itu hingga berhasil mencapai puncak popularitas dengan puluhan hits yang sebagian besar ia ciptakan bersama rekan-rekannya.

Putra pasangan Eddy Abdul Manaf dan Joyce Theresia Pamela ini sejak duduk di bangku SD sudah menggandrungi karya-karya grup band legendaris asal Inggris, Queen. Kecintaannya pada band yang terkenal dengan hits Bohemian Rapsody itu dapat terlihat dari koleksi albumnya yang mencapai 50 keping. Bakat bermusik anak pertama dari tiga bersaudara ini mulai bergeliat saat ia bersekolah di SMPN 6 Surabaya. Saat itu, tepatnya di tahun 1986, Dhani dan tiga orang sahabatnya Andra Junaidi, Erwin Prasetya, dan Wawan Juniarso mendirikan grup band DEWA.

Awalnya, mereka mengusung aliran musik rock namun kemudian mencoba jalur musik jazz. Perubahan aliran musik tersebut kemudian diikuti pula dengan perubahan nama DEWA menjadi Downbeat. Bersama Downbeat, Dhani dan kawan-kawan sempat menjuarai Festival jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA ’90 atau juara II Djarum Super Fiesta Musik. Namun pada akhirnya Dhani kembali ke jalur rock dengan mengibarkan bendera DEWA 19 dan kemudian merekrut Ari Lasso sebagai vokalis. Setelah lulus SMA, di tahun 1991, Ahmad Dhani hijrah ke Jakarta. Alasan kepindahannya ke ibukota karena di Kota itu tidak ada studio yang memadai. Setibanya di Jakarta, Dhani pun mencoba peruntungan nasib dengan mencari perusahaan rekaman yang akan melabeli Dewa 19. Dengan modal seadanya, Dhani menginjak rimba ibukota, gentayangan dari satu perusahaan rekaman ke perusahaan rekaman lain menggunakan bus kota.  Namun pada akhirnya Ahmad Dhani dan DEWA 19 sukses menjadi Band Papan Atas di Indonesia. (Inspira)——(*ham)

Politeknik Berkualitas, Pendidikan Vokasi Akan Jadi Pilihan Favorit

Pendidikan | Banda Aceh

Gambar: Pendidikan Vokasi Politeknik

Sebagaimana dilansir website resmi Kemenristekdikti beberapa waktu lalu bahwa Indonesia saat ini sangat membutuhkan pendidikan yang bersifat menghasilkan output yang memiliki ketrampilan atau skill yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga outcome-nya jelas dan fokus pada mempersiapkan lulusan yang berkompeten dan berdaya saing serta siap memasuki dunia kerja. Pendidikan semacam itulah yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah, di mana kurikulum yang diterapkan dapat menjawab tantangan pasar tenaga kerja dan kebutuhan industri. Pola pembelajaran pun dapat dilakukan dengan pendekatan praktis dan sedikit teoritis. Tidak seperti selama ini, para mahasiswa atau siswa lebih banyak belajar teori dan sangat sedikit praktek, akibatnya para lulusan memiliki pengetahuan yang banyak tetapi miskin ketrampilan. Tidak mampu bekerja sehingga sulit bersaing dengan para pencari kerja dari negara-negara lain.

Untuk mampu bersaing di ranah nasional maupun global, industri suatu negara harus didukung oleh tenaga kerja yang produktif. Produktivitas tenaga kerja ditentukan oleh kompetensi tenaga kerja yang dapat membantu memajukan daya saing perekonomian suatu bangsa.

Hal ini disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir saat meresmikan Politeknik Ketenagakerjaan bersama 2 (dua) Menteri kabinet kerja yaitu Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Hanif Dakhiri dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur, bertempat di BBPLK, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (26/10).

Langkah strategis yang telah ditempuh oleh Kementerian Ketanagakerjaan RI yang baru saja mendirikan Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker), disambut baik Menteri Nasir dalam rangka melahirkan tenaga kerja baru yang berkompeten dari Politeknik.

“Pendidikan vokasi di Indonesia hanya sekitar 16%. Politeknik harus kita dorong agar menjadi Politeknik yang berkualitas dan unggul, dengan begitu saya yakin kedepannya pendidikan vokasi akan menjadi salah satu pilihan favorit bagi anak-anak di Indonesia untuk mengemban pendidikan yang lebih tinggi,” tutur Menteri Nasir dalam sambutannya.

Bila dibandingkan, jumlah penduduk Indonesia hanya sebanyak 1 (satu) banding 6 (enam) dari jumlah penduduk di China, namun di China hampir 56% perguruan tingginya merupakan pendidikan vokasi, sedangkan di Indonesia dengan jumlah perguruan tinggi yang lebih banyak dibanding China tetapi China memiliki lebih banyak tenaga kerja yang produktif bila dibandingkan dengan Indonesia.

“Kompetensi tenaga kerja banyak dipengaruhi oleh pengalaman semasa kerja dan pengalaman kerja semasa masih menjadi peserta didik. Saat ini, pendidikan vokasi menjadi kunci jawaban atas kebutuhan tenaga kerja yang produktif dan kompetitif,” ujar Menteri Nasir.

Menteri Nasir menambahkan, para pendidik di Politeknik tidak hanya berasal dari lulusan akademik dengan syarat lulusan pendidikan S1 ataupun S2, tetapi ketika dia sudah menjadi ahli industri di bidangya dan berpengalaman, itu bisa menjadi prioritas untuk menjadi dosen di Politeknik.

Harapan Menteri Nasir, nantinya lulusan Politeknik selain mendapatkan ijazah, mereka juga harus memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya masing-masing minimal pada tingkatan 5 (lima). Ia juga mengimbau agar mahasiswa Politeknik jangan hanya menjadi ahli madya tetapi harus diarahkan untuk memiliki sertifikasi industri.

Dalam kaitan itulah, Politeknik Kutaraja di Banda Aceh hadir untuk menyiapkan generasi muda Aceh untuk memimpin negeri ini kedepan. Dengan sumber daya alam yang melimpah dan belum terkelola dengan baik, maka para siswa lulusan SMA/SMK sederajat perlu dibekali dengan pendidikan yang berbasis pada penerapan ketrampilan serta keahlian yang unggul, kreatif dan inovatif, sehingga pada tataran pelaksanaan dilapangan SDM Aceh mampu menghasilkan output yang lebih besar dan lebih berkualitas.

Pendidikan vokasi pada Politeknik Kutaraja menekankan pada program studi bidang manajemen dan keuangan. Sekurang-kurangnya dalam periode sekarang ini membuka empat program studi dengan berbagai strata. Ada Prodi Akuntansi (D3), Prodi Administrasi Perkantoran (D3), Sarjana Terapan Analis Keuangan dan Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Keuangan Sektor Publik (MKSP). 

Semua program studi tersebut dibuka mengacu kepada kebutuhan tenaga kerja pada bidang tersebut dilapangan. Aceh saat ini masih kekurangan tenaga madya tatalaksan kantor yang mumpuni dan berkompeten, masih ditemukan di kantor-kantor pemerintahan di mana pegawainya banyak yang belum menguasai aplikasi komputer perkantoran, tidak bisa mengoperasionalkan komputer, apalagi level computer for office tingkat lanjut. Kondisi ini berlaku bukan hanya pada perkantoran di tingkat kabupaten/kota bahkan level provinsi sekalipun. Belum lagi pegawai kantor kelurahan yang ada di gampong-gampong.

Politeknik Kutaraja juga akan berkiprah dalam menyiapkan SDM dan lulusannya dalam bidang tenaga ahli tatakelola keuangan publik, yaitu dengan membuka jurusan Manajemen Keuangan Sektor Publik. Memang beberapa kabupaten/kota di Aceh telah berhasil memperoleh predikat WTP dari BPK dalam pengelolaan anggaran daerah, namun masih banyak juga daerah-daerah yang belum mampu mencapai predikat tersebut karena berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah kurangnya tenaga ahli atau pegawai yang mampu dalam membuat perencanaan, pengelolaan dan pelaporan yang standar dan baik akan anggaran daerah tersebut. Nah disinilah peran Politeknik Kutaraja untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja dengan keterampilan dan pengetahuan keuangan negara/daerah sesuai dengan yang diharapkan.

Bagi siswa SMA/SMK sederajat yang akan lulus tahun 2018, silakan mendaftarkan diri untuk kuliah di Politeknik Kutaraja dengan pilihan program studi yang telah kami paparkan di atas dengan datang langsung ke kampus di Jalan Syiah Kuala No.10 Jambo Tape Banda Aceh (Depan MIN Jambo Tape) atau melalui website (online) www.poltekkutaraja.ac.id pada setiap hari/jam kerja. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut dapat juga menghubungi Telephone: (0651) 8016378/whatsapp +6281360329710 (*ham)

Kemana Setelah SMA? | Menerawang Jalan Panjang

Kampus Politeknik Kutaraja. Jln Syiah Kuala No 10 Banda Aceh

Sukses Berbisnis | Pendidikan. Banda Aceh, 22 Desember 2017 | Tulisan singkat dan sederhana ini penulis ingin sedikit mengupas tentang pendidikan, khususnya pendidikan dasar.

Berbicara tentang pendidikan berarti kita berbicara tentang kebutuhan dasar manusia pada era millenium ini. Pendidikan yang saya maksudkan adalah suatu proses di mana manusia melakukan sebuah upaya untuk memperoleh pengetahuan yang dapat menjadikan dirinya menjadi lebih baik. Dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak bisa menjadi mampu. Bagaimana pun pendidikan merupakan pondasi penting bagi sebuah nergara. Sebuah negara akan mampu mencapai kemajuan yang berarti dan berkualitas jika sumber daya manusia yang di milikinya mampu melahirkan berbagai ide besar dan inovasi-inovasi baru. Misalnya kita lihat negara-negara eropa, Amerika, Jepang bahkan negara-negara lain dibelahan dunia tidak segan-segan untuk memajukan pendidikan dinegaranya dengan anggaran yang sangat besar.

Bagaimana di Indonesia? Menurut Professor Andrew Rosser dari Universitas Melbourne hari Senin (20/11/2017) malam dalam acara bernama Lowy Institute di NGV sebagaimana dilansir oleh media berita online mengatakan bahwa Indonesia sudah mampu memberikan pendidikan bagi warga nergaranya secara merata, meskipun dengan anggaran yang terus meningkat namun kualitas pendidikannya belum begitu baik. Berdasarkan informasi tersebut diatas maka inilah tugas kita semua mulai dari pemerintah, masyarakat, guru, dosen, pihak perusahaan swasta dan pengusaha harus berpikir bagaimana caranya meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita sehingga baik secara kuantitas maupun kualitas, pendidikan di Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Bagaimana Pendidikan di Aceh? Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022, Bapak Irwandi dan Nova Iriansyah dalam visi-misinya menekankan betapa sangat penting bagi Pemerintah Aceh untuk terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan, terutama pendidikan dasar bagi setiap rakyat Aceh. Sehingga untuk mewujudkan cita-citanya, pasangan ini membuat program kerja dalam bidang pendidikan yaitu ACEH CARONG. Dengan program kerja ini diharapkan akses pendidikan dan kualitasnya dapat lebih meningkat dari sebelumnya. Ini merupakan terobosan yang bagus dan tentu harus didukung oleh anggaran yang cukup, pengajar/guru yang berkompeten dan fasilitas (sarana/prasarana) di setiap sekolah tersedia secara cukup, lengkap dan fungsional. Inilah salah satu program unggulan yang diusung oleh Gubernur Aceh dan wakilnya.

UN (ujian nasional) di Depan Mata. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya siswa SD sampai dengan SMA pada bulan April menghadapi ujian akhir sekolah dan dilanjutkan dengan ujian nasional. Namun yang menjadi pokok perhatian kita adalah what`s next setelah lulus dari SMA? Jika kita melihat data yang ada bahwa pengangguran lulusan SMA juga sangat tinggi, hal ini mengindikasikan bahwa tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi berarti memilih jadi pengangguran. Kenapa? Ya karena tidak ada lowongan kerja yang dapat menampung seluruh lulusan SMA di Aceh.

Dalam rangka mendukung program Pemerintah Aceh dalam mewujudkan ACEH CARONG, Yayasan Pendidikan Sarana Ilmu Kutaraja Provinsi Aceh kini telah mendirikan sebuah lembaga pendidikan perguruan tinggi vokasi yaitu POLITEKNIK KUTARAJA dengan izin Kemendiknas Dikti masing-masing Program Studi Akuntansi (D3), Administrasi Perkantoran (D3), Analis Keuangan (Sarjana Terapan) dan Manajemen Keuangan Sektor Publik (MKSP) Sarjana Terapan. Semua program studi tersebut menekankan pada kurikulum berbasis kompetensi dengan menerapkan pola pembelajaran teori dan praktek yang lebih banyak untuk menumbuhkan skill yang siap bekerja di berbagai industri (perusahaan swasta dan sektor pemerintah).

Saat ini kampus POLITEKNIK KUTARAJA beralamat di Jalan Syiah Kuala No 10 Banda Aceh (Depan MIN Jambo Tape). Penerimaan mahasiswa baru untuk semua prodi mulai dibuka untuk Tahun Ajaran 2018/2019. SIlakan datang dan berkunjung ke kampus POLITEKNIK KUTARAJA untuk mendapatkan informasi lebih detil pada setiap jam kerja.

Harapan kami semoga siswa lulusan SMA di Provinsi Aceh memiliki pilihan yang lebih banyak untuk meneruskan pendidikannya dan dapat mewujudkan impian mereka sekaligus menciptakan ACEH CARONG sebagai generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. (*ham)

 

 

CHESTER BERNARD DAN TEORI SISTEM | Scientific Management

Chester Bernard (1938) analisanya mengenai manajer sungguh-sungguh merupakan suatu pendekatan sistem sosial, karena agar mengerti dan menganalisa fungsi-fungsi para pejabat, Bernard memperhatikan tugas-tugas mereka yang utama dalam sistem di mana mereka beroperasi. Seperti yang ditulisnya dalam buku berjudul The Function of the Executive, (Fungsi-fungsi Pejabat). Sistem seperangkat unsur yang saling terkait yang berfungsi secara keseluruhan. Suatu sistem akan mencakup masukan (input ), Tranformasi (proses), dan keluaran (output).

Dalam teori Sistem dikenal Sistim Terbuka, yakni suatu sistem berinteraksi dengan lingkungan, dan Sistem Tertutup, yakni suatu sistem tidak berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi dengan sistem tertutup akan mengabaikan keberadan lingkungan, dan menjadi tidak akan mengetahui apakah posisi organisasi kuat, lemah, mempunyai kesempatan atau dalam posisi terancam. Teori Sistem menawarkan manajer perspektif yang sangat berguna. Melalui pendekatan sistem maka manajer dapat mengenal lingkungan dan memahami bagaimana organisasi bekerja, sehingga kinerja aktual organisasi dapat diketahui sedini mungkin. Konsep Sub-sistem menunjukkan bahwa antar unit organisasi terdapat ketergantungan yang sangat kuat yang jika diabaikan akan sangat membahayakan hidup organisasi. Sinergi akan memperlihatkan nilai kerja sama dalam organisasi sedangkan Entropi akan menunjukkan berbagai indikasi akan berakhirnya organisasi.

Dalam menentukan tugas para manajer adalah untuk memelihara suatu sistem usaha kerjasama dalam organisasi yang formal, Bernard memusatkan perhatiannya pada alasan adanya sistem-sistem kerjasama itu maupun sifat sistem tersebut. Logika analisanya dapat dilihat dalam langkah-langkah dibawah ini:

  1. Pembatasan-pembatasan fisik dan biologis terhadap individu-individu membawa mereka kepada kerjasama. Bahkan termasuk pembatasan-pembatasan psikologis dan sosial terhadap individu-individu juga memainkan suatu peranan yang menimbulkan kerja sama.
  2. Tindakan kerja sama membawa kepada penetapan sistem kerjasama di mana terdapat faktor-faktor atau unsur-unsur fisik, biologis, pribadi dan sosial. Bernard juga menunjukkan bahwa kelanjutan kerjasama tergantung dari efektivitas dan efesiensi dari anggota pihak yang bekerja sama.
  3. Setiap sistem kerja sama dapat ke dalam dua bagian: “organisasi” yang meliputi banyak interaksi orang-orang di dalam sistem itu, dan “unsur-unsur lainnya.”
  4. Organisasi dapat  juga dibagi  ke dalam dua macam: organisasi “formal”, yaitu kumpulan interaksi sosial yang secara sadar dikoordinasikan, mempunyai tujuan bersama dan ditentukan dengan sengaja. Organisasi “informal’, yaitu interaksi-interaksi sosial tanpa tujuan bersama yang umum atau dikoordinasikan dengan sadar.
  5. Organisasi formal tidak dapat berlangsung kalau tidak ada orang-orang yang (a) yang dapat saling berkomunikasi, (b) yang mau menyumbang kepada kegiatan kelompok, dan (c) dengan sadar mempunyai tujuan umum.
  6. Setiap organisasi formal harus mencakup unsur-unsur berikut ini: (a) suatu sistem fungsionalisasi sehingga orang-orang dapat berspesialisasi; (b) suatu sistem perangsang yang efektif dan efesien yang akan menyebabkan orang menyumbang kepada kegiatan kelompok; (c) suatu sistem kekuasaan (otoritas) yang akan menyebabkan anggota kelompok menerima keputusan-keputusan di dalam organisasi; dan (d) suatu sistem pengambilan keputusan yang logis.
  7. Jadi fungsi-fungsi para pejabat (semua level manajer) dalam organisasi yang formal ini adalah sebagai berikut: (a) pemeliharaan komunikasi organisasi melalui suatu skema organisasi, ditambah dengan adanya orang-orang yang loyal, bertanggung-jawab, dan mampu bekerja, serta suatu “organisasi informal” eksekutif yang rukun; (b) perlindungan terhadap pelayanan pokok dari individu-individu di dalam organisasi; dan (c) perumusan dan definisi mengenai tujuannya (yaitu perencanaan).
  8. Fungsi-fungsi pelaksana memasuki proses melalui pekerjaan pelaksana dengan atau integrasi dari keseluruhannya dan dengan menemukan keseimbangan yang paling baik di antara kekuatan-kekuatan dan kejadian-kejadian yang berlawanan.
  9. Untuk membuat pelaksana efektif, diperlukan suatu kepemimpinan yang mempunyai tanggung jawab yang sangat tinggi; sebagaimana telah ditekankan dengan tepat oleh Bernard, “kerjasamalah dan bukannya kepemimpinan, yang menjadi proses kreatif; tetapi kepemimpinan adalah pengecam yang sangat diperlukan dari kekuatan-kekuatan itu.”

Thank you for your visited on my blog

Timbulnya Ilmu Perilaku dalam Ilmu Manajemen | Hamdani

Pada  periode yang sama di mana F.W. Taylor, Fayol dan lainnya memusatkan diri pada manajemen ilmiah dan tugas-tugas manajer, banyak para sarjana dan para pelaksana memikirkan, mengadakan percobaan, dan menulis tentang psikologi industri  dan tentang teori sosial, yang kedua-duanya dalam banyak hal, di rangsang oleh gerakan manajemen ilmiah. Indikasi ini bisa kita lihat dengan timbul dan berkembangnya psikologi industri, tumbuhnya manajemen kepegawaian, dan perkembangan pendekatan sosiologis terhadap hubungan dan manajemen manusia.

TIMBULNYA PSIKOLOGI INDUSTRI

Hugo Munsterberg diakui sebagai “bapak psikologi industri”. Dia belajar psikologi dan menerima gelar doktornya pada Universitas Leizip pada tahun 1885. Pada tahun 1910 minatnya tertuju pada penerapan psikologi dalam industri, di mana dia melihat pentingnya penerapan ilmu perilaku kepada gerakan manajemen ilmiah yang baru.

Dalam bukunya berjudul Psikologi dan Efesiensi Industrial, yang diterbitkan tahun 1912, Munsterberg menerangkan dengan jelas bahwa tujuannya adalah menemukan (1) bagaimana mendapatkan orang-orang yang memiliki sifat-sifat mental yang paling cocok dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan; (2) dalam kondisi psikologis manakah out put yang paling besar dan paling memuaskan dapat diperoleh dari pekerjaan setiap orang; (3) bagaimana suatu perusahaan dapat mempengaruhi para pekerja dengan demikian rupa sehingga dapat diperoleh hasil yang sebaik-baiknya. Sebagaimana hal Taylor, Musnterberg tertarik akan minat yang timbal balik antara manajer dan para pekerja. Dalam menyelesaikan pekerjaannya, Munsterberg juga dilengkapi dengan pendapat baru Lilian Gilbret, Walter Dill Scott yang berusaha menerapkan konsep-konsep psikologi dalam praktek manajemen ilmiah. Mereka semua adalah ahli dalam ilmu perilaku. Dan bahkan Scott juga banyak menulis buku-buku mengenai penerapan konsep-konsep psikologi pada periklanan dan pemasaran, tentang perkembangan praktek manajemen kepegawaian, seperti seleksi yang efektif.

PERTUMBUHAN MANAJEMEN KEPEGAWAIAN

Robert Owen sebagai pelopor dan kontributor terhadap manajemen kepegawaian, lalu pemikiran dan idenya diakui oleh para ahli manajemen lainnya dan para industriawan. Antara lain adalah Walter Dill Scott, B.F.Goodrich,dll. Bahkan Henry Ford sebagai otokrat industri juga memikirkan tentang apa yang akan dilakukan para pekerja mengingat gaji mereka yag jauh lebih besar dan prihatin memikirkan pergantian buruh, mendirikan mendirikan sebuah departemen kepegawaian pada tahun 1914 atau yang diberi nama “departemen sosiologi.”

Industriawan yang memperkembangkan praktek-praktek manajemen kepegawaian secara lebih luas sebelumnya adalah B. Seebohm Rountree (Inggris, 1889) dengan membuat banyak program yag bertujuan mempertinggi status para pekerja. Diantara banyak program tersebut ada departemen kesehatan (1904), sekolah lanjutan waktu siang (1923), dan praktek-praktek inovasi, seperti tunjangan pengangguran, psikolog-psikolog industri perusahaan  yang terlatih untuk membimbing baik para manajer maupun para pekerja, dan perbekalan untuk kantin-kantin dan rekreasi.

Ilmu jiwa manajerial berlandaskan dua prinsip dasar: (1) apa pun yang menjadi alasan yang menyebabkan setiap individu tertentu untuk ikut serta dalam industri, tujuan dasarnya yang benar haruslah pelayanan kepada masyarakat, dan (2) industri adalah benda manusia, di mana pria dan wanita mendapatkan nafkah, dan dari mana pria da wanita harus megharapkan nafkah untuk hidup yang layak dijalani.

Perkembangan Pendekatan Sosiologis Dalam Manajemen

Setelah berkembangnya manajemen ilmiah oleh Taylor dan manajemen administratif oleh Henry Fayol. Kemudian muncul pendekatan baru sebagai hasil pemikiran dan penyelidikan dari perilaku kelompok atau yang disebut “manusia sosial” dalam manajemen. Inilah awal perkembangan teori organisasi atau pendekatan sistem sosial dalam manajemen. “bapak teori organisasi” tersebut adalah Max Weber, Emile Durkheim (1839) dan Vilfredo Pareto (1896-1917)

Max Weber adalah cendikiawan berbangsa Jerman. Analisa empirisnya tentang Gereja, Pemerintahan, Ketentaraan dan Perusahaan menyebabkan dia percaya bahwa hirarki, otoritas, dan birokrasi (termasuk peraturan-peraturan yang jelas, defiisi tugas-tugas, dan ketertiban) merupakan pondasi segala organisasi sosial.

Emile Durkheim, cendikiawan Perancis dalam tulisannya menekankan bahwa kelompok-kelompok, melalui penetapan nilai-nilai dan norma-norma mereka, mengendalikan kelakuan manusia dalam setiap organisasi sosial. Sedangkan Vilfredo Pareto (Perancis-Italia) memadang bahwa masyarakat sebagai kerumunan berbelit-belit yang terdiri dari kesatua-kesatuan atau unsur-unsur yang saling bergantung-yaitu sebagai suatu sistem sosial dengan banyak sub-sistem. Diantara banyak idenya terdapat kecenderungan sistem-sistem sosial untuk mencari keseimbangan karena diganggu oleh pengaruh dari luar atau dari dalam. Dia juga melihat bahwa menjadi tugas kaum elit (yaitu:tingkat yang berkuasa) dalam setiap masyarakat untuk menyediakan kepemimpinan supaya dapat memelihara sistem sosial itu.

PELAKSANAAN MANAJEMEN MEMERLUKAN PENDEKATAN SISTEM

 Tidak ada manajer pelaksana yang dapat mengabaikan pendekatan sistem. Para manajer selalu harus memperhitungkan sejumlah besar pengaruh timbal-balik dan variabel yang saling mempengaruhi dalam pekerjaan mereka. Lalu apakah sistem itu?

Lanjut ke posting selanjutnya…

Dimensi Manajemen | Management Principles

Pandangan para pakar Manajemen dapat dikelompokkan
sebagai berikut :

  1. Manajemen sebagai suatu proses kerja sama dari dua orang atau lebih.
  2. Manajemen sebagai suatu seni mencapai tujuan dari dua
    orang atau lebih.
  3. Manajemen sebagai ilmu mempelajari kerja sama dua
    orang atau lebih untuk mencapa tujuan bersama.
    Pandangan penulis :

Manajemen sebagai ilmu mempelajari dan seni proses kerja sama manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat-alat) untuk mencapai tujuan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Proses kerja sama.
Jika (para)manusia berkumpul untuk mencapai tujuan
bersama pasti akan terjadi suatu proses kerja sama agar tujuan tercapai. Dengan pandangan ini, akan banyak aktifitas yang dikerjakan melalui beragam tahapan sehingga tujuan yang akan dicapai menjadi fokus kajian dan anlisis dari para pakar manajemen. Manajemen sebagai suatu proses ini memberikan pemahaman akan pentingnya dinamika Organisasi.

Ad. Manajemen sebagai suatu Seni. Penetrapan atau pelaksanaan berbagai tehnik dan fungsi manajemen didalam organisasi yang berbeda-beda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya ini merupakan suatu (ketrampilan)seni. Karena setiap peristiwa / kejadian yang muncul dipengaruhi berbagai faktor yang banyak, luas, dan rumit maka akan membuat satu manajer dalam mengambil keputusan organisasi dapat berbeda dengan manajer lainnya. Perbedaan gaya, pemikiran dan filosofi manajer akan mempengaruhi pola kinerja yang di terapkan.

Ad. Manajemen sebagai suatu Ilmu. Jika Ilmu didefisikan suatu pengetahuan yang terorganisir dan yang sistematis sebagaimana yang dijelaskan oleh M. Nazir dalam buku berjudul Metode Penelitian maka Manajemen dapat dikatakan sebagai Ilmu. Para pakar Manajemen dan para manajer dapat memberikan definisi, menganalisis, menguji, dan mengukur berbagai fenomena / kejadian dan perilaku manusia kemudian menyimpulkannya sehingga dihasilkan suatu teori, yaitu Teori Manajemen.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu

Pengertian Manajemen dan Organisasi

Kata Manajemen merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Management”, dalam bahasa Indonesia padanan kata yang cocok adalah “Tata Laksana” yang berarti Pengaturan atau Cara kerja. George R.Terry berpendapat bahwa “Manajemen adalah pencapaian tujuan (organisasi) yang sudah ditentukan sebelumnya dengan mempergunakan bantuan orang lain”. Dengan makin berkembang pola pikir manusia dan semakin besar atau mahal biaya-biaya operasional organisasi, membuat manusia (kita) perlu menata ulang kebijakan dalam bekerja untuk lebih efisien dan efektif.

Berdasar pandangan tersebut, manusia akan lebih banyak bekerja dengan sarana pendukung (alat-alat) kerja daripada dengan manusia lainnya agar lebih cepat dan lebih baik hasil produk (Barang atau Jasa)nya. Pengaturan dan kerja sama (satu) manusia dengan sarana pendukung (alat) kerja dapat termasuk dalam pengertian manajemen.

Dalam buku ini, penulis berpendapat Manajemen didefinisikan sebagai “Pengaturan dan kerja sama unsur- unsur manusia dengan manusia dan sarana pendukung (alat- alat)untuk mencapai tujuan (organisasi ) secara efektif dan efisien”. Definisi tersebut memberikan pemahaman perlunya penataan (para) manusia dan sarana pendukung yang bekerja secara efektif dan efisien dalam suatu organisasi guna mencapai tujuan yang ditentukan untuk dicapai /diraih.

Kata Organisasi merupakan kata serapan dari kata bahasa Inggris “Organization”, yang artinya mengatur atau kumpulan sesuatu yang diatur bekerja sama. Jadi pengertian Organisasi ini adalah “Kumpulan manusia dan sarana pendukung yang diikat pada suatu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama”. Agar organisasi dapat beroperasi dengan lancar, perlu ada manusia yang mengatur organisasi itu sesuai dengan pengertiannya yang diistilahkan Manajer. Manajer merupakan “Manusia yang melakukan atau melaksanakan semua fungsi manajemen yang diarahkan kepada pencapaian
tujuan organisasi”.

Baca: Aplikasi Manajemen Perusahaan. Lentera Ilmu

The Power of Selling | The Power to Get What You Want in Life

“YOU CAN HAVE EVERYTHING IN LIFE YOU WANT, IF YOU WILL JUST HELP ENOUGH OTHER PEOPLE GET WHAT THEY WANT.”
LET ZIGLAR CHANGE YOUR LIFE!

Welcome to Selling World

Do you want to be successful in sales and in life? You’ll have a chance to meet the pros, the people who have achieved success in their careers in sales. For most people, to achieve personal success entails more than just making a lot of money. Many would claim that to be successful in a career means to have fulfilled an ongoing goal—one that has been carefully planned according to their interests and passions. Is it your vision to run your own business? Or would you rather pursue a profession in a service organization? Do you want to excel in the technology field or, perhaps, work in the arts? Can you see yourself as a senior executive? Imagine yourself in the role that defines success for you. Undoubtedly, to assume this role requires more than just an initial desire; those who are most successful take many necessary steps over time to become sufficiently qualified for the job presented to them. Think about your goal: what it will take to get there? With a good plan and the right information, you can achieve whatever you set out to do. It may seem like a distant dream at the moment, but it can be a reality sooner than you think. Think about successful people who do what you want to do. What do they all have in common? Of course, they have all worked hard to get to their current position, and they all have a passion for their job. There is, additionally, a subtler key ingredient for success that they all share; all successful people effectively engage in personal selling, the process of interacting one-on-one with someone to provide information that will influence a purchase or action.

Congratulations, You’re in Sales!
If you think personal selling is only for salespeople, think again. Everyone in every walk of life uses personal selling (some more effectively than others!). Selling is what makes people successful. We all have to sell our ideas, our points of view, and ourselves every day to all sorts of people—and not just those related to our jobs. For example, when you work on a team project, you have to sell your ideas about how your team should approach the project (or, sometimes more delicately, you will have to persuade others as to what you should do about a lazy team member). When you are with your friends, you have to sell your point of view about which movie you want to see or where you want to go to eat. When you pitch in for a friend’s gift, you have to sell your ideas about what gift to give. You are selling every day whether you realize it or not. Think about the products and services that you buy (and concepts and causes that you believe in) and how
selling plays a role in your purchase decision. If you rented an apartment or bought a car, someone sold you on the one you chose. If you read a product review for a new computer online then went into the store to buy it, someone reinforced your decision and sold you the brand and model you bought. If you ran in a 5K race to raise money for a charity, someone sold you on why you should invest your time and your money in that particular cause. A professor, an advisor, or another student may have even sold you on taking this course!

I Sell Stories
Selling is vital in all aspects of business, just as it is in daily life. Consider Ike Richman, the vice president of public relations for Comcast-Spectacor, who is responsible for the public relations for all NBA and NHL games and hundreds of concerts and events held at the company’s Wachovia Center in Philadelphia. When you ask Ike to describe his job, he replies, “I sell stories.” What he means is that he has to “pitch”— or advertise—his stories (about the games or concerts) to convince the press to cover the events that he is promoting. So, even though he is not in the sales department, his job involves selling. Gary Kopervas, similarly, is the chief creative strategist at Backe Digital Brand Communications. He works in the creative department in an advertising agency, yet he describes his job as “selling ideas,” not creating ads. Connie Pearson-Bernard, the president and founder of Seamless Events, Inc., an event planning company, says she sells experiences. For many of her clients, she also sells time because she and her team execute all the required details to create the perfect event. As you notice, all these people are engaged in selling, even though “sales” may not be included in their respective job descriptions. Clearly, whether you pursue a career in sales or in another discipline, selling is an important component of every job…and everyday life.

Pelajaran dalam Menjual dari Salespeople yang Sukses
Siapa yang Ingin Menjadi Millionaire? Bayangkan menjadi anak putus sekolah yang berusia sembilan belas tahun dengan seorang anak di jalan. Itu menggambarkan Tom Hopkins pada tahun 1976. Dia bekerja di konstruksi untuk membayar tagihan. Dia sadar harus ada cara yang lebih baik untuk mencari uang, jadi dia mengambil pekerjaan di penjualan real estat, tapi tidak berhasil. Bahkan, setelah enam bulan pertama, dia hanya menjual satu rumah dan menghasilkan rata-rata hanya $ 42 sebulan untuk mendukung keluarganya.

Suatu hari, dia bertemu dengan seseorang yang menyarankan agar dia mengikuti seminar pelatihan penjualan. Tom terinspirasi oleh konsep dalam seminar dan menempatkan mereka untuk bekerja. Sebelum berusia tiga puluh tahun, Tom adalah seorang jutawan yang menjual dengan nyata perkebunanya. Tom sekarang menjadi legenda di arena penjualan dengan “Training for Champions” dan “Sales Boot Camp” program. Dia adalah seorang penulis, pembicara, kolumnis, dan pelatih sukses di Tom Hopkins International, yang menyediakan pelatihan penjualan untuk perusahaan seperti Best Buy, State Farm Insurance, Aflac, A.S. Army Perekrut, dan banyak lagi

Dunia Penjualan Baru.
Ada beberapa orang yang mungkin berpikir menjual sebagai pertemuan dengan tekanan tinggi antara wiraniaga dan karyawan pelanggan. Bertahun-tahun yang lalu, hal itu mungkin terjadi dalam beberapa situasi. Tapi di dunia sekarang ini, sukses menjual bukan sesuatu yang Anda lakukan “menjadi” pelanggan, itu adalah sesuatu yang Anda lakukan “dengan” pelanggan. Pelanggan memiliki suara dan paling terlibat dalam situasi penjualan. Dengan alat berbasis internet seperti forum, sosial jaringan seperti Facebook, MySpace, dan Twitter, bersama dengan situs Web, live chat, dan interaktif lainnya fitur memungkinkan pelanggan untuk berpartisipasi dalam proses tidak peduli apapun yang mereka beli.

Brand + Selling = Sukses

Source/reference: saylor.org

Manajemen | Perlunya Pengetahuan Manajemen

Masalah seringkali timbul sebagai akibat dari usaha memperbaiki suatu situasi dengan menerapkan sebuah prinsip yang tidak didesain secara baik untuk menangani persoalan tersebut. Analisa terhadap kegagalan perusahaan yang telah dilakukan bertahun-tahun lamanya yang menunjukkan bahwa persentase yang tinggi dari kegagalan-kegagalan itu disebabkan oleh manajemen yang tidak berkemampuan (terampil) dan tidak berpengalaman.

Majalah Forbes, majalah investor terkrmuka, yang telah mengadakan penyelidikan terhadap firma-firma dagang Amerika selama beberapa tahun, telah menemukan bahwa perusahaan yang melaksanakan manajemen yang baik hampir selalu berhasil. Bank of America beberapa tahun lalu mengatakan dalam publikasinya yang bernama Small Business Reporter “Dalam analisa terakhir, lebih dari 90% dari kegagalan perusahaan disebabkan oleh tidak adanya kemampuan dan pengalaman dalam manajemen.”

Untuk mencapai keberhasilan manajemen dalam perusahaan-perusahaan dan semua jenis organisasi, maka pengetahuan manajemen dan sebagai suatu ilmu mutlak untuk dimengerti. Para menajer dituntut untuk menggunakan pengetahuan tersebut agar dapat membantu mengerti dengan baik tentang manajemen dan menolong mengembangkan praktek-praktek manajemen sekarang.

Sebagai sebuah ilmu, manajemen memiliki prinsip dan teori untuk melengkapi kerangka struktural ilmu tersebut. Prinsip-prinsip  adalah kebenaran-kebenaran fundamental, atau apa yang dipercaya sebagai kebenaran pada suatu waktu tertentu, yang menerangkan hubungan-hubungan antara dua atau lebih variabel. Prinsip-prinsip yang paling mengandung arti ialah prinsip-prinsip yang melibatkan hubungan sebab-musabab dengan variabel yang bergantung dan yang tidak bergantung. Teori adalah pengelompokan yang sistematis dari prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Tugasnya adalah mengikat menjadi satu pengetahuan yang berarti, dan memberinya suatu kerangka. Seperti dikatakan oleh Homans, ”dalam bentuknya yang paling rendah teori adalah suatu klasifikasi, sekumpulan lubang pada kandang merpati, lemari arsip di mana terdapat kumpulan fakta. Tidak ada yang lebih sesat daripada fakta yang terlepas.”

Pentingnya teori bagi pengembangan pengetahuan yang terorganisir telah ditunjukkan oleh Talcott Parsons dalam esainya;”rasanya agak berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa indeks yang paling penting dari keadaan kedewasaan suatu ilmu adalah teori sistematis. Ini meliputi sifat skema konseptual umum yang dipakai di lapangan, dalam jenis-jenis dan pada derajat-derajat integrasi logis dari unsur-unsur yang berbeda dalam membentuknya, dan cara-cara di mana dia sebenarnya dipakai dalam penyelidikan empiris.”

Setiap sistem dari prinsip-prinsip atau teori yang memerlukan kejelasan konsep-yaitu gambar mental sesuatu benda yang dibentuk oleh penyamarataan dari fakta-fakta. Jelaslah bahwa suatu definisi yang jelas tentang suatu kata ialah jenis konsep dasar. Dengan demikian pengetahuan tentang prinsip-prinsip dasar dan teknik dalam manajemen dapat mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap bagaimana mempraktekkannya, menjelaskannya dan mengembangkannya. Karena dalam semua bidang kerjasama manusia, efesiensi usaha kelompok sangat ketinggalan dibandingkan dengan efesiensi mesin, maka penerapan pengetahuan manajemen akan lebih mengembangkan kemajuan manusia.

Kebutuhan akan konsep manajemen yang jelas dan kebutuhan akan kerangka teori dan prinsip yang berpautan telah disadari bertahun-tahun yang lalu oleh sarjana manajemen praktis yang lebih dulu, seperti misalnya Henry Fayol, Chester Barnard dan Alvin Brown. Sesungguhnya, inilah arti pelaksanaan manajemen dan manajemen—yaitu penerapan pengetahuan pada kenyataan untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan.

Sistem Manajemen

Secara  fundamental, sistem itu bukanlah sesuatu yang baru atau mengejutkan. Sistem dapat didefinisikan sebagai sekumpulan benda-benda yang saling berhubungan, atau saling bergantung, sehingga membentuk satu kesatuan yang kompleks; (suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang telah disusun dengan teratur menurut skema atau rencana tertentu. Menurut The Random House Dictionary of The Engglish Language sistem sebagai suatu kumpulan fakta, prinsip, doktrin dan lain-lain semacamnya dalam bidang khusus mengenai pengetahuan atau pemikiran, kumpulan itu tersusun rapi dan bersifat komprehensif. Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh hidup adalah suatu sistem. Jadi konsep pokok dari teori sistem bisa dikatakan sebagai suatu sistem—seperti halnya suatu perusahaan adalah lebih daripada jumlah bagian-bagiannya, dia harus dipandang sebagai keseluruhan. Supaya suatu sistem bisa dipandang sebagai sistem, dia harus mempunyai batas-batas yang memisahkannya dari lingkungannya.

Salah satu sistem yang bisa kita pelajari adalah sistem sosial misalmya. Sistem sosial dari segala jenis disusun oleh orang-orang untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Hal ini ditunjukkan oleh Katz dan Kahn dengan baik seperti berikut ini:

Struktur sosial pada pokoknya adalah sistem tersusun. Mereka telah dibuat oleh manusia dan merupakan sistem yang tidak sempurna. Mereka bisa merobek pada pinggir-pinggrinya dalam semalam, tetapi bisa juga berlangsung berabad-abad melebihi hidup organisasi biologis yang mula-mula telah menciptakan mereka. Sementara yang mempererat hubungan mereka pada pokoknya bersifat psikologis dan bukannya biologis. Sistem-sistem sosial telah bercokol dalam sikap-sikap, penegrtian, kepercayaan, motivasi, kebiasaan dan pengharapan manusia. Sistem-sistem demikian itu melambangkan pola-pola hubungan di mana kelanjutan kesatuan-kesatuan perorangan yang terlibat dalam hubungan itu dapat endah sekali. Suatu organisasi dapat mempunyai angka pergantian yang sangat tinggi dan masih bertahan juga. Hubungan-hubungan pokok dan bukannya pokok-pokok itu sendiri menyebabkan adanya kelanjutan itu.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bermanajemen merupakan bentuk penataan system sosial dalam sistem manajemen. Di mana pola hubungan dapat berubah-ubah seperti setiap kumpulan manusia  dengan hubungan-hubungan mereka.

Baca: Koontz, O’Donnell, Weihrich. 1986. Manajemen. Edisi Ketujuh. Penerbit Erlangga

Dasar-dasar Teori dan Ilmu Manajemen

Pengantar Ilmu Manajemen

Barangkali tidak ada bidang aktivitas manusia yang lebih penting daripada bermanajemen, sebab tugas dasar dari semua manajer di segala tingkat dan dalam segala macam perusahaan ialah membentuk dan memelihara suatu lingkungan di mana orang-orang yang bekerja sama dalam kelompok-kelompok, dapat menyelesaikan tugas-tugas dan tujuan-tujuan yang ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, para manajer diserahi tanggung jawab untuk mengambil tindakan yang memungkinkan orang-orang memberi sumbangan terbaiknya kepada tujuan-tujuan kelompok.

Download Bahan Bacaan Manajemen DISINI

Sejak manusia mulai membentuk kelompok untuk mencari cita-cita yang tidak dapat mereka capai secara perorangan, maka sistem manajemen menjadi hal yang sangat esensial untuk menjamin koordinasi usaha-usaha perorangan. Setelah masyarakat semakin mengandalkan usaha kelompok, dan setelah banyak kelompok yang terorganisir menjadi besar, tugas para manajer menjadi semakin penting.

Bermanajemen adalah hal yang sangat esensial dalam segala kerja sama yang terorganisir, begitu juga pada segala tingkat organisasi dalam sebuah perusahaan. Bermanajemen bukan hanya fungsi dari direktur perusahaan tetapi juga sampai pengawas dilapangan sekalipun.

Walaupun kelemahan dan kesulitan bermanajemen dapat timbul pada setiap tingkat manajemen, namun manajemen yang efektif dan cerdas menuntut bahwa semua orang yang bertanggung jawab bagi pekerjaan orang lain, pada setiap tingkat dan dalam setiap jenis perusahaan, dapat menganggap dirinya sebagai menajer. Sehingga dengan demikian tidak ditemukan perbedaaan yang fundamental antara manajer dan pejabat pimpinan, pengurus, atau pengawas. Memang harus diakui, suatu situasi tertentu dapat sangat berbeda antara macam-macam tingkat dalam suatu organisasi atau berbagai jenis organisasi atau berbagai jenis perususahaan, ruang lingkup, kekuasaan boleh jadi berbeda-beda, jenis-jenis kesulitan yang ditangani barangkali sangat berlainan, dan seorang dalam peran manajer boleh jadi juga menjadi seorang wiraniaga.

Ilmu dan Manajemen

Meskipun umur organisasi manusia untuk mencapai tujuan-tujuan umum sudah berabad-abad, namun baru sekarang suatu ilmu mengenai manajemen berkembang. Sejak Perang Dunia II ada kesadaran yang makin bertambah, bahwa mutu bermanajemen penting bagi hidup modern, dan hal itu telah menghasilkan analisa dan penyelidikan luas terhadap proses manajemen, lingkungannya dan teknik-tekniknya.

Beberapa ilmu sosial lebih maju dari yang lainnya. Dengan segala kekurangannya, ilmu ekonomi, misalnya, telah berhasil menerangkan arah kegiatan mana akan menghasilkan output yang tertinggi dengan pengeluaran tenaga dan modal sesedikit mungkin. Tetapi prinsip-prinsip ekonomi mengasumsikan bahwa tujuan-tujuan ekonomis dapat dapat dicapai melalui koordinasi kegiatan manusia baik perusahaan, maupun kelompok-kelompok perusahaan, dikelola dengan baik.

Ilmu dan Metode Ilmiah

Ilmu menerangkan gejala-gejala. Ilmu itu berdasarkan suatu kepercayaan kepada rasionalitas alam yaitu pada ide bahwa hubungan-hubungan bisa ditemukan antara dua atau lebih kumpulan kejadian. Ciri-ciri pokok dari suatu ilmu adalah bahwa pengetahuan telah ditemukan dan disistematisir melalui penerapan metode ilmiah. Dalam arti bahwa hubungan-hubungan antara variabel-variabel dan batas-batas telah dipastikan dan prinsip-prinsip pokok telah ditemukan.

Metode ilmiah meliputi penentuan melalui observasi atas kejadian-kejadian atau benda-benda dan memeriksa kecermatan fakta-fakta tersebut melalui penyelidikan lebih lanjut. Setelah mengklasifikasi dan menganalisa fakta-fakta, para ilmuan mencari dan menemukan beberapa hubungan sebab-musabab yang menurut anggapan mereka adalah benar. Generalisasi demikian itu yang disebut hipotesa, kemudian diuji kecermatannya. Kalau hipotesa terbukti benar, dan mencerminkan atau menerangkan realitas, dan sebab itu mempunyai nilai dalam meramalkan apa yang akan terjadi dalam kejadian yang sama, hipotesa itu disebut prinsip.

Menyusun Laporan Hasil Riset | Metode Riset Bisnis

Kriteria Laporan Riset

Langkah terakhir dalam proses riset adalah membuat laporan riset yang akan disampaikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Fromat laporan riset sering kali berbeda-beda sesuai kondisi pihak-pihak yang membutuhkan. Namun, pada dasarnya laporan riset memiliki tiga bagian utama yaitu bagian awal, bagian utama dan bagian akhir. Laporan riset harus memenuhi beberapa kriteria antara lain:

  1. Laporan harus sistematis. Maksudnya laporan harus runtut mulai akar masalah hingga kesimpulan yang akhirnya digunakan sebagai dasar untuk menyusun rekomendasi.
  2. Laporan harus efesien. Artinya, yang dicantumkan dalam laporan riset adalah hal-hal yang memang dipandang perlu oleh pihak-pihak yang membutuhkan sehingga mereka tidak jenih saat membaca isi laporan riset.
  3. Laporan harus menggunakan kaidah bahasa yang baku. Laporan disusun harus menggunakan bahasa yang baku sehingga dapat dengan mudah dipahami oleh pembaca. Jika ada bahasa asing yang sulit diartikan, hendaknya ditulis miring sebagai penarik perhatian bagi pembaca untuk menafsirkannya sendiri.
  4. Laporan harus rapi. Penyusunan laporan riset dibuat serapi mungkin, baik menyangkut teknik pengetikan maupun tata letak gambar, tabel dan kelengkapan laporan riset yang lain.
  5. Laporan dapat mendorong minat orang untuk membaca isinya. Pemilihan kata yang tepat, gambar, warna dan desain laporan hendaknya dapat menarik minat pembaca, terutama pada bagian sampul.

Bagian-Bagian Laporan Riset

Berikut beberapa pedoman penulisan sebuah laporan riset. Namun, pedoman ini tidak berlaku mutlak karena laporan riset juga sangat tergantung pada sponsor yang membiayai riset, lembaga yang akan memakai atau selera peneliti itu sendiri.

Bagian Awal Laporan

Bagian awal laporan terdiri dari atas:

  • Sampul. Halaman sampul sebaiknya terdiri atas dua bagian, yaitu halaman sampul luar (depan) dari karton (hard cover) dan sampul dalam dari kertas putih biasa. Sampul sebaiknya didesain dengan baik sehingga menarik minat pembaca dan dapat mencerminkan isinya yang terkandung didalamnya.
  • Ringkasan. Ringkasan (summary) berisi masalah riset, tujuan riset, hasil-hasil riset yang menonjol dan masalah esensial lainnya yang terkait dengan riset yang dinyatakan dengan bahasa yang padat dan jelas.
  • Halaman prakata. Prakata memuat uraian singkat proses penulisan laporan, ucapan terima kasih dan tanpa uraian yang bersifat ilmiah.
  • Halaman daftar isi. Halaman ini berisi petunjuk letak bagian-bagian yang ada dalam laporan riset yang ditunjukkan oleh nomor halaman sehingga pembaca akan mudah mencari dengan cepat bagian-bagian yang diperlukan. Daftar isi memuat daftar tabel, daftar gambar, judul bab dan subbab, daftar pustaka dan lampiran. Keterangan yang mendahului daftar isi tidak perlu dimuat dalam daftar isi. Judul bab diketik menggunakan huruf kapital, sedangkan judul subbab diketik dengan huruf kecil, kecuali huruf pertama tiap kata diketik dengan huruf besar.
  • Halaman daftar tabel. Laporan riset sering kali memuat beberapa tabel yang digunakan untuk menjelaskan sebuah pembahasan. Untuk mempermudah pembaca dalam mencari tabel-tabel yang diperlukan, maka perlu dibuat daftar tabel. Jika hanya terdapat satu tabel, daftar tabel tidak diperlukan. Beberapa pedoman dalam penulisan daftar tabel adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar tabel diketik pada halaman baru
  2. Judul daftar tabel diketik dengan menggunakan huruf kapital tanpa diakhiri titik dan diletakkan di tengah bagian kertas
  3. Daftar tabel memuat semua tabel yang disajikan dalam teks dan lampiran. Nomor tabel ditulis dengan angka yang diurutkan dari bab awal hingga akhir.
  4. Judul tabel dalam halaman daftar tabel harus sama dengan judul tabel dalam teks.
  • Halaman daftar gambar. Gambar sering kali lebih efesien untuk menjelaskan alur logika, keadaan sebuah objek dan langkah-langkah sebuah kegiatan. Dengan demikian, peneliti sering kali menampilkan gambar dalam sebuah laporan riset sehingga perlu dibuat daftar gambar. Beberapa pedoman dalam menyusun daftar gambar adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar gambar diketik pada halaman baru
  2. Halaman daftar gambar memuat daftar gambar, nomor gambar, judul gambar dan nomor halaman.
  3. Cara pengetikan daftar gambar sama seperti daftar tabel.
  • Halaman daftar singkatan (jika ada)
  • Halaman daftar simbol (jika ada)
  • Halaman daftar lampiran. Agar laporan riset sistematis, rapi, pada dan jelas, tidak semua data dimasukkan ke dalam bagian utama laporan riset. Hal-hal yang menunjukkan data pendukung dan proses analisis data cukup ditampilkan di bagian lampiran. Jika lampiran lebih dari satu, maka perlu dibuat daftar lampiran. Beberapa pedoman dalam menyusun daftar lampiran adalah sebagai berikut:
  1. Halaman daftar lampiran diketik pada halaman baru
  2. Judul daftar lampiran diketik di tengah atas halaman dengan huruf kapital
  3. Halaman daftar lampiran memuat nomor, teks judul lampiran, dan nomor halaman. Judul daftar lampiran harus sama dengan judul dalam teks.

Isi Bagian Utama Laporan

Bagian utama laporan riset terdiri dari atas beberapa bab. Jumlah bab tidak dibakukan, melainkan disesuaikan dengan ruang lingkup riset peneliti. Bagian utama utama umumnya terdiri atas pendahuluan, tinjuan pustaka, metode riset, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, serta daftar pustaka.

  1. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan bab pertama laporan yang mengantarkan pembaca untuk dapat menjawab pertanyaan mengenai apa yang diteliti, untuk apa dan mengapa riset dilakukan. Bab pendahuluan memuat antara lain; latar belakang, perumusan masalah, ruang lingkup riset, tujuan dan manfaat riset. Akan dijelaskan sebagai berikut:

  1. Latar belakang riset: bagian ini berisi fakta-fakta yang relevan sehingga dapat memberikan alasan mengapa riset ini penting dan menarik untuk dilakukan. Latar belakang ini merupakan titik awal yang mendorong dilakukannya riset sehingga harus dapat meyakinkan bahwa riset ini benar-benar perlu dilakukan.
  2. Perumusan masalah: Perumusan masalah pada dasarnya merupakan penyederhanaan permasalahan yang telah dituangkan dalam latar belakang riset agar lebih mudah dipahami. Perumusan masalah tidak selalu berupa kalimat tanya. Hanya saja, penggunaan kalimat tanya akan lebih menunjukkan permasalahn yang akan dipecahkan.
  3. Tujuan riset: Tujuan riset mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam riset. Isi dan rumusan tujuan riset mengacu pada isi dan rumusan masalah riset. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Tujuan riset dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dengan demikian, antara latar belakang riset, rumusan masalah dan tujuan riset harus sesuai.
  4. Manfaat riset: Bagian ini berisi manfaat yang akan diperoleh apabila riset dilakukan. Bagian ini akan menyebutkan pihak-pihak yang akan memperoleh manfaat beserta bentuknya. Manfaat riset juga memperkuat alasan riset harus dilakukan.
  5. Ruang lingkup dan keterbatasan riset: ruang lingkup dan keterbatasan riset berisi cakupan dan batasan-batasan dalam riset agar menjadi lebih terarah. Yang dikemukakan dalam ruang lingkup adalah variabel-variabel yang diteliti, populasi dan subjek riset, dan waktu pengambilan data. Keterbatasan riset dipaparkan agar pembaca dapat menyikapi temuan riset sesuai kondisi yang ada. Keterbatasan perlu dituangkan dalam laporan riset karena adanya suatu keadaan yang tidak dapat dihindari dalam riset. Beberapa hal yang menyebabkan keterbatasan riset adalah alasan-alasan prosedural, teknik riset, ataupun faktor logistik, kendala yang bersumber dari adat, dan kepercayaan yang tidak memungkinkan peneliti untuk mencari data yang diinginkan.

Selain hal-hal di atas, bab pendahuluan juga dapat memuat kerangka pemikiran atau hipotesis walaupun hal ini tidak selalu wajib. Kerangka pemikiran dan hipotesis merupakan ringkasan bab tinjauan pustaka yang berisi uraian hasil-hasil riset yang mendukung atau menolak teori di sekitar permasalahan riset, Juga, diuraikan kesenjangan antara hasil riset terdahulu sehingga kesenjangan tersebut perlu diteliti kembali. Uraian kerangka pemikiran biasanya mengarah pada uraian hipotesis.

Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka atau kadang disebut telaah pustaka digunakan untuk mempertajam masalah, mencari pendekatan-pendekatan yang telah dilakukan peneliti sebelumnya untuk menghindari pengulangan-pengulangan yang tidak perlu dan mengatasi kekurangan yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya.

Penulisan tinjauan pustaka dimulai dari hal-hal yang bersifat umum terlebih dahulu kemudian mengarah kepada hal-hal yang spesifik. Metode penulisan semacam ini diharapkan dapat mengarahkan pembaca dari belum paham menjadi sangat paham terhadap objek yang diteliti.

Bab tinjuan pustaka membahas teori yang mendasar, objek yang diteliti, dan beberapa hasil riset terdahulu yang relevan dengan masalah riset. Tinjauan pustaka harus dapat menjelaskan variabel-variabel yang diteliti dan keterkaitan antar variabel tersebut.

Posisi tinjauan pustaka ditempatkan sesudah sajian perumusan masalah, tujuan dan kegunaan riset, agar bahan-bahan kepustakaan yang disajikan dalam tinjauan pustak terpandu secara terarah. Bab tinjauan pustaka selain mengulas tinjauan teoritis, juga mengulas riset empiris, maka kerangka pemikiran dan hipotesis dapat disusun.

Metode Riset

Pokok-pokok bahasan yang terkandung dalam metode riset mencakup lokasi riset, metode riset, jenis dan cara memperoleh data, ukuran sampel dan teknik analisis data. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bagian ini juga mencantumkan definisi konsep dan definisi operasional riset.

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan pembahasan merupakan inti laporan riset. Ada yang menggabungkan hasil dan pembahasan dalam satu bab, namun ada juga yang memisahkannya. Beberapa hal yang perlu dituangkan dalam bab ini adalah sebagai berikut:

  • Kondisi obyek/karakteristik responden: bagian awal hasil riset berisi kondisi obyek riset atau gambaran umum responden beserta karakteristiknya.
  • Hasil riset: berisi temuan-temuan berdasarkan analisis data. Bagian ini juga mengemukakan uraian bahasan dari peneliti bersangkutan, yang dapat diperkuat, berlawanan atau sesuai dengan hasil riset orang lain. Alasan tersebut dapat berupa penjelasan baik kualitatif, kuantitatif ataupun secara statistik.

Kesimpulan dan Rekomendasi

kesimpulan dan rekiomendasi sebaiknya disajikan secara terpisah agar lebih mudah dipahami. Dengan kata lain, rekomendasi adalah implikasi riset. Beberapa hal perlu diperhatian adalah sebagai berikut:

  • Kesimpulan harus dinyatakan dalam kalimat singkat, padat dan jelas berdasarkan hasil pembahasan. Kesimpulan merupakan jawaban atas perumusan masalah dan tujuan riset yang telah dirumuskan di muka. Kesimpulan dapat merupakan pembuktian singkat akan kebenaran atau penolakan hipotesis (jika ada)
  • Saran disusun berdasarkan kesimpulan. Saran dapat berupa tindakan-tindakan praktis yang harus dilaksanakan dalam pemecahan masalah, berupa riset lanjutan yang perlu dilakukan untuk penyempurnaan, pengembangan teori atau antisipasi masalah yang ditemui oleh peneliti.

Bagian Akhir

Bagian akhir riset berisi hal-hal yang perlu dicantumkan  yang mendukung atau terkait erat dengan bagian inti. Bagian akhri ini biasanya terdiri dari daftar pustaka/rujukan, daftar lampiran, dan riwayat hidup peneliti.

Sumber/referensi : Suliyanto. Metode Riset Bisnis.  2005:221. Andi: Yogyakarta

Dasar-Dasar Riset Bisnis | Penelitian Bisnis

Pengertian Riset

Download Materi  DISINI 

Riset atau penelitian tidak hanya dilakukan pada bidang-bidang ilmu past sepeti Biologi, Fisika, Kimia, tetapi juga pada bidang-bidang ilmu sosial seperti hukum, ekonomi dan politik.

Sebahagian orang saat ini masih membayangkan bahwa riset itu hanya dilakukan dalam sebuah laboratorium dengan dilengkapi sejumlah alat dan melalui proses-proses yang sulit dan rumit. Seakan-akan riset itu hanyalah kegiatan para analis semata untuk melakukan serangkaian eksperimen. Meskipun pendapat tersebut di atas tidak salah atau ada benarnya, namun itu hanyalah pandangan riset dalam artian sempit. Secara lebih luas, riset itu memiliki jangkauan dan bidang kelimuan yang tidak hanya terbatas pada kegiatan ujicoba di laboratorium semata namun termasuk seluruh kegiatan manusia dalam kehidupan sosial juga bisa dijadikan sebagai lapangan kegiatan riset.

Menurut Cooper dan Emoy (1995) dalam Suliyanto (2005) riset merupakan suatu kegiatan sistematik yang bertujuan menyediakan informasi untuk memecahkan permasalahan. Sedang menurut Sekaran (1992) riset adalah suatu usaha yang sistematik dan terorganisasi untuk meneliti suatu masalah spesifik yang memerlukan jawaban. Dari definisi riset yang diberikan oleh para ahli sebagaimana tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa bidang riset dapat dilakukan pada bidang apa saja, tidak terbatas hanya pada ilmu eksak namun juga non-eksak seperti ilmu sosial. Yang menjadi kunci perlunya dilakukan suatu riset adalah untuk memecahkan masalah, hal ini berarti bahwa riset dilakukan ketika ada suatu masalah dan bertujuan untuk memecahkan masalah tersebut.

Namun riset harus dilakukan dan didasarkan pada akal sehat dan proses yang jelas sehingga hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, tidak hanya berdasarkan kebetulan belaka. Sehingga riset itu tidak dapat dipisahkan dengan tindakan ilmiah. Maksudnya adalah proses yang dilakukan haruslah sesuai dan benar menurut kaidah-kaidah ilmiah atau sering disebut sesuai dengan metode ilmiah.

Dengan kemajuan dan perkembangan dunia dewasa ini, riset bukan hanya dilakukan dalam kapasitas pengembangan keilmuan dan literasi semata, namun juga telah menjadi bagian dari kegiatan penting dalam aktivitas ekonomi dan manajemen perusahaan seperti riset pemasaran, riset SDM dan sebagainya.

aktivitas pemasaran merupakan salah satu kegiatan terpenting dalam bisnis bahkan merupakan aktivitas pokok dan strategis segenap perusahaan, karena pemasaran menjadi ujung tombak bagi perusahaan untuk menjual produk dan jasa yang dihasilkan. Dengan strategi pemasaran yang baik dan efektif serta sesuai dengan target pasar yang dituju sangat membantu memperlancar dalam menjual produk-produknya.

Perpaduan antara riset yang berbasis keilmuan dan ilmiah dengan bisnis, maka telah memungkinkan bagi perusahaan untuk memperoleh informasi yang tepat dalam menentukan kebijakan bisnisnya dalam jangka panjang. Manajemen telah dapat melihat secara pasti terhadap perubahan lingkungan bisnisnya. Dengan demikian para manejer dapat menysuaikan diri dengan perubahan tersebut dan menggunakan kekuatan internal yang dimilikinya untuk mengambil peluang eksternal dalam rangka mengembangkan bisnis perusahaan menuju pertumbuhan.

Manajemen senantiasa harus mengkaji program pemasaran mereka dan memangkas bagian-bagian yang tidak efesien serta tidak mendatangkan keuntungan dan manfaat bagi masyarakat terutama konsumennya. Dalam iklim ekonomi apapun, pertimbangan-pertimbangan pemasaran tetap merupakan faktor yang sangat menentukan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan di sebuah perusahaan. Itulah gunanya melakukan riset bisnis agar perusahaan memperoleh informasi untuk membuat keputusan.

Riset Bisnis

Menurut Suliyanto (2005) dalam bukunya Metode Riset Bisnis riset bisnis diartikan sebagai usaha yang bertujuan memperoleh informasi guna memecahkan masalah bisnis atau mengembangkan pengetahuan yang berkaitan dengan bisnis menggunakan metode ilmiah. adapun ciri-ciri metode ilmiah menurut Davis dan Cosenza  (1993: 37) yaitu;

  • Metode ilmiah bersifat kritis dan analitis. Karakteristik ini mendorong suatu kepastian dan proses penyelidikan untuk mengidentifikasi masalah dan metode untuk mendapatkan solusinya.
  • Metode ilmiah adalah logis. Logis merujuk pada metode dari argumentasi ilmiah. Kesimpulan secara rasional diturunkan dari bukti-bukti yang ada.
  • Metode ilmiah bersifat objektif. Objektivitas mengandung makna bahwa hasil yang diperoleh ilmuan yang lainakan sama apabila studi yang sama dilakukan pada kondisi yang sama. Dengan kata lain, hasil penelitian dikatakan ilmiah apabila dapat dibuktikan kebenarannya.
  • Metode ilmiah bersifat konseptual dan teoritis. Ilmu pengetahuan mengandung arti pengembangan struktur konsep dan teoritis untuk menuntun dan mengarahkan upaya penelitian.
  • Metode ilmiah adalah empiris. Metode ini pada prinsipnya bersandar pada realitas.
  • Metode ilmiah adalah sistematis. Sistematis mengandrung arti suatu prosedur yang cermat dan mengikuti aturan tertentu yang baku.

Ruang Lingkup Riset Bisnis

Bisnis merupakan kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, baik profit oriented maupun non-profit oriented. Pada dasarnya, ruang lingkup riset bisnis dapat kita kelompokkan menjadi beberapa kategori:

  1. Bidang akuntansi dan keuangan. Permasalahan dibidang akuntansi misalnya; sistem anggaran, metode penentuan biaya, perpajakan, penyusutan. Sedangkan dibidang keuangan misalnya; pembiayaan perusahaan, analisa rasio keuangan, perilaku bursa efek dan kelayakan bisnis serta evaluasi bisnis.
  2. Bidang pemasaran. Permasalahan dalam bidang pemasaran misalnya; promosi, penentuan saluran distribusi, pengembangan produk, penetapan harga, kepuasan pelanggan, segmentasi dan positioning.
  3. Bidang sumber daya manusia. Permasalahan utama dalam bidang SDM adalah bagaimana cara mendapatkan tenaga kerja yang tepat, menggunakan secara optimal, mengembangkan hingga memberhentikannya. Permasalah yang ada yang ada dibidang sumber daya manusia misalnya; sikap dan perilaku karyawan, motivasi kerja, produktivitas karyawan, budaya organisasi, dan kepemimpinan.
  4. Bidang operasional. Permasalahan yang ada dalam bidang operasional misalnya; penentuan kombinasi produk, kualitas produk, penentuan lokasi pabrik, sistem penugasan, layout pabrik dan sistem informasi manajemen.

Demikian semoga bermanfaat. Wasalam